Aku tidak MENULIS sejarah..tapi kusedang MENGKAJI sejarah..agar kudapat MENGUKIR sejarahku sendiri..

Rabu, 29 September 2010

Sastra Bugis

Sekilas tentang Sastra Bugis


"Keajaiban BAHASA !", kalimat itulah yang terucap ketika kubenamkan diriku dalam "telaga sastra Bugis". Fenomena keterbatasan wawasanku terhadap seni sastra mengatakan, " inilah taraf tertinggi sebuah kreatifitas berbahasa ". Bagaimana tidak ?. Dari sebuah bangsa timur yang budaya teknologinya biasa-biasa saja (kalau tidak bisa dikatakan agak terbelakang) tetapi mampu mengembangkan budaya tulis menulis sejak 14 Abad yang lalu. Sebuah karya sastra terpanjang di dunia tercipta pada abad VII (menurut R.A.Kern yang didukung Prof. Fachruddin A.E - 1999) yang dikenal sebagai I Lagaligo. Namun lebih daripada itu, bangsa pemakai sarung ini mampu menciptakan "aksara Lontara" yang merupakan salahsatu aksara dunia.

Menelusuri lebih jauh dari pinggir telaga sastra ini, kekagumanku semakin tak terkatakan lagi. Kudapatkan jika seni sastra ini terdiri dari segala unsur kebahasaan yang terjalin rapi secara dinamis. Siapapun tidak akan mampu menyelaminya lebih jauh jika ia tidak memiliki pemahaman Budaya Bahasa Bugis yang memadai. Siapapun juga tidak mampu menikmatinya secara "utuh" jika tidak memiliki kemampuan membaca Aksara Lontara dengan baik. Namun membaca Aksara Lontara hanya dapat dilakukan jika piawai berbahasa Bugis dengan fasih. Sungguh sebuah kreatifitas sastra yang memadukan unsur tulisan, bunyi dan kias dengan apresiasi sastra yang tinggi.

Sastra Bugis terdiri dari 3 jenis, yakni : Elong Ogi, Pau-Pau ri Kadong dan Sure'. Menyesuaikan Laman Blog ini, penulis mencoba menguraikan jalinan Elong Ugi yang juga memiliki karakteristik berbeda dari bahasa Bugis sehari-hari. Berdasarkan kandungan isinya, Elong Ugi dapat dikategorikan menjadi 3 bagian, yaitu :
1. Pammulang Elong  = Permulaan syair yang mengutarakan permohonan maaf sebagai pembukaan.
2. Elong Assimellereng = Syair yang menghaturkan makna cinta, pujian, benci, sindiran dll.
3. Elong Toto = Syair yang memaknai nasib, takdir, ratapan, kepedihan rindu tak sampai, dll.

Akhirnya kuhaturkan rangkaian syair Elong Ogi ini sebagai wujud cintaku terhadap khasanah budaya  leluhurku yang senantiasa  membunyikan genta "Siri-PaccE" di relung-relung hatiku paling dalam.. Syair yang senantiasa mendengung melalui nafas abdi jiwaku...

PAMMULANG ELONG

TabE' matu' makkElokku
Malesso timuawa'
Taddampengengmuna'

Kupohonkan perkenan bila kunyanyikan laguku
Andai berlebih kata dari mulutku
Kiranya aku dimaafkan

Mariolo addampekku
Rimonri mani monro
Ellau simakku

Kuawali dengan permohonan maaf
Pada penghujungnya kuletakkan
Permohonan pamitku

Massimangna' uwakkElong
Masala Elongawa'
Aga kutobengngo

Izinkan kulantungkan laguku
Andai nyanyianku buruk adanya
Karena aku memanglah dungu

Bonngo' mEmengnga' ujaji
Apa' baiccu'mopa'
NamatE nEnEku'

Benar kuterlahir dungu
Karena sejak kumasih kecil adanya
Nenekku telah wafat

PolE pasenna nEnEku
MasallEniga lolang
Toripabiukku

Menurut pesan nenekku
Mungkinkah sudah bebas adanya
Para pelindungku yang telah tiada

Biu mana' uwissengngi
AlEku natarana'
Sara ininnawa

Nantilah setelah yatim kubaru mengerti
Diriku dipelihara (diasuh)
Oleh penderitaan batin

Ininnawa aggangkano
Rappe' natuddu' solo'
TemmappangEwaku

Duhai, batinku... cukuplah sudah
Terdampar dalam terpaan arus
Bersama pasrahku...

Sabbara'no musukkuru'
Mugalung To Kalola
Muallong-longi

Bersabar dalam kesyukuran
Bagai sawahnya orang Kalola *
Membubung tinggi ke angkasa

* Sebuah sawah di Kampung Kalola bernama : La Sogii
   diartikan dalam bahasa syair sebagai "kaya hati"

REkkua temmuissengngi
GalungngE ri Kalola
La Sogi asenna

Andai kau tak tahu
Sawah di Kalola
Si Kaya, namanya ...

Asogireng ri lElEang
Uturung uwakkeda
Pennoni bolaku

Jika kekayaan yang diperjajakan
Aku turun seraya berujar
Penuhlah sudah rumahku ...

MasE-masE ri LElEang
Utellong uwakkeda
Pennoni bolaku

Jika budi yang diperjajakan
Kumenjenguk keluar seraya berujar
Penuhlah sudah rumahku ...

Mabbukkaa masE-masEya'
Nakelli' ana' manu'
Barebbu masEku

Kubuka buntalan budi
Menjeritlah ia bagai anak ayam
Serpihan budiku

Massessa' masE-masEa'
Na pitu lEkko saloo'
Nasanrang masEku

Kucuci budi ini
Pada tujuh kelokan sungai adanya
Penuh oleh budiku

Maddakko masE-masEa'
Gangkanna Luwu SoppEng
Leppiina masEku

Kujemur budi ini
Hingga Luwu Soppeng adanya
Penuh oleh budiku

Malleppii masE-masEa'
SittanrE Latimojong
Leppiina masEku

Kulipati budi ini
Setinggi Latimojong adanya
Lipatan budiku

Mappangujuni masEku
Sadiatoni sompe'
Koromai baja

Berkemaslah budiku
Siap menuju pelayaran
Pada esok hari

Sompe'ni ronnang masEku
Malliwengpuluu toni
Lawangeng Latimojong

Berlayarlah sudah budiku
Melampaui pegunungan
Hingga alam Latimojong

Latimojong pong matanrE
Buwengeng masE-masE
Salo mEnraleng

Latimojong puncak tertinggi
Tempat pembuangan budi
Pada dasar sungainya yang terdalam

MasE-masE maittano
Ripasang waju renni
Ludunni alEmu

Duhai, Budi. Telah lama engkau ..
Dikenakan bagai baju kekecilan
Lepaslah sudah dirimu ........................................

(bersambung....)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar