Aku tidak MENULIS sejarah..tapi kusedang MENGKAJI sejarah..agar kudapat MENGUKIR sejarahku sendiri..

Kamis, 11 November 2010

Ana' Ogi'E, Sejauh Layarnya Terkembang (Part.2)

2. Perantauan Ke Barat (Tana Bare')

Antara tahun 1400 M sampai dengan 1511, Kerajaan Malaka telah berdiri dengan jayanya. Sebuah kerajaan Islam yang lebih besar daripada pendahulunya, yakni Kerajaan Pasai (Aceh) yang telah hancur akibat serangan Kerajaan Majapahit pada tahun 1360 M. Pada kurun waktu itulah sehingga Orang Arab menamai Kerajaan Malaka sebagai "Mulaqat" yang berarti tempat pertemuan para pedagang dari segala penjuru dunia (Tun Sri Lanang, Sejarah Melayu).

Diceritakan lebih lanjut, bahwa salah seorang Raja Malaka yang termasyur membesarkan Negeri itu, adalah : Sultan Mansyur Syah, Raja Malaka ke-V (1454-1477). Pada masa pemerintahannya, Malaka mencapai puncak kemegahannya sehingga dianggap sebagai masa keemasan Kerajaan Tanah Melayu. Pada masa itu pulalah, Laksamana Hang Tuah mengepalai suatu perutusan menghadap pada Raja Majapahit. Tidak lama setelah itu, Raja Majapahit mengirimkan salah seorang puterinya ke Malaka untuk dijadikan isteri oleh Sultan Mansyur Syah. Demikian pula halnya dengan Kaisar Tiongkok, mengirimkan seorang puterinya beserta segenap dayang-dayang dan inang pengasuhnya dengan maksud yang sama.

"Dari seluruh Nusantara kepulauan kita ini berduyunglah dagang santri datang ke Malaka. Ada pula dari Jawa, terutama dari Jawa Timur. Dan ada pula dari Bugis, sehingga ada pencatat sejarah yang berkata, bahwa Hang Tuah itu sendiri adalah seorang Anak Bugis .." (Prof. Dr. HAMKA, Dari Perbendaharaan Lama, II-180 - Pustaka Panjimas, Jakarta-1980). Kebesaran dan kemahsyuran kerajaan inilah yang "menggoda" pikiran KaraEng Same' ri Liukang, seorang "Pangeran Petualang"  yang dikatakan dari Kerajaan Makassar untuk menaklukkan Negeri itu. Francois Valentijn, seorang penulis berkebangsaan Belanda memberitakan perihal tersebut  dalam sebuah buku yang diterbitkan pada tahun1726 M,  "Oud en Nieuws Ooas-Indie", bahwa : "Dat de konigen van Macassar van ouds her al bekent, vermogen, en als zoodanige vorsten onder de konigen van't Oosten beroemtwaren, blyk ons int'jaar 1420 daar Crain Samarloeka, Coning Van Macassar, vorkombt, met 200 vaartuigen na Malaeka gaane, Oom dien koning te beoerlogen ..." (bahwa Raja-Raja Makassar sejak dahulu kala terkenal hartawan dan termahsyur diantara Raja-Raja dari Timur. Ternyata pada tahun 1420, KaraEng Samarluka seorang Raja dari Makassar telah mengunjungi Malaka dengan 200 kapal layar untuk memerangi Raja disana...). Sedikit dari kutipan berbahasa Belanda tersebut diatas, barulah penulis mengetahui jika kata "beken" (terkenal) berasal dari Bahasa Belanda.

Tun Sri Lanang yang dikenal pula sebagai "Encik Amin", penulis "Syair Perang Makassar" yang juga menulis "Sejarah Melayu", memberitakan hal serupa dengan penggambaran yang sangat hidup dalam bukunya tersebut. "... sebelum ke Malaka, Raja Mangkasar Samerluki menyerang Siam. Banyaklah rantau Siam dialahkannya, tiada ada orang yang mengeluarinya. Setelah Siam, barulah Malaka diserangnya dan mendapat perlawanan yang hebat dari Laksamana Kerajaan Malaka, Hang Tuah. Maka Samerluki pun lalu ke Pasai (Sumatera). Banyaklah jajahan Pasai yang dibinasakannya. Maka Raja Pasai menitahkan Orang Kaya Raja Kanayan mengeluari Samerluki. Maka bertemu dengan Samerluki di Teluk Perlih. Maka berperanglah kelengkapan Mangkasar dengan kelengkapan perahu Raja Kanayan., maka oleh Samerluki disuruhnya campaki sauh terbang, kena perahu Raja Kanayan lekat, maka disuruhnya putar oleh Samerluki, maka kata Raja Kanayan : Puterlah olehmu, jika dekat niscaya aku amuk dengan jenawi bertumit ini. Maka disuruh tetas oleh Samerluki, maka ditetas oranglah, maka bercerailah kedua perahu itu. Maka kata Samerluki : Berani Raja Kanayan daripada Laksamana, ... Maka Samerluki pun kembali ke Mangkasar. (Kutipan "Sejarah Melayu" oleh H.D. Mangemba, "Makassar dan Makassar"-1994)

Membaca kutipan "Sejarah Melayu" dan berita dari Valentijn tersebut diatas, terbersit dalam benak penulis sebuah "keraguan" tentang kebenaran Kerajaan Majapahit di Jawa Timur sebagai Inperium yang menaklukkan kawasan Nusantara, sebagaimana tertulis pada kitab Negara Kertagama. Bahwa jika sebuah peristiwa sejarah dipahami sebagai sebuah kejadian/peristiwa yang terjadi berupa penaklukan atau perlawatan sebuah Bangsa terhadap Bangsa lainnya, mestilah dikuatkan atau dibuktikan oleh fakta-fakta berupa hasil kebudayaan pada kedua Bangsa tersebut (Menurut Arnold J. Toynbee, Bapak Ilmu Sejarah Modern). Namun sejauh ini, penulis belum pernah mendapatkan sebaris tulisan dalam Lontara manapun di Sulawesi Selatan yang diteliti dan diangkat oleh para Sejarawan yang menyatakan, bahwa : Kerajaan Makassar, Luwu dan BantaEng PERNAH menjadi wilayah taklukan Kerajaan Majapahit.

Bahkan sebaliknya, Tertulis dalam Lontara I La galigo pada episode pelayaran Sawerigading ke Cina dalam misi melamar We Cudai' DaEng ri Sompa Punna BolaE ri La TanEtE, menceritakan bahwa sebuah perutusan pelamaran dari Mancapai' (Majapahit) bertemu dengan Sawerigading dan rombongannya di tengah laut, sehingga terjadi peperangan diantara mereka. Setelah terjadi pertempuran yang sengit, maka bertekuk lututlah Sattia Bongan (Ksatria Bongan ?, penulis) alias Lompeng ri Jawa. 


"Engka mopaga pakkanna maElo ri pallaga ?" (Masih adakah pahlawanmu yang bisa diadu ?), tanya Sawerigading. Menjawablah Sattia Bongan dalam sujud sembahnya, "Angikko sia Lapuang, ki raukkaju. Riakko mmiri riakkeng teppa, mutappalireng.." (Engkau wahai Tuanku, laksana angin bertiup, sedang kami tiada lain laksana daun kayu, dimana dikau bertiup, disanalah kami terdampar..". Kemudian Sawerigading bertanya lagi, "Mulala'niga cittamu, lE' ri Punna BolaE ri La TanEtE ?" (Apakah kau telah memutuskan perhatianmu pada Punna BolaE ri La TanEtE ?). Maka Sattia Bongan pun menjawabnya pula, "Mauni mangerre' ri panganranna, tudang tellEwa-lEwa ri sabalinna, napatudangngi lE' ri nawa-nawa DatuE, ri lala' mua.." (Sekalipun teguh rasa cinta ini, duduk bersanding dengan kekasih, namun jika didudukkan paduka dalam hatinya, akan diceraikan jua.."). Akhirnya, Sawerigading memberikan bantuan kapal kepada Sattia Bongan beserta pasukannya yang tersisa untuk kembali ke Mancapai'. (kutipan beberapa lembar episode Lontara I Lagaligo milik Almarhum Andi Pangeran Opu TosinilElE "Opu Pabbicara Luwu" yang sempat penulis dapatkan melalui sebuah tulisan baginda yang diketik manual). 
Topik ini akan diuraikan dalam judul tersendiri pada laman "Kajian Ininnawa".











Kembali kepada topik utama laman ini, maka berita perlawatan KaraEng Samerluka (Samerluki) atau KaraEng Same' ri Liukang sejauh ini adalah informasi terbesar dan yang pertama mengenai perlawatan orang Makassar ke Negeri Melayu yang oleh orang-orang Bugis disebut sebagai "Tana Bare'". Wallahualam Bissawwab.


(bersambung ke bagian selanjutnya...)








Tidak ada komentar:

Posting Komentar