Aku tidak MENULIS sejarah..tapi kusedang MENGKAJI sejarah..agar kudapat MENGUKIR sejarahku sendiri..

Sabtu, 11 Februari 2012

Mengkaji Asal Muasal Kesatuan dalam Keberagaman

AKU ANAK SIAPA ?

"..saya orang Bone, turunan para pemberani! Penakluk Se-Sulawesi ..",  katanya. "Saya orang Luwu, turunan dari kayangan !. Kalian para orang Bone hanyalah turunan pengawal nenek moyang kami !", timpal orang Luwu pula. "Hei, kalian tidak perlu bertengkar. Walau bagaimanapun, kamilah orang Gowa, turunan wangsa paling berkuasa dan lebih perkasa dari nenek moyang kalian !", sergah orang Gowa. "Uh, perkasa apanya ?!. Nenek moyang orang Gowa hanyalah masyarakat primitive belaka, andai tidak belajar Ilmu Tata Negara ke La MungkacE Touddama di Wajo..", sahut orang dari Wajo. "..apa gunanya keperkasaan dan kepintaran tanpa adab yang tertata ?! Ingat, kamilah orang Soppeng yang terlahir di negeri para orang beradab..", kata orang Soppeng tidak mau kalah pula. "Semuanya omong kosong belaka, sehebat-hebatnya nenek moyang kalian yang terkenal suka memulai perang itu, namun semuanya selalu meminta bantuan di Sidenreng !", cemooh orang Sidenreng. "Betul itu.. lalu kalau sudah terdesak di arena pertempuran, toh mereka larinya ke Suppa juga..", sahut orang Suppa membenarkan.

Kiranya seperti itulah percakapan yang terjadi sekiranya anak-anak negeri itu dikumpulkan dalam suatu forum. Sebuah majelis yang sesungguhnya bukanlah lagi sebuah diskusi, melainkan forum saling mengagulkan diri dengan merendahkan yang lainnya. Refleksi pengertian kebangsaan yang disalahfahami sehingga berujung konflik fisik diantara mereka. Sebutlah misalnya perkelahian berdarah anak-anak Luwu dengan anak-anak Bone yang kerap terjadi hingga men-tradisi di Kota Makassar dari waktu ke waktu. Semuanya bermuara pada pemahaman berbudaya yang dipersempit oleh ego masing-masing. Maka pada judul ini, penulis mencoba menyingkap kembali sejauh mana sesungguhnya perbedaan identitas itu jika ditinjau dari uraian silsilah keturunan mereka pada beberapa Lontara Panguriseng. Hingga pada bagian akhirnya nanti, akan terjawab pula, siapa orang Luwu, orang Bone, orang Gowa, orang Wajo, orang Soppeng, orang Sidenreng, orang Engrekang, orang Duri, orang Toraja, orang Mandar atau yang dianggap "alien" lainnya ?.

……………………………………………………………………………………………………



KONSEP GEOGRAFIS, menurut tinjauan Sang Pakar

Iya pakarajai wanuaE
REkkuwa engka tasi' akkajang
Padang malowan allowangrumang
Pasa'marowa abbalureng

Adapun yang membesarkan negeri
Karena adanya laut tempat berlayar (melaut danmencari ikan)
Lahan yang luas tempat bercocok tanam
Pasar yang ramai tempat perniagaan

Ungkapan yang kiranya merupakan konsep geografis yang menggambarkan wawasan berkehidupan masyarakat Sulawesi Selatan dan Barat sehingga menjadikan perbedaan warna kehidupan yang  menekankan  perbedaan aksentuasinya masing-masing. Bahwa pada baris bait ungkapan sejarah tersebut diatas adalah penggambaran jelas mengenai corak kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan dan barat sejak dahulu kala, yakni : Pelaut, petani dan peniaga.

Kemudian Sejarawan Prof. Dr. H. Andi Mattulada mengemukakan dengan sangat sistematis (Sejarah, Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan,  Hasanuddin University Press, Makassar- 1998), bahwa dalam kurun Abad XV-XVI negeri-negeri di Sulawesi Selatan mulai menunjukkan identitasnya masing-masing. Penyebutan "Tana Ugi", "Butta Mangkasara", "Tana Toraja" dan "Lita' Mandar" adalah penyebutan para anak negeri itu berdasarkan lingkup asal geografis dimana ia dilahirkan serta dengan penekanan aksennya masing-masing. Hingga kemudian, perbedaan identitas tersebut mengkristalkan diri dengan mengantarkan kaum-kaum atau kelompok persekutuan hidup membentuk kelompok-kelompok etnik utama yang kini dikenal sebagai : Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar.




NEGERI ASAL MUASAL



"Jika dalam suatu ruangan ada sekelompok orang, maka pastilah ada yang lebih dulu memasuki ruangan itu dari yang lainnya", demikian menurut kata logika berpikir. Bahwa lama sebelum menulis pada blog ini, Ayahanda penulis  menyatakan dengan penuh takzimnya perihal negeri Luwu, bahwa : "Naiyya TanaE Luu, iyanaritu tana simulang angcajingenna toriolota.." (Sesungguhnya negeri Luwu adalah negeri asal muasal para leluhur kita..). Sesuatu yang kiranya tidaklah berlebihan, karena tertulis pada silsilah beliau, bahwa generasi I hingga generasi ke-VI yang tersusun dari atas kebawah semuanya adalah orang Luwu. Bermula pada generasi I, berderetan 3 (tiga) pasang nama yang masing-masing disebutkan, sebagai berikut : 

1.  I LapuangngE LEbba' Patoto Aji Palallo Lapatiganna Sangkuruwira Batara Unru Tomallangkana ri LettEwEro, suami Datu Palinge' Mutia Unruri Senrijawa, DEnru Ulawengna Guru ri Selleng.

2.   Guru ri Selleng I LapuangngE ri Toddangtoja mangkau' ri Peretiwi TuppubatuE ri Toddangsolo Maddeppa'E ri Wajampajang Opu Samuda PunnaE Liung, suami Sinaungtoja MassaobessiE Maddeppa'E ri Wajampajang, TunruangngE ri Matasolo', DEnru Ulawengna Patoto'E

3.  La Oddangriu Sangkabatara ri RuwanglettE, suami Batari IlE Ellung MangEnrE' ri Ulowongeng.


Ketiga sejoli itu beranakpinak dengan mengawinkan keturunan mereka satu sama lainnya, hingga pada suatu ketika Patoto"E menurunkan puteranya, yakni : La Toge'langi Batara Guru Sunge' ri Sompa Aji Sangkuru Wira ManurungngE ri Tellampulaweng Pajung ri Luwu I menjadi penguasa Attawareng , yang menandai lahirnya Kerajaan Luwu. Sezaman dengan La Togelangi Batara Guru, terbitlah Tomanurung lainnya yang diturunkan di Cina, yaitu : La Tenriangke' ManurungngE ri Tellampulaweng Datu Cina I, yang menandai lahirnya Kerajaan Cina yang kelak berganti nama menjadi Pammana. Kemudian terjadilah pernikahan yang amat terkenal antar keturunan mereka, yaitu : Sawerigading Opunna Ware' (cucu La Patiganna) dengan We Cudai' DaEng ri Sompa Punna BolaE ri LatanEtE (cucu La Tenriangke'). Maka pada masa itulah dinyatakan sebagai penyatuan 2 wangsa, yakni Luwu dan Cina yang pada keturunan mereka mengidentiitaskan diri sebagai "Towugi" yang diambil berdasar nama ayahanda We Cudai', yakni : La Sattumpogi Punna LipuE ri Cina , yang kemudian menobatkan menantunya (Sawerigading) menjadi "Datu Cina".



Pada generasi ke-II Patoto'E yang menandai lahirnya Kerajaan Luwu dan Cina, terbit pula To Manurung lain yaitu : TurubElaE Laurengpessi ri Coppo' MEru ManurungngE ri Sawammegga Datu Tompotikka I (putera La Oddangriu Sankabatara ri RuwallettE), yang menandai lahirnya Kerajaan Tompotikka.


Hingga pada generasi ke-VII Patoto'E, yakni : Salinrunglangi Simpurusiang Mutiakawa Opunna Ware' ManurungngE ri Awo Lagading Pajung Luwu III, terbitlah pula seorang tokoh lain di negeri Sekkanyili' yang cukup jauh pula dari Negeri Luwu, yakni : La Temmalala' ManurungngE ri Sekkanyili Datu Soppeng I yang menandai kelahiran Kerajaan Soppeng.


Kedua "To Manurung" tersebut melahirkan generasinya masing-masing yang ditempatkan pada generasi ke-VII Patoto'E, yakni : La Ana'kaji Pajung ri Luwu IV (putera Simpurusiang) dan La Maracinna Datu Soppeng II (putera La Temmalala'). Sezaman dengan kedua tokoh tersebut, yakni pada generasi ke-VIII dari Patoto'E di Luwu,  terbitlah beberapa Tomanurung (Orang yang turun dari khayangan) dan To Tompo (Orang yang timbul dari peretiwi/dunia bawah), diuraikan sebagai berikut :


1. La MammatasilompoE ManurungngE ri Matajang Mangkau ri Bone I, suami We MattengngaEmpo ManurungngE ri Toro, yang menandai lahirnya Kerajaan Bone.


2.   ManurungngE ri TamalatE Sombayya Gowa I, isteri La Patala Bantang KaraEng TurijE'nE (KaraEng Bayo), yang menandai kelahiran Kerajaan Gowa.


3.   La BungEnge' ManurungngE ri Bacukiki, Addatuang SidEnrEng I, suami We Teppulinge' ManurungngE ri Lawaramparang, menandai kelahiran Kerajaan SidEnrEng

      
    
    Hal menarik jika menyimak uraian Sejarawan Prof. Mr. Dr. H. Andi Zainal Abidin Farid  yang mengemukakan  bahwa We Mattengnga Empo ManurungngE ri Toro (permaisuri La MammatasilompoE ManurungngE ri Matajang Mangkau ri Bone I), sesungguhnya adalah salahseorang puteri Sawerigading Opunna Ware' dengan We Cudai' Daeng Risompa yang dilahirkan di Uri Liung (Dunia Bawah) pada masa "Pasca Tinrelle'", sebagaimana halnya dengan saudarinya yakni We Patyanjala Tompo'E ri Bussa Empo, Permaisuri SSalinrunglangi Simpurusiang Mutiakawa Opunna Ware' ManurungngE ri Awo Lagading Pajung Luwu III (Abidin, The Emergence Of The Kingdom Of Luwu, makalah - 1994).

     
      Pada kesempatan lain, Sejarawan H.D. MangEmba menguraikan pula perhubungan Luwu dengan Gowa pada masa kelahiran Kerajaan dibagian selatan jazirah Sulawesi tersebut. Bahwa suami ManurungngE ri TamalatE Sombayya Gowa I sesungguhnya pula berasal dari Luwu pula. Tersebutlah salah seorang putera Salinrunglangi Simpurusiang Mutiakawa Opunna Ware' ManurungngE ri Awo Lagading Pajung Luwu III bernama "La Patala Bantang" yang disebutnya pula (H.D.Mangemba) sebagai "Laki' Padada" seorang pangeran yang gemar mengembara. Ia tidak berhasrat menjadi Raja, melainkan berburu Ilmu Keabadian yang disebutnya bernama : TengmatE Tengmatoa Malolo Pulana (Ilmu Tidak Mati, Tidak Tua dan Muda Selamanya). 

     
     Pengembaraan Laki' Padada yang hanya berbekal sebilah pedang yang bernama "sudanga" suatu ketika tiba di Sangalla' (Tana Toraja). Beliau memperisteri puteri Arung Sangalla dan menetap hingga beberapa lama. Namun hasratnya untuk berburu Ilmu yang diidam-idamkannya tersebut tidak tertahankan sehingga ia melanjutkan perjalanannya kearah selatan. Akhirnya pada suatu hari ia menemukan seorang guru yang berdiam pada suatu pulau yang kiranya mampu mengajarkan Ilmu yang diharapkannya. Namun kiranya takdir berkata lain, Laki Padada "Patala Bantang" gagal memenuhi syarat dalam proses mempelajarinya. Sang Pangeran nelangsa, berjalan ke selatan tanpa tujuan. 
 

  
    Ditengah perjalanannya, seekor "kuajeng" (Burung Garuda) menyambarnya dan membawanya terbang tinggi melintasi lautan luas. Sesampainya ditengah laut, Sang Garuda melepaskan Sang Patala Bantang yang terus jatuh ke lautan yang dalam. Namun berkat kesaktiannya, ia mampu bernafas didalam air dan terus berjalan menurut arah kakinya melangkah. Sekian lama mengembara dibawah laut, sehingga kakinya ditumbuhi  berbagai jenis lokan dan tiram. Akhirnya pada suatu hari, ia mendarat pada suatu pantai suatu negeri yang kini dinamai menurut namanya, yaitu : Bantayang (BantaEng). Masyarakat pantai yang melihatnya dengan penuh takjub, sehingga menjulukinya sebagai "KaraEng TurijE'nE" Tuan yang datang dari air). Kemudian perjalanannya diteruskan menuju Gowa, hingga disanalah pengembaraannya berakhir dengan mengawini Ratu Gowa pertama dan digelari sebagai : KaraEng Bayo. Setelah beliau memerintah Kerajaan selama beberapa waktu hingga melahirkan anak-anaknya, KaraEng Bayo beserta isterinya, "mallajang" (raib) untuk selamanya. Mereka meninggalkan benda-benda pusaka yang menjadi regalia Kerajaan Gowa hingga kini, salahsatunya adalah : Sudanga, pedang pusaka yang dibawanya dari Luwu.

      
      Berbeda pula dengan versi Puang Paliwang Tandilangi (putera Puang Sangalla), dimana tokoh "Laki' Padada" sesungguhnya adalah orang yang berbeda dengan "KaraEng Bayo". Dikatakan lebih lanjut, bahwa di "LEponna Bulang" (Tana Toraja) dikenal mitos "Tumanurung Tamboro Langi" yang memperhubungkan raja-raja Luwu, Gowa dan Sangalla'. Perkawinan Laki' Padada dengan Batara Lolo dari Luwu (putera Simpurusiang dengan Patyanjala) melahirkan putera-putera, sebagai berikut :

 1. Patala MErang (Patala MEa, versi Luwu) tinggal di Gowa menjadi "Somba" (suami Ratu) dengan mewarisi sebilah kelewang bernama "Su'dang" dan Panji "SamparajaE".

 2.  Patala Bunga (Ana'kaji, versi Luwu) menjadi "Pajung" di Luwu dengan mewarisi sebilah kelewang bernama "Bungawaru" dan selembar panji bergelar "SulEngka".

 3.   Patala Bantang tinggal di LEponna Bulang bersama Laki' Padada (ayahnya) serta mewarisi dua bilah kelewang bergelar : "Manian" dan "Dosso" serta panji bergelar "BatE Manurung".

   
Terlepas dari kontroversi diatas, penulis lebih tertarik jika menelusuri penyebutan "Toraja" yang menjelaskan tentang masyarakat pertama di Sulawesi Selatan, terlepas dari kungkungan mytology. Sebagaimana dikisahkan, bahwa pada awalnya sekelompok orang yang membentuk diri sebagai suatu masyarakat di pinggir pantai yang dikenal sebagai "To Alau" (orang di timur). Seiring waktu, masyarakat itu semakin berkembang dan penyebutan identitas mereka sebagai "To Alau" semakin disederhanakan menjadi "To Luu", sehingga pengertiannya bergeser menjadi "orang di laut".  Sesuatu yang sesungguhnya "tentu saja" tidak dipermasalahkan, mengingat  perkampungan mereka terletak dipinggir laut. Seiring waktu, perkampungan itu kian besar, sehingga sekelompok keluarga memutuskan untuk berpindah kearah barat untuk memulai kehidupan bercocok tanam. Maka mereka merambah hutan pegunungan kearah barat hingga menemukan tempat yang cocok. Mereka membangun perkampungan itu sebagai hunian baru yang akhirnya dikenal oleh masyarakat "To Luu" sebagai "To Riaja" (Orang di Barat). Waktu berlalu dan zaman berganti, penyebutan "To Riaja" tersebut kini berubah menjadi "Toraja".

     
     Perjalanan pendahuluan tulisan ini akhirnya tiba dibagian selatan Pulau Sulawesi, diteruskan pula menyeberang lautan hingga tiba di Pulau Selayar yang disebut dalam naskah I La Galigo sebagai "Silaja". Suatu fakta yang menarik yang didapati pada masyarakat kepulauan tersebut, bahwa mereka menyebut bangsawannya dengan : OPU, sebagaimana halnya di Luwu. Dalam penelusuran penulis pada tahun 1999, penulis mengenal akrab dengan seorang Bangsawan setempat, yakni : Opu Andi Amar, dimana beliau menjelaskan bahwa mereka sesungguhnya adalah para turunan We Tenri Balobo, puteri Sawerigading dengan We Cudai'. We Tenri Balobo dalam naskah silsilah penulis sesungguhnya bernama lengkap : We Tenri Balobo BEloKalempi Sulo Jajareng Punna LipuE ri Sabangloang (isteri La Tenripale' Opu Lamuru Totappu Bello AlawErunEng Mutia Pajung) adalah bukan seorang "Datu Silaja", melainkan gelar tersebut dijabat oleh adik kandungnya, yakni : We Tenri Dio Batari Bissu Punna LipuE ri Mallimongeng Datu ri Silaja.

      
      
      Akhirnya  perhatian diarahkan ke "Tana Wajo", negeri dimana penulis dilahirkan.Tertulis pula pada Lontara H. Andi Sumange'rukka dimana keterangan ini diperoleh dari Sejarawan Prof. Mr.  Dr. H. Zainal Abidin, SH, bahwa menyangkut kisah "We Tadampali' Arung Masala Uli'E" yang dianggap sebagai salahsatu leluhur Bangsawan Wajo (khususnya wangsa BEttEmpola). Tersebutlah "Simpurusiang ManurungngE ri Talettu'" yang memperisterikan "We Patyanjala". Mereka melahirkan "Anakaji" yang kemudian berlayar ke seberang lautan untuk mempersunting 'We Tappacina", puteri Raja Mancapaik (Majapahit) yang bernama Sellamalama (nama lain Hayam Wuruk) dari isterinya yang bernama : Bara Aweling (Bhra Aweli). Anakaji memboyong isterinya kembali ke Sulawesi yang kemudian menganugerahkan hadiah penikahan kepada isterinya, sebuah negeri yang bernama : "Tana SitonraE" (gabungan negeri WagE, TEmpE dan Sengkang dimasa kini). Sengkang yang pada awalnya bernama "Siengkang" konon disebut demikian karena orang-orang Luwu dan orang-orang Majapahit (pengikut We Tappacina) bersamaan tiba dan menghuni negeri yang dihadiahkan tersebut.

      
       Kemudian saudara perempuan Anakaji yang bernama We Sakkewanua bersuamikan La Tuppusolo' di Uri Liung (Dunia Bawah), melahirkan putera puteri, yakni : La Mallala'E dan We Posi'tana. La Mallala'E kemudian menikahi sepupu sekalinya bernama We Tenri Abang (puteri Batari Toja, saudara Anakaji dan We Sakkewanua), melahirkan : We Tadampali, La UlengtEpu dan La WajokEteng.


We Tadampali  terkena kutukan Dewata sehingga mengidap penyakit lepra. Maka demi menjaga agar rakyat Luwu tidak terjangkit penyakit menular itu, terpaksa We Tadampali beserta segenap pengikutnya dihanyutkan dengan dibekali benda-benda pusaka kerajaan yang dibawa La Mallala'E dari Uri Liung, yaitu : Sebilah kelewang bergelar La TEakasi, sepucuk tombak bergelar La Ula Balu dan sebilah badik kecil bergelar Cobo'E. Hingga pada perjalanan masa pembuangannya, We Tadampali terdampar disuatu wilayah yang kini dikenal sebagai : Tosora (berasal dari kata TosorE : orang terdampar) yang kelak menjadi Ibukota Kerajaan Wajo. We Tadampali mendapatkan kesembuhan berkat jilatan "TEdong Buleng" (Kerbau Bulai) yang kemudian dipersunting oleh La Mallu' Toangingraja Arung BabauwaE  (Bone Utara).


Menelusuri lebih jauh perihal leluhur masyarakat Sulawesi Selatan, kiranya tidaklah berlebihan jika sumber-sumbernya dirambah pada muara I La Galigo, naskah tertua Sulawesi yang ada. Disebutkan bahwa, "Pajung Luwu" sesungguhnya memiliki hubungan kekerabatan dengan berbagai Raja-Raja di banyak negeri pada zaman keemasannya, antara lain : 
     
       1. La Tenri Tatta ri Gima (Bima, Nusa Tenggara)

      2. La Tenri Peppang ri Wadeng (Gorontalo)
      
       3. TopangkElareng ri Taranati (TernatE)
      
      4. La Temmadatu ri Butung (Buton, Sulawesi Tenggara)
      
      5. Guru La Sellang Puang Palipada ri MassEnrEngpulu (EnrEkang)
      
      6. Puang Pongkopadang ri Pitu Babanna Binanga (Sulawesi Barat)
      
      7. dll..


Kemudian Sawerigading dijelaskan memiliki 70 orang sepupu sekali (sapposiseng cEra' lebbi') yang menjadi penguasa pada berbagai wilayah, antara lain disebutkan :

      -  La Mattulia ri Matano
       -  La Temmacelling ri BaEbunta
       -  La Maracinna ri Rongkong
       -  La Maranginang ri Masamba
       -  Guttu Patalo ri Bua
       -  La PawisEang ri Ponrang
       -  LA Saddakati ri Larompong
       -  La Rumbalangi (La Rumpang Langi) ri MEngkoka
       -  LA Banawa ri Duri
       -  Guttu Pareppa ri Toraja
       -  EllungmangEnrE' ri Tondong (Sinjai)
       -  La Pawawoi ri Balannipa (Mandar)
       - dll..


Menyimak uraian perihal leluhur pada periode "Tumanurung" diatas, kiranya dapatlah disimpulkan bahwa sesungguhnya benar adanya jika "Luwu" dikatakan sebagai "Negeri Asal Muasal", sehingga pembahasan perihal "Kesatuan Silsilah" dalam periode Lontara dapat dilanjutkan pada bagian berikutnya dalam tulisan ini.





KESATUAN DALAM KERANGKA "MASSOMPUNGLOLO"


      
      Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah perbincangan dengan Bp. H. Bustaming, S.Pd, M.Si (Kabid. Olahraga Dis.OPP Kota Parepare), penulis sempat berseloroh, "..menurut pendapat saya, yang disebut sebagai Suku Bugis pada masa ini belum tentulah "Ugi" yang dimaksud pada berbagai Lontara. Justru saya curiga jika "Ugi" yang dikisahkan pada "Lontara La Sampuraga" adalah "Orang EnrEkang" pada masa kini..". Sontak beliau yang saya tahu "berasal"  dari EnrEkang tersebut terperangah !. "PEkkogi tasengngi, ndi' ?!" (Bagaimana anda bisa mengatakan demikian, dik ?)
         .........................................................................................................




Bukan apa-apa, kadang-kadang saya hampir-hampir tidak mengerti "Bahasa Bugis" yang tercatat pada banyak Lontara Bugis sendiri. Begitu banyak kosa kata lama  yang tidak digunakan sehari-hari dikalangan masyarakat yang dikatakan sebagai "Bugis" pada masa kini, justru masih digunakan pada bahasa sehari-hari masyarakat EnrEkang hingga hari ini. Sebagai contoh, penyebutan warna putih dalam beberapa Lontara Ugi', yakni : "Mabussa" dari asal kata "Bussa" atau "Busa". Orang EnrEkang masih menyebutnya demikian hingga kini, sementara dalam bahasa Bugis masa kini menyebutnya "MaputE" dari asal kata "PutE", kata yang mestilah berasal dari Bahasa Melayu. Kemudian penyebutan terhadap "kuburan", orang Bugis masa kini menyebutnya sebagai : "Kubburu'", sementara orang Konjo di Tanjung Bira (Bulukumba) menyebutnya sebagai : "Panrang" yang tentu saja berasal dari kata "panreng", sebagaimana tertulis pada banyak Lontara Bugis pula.


Membuka perbendaharaan lama, meminjam istilah Buya Hamka, penulis mencoba menguak kesatuan dalam keberagaman lewat pintu "Panguriseng" yang dalam kosa kata aslinya disebut sebagai "panguruseng" (pusat kesatuan), yang kemudian disebut sebagai "sitambung" dari induk bahasa melayu, yakni "stambon" serta lebih diperkaya pula dengan bahasa Arab, yaitu : Silsilah.


Seorang kerabat kami menyanggah dan meragukan jika konsep kesatuan dalam "berleluhur" ini dapat  dijadikan sebagai pijakan dengan berdasar pada silsilah para bangsawan,sebagaimana diuraikan nanti. Bukankah terlalu naif jika itu dijadikan dasar kebersamaan, sementara "tidak semua" kita berasal dari turunan Bangsawan ?, demikian pertanyaan beliau. Maka penulis menguraikan dengan hati-hati, bahwa pada zaman dahulu ketika para bangsawan menyelenggarakan tradisi "diplomasi pernikahan" sebagaimana yang dirintis oleh Puatta TorisompaE (La Tenri Tatta DaEng SErang Petta MalampE'E Gemmekna) melalui kemenakannya, yakni "La Patau Matanna Tikka MatinroE ri Naga Uleng", mereka tidak datang sendiri, melainkan bersama dengan para pengikutnya dalam jumlah banyak yang nantinya mengadakan pula perkawinan silang dengan anak negeri setempat. Sebagai contoh, pernikahan agung  "La Patau Matanna Tikka MatinroE ri Naga Uleng"  dengan "We Yummung Datu Larompong" (puteri Sattiaraja Pajung ri Luwu XIX dengan Petta MatinroE ri LawElareng) tentu saja membawa pengikut masing-masing, serta kemungkinan besar pada generasi yang sama terjadi pernikahan pula diantara mereka.


Lagipula, pada masa ini kiranya sulit  mendapatkan orang yang tidak memiliki hubungan darah dengan para Raja dari masa-masa lalu. Mungkin saja bukan dari lapis kedua diatasnya, tapi bisa saja dari lapis-lapis berikutnya. Seseorang menganggapku pula terlalu naif dengan pemikiran ini. Apa benar ?!, tanyanya. Coba saja anda menghitungnya dengan baik, kataku. Setiap orang (individu) memiliki ayah dan ibu yang itu diletakkan pada generasi I diatasnya. Kemudian pada generasi II, tentu saja berkembang menjadi 4 orang (ayah ibu dari ayahnya dan ayah ibu dari ibunya). Lalu pada generasi III, tentu saja berkembang menjadi 16 orang. Maka generasi IV, jumlah generasi III yang 16 orang itu dikalikan menjadi 4 lagi, hasilnya semakin berkembang menjadi 64 orang. Inipun merupakan perhitungan bagi sebuah bagan silsilah "sederhana". Dapat dibayangkan, jika sangat kecil kemungkinan dalam generasi ke-IV setiap orang yang berjumlah 64 orang tersebut tidak satupun yang merupakan "keturunan bangsawan", walaupun setetes sekalipun ?. Akhirnya berdasar itulah, sehingga orang-orang tua kita senantiasa berwasiat, "Aja' lalo gaga tau mupakariawa.., nasaba' niga missengngi abbatireng maneng-manengna sEddiE tau ?" (jangan pernah memandang rendah seseorang.., karena siapakah kiranya yang tahu seluruh asal muasal seseorang ?).


Perihal lain yang dapat menyebabkan terjadinya peralihan identitas "asal negeri" bagi masyarakat Sulawesi Selatan dan Barat dimasa kini adalah, terjadinya migrasi pada masa perang dengan Kolonial Belanda. Mereka meninggalkan negeri kelahirannya dengan berbagai alasan, antara lain : peperangan dengan Pemerintah Hindia Belanda yang membuat mereka "tersingkir" ke negeri lain, contohnya : pengunsian ArumponE We Tenriawaru "I Pancaitana" BessE' Kajuara ke Suppa  (Pinrang) dalam bulan Desember 1859, akibat terdesak oleh pasukan General Van Swieten  dan sekutu bumi puteranya yang rata-rata terdiri dari kaum aristocrat Bone sendiri. Pengunsian itu merupakan "migrasi" besar-besaran sebagian Rakyat Bone yang terdiri dari sisa-sisa pasukan yang setia beserta keluarganya, turut serta mengawal Ratu-nya sekeluarga ke Negeri Suppa yang jauh. Tiga tahunkemudian, tepatnya dalam tahun 1862, We Tenriawaru "I Pancaitana" BessE' Kajuara dinobatkan oleh rakyat Suppa selaku Datu Suppa hingga wafatnya dan mendapatkan gelar kehormatan sebagai "Petta MatinroE ri Majennang, Suppa"


Setelah seratus tahun berlalu, sebagian keturunan  We Tenriawaru "I Pancaitana" BessE' Kajuara Mangkau ri Bone XXVIII tersebut dengan tanpa ragu menyatakan diri sebagai " To Suppa", sekiranya ditanya daerah asalnya. Demikian pula halnya dengan turunan para pengikut beliau yang kini tersebar dan beranakpinak di Suppa. Walaupun dalam tenggang waktu yang tidak terlalu lama kemudian, yakni pada tanggal 12 April 1931, salahseorang cucu We Tenriawaru "I Pancaitana" BessE' Kajuara Mangkau ri Bone XXVIII dinobatkan pula selaku Mangkau ri Bone, yaitu : Andi Mappanyukki' Sultan Ibrahim Datu Lolo Suppa Petta MatinroE ri Panaikang.


Hal yang sama dapat pula terjadi dari peristiwa sebaliknya, misalnya  pada pasca Perang Makassar,   Petta TorisompaE (Arung Palakka Petta MalampE'E Gemme'na) yang membagi-bagikan tanah kepada para pasukan setianya di Labakkang (Pangkep). Mereka adalah lasykar yang berjasa telah mengikuti Petta TorisompaE sejak perantauan di Batavia (Jakarta), ekspedisi perang ke Pariaman (Sumatera Barat), Perang Makassar,  hingga ekspedisi penaklukan lasykar KaraEng GalEsong dan KaraEng Bontomarannu di Kakaper, Jawa Timur. Kini keturunan para lasykar khusus asal Bone dan Soppeng tersebut lebih mengenal diri sebagai "Orang Labakkang", tanah kelahirannya.


Beberapa kejadian lainnya yang juga turut mengubah status anak negeri ini, walaupun tidak sampai mengubah akar budaya asalnya, antara lain disebutkan disini, yaitu : 

1.    Para turunan Syekh Yusuf "Tajul Khalwati" Tuanta Salamaka yang tersebar di Sulawesi Selatan, Banten, Srilangka hingga Cape Town (Afrika Selatan),

2.    Turunan I Mannidori KaraEng GalEsong (Putera Sultan Hasanuddin) yang tersebar di Pulau Jawa, diantaranya yang terkenal adalah Pahlawan Nasional Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Setiawan Djodi,

3.    Turunan Opu nan Lima yang tersebar di Riau, Kalimantan hingga Malaysia yang menurunkan para Yam Tuan Muda Riau, Sultan MEmpawa, Sambas dan Pontianak, diantaranya yang terkenal adalah Pahlawan Nasional asal Riau, yakni  Raja Aji Yamtuan Muda Riau Marhum Teluk Ketapang dan Sastrawan Raja Ali Haji,

4.    Turunan La Tenri Dolong To Lebba'E Datu Pammana yang banyak tersebar di Sumatera dan Kamboja,

5.    Turunan DaEng TuagE', bangsawan ksatria Wajo yang tersebar pula di Siak Sri Indrapura (Riau), turunannya yang terkenal adalah : Laksamana Raja di Laut dengan Perahu Lancang Kuningnya yang terkenal,

6.    Turunan KaraEng Aji, pangeran Makassar yang menebar turunanannya di Pahang, Malaysia. Turunannya yang terkenal adalah PM. Malaysia Tun Abdul Razak dan puteranya, PM. Malaysia Tun Najib,

7.     Turunan La Rajadewa Arung Belawa yang tersebar di Singapura,

8.     Turunan para orang Wajo yang telah membuka Samarinda hingga kini banyak tersebar sebagai masyarakat terkemuka di Kutai Kertanagara (Kalimantan Timur),

9.   Turunan para Sultan Bima dan Sumbawa yang berhubungan langsung dengan silsilah Kesultanan Gowa, 

10.  Turunan KaraEng Ballasuka dan KaraEng Pao (Sinjai) yang dibuang oleh Pemerintah Gubernemen Belanda ke Cianjur (Jawa Barat) dalam tahun 1862, sehingga salahseorang keturunannya yang terkenal adalah DaEng Kanduruan Ardiwinata seorang tokoh sastrawan Sunda dan Sesepuh paguyuban Pasundan, 

11.   serta masih banyak lagi yang lainnya.



Walaupun mengingat keterbatasan ruang pada judul tulisan ini untuk menguraikan silsilah para putera Bugis Makassar perantau yang tersebut diatas satu demi satu, namun pada kesatuan silsilah yang akan diuraikan berikut ini kiranya dapat merangkum mereka yang berada menetap di Sulawesi maupun yang sudah terlahir diluar Sulawesi. Sebagaimana diwasiatkan oleh para pendahulu, bahwa : "Duami malebbi riyala bokong temmawari ri linoE, iyanaritu : Assompulolongeng na Paddissengeng MadEcEng.." (hanya dua bekal berharga yang tak akan pernah basi di dunia, yakni : perhubungan sanak keluarga dan ilmu yang bermamfaat). Maka dengan ini dihaturkan uraian silsilah perhubungan para Raja-Raja Sulawesi Selatan dan Barat, dipilih pada jalur-jalur perhubungan yang luas saja, menurut maksud tema tulisan ini, dihaturkan sebagai berikut :



I. KERAJAAN LUWU


 Pada bagian awal tulisan ini telah diuraikan perihal Kerajaan Luwu yang "diakui" sebagai Kerajaan Asal seluruh kerajaan di Sulawesi Selatan. Maka dibawah ini diuraikan pula uraian silsilah keturunan para Pajung dan Opu di Luwu yang menyebar ke kerajaan lainnya.


Telah diuraikan pada bagian terdahulu, bahwa sejak Dynasti Dewata Manu
rungngE telah terjadi perhubungan kawin mawin dengan pendiri kerajaan lainnya, baik di Jawa maupun di kawasan timur Indonesia pada masa kini. Maka pada bagian ini diuraikan perkawinan para Bangsawan Luwu dengan Bangsawan dari negeri-negeri lainnya pada masa syiar Islam di Sulawesi Selatan pada abad XVI, sebagai berikut :


    Pati Arase’ (La Pati Ware') DaEng Parambong (Dg. Parabbung) Sultan Muhammad Waliyu Mudharuddin Petta MatinroE ri Ware’ Pajung ri Luwu XVI (Raja Luwu pertama masuk Islam, menurut silsilah TippuluE adalah Pajung ke XIII), menikah dengan  KaraEngta ri Balla’ Bugisi (saudara kandung  I Mangngarangi DaEng Manrabia Sultan Alauddin Somba Gowa XIV, Raja Gowa pertama yang masuk Islam), melahirkan : 1. Pati Pasaung  Sultan Abdullah Mahyuddin Petta MatinroE ri MalangkE Pajung ri Luwu XVII, 2. Petta MatinroE ri Somba Opu, 3. Somba BainEa


    Pati Pasaung  Sultan Abdullah Mahyuddin Petta MatinroE ri MalangkE Pajung ri Luwu XVII, menikah dengan  We Panangngareng Petta MatinroE ri Judda , melahirkan : Palissubaya Sultan Ahmad Nazaruddin  Petta MatinroE ri Gowa Pajung ri Luwu XVIII.


     Palissubaya Sultan Ahmad Nazaruddin  Petta MatinroE ri Gowa Pajung ri Luwu XVIII  menikah dengan  Opu DaEng MassallE, melahirkan : Sattiaraja Petta MatinroE ri Tompotikka PAjung ri Luwu XIX.


      Sattiaraja Petta MatinroE ri Tompotikka Pajung ri Luwu XIX, menikah dengan  Petta To CEnrana (Bone), melahirkan : La Sangaji Opu Patunru Luwu.
  
    
    Ỗ Sattiaraja Petta MatinroE ri Tompotikka Pajung ri Luwu XIX, menikah dengan We Diyo’ DaEng Massiseng Petta I Takalara  MatinroE ri LawElareng , melahirkan putera puteri, sbb :

1. La Onrong Topalaguna Pajung ri Luwu XX  menikah dengan   We PAttEkEtana (puteri La Mappajanci Sultan Ismail Datu TanEtE dengan permaisurinya : We Tenri Abang Datu MArioriwawo = adik Arung Palakka Petta MalampE’E Gemme’na) , melahirkan : Batari Tungke’ Pajung ri Luwu XXII.
 

  Kemudian, ..

La Onrong Topalaguna Pajung ri Luwu XX  menikah dengan   I Rukiah , melahirkan : La KasEng Tosibengngareng Petta MatinroE ri Kaluku BodoE Pajung ri Luwu XXI , menikah dengan   I Saoda Datu Pacciro, melahirkan :
              
     La Tenri Peppang DaEng Paliweng Petta MatinroE ri Sabbangparu Pajung ri Luwu XXVI  menikah dengan  I Wakkang Batari Toja DaEng Matana Datu Bakke’ (puteri We Tenri LElEang)



Kemudian, ..
La Tenri Peppang DaEng Paliweng Petta MatinroE ri Sabbangparu Pajung ri Luwu XXVI  menikah dengan  I Manneng DaEng Masiang (puteri Arung Timurung Opu PawElaiyyE ri Bola Ukiri’na, melahirkan :    I Tenriawaru Datu Soppeng XXIX Pajung ri Luwu XXVII.



2. We Ummung (Tenri Ummung) Datu Larompong Petta MatinroE ri Bola Jalajja’na, menikah dengan  LA Patau’ Matanna Tikka Arung Palakka Sultan Alimuddin Idris Ranreng Tuwa Wajo Petta MatinroE ri Nagauleng Mangkau ri Bone XVI , melahirkan putera puteri, sbb
  *        La Temmasonge’ (La Mappasosong) Sultan Abdul Razak Jalaluddin Petta MatinroE ri Mallimongeng Mangkau’ ri Bone XXII, menikah dengan  Sitti Aisyah (puteri Muhammad Maulana KaraEng Tumabbicara Butta Gowa), melahirkan putera puteri, sbb : 1. La Balloso’ Toakkotto Muhammad Ramalang Arung PonrE Petta MaddanrengngE ri Bone, 2. I Mida Arung Lapanning, 3. I Rana (We Banna) Petta Ranreng Tuwa Wajo, 4. We TenriollE Arung Lapanning, 5. I PAkkemme’ Arung Majang.

*       We Batari Toja DaEng Talaga Mangkau ri Bone XVII Pajung ri Luwu XXI,

*        We Patimanaware’ Arung Timurung Opu PawElaiyyE ri Bola Ukiri’na,  

We Patimanaware’ Arung Timurung Opu PawElaiyyE ri Bola Ukiri’na, menikah dengan La Raunglangi Opu Patunru’ Luwu, melahirkan putera puteri, sbb : 1. I Manneng DaEng Masia (isteri  La Tenri Peppang DaEng Paliweng Petta MatinroE ri Sabbangparu Pajung ri Luwu XXVI ), 2. I Pawawoi Opu DaEng Matajang (isteri La Tadda Opu MatinroE ri LEmpa), 3. Opu BoE,

*      Opu TolEmbaE menikah dengan Ana'na Pabbicara Bittua

 *      La SallE Opu Daeng Panai’ menikah dengan  I BessE Opu DaEng Tarima, melahirkan : 1. Opu MpElaiyangngi Kannana (suami Opu BoE), 2. Opu DaEng Talala (suami Maddika Sangalla).



Kembali keawal, yakni pernikahan lain Sattiaraja,

Sattiaraja Petta MatinroE ri Tompotikka Pajung ri Luwu XIX, menikah dengan We Diyo’ DaEng Massiseng Petta I Takalara  MatinroE ri LawElareng , melahirkan :   La Sangaji Opu Patunru Luwu

La Sangaji Opu Patunru Luwu menikah dengan   I Mammu DaEng TalEna, melahirkan  La Rumpang Megga TosappEilE Opu Cenning Luwu.

La Rumpang Megga TosappEilE Opu Cenning Luwu   menikah dengan     BAtari Tungke’ Pajung ri Luwu XXII (puteri La Onrong Topalaguna Pajung ri Luwu XX  ), melahirkan

1.       La Oddangriu Datu TanEtE Datu SoppEng XXIII menikah dengan  I Tungke’ Puang DaEng, melahirkan : I Sabong,
2.       We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang PAjung ri Luwu XXIII/XXV menikah dengan La MAppasiling (La Mappaselli) Datu Pattojo Petta MatinroE ri Duninna, melahirkan :  
·           La Mappajanci Datu Soppeng XXVII,
·           We Tenriabang DaEng Baji DatuE Watu Datu Pattojo Petta MatinroE ri PangkajEnE.

Kemudian We Tenri LElEang menikah lagi, :

  We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang PAjung ri Luwu XXIII/XXV menikah dengan La Mallarangeng Datu Lompulle’ Datu Marioriwawo, melahirkan

·        La Tenrisessu Arung Pancana Opu Cenning Luwu 
·        I Wakkang Batari Toja DaEng Matana Datu Bakke’,
·        La Maggalatung Tokali Datu Lompulle’,
·        I Tenripada DaEng MalEleng,
·        I Patimang Dennyarasi MatinroE,
·        I Panangngareng Datu Marioriwawo, 



Uraian ini kemudian dilanjutkan pada generasi berikutnya, sbb :
I Pawawoi Opu DaEng Matajang(puteri I Patimana WarE' Arung Timurung Opu PawElaiyyE ri Bola Ukiri’na,  dengan La Raunglangi Opu Patunru’ Luwu) menikah dengan La Tadda Opu MatinroE ri LEmpa, melahirkan :    We Kabo Opu DaEng Nipati (isteri La Makkasau Arung KEra Dulung Pitumpanua bin La Temmasonge’ "La Mappasossong" Sultan Abdul Razak Jalaluddin Petta MatinroE ri Mallimongeng Mangkau’ ri Bone XXII dengan Sitti Habibah)



  Opu BoE (puteri I Patimana Ware' Arung Timurung Opu PawElaiyyE ri Bola Ukiri’na, dengan La Raunglangi Opu Patunru’ Luwu)  menikah dengan Opu MpElaiyangngi Kannana (putera La SallE Opu DaEng Panai), melahirkan :    Opu Indo’na Ako

Opu DaEng Talala (puteri La SallE Opu Daeng Panai’ dengan  I BessE Opu DaEng Tarima) menikah dengan Maddika Sangalla’, melahirkan :   La Konta Opu DaEng Mamangung (Suami Opu MatinroE ri BonE LEmo)



Kemudian pula,
We Tenriabang DaEng Baji DatuE Watu Datu PAttojo Petta MatinroE ri PangkajEnE (puteri We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang PAjung ri Luwu XXIII/XXV dengan La Mappasiling "La Mappaselli" Datu Pattojo Petta MatinroE ri Duninna)  menikah dengan La Kasi DaEng Majarungi Petta PonggawaE ri Bone (putera La Temmasonge' Arumpone MatinroE ri Mallimongeng), melahirkan :   La Banrulla



Kemudian ..

We Tenriabang DaEng Baji DatuE Watu Datu PAttojo Petta MatinroE ri PangkajEnE menikah dengan La Pallawagau’ Arung Maiwa Datu Pammana Petta Pilla ri Wajo, melahirkan : 1. We Tenri Balobo DaEng riyasE Datu Pammana, 2. I Mappanyiwi Datu Pammana, 2. I Sompa DaEng Sinring DAtu Pammana, 3. I BubE KaraEng PambinEang, 4. La Tenri Dolong To LEbba’E Datu PAmmana


La Mappajanci Datu Soppeng XXVII (putera We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang Pajung ri Luwu XXIII/XXV dengan La Mappasiling "La Mappaselli" Datu Pattojo Petta MatinroE ri Duninna) menikah dengan I Sabong (puteri La Oddangriu Datu TanEtE Datu SoppengXXIII), melahirkan : We MEnengratu Arung Lipukasi



Kemudian ..
La Mappajanci Datu Soppeng XXVII menikah dengan We TenriollE Arung Lapanning  , melahirkan putera puteri, sbb

1. We Tenri Ampareng Datu Lapajung Datu Soppeng XXX (isteri La PabEangi    Datu Ganra Arung BElawa), 
2. La MappapolEonro Sultan Nuhung Petta MatinroE ri Amala’na Datu Soppeng XXVIII (suami I Tenriawaru Datu Soppeng XXIX Pajung ri Luwu XXVII binti La Tenri Peppang DaEng Paliweng Petta MatinroE ri Sabbangparu Pajung ri Luwu XXVI).



La Tenrisessu Arung Pancana Opu Cenning Luwu (putera   We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang Pajung ri Luwu XXIII/XXV dengan La Mallarangeng Datu Lompulle’ Datu Marioriwawo) menikah dengan We Tenrilawa BessE PEampo (puteri La Passaung Arung MEngE dengan We Tenri LEkke Arung Sajoanging), melahirkan : La Makkarakalangi Baso Tancung Datu Marioriawa (suami I Dulu Datu Mario ri Attangsalo)



Kemudian ..
La Tenrisessu Arung Pancana Opu Cenning Luwu menikah dengan I Pada Punna BolaE Petta ri Silaja, melahirkan : Asia Datu Lompulle’ (isteri La Mappaware’ Datu Lamuru putera I Panangngareng Datu Marioriwawo dengan La Sunra Datu Lamuru)

La MappapolEonro Sultan Nuhung Petta MatinroE ri Amala’na Datu Soppeng XXVIII (Putera La Mappajanci Datu Soppeng XXVII dengan We TenriollE Arung Lapanning)  menikah dengan I Tenriawaru Datu Soppeng XXIX Pajung ri Luwu XXVII binti La Tenri Peppang DaEng Paliweng Petta MatinroE ri Sabbangparu Pajung ri Luwu XXVI, melahirkan putera puteri, sbb

1.      La Tenri Oddang Pajung ri Luwu XXVIII (suami We Habibah Opu Daeng Talebbi), melahirkan : La JEmmabaruE Pajung ri Luwu XXIX (suami Opu DaEng PAnangngareng), melahirkan : I Kambo (We KAbbe) Opu DaEng ri Sompa Pajung ri Luwu XXXII (isteri La Tenri LEkke’ Opu Cenning Luwu), melahirkan : Andi JEmma Petta MatinroE ri Kemerdekaanna Pajung ri Luwu XXXIII (suami Andi Tenripadang Opu Datu Luwu binti Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim Datu Suppa Petta MatinroE ri Gowa MAngkau ri Bone XXXII/XXXIV), melahirkan : Andi JEmma BaruE.

2.      La Tenri Sessu’ Arung Galung (suami  I WEwanglangi), melahirkan : La Mattarima

3.       La Sumange’rukka Arung BEru-BEru (suami  Ane’ Banna Opu Indo’na I Raju), melahirkan :   I Mappa’ DaEng Tasa’na




4.       I Pancaitana Arung Akkampeng (isteri La Rumpangmegga Datu Lamuru bin La Mappaware’ Datu Lamuru dengan Asia Datu Lompulle), melahirkan : I Panangngareng Datu Lompulle’ (isteri La Patongai Datu Pattiro), melahirkan : Laonrong Datu Pattiro Datu Soppeng XXXII (suami  I Baccicu Datu Ganra Arung BElawa), melahirkan : I Soji  Arung BElawa Datu Madello (isteri La TEngko Petta Manciji’E ri Wajo bin La Tune’ Sangiang Arung BEttEngpola Petta MatinroE ri Tancung), melahirkan : Andi Patongai Datu Doping Arung BElawa.

5.       La Guttu Patalo Datu Mari-Mari (suami  I MaurantE Petta Ipao)

6.       La Saliu Opu Sanggaria (suami  Arung Lita)

7.       We Singara’ DaEng MAtana (isteri La WEwang Opu MatinroE ri Baruganna bin La Makkasau Arung KEra Dulung Pitumpanua dengan We Kabo’ Opu DaEng Nipati)

8.       We Hamidah Pajung ri Luwu XXX

9.       La PAmadenglettE Datu Watu Opu Cenning Luwu (suami  I Pada DaEng Makanang bin La Makkasau Arung KEra Dulung Pitumpanua dengan We Kabo’ Opu DaEng Nipati )



Mencermati uraian silsilah diatas, dapatlah dilihat bahwa Andi JEmma  Pajung ri Luwu XXXIII yang merupakan Raja Luwu terakhir, sesungguhnya memiliki “darah campuranGowa, Bone, Wajo, Soppeng, Sangalla, Barru, serta menjalin hubungan kekerabatan dengan semua Raja-Raja se-Sulawesi Selatan dan Barat. Maka pernyataan seorang kerabat kami yang "merasa" sebagai "Orang Luwu Asli" beberapa tahun yang lalu, bahwa : "..tahta Pajung Luwu PANTANG dan TIDAK PERNAH diduduki oleh seorang bangsawan yang tidak berdarah LUWU MURNI !", kini terbukti sebagai kekhilafan yang tidak perlu adanya.


Panguriseng  sebagaimana  diuraikan  diatas  dikutip dari Lontara Abbatirengna Ana' ArungngE ri Soppeng dari "parEEna" (Bab) : Abbatirengna Ana' ArungngE ri Luwu yang dikutipnya pula dari himpunan silsilah Paduka H. Andi Wana Datu Soppeng XXXVI. Pada lontara silsilah ini didapati "perbedaan" dengan Lontara Silsilah lainnya yang menyangkut perihal Raja-Raja Luwu, yakni : I Kambo (We KAbbe) Opu DaEng ri Sompa Pajung ri Luwu XXXII (isteri La Tenri LEkke’ Opu Cenning Luwu) yang pada Lontara lainnya disebutkan sebagai lelaki, diantaranya pada salinan Almarhum Paduka Opu TosinilElE. Kemudian pada bagian lainnya, didapati pula perbedaan versi era jabatan Pajung yang pada hemat penulis tidaklah mengurangi otentitas dan prinsif-prinsif referensinya.


Mengingat blog kita bersama yang bertitel "Putera Belawa" ini, maka penulis dapat menyatakan bahwa para turunan bangsawan di Belawa pada saat ini dapat pula dikatakan sebagai "Orang Luwu". Salah seorang tokoh Belawa pada abad XVIII yang keturunannya adalah hampir segenap turunan bangsawan di Belawa pada masa ini, adalah : La Tamang Petta Palla'E adalah sesungguhnya "Wija Luwu" pula, sebagaimana diuraikan, sbb :


We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang PAjung ri Luwu XXIII/XXV menikah dengan La MAppasiling (La Mappaselli) Datu Pattojo Petta MatinroE ri Duninna, melahirkan We Tenriabang DaEng Baji DatuE Watu Datu Pattojo Petta MatinroE ri PangkajEnE.
We Tenriabang DaEng Baji DatuE Watu Datu Pattojo MatinroE ri PangkajEnE menikah dengan La Pallawagau’ Arung Maiwa Datu Pammana Petta Pilla ri Wajo, melahirkan : We Tenri Balobo DaEng riyasE Datu Pammana,  

  We Tenri Balobo DaEng ri YasE Datu Pammana  menikah dengan  Ỗ La Sappo Petta Ogi Datu Palireng Arung Belawa MatinroE ri CempaE, melahirkan La Tamang Petta Palla'E.

La Tamang Petta Palla'E  menikah dengan    I LEkke' (puteri DaEng Parebba Petta Bulu'bangi), melahirkan1. La Pamessangi Baso' Parepare,  2. La PallEmpa DaEng Pawawa Petta MatinroE ri PittuE.

La Pamessangi Baso' Parepare menikah dengan    I RubEng, melahirkan1. La Tiling DaEng Maggading SullEwatang BElawa Orai', 2. La Mantu Petta Palla'E.
La Tiling DaEng Maggading SullEwatang BElawa Orai' menikah dengan    I Mannungke' (puteri Arung Data), melahirkan : La Dai Puenna Mattiroang.


Perhubungan Belawa dengan Luwu sesungguhnya sangat erat, mengingat La Mappasiling (La Mappaselli) Datu Pattojo Petta MatinroE ri Duninna (suami We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang PAjung ri Luwu XXIII/XXV) dimakamkan pula di "Jara' LompoE" di TippuluE, Belawa.

Pada hampir semua Lontara Panguriseng yang penulis baca, baik Silsilah Ajappareng (SidEnrEng, Rappang, Suppa, Alitta, Sawitto dan Parepare), maupun Soppeng, Pammana, TanEtE, Pancana, Berru, MandallE', SEgEri, PangkajEnE (kepulauan) hingga Gowa dan Bone, maka tokoh We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang Pajung ri Luwu XXIII/XXV adalah Tokoh Sentral didalamnya. Bahkan lebih jauh pula, jika merunut ke kitab Tuhfat an Nafis, karya Pahlawan Nasional Pujangga Raja Ali Haji yang memuat perihal sejarah dan silsilah para "Opu Lima" juga mengakar dari nazab We Tenri LElEang, diuraikan dengan penyesuaian Lontara panguruseng Soppeng, sbb :


We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang PAjung ri Luwu XXIII/XXV menikah dengan La Mallarangeng Datu Lompulle’ Datu Marioriwawo, melahirkan :  1. La Tenrisessu Arung Pancana Opu Cenning Luwu ,  2. I Wakkang Batari Toja DaEng Matana Datu Bakke’,  3. La Maggalatung Tokali Datu Lompulle’, 4. I Tenripada DaEng MalEleng, 5. I Patimang Dennyarasi MatinroE, 6. I Panangngareng Datu Marioriwawo,7. La Maddusila Toappasawe’ Datu TanEtE

La Maddusila Toappasawe’ Datu TanEtE (Lamdusalat : Tuhfat An Nafis) menikah dengan I SaEnong Datu Citta (puteri La Temmasonge’ Sultan Abdul Razak Jalaluddin Petta MatinroE ri Mallimongeng Mangkau’ ri Bone XXII dengan Sitti Habibah), melahirkan putera puteri, sbb

 1. Opu Tenriborong DaEng ri LEkke’ (Upu Tendri Burang Dahing Rilaga : Tuhfat An Nafis), menikah dengan    …………………………………………………………………….. , melahirkan putera puteri, sbb :


 -  Opu DaEng Parani (Upu Dahing Parni ; Tuhfat An Nafis) menikah dengan Ana’na Nakoda Alang (Kari Abdul Malik, seorang Saudagar Wajo yang menjadi pemuka masyarakat di Pulau Siantang, Kalimantan Timur), , melahirkan putera puteri, sbb : 1. Opu DaEng Kamboja “Yang Dipertuan Muda Riau III” (1746 – 1777), 2. Opu DaEng Khatijah (Permaisuri Raja Alam, Kerajaan Siak Sri Inderapura)
    Opu DaEng Parani  kemudian menikahi pula Puteri Raja Selangor  dan Adik  Raja Kedah yang menurunkan para Sultan Selangor dan Sultan Kedah hinggah sekarang.

-    Opu DaEng MarEwa (Upu Dahing Marewah : Tuhfat An Nafis) Pangeran Kelana Jaya Putera “Yang Dipertuan Muda Riau I” (1721 – 1729)


 -    Opu DaEng Cella’ (Upu Dahing Celak : Tuhfat An Nafis) Sultan Alauddin Syah “Yang Dipertuan Muda Riau II, Johor dan Pahang dengan segala daerah taklukannya (1729 – 1746) menikah dengan …………………………………….. , melahirkan putera puteri, sbb :


 1. Raja Aji Marhum As Syahid fi Sabilillah Teluk Ketapang “Yang Dipertuan Muda Riau IV” (1777 - 1784)      menikah dengan                 …………………….. , melahirkan :   Angku Raja Ahmad Al Haj menikah dengan ……………………..  melahirkan :   Raja Ali Al Haji (Bapak Bahasa Indonesia dan penulis Tuhfat An Nafis)

2. Raja Lumun ”Sultan Salehuddin” Raja Selangor I (naik tahta pada tahun 1743)      menikah dengan                 …………………….. , melahirkan :   Sultan Ibrahim Raja Selangor II menikah dengan ……………………..  melahirkan :   Sultan Muhammad Raja Selangor III


Opu DaEng Manambung (Upu Dahing Menambung: Tuhfat An Nafis ) Pangeran Emas Surya Negara Sultan Mempawah (Kalimantan Barat)

Opu DaEng KamasE (Upu Dahing Kamasi : Tuhfat An Nafis ) Pangeran Mangkubumi Raja Sambas (Kalimantan Timur ?).


2. Sitti Halijah Arung Pao menikah dengan   Toappasawe’ Arung Berru, melahirkan : La Sumange’rukka Topatarai menikah dengan   I BaEgong Arung MacEgE (puteri Toappatunru Petta MatinroE ri Lalengbata Mangkau’ Bone XXIII dengan Arung Kaju),  melahirkan : 1. Singkerru’rukka Arung Palakka Mangkau’ ri Bone XXIX, 2. We Tenripada Arung Berru (isteri I Malingkaan Somba Gowa XXXIII)


3. I Cudai Arung Berru


4. I Buba Datu Citta

5. I Cammi


6.   La Patau Datu TanEtE menikah dengan I Pacu Petta MabbolasadaE, melahirkan : La CengngE menikah dengan I  Dalatikka Petta Massaolebbi'E, melahirkan : 1. Intang Arung Pao-Pao, 2. La SappEilE Datu TEmpE, 3. I  Dalatongeng Datu TempE


I  Dalatongeng Datu TEmpE  menikah dengan   La Mappanyompa Arung Ujung Petta        Ranreng Tuwa Wajo, melahirkan : I Ninnong Datu TEmpE Petta Ranreng Tuwa Wajo menikah dengan   I Malingkaan KaraEng ri Bura'nE, , melahirkan : 1. I Munawwarah Datu TEmpE (isteri La Sumange'rukka KaraEng BEroanging), 2. Baharuddin Datu TEmpE, 3. Muhdaria KaraEng Sinrijala (KaraEng Balla'sari), 4. Hasan Mahmud KaraEng Bontorannu


7. La Tomanggung Petta Addiangeng 

8.  La TowaggangmettE Datu Citta menikah dengan    I Hindong, melahirkan : La Mattalatta Arung Bila


9.   MaggamoE


10 I Tenri Jai


11.  I BessE


Uraian perihal putera puteri La Maddusila Toappasawe’ Datu TanEtE (Lamdusalat : Tuhfat An Nafis) diatas, pada akhirnya menunjukkan pada kita bahwa Opu DaEng Parani (Upu Dahing Parni ; Tuhfat An Nafis) sesungguhnya "Massappo Siseng" (Bersepupu sekali / saudara misan) dengan para Raja-Raja Besar Sulawesi Selatan pada masanya, antara lain : 


1.     La Sumange’rukka Topatarai,
2.      La CengngE,
  3.     La Mattalatta Arung Bila, 


Hingga akhirnya penulis kini tidak heran lagi ketika bertemu dengan junjungan kami Almarhumah Petta Balla'sari di Surabaya pada tahun 1988, dimana Baginda saat itu sedang dalam perjalanan pulang dari muhibahnya ke Johor, Malaysia atas undangan kerabatnya, yakni : Sultan Johor.


Kemudian salahseorang putera La MappapolEonro Sultan Nuhung Petta MatinroE ri Amala’na Datu Soppeng XXVIII dengan I Tenriawaru Datu Soppeng XXIX Pajung ri Luwu XXVII binti La Tenri Peppang DaEng Paliweng Petta MatinroE ri Sabbangparu Pajung ri Luwu XXVI, yakni : La PamadenglettE Datu Watu Opu Cenning Luwu, telah mengukuhkan namanya sebagai tokoh pusat yang menurunkan Raja-Raja terkemuka di Wajo, Soppeng, Sawitto, Pammana, Pamboang (Mandar, Sulawesi Barat), Belawa dan lainnya, sebagaimana diuraikan dibawah ini : 

La PAmadenglettE Datu Watu Opu Cenning Luwu menikah dengan    I Tenri Arung Singkang (Wajo), melahirkan putera puteri, sbb : 

1.     La Paremma' Datu La Pajung
2.     We Gau
3.    I MundEng
4.    Ỗ La TalEmpeng Arung Singkang Datu Soppeng XXXIII menikah dengan ∆ I Tahira Petta Patola Wajo, melahirkan putera puteri, sbb :
-          ∆ I Baccicu Datu Ganra Arung Belawa,
-          ∆ I Mappanyiwi Datu Watu Petta Patola Wajo
       ∆ I Mappanyiwi Datu Watu Petta Patola Wajo menikah dengan Ỗ La Walinono Datu Botto, melahirkan putera puteri, sbb :
*    Ỗ La OddangpEro Datu Larompong Arung Matoa Wajo XLIV menikah dengan ∆ I Tenri Esa', melahirkan : Ỗ La Sumange'rukka Petta Patola Wajo menikah dengan ∆ I Panangngareng Datu Pattojo, melahirkan : ∆ I Pancaitana Datu Pattojo (isteri Muhammad Arsad Datu Marioriwawo bin La Mangkona Datu Marioriwawo Arung Matoa Wajo XLV)

Ỗ La OddangpEro Datu Larompong Arung Matoa Wajo XLIV menikah dengan ∆ I Nomba KaraEng Balla’kaca, melahirkan putera puteri, sbb :
·    Ỗ La Maddukelleng Petta Cakkuridi ri Wajo (suami I Tenri SanrE  Addatuang Sawitto XIV)
·   ∆ Batari Toja Arung Gilireng menikah dengan  Ỗ  La Mappanyompa Petta MaddanrengngE ri Pammana melahirkan putera puteri, sbb :
~ Ỗ  Pallawarukka Petta Pilla’E ri Wajo
~ ∆  Tenriampareng Datu Pammana

   Ỗ La Wawo Datu Botto menikah dengan ∆We Tenrimario Datu Lamuru, melahirkan :  Ỗ La Mangkona Datu Marioriwawo Arung Matoa Wajo XLV ; (Arung Matoa Wajo Terakhir) menikah dengan ∆ Addiluwu Datu Watu, melahirkan putera puteri, sbb: 

-      Ỗ Muhammad Arsad Datu Marioriwawo
-        ∆ Tenri AbEng (isteri La PatEttEngi Addatuang Lolo Sidenreng)
-         ∆ Tenri Angka (isteri Tonralipu Maraddia Pamboang, Mandar)
-         ∆ Tenri Pakkemme’ (isteri Abu BaEdah Arung Ganra)
-         ∆ I Baccicu Datu Lamuru (isteri Sulolipu Petta Tomarilaleng Bone)

*    ∆  I Tenriwatu Sultanah Zaenab Datu Soppeng XXXV menikah dengan Ỗ La PabEangi Arung Ganra SullE Datu Soppeng (putera La Onrong Datu Pattiro Datu Soppeng XXXII dengan I Baccicu Datu Ganra Arung Belawa), melahirkan putera puteri, sbb: 
·    Ỗ La Wana Datu Ganra Datu Soppeng XXXVI (Datu Soppeng Terakhir)
·         La JEmma Datu Lapajung,
·         I Tahira Petta Patola Wajo,
·         Addiluwu DatuE Watu.


Kemudian putera La TalEmpeng Arung Singkang Datu Soppeng XXXIII menikah dengan I Tahira Petta Patola Wajo yang terakhir adalah :
  La PamadenglettE Datu Watu Opu Cenning Luwu  menikah dengan    I Pada DaEng Makanang binti La Makkasau Arung KEra Dulung Pitumpanua dengan We Kabo’ Opu DaEng Nipati, melahirkan: Iskandar Datu Larompong Pajung ri Luwu XXIX menikah dengan    We SabbE Tolebbi, melahirkan: I RawE Opu DaENg Talebbi menikah dengan    La OddangpEro Datu Larompong Arung Matoa Wajo XLIV melahirkan:  
1. Iskandar Datu Botto
2. La Mappanyompa Opu Totadampali Tomarilaleng Luwu


 Sekiranya uraian diatas dikembalikan lagi ke We Tenriabang DaEng Baji DatuE Watu Datu PAttojo Petta MatinroE ri PangkajEnE menikah dengan La Pallawagau’ Arung Maiwa Datu Pammana Petta Pilla ri Wajo, melahirkan : 1. We Tenri Balobo DaEng riyasE Datu Pammana, 2. I Mappanyiwi Datu Pammana, 2. I Sompa DaEng Sinring Datu Pammana, 3. I BubE KaraEng PambinEang, 4. La Tenri Dolong To LEbba’E Datu PAmmana, maka melalui garis I Sompa DaEng Sinring DAtu Pammana  yang menikah dengan La Settiang Opu Maddika Bua akan didapati jika mereka akan menurunkan para Datu Pammana, Addatuang SidEnrEng, Arung Rappeng, KaraEng BEroanging, Arung Berru, Datu Suppa, Addatuang Sawitto, Arung Matoa Wajo, Mangkau ri Bone, Arung MallusEtasi hingga Sombayya ri Gowa. Namun mengingat jika  bagaimanapun uraian kita bersama ini akan dilanjutkan melalui perhubungan silsilah pada kerajaan-kerajaan lainnya, maka nantinya akan dibahas pada bagian "Kerajaan SidEnrEng".



II. KERAJAAN BONE



Sejak didirikannya sebagai sebuah Kerajaan dalam tahun 1326, dimana Raja pertamanya yaitu : La MammatasilompoE ManurungngE ri Matajang, maka nantilah pada generasi ke-5 setelah To ManurungngE ri Matajang barulah Kerajaan ini mencatatkan kiprahnya dalam perhubungannya dengan kerajaan-kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan dan Barat. Generasi ke-5 itu adalah La Tenri Sukki MappajungngE Mangkau ri Bone V. Baginda dikenal sebagai raja yang giat melakukan peperangan dan penaklukan untuk memperluas wilayah Tana Bone. Pada masanyalah, pasukan Luwu yang dipimpin sendiri oleh La DEwaraja TosEngereng Datu KElali’ Pajung ri Luwu dapat dipukul mundur di CEnrana dan bahkan mampu merebut salahsatu payung kebesaran Tanah Luwu dan Bendera merah angkatan bersenjata Kerajaan Luwu. Kemenangan itulah yang menjadikan pujian bagi baginda La Tenri Sukki dengan gelar “MappajungngE” karena telah merebut payung kebesaran Luwu, walaupun pada akhirnya Baginda Payung Luwu memberikannya sebagai "cinderamata". Maka peperangan yang terkenal itu menghasilkan sebuah perjanjian terkenal pula, yakni : Ulu Ada Polo MalElaE ri Luwu yang menandai penyerahan negeri Cenrana dalam wilayah kekuasaan Tanah Bone.

Setelah kemenangan gemilang itu, Baginda MappajungngE meneruskan peperangannya ke negeri Mampu. Maka dalam waktu relative singkat, negeri itu menyatakan takluk dan dijadikan negeri Palili Tanah Bone. Penghargaan rakyat Bone terhadap raja yang hebat ini menjadikannya sebagai patron raja-raja setelahnya. Setiap Raja Bone yang dinobatkan setelah wafatnya baginda, mestilah dari garis keturunan MappajungngE, sebagamana diuraikan sebagai berikut :



La Tenrisukki MappajungngE Mangkau Bone V (putera We BarigauMakkaleppiE MallajangngE ri Cina Mangkau Bone IV  dengan La Tenribali Arung Kaju) menikah dengan We Tenrisokke, melahirkan putera puteri, sbb:
 

1.       La Ulio Botte'E Petta MatinroE ri Itterrung Mangkau Bone VI,
2.       We Tenrigella (isteri Opu Daleng ri Kung),
3.       DenradatuE

La Ulio Botte'E Petta MatinroE ri Itterrung Mangkau Bone VI menikah dengan We TenriwEwang Arung Pattiro (Puteri We Sumange DatenriwEwang, saudara La Tenrisukki MappajungngE), melahirkan putera puteri, sbb:
 
1.       La TenrirawE BongkangngE Petta MatinroE ri Gucinna Mangkau Bone VII, menikah dengan We Tenripakkua Arung Timurung
2.       La Ica Petta MatinroE ri AddEnEnna Mangkau Bone VIII, menikah dengan We Tenripakkua Arung Timurung, melahirkan putera puteri, sbb:
 
  We Tenrisoloreng MakkkalaruE Datu Pattiro menikah dengan La Pancai' Topatangkai Arung Suli, melahirkan putera puteri, sbb:
  La Maddaremmeng Sultan Muhammad Saleh Petta MatinroE ri Bukaka Mangkau Bone XIII,
-       Ỗ La Tenroaji Tosenrima Petta MatinroE ri Siang Mangkau Bone XIV.
 -  La Tenripale' ToakkappEang Sultan Abdullah Petta MatinroE ri Tallo Mangkau  Bone XII menikah dengan We PalettEi KanuangngE (puteri We Tenrituppu Maddusila Petta MatinroE ri Sidenreng Mangkau Bone X dengan Towaddusila TorilEwoE arung Sijelling).

3.    We Tenripauwwang menikah dengan La Makkarodda Totenribali MabbEluwa'E Datu Marioriwawo (putera La WaniagaTomakerra Arung Bila dengan We Bolosugi) , melahirkan: La TolEmpeng Datu Pattojo.

La TolEmpeng Datu Pattojo menikah dengan I TenrilEkke' Baji' LEmbaE Datu Marioriwawo, melahirkan putera puteri, sbb:
I Pasang DatuE Watu menikah dengan La Pottobunne' KaraEng Tana Tengnga Datu Lompulle', melahirkan: La Page' Arung Lompengeng
-     I Baru Dasajo Datu Pattojo menikah dengan La Tenribali Datu Soppeng XV (putera La Maddussila Towakka Arung mampu dengan We Tenrigella Datu Lapajung) melahirkan putera puteri, sbb: 1. We Adeng PatipuengngE Datu Watu Datu Soppeng XVI, 2. La TenrisEnge' ToEsa' Datu Soppeng XVII.

4.    I LEppeng menikah dengan La Saliu Arung Palakka (putera La GomEng dengan  I MangampE Walida MaddanrengngE ri Palakka, puteri La Tenrigerra' Datenripala, saudara La Tenrisukki MappajungngE) , melahirkan: La Tenriruwa Sultan Adam Arung Palakka Petta MatinroE ri BantaEng Mankau Bone XI.

La Tenriruwa Sultan Adam Arung Palakka Petta MatinroE ri BantaEng Mankau Bone XI menikah dengan We TenrilEkke I Baji LEmbaE Datu Marioriwawo, melahirkan: We Tenrisui Datu Marioriwawo.

We Tenrisui Datu Marioriwawo menikah dengan La Pottobunne' KaraEng Tana Tengnga Datu Lompulle', melahirkan putera puteri, sbb:
 

·      La Tenritatta DaEng SErang ToErung Petta MalampE'E Gemme'na Arung Palakka Tounru Petta TorisompaE Sultan Sa'aduddin Datu Mario ri Wawo, Mangkau Bone XV Datu Tungke'na Tana Ugi

·       We TenriEsa' DaEng Upi Mappolo BombangngE  menikah dengan La Pakkokoi Petta UgiArung Timurung MaddanrengngE ri Bone (putera La Maddaremmeng Sultan Muhammad Saleh Petta MatinroE ri Bukaka Mangkau Bone XIII dengan  We Massengrima Arumpogi), melahirkan: La Patau Matanna Tikka MalaE Sangra Sultan Alimuddin Idris Arung Palakka Petta Ranreng Tuwa Wajo MatinroE ri Nagauleng Mangkau Bone XVI.

·      We Tenriabang DaEng Baji Datu Marioriwawo menikah dengan La Mappajanci Sultan Ismail Datu Tanete,  melahirkan: We PattEkEtana

We PattEkEtana menikah dengan    La Onrong Topalaguna Pajung ri Luwu XX , melahirkan : Batari Tungke’ Pajung ri Luwu XXII.

·         We Kacumpureng Daumpi Datu Mari-Mari  menikah dengan   Todani Datu Bakke Datu Citta Arung LEtta' Addatuang SidEnrEng IX Datu Ajatappareng (putera We Tasi Arung Alitta  dengan   Topabilla Datu Citta).

·          La Onggo'

·         La Tenrigerra


 Setelah Perang Makassar berakhir yang ditandai dengan penandatanganan "Perjanjian Bongaya" pada tanggal 21 Nopember 1667, Kerajaan Bone mmencapai puncak kejayaannya sejak didirikannya. Kemenangan Petta TorisompaE ( La Tenritatta DaEng SErang ToErung Petta MalampE'E Gemme'na Arung Palakka Tounru Petta TorisompaE Sultan Sa'aduddin Datu Mario ri Wawo, Mangkau Bone XV Datu Tungke'na Tana Ugi ) beserta sekutunya terhadap Kerajaan Gowa beserta sekutunya pula, merupakan babak baru dalam catatan sejarah Sulawesi Selatan.


Kemenangan Bone dan sekutunya kemudian semakin kukuh setelah memenangkan perang dengan Kerajaan Wajo yang ditandai pula dengan penandatanganan kalah perang oleh La Palili' Tomalu' Puanna La Cella' Arung Matoa Wajo XXIV (1670-1679). Dua tahun kemudian, La Maddaremmeng Sultan Muhammad Saleh Petta MatinroE ri Bukaka Mangkau Bone XIII  wafat dan digantikan oleh La Tenritatta DaEng SErang ToErung Petta MalampE'E Gemme'na Arung Palakka Tounru Petta TorisompaE Sultan Sa'aduddin Datu Mario ri Wawo, Mangkau Bone XV Datu Tungke'na Tana Ugi yang juga digelari oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai : De Konijn der Bogies (Kaisar Bugis). 

Baginda Petta TorisompaE tidak memiliki putera kandung untuk mewarisi tahtanya. Konon baginda pernah memiliki putera, namun gugur dalam Perang Makassar yang dahsyat itu. Selama hidupnya yang melegenda, Petta Torisompa memiliki banyak isteri, namun yang sering tercatat dalam Lontara adalah :  I Mangkawani DaEng TalElE (puteri KaraEng Pattinngalloan Tumabbicara Butta Gowa) dengan We Yadda Datu Watu  (puteri La Tenribali Petta MatinroE ri Datunna Datu Soppeng XV dengan We Bubungeng I Dasajo Datu Pattojo atau We Baru).

 Setahun sebelum Petta TorisompaE wafat dalam tahun 1696, baginda yang digelari Petta MatinroE ri Bontoala menobatkan kemenakannya, yakni : La Patau Matanna Tikka WalinonoE La Tenribali MalaE Sangra Sultan Alimuddin Idris Arung Palakka Petta Ranreng Tuwa Wajo MatinroE ri Nagauleng Mangkau Bone XVI atau yang lazim disebut saja sebagai "Matanna Tikka" (Sang Matahari).

Sejak menyandang sebagai "Ana' Mattola" (Putera Mahkota), Matanna Tikka terlebih dahulu dipersiapkan oleh pamannya (Petta TorisompaE) untuk  mengukuhkan wilayah kekaisarannya melalui "diplomasi perkawinan". Baginda Matanna Tikka dinikahkan dengan puteri para Raja-Raja Sulawesi Selatan dan Barat pada masa itu dengan disertai perjanjian bahwa keturunan Matanna Tikka yang kelak dinobatkan menjadi raja setempat , sebagaimana diuraikan sbb :

  La Patau Matanna Tikka WalinonoE La Tenribali MalaE Sangra Sultan Alimuddin Idris Arung Palakka Petta Ranreng Tuwa Wajo MatinroE ri Nagauleng Mangkau Bone XVI Pattojo menikah dengan We Tenriummung Datu Larompong Petta MatinroE ri Bola Jalajja'na (puteri Sattiaraja Petta MatinroE ri Tompotikka Pajung ri Luwu XIX, dengan We Diyo’ DaEng Massiseng Petta I Takalara  MatinroE ri LawElareng), melahirkan putera puteri, sbb:  

·    La Temmasonge’ (La Mappasosong) Toappawelling Sultan Abdul Razak Jalaluddin Petta MatinroE ri Mallimongeng Mangkau’ ri Bone XXII, menikah dengan  Sitti Aisyah (puteri Muhammad Maulana KaraEng Tumabbicara Butta Gowa), melahirkan putera puteri, sbb : 1. La Balloso’ Toakkotto Muhammad Ramalang Arung PonrE Petta MaddanrengngE ri Bone, 2. I Hamida Arung Lapanning, 3. I Rana (We Banna) Petta Ranreng Tuwa Wajo, 4. We TenriollE Arung Lapanning, 5. I PAkkemme’ Arung Majang.


·        La Balloso’ Toakkotto Muhammad Ramalang Arung PonrE Petta MaddanrengngE ri Bone , menikah dengan  We Tenrigau, , melahirkan putera puteri, sbb : 1. I Kati Arung Palippu (isteri    La SampennE' Petta Labattoa Arung Liu Cakkuridi ri Wajo), 2. We Halijah I PatetEi (isteri   La KunEng Datu Suppa VIII, Addatuang Sawitto VIII, Arung Belawa Orai' ), 3. We Tenripada Petta MatinroE ri Saodenra (isteri La Tenri Tappu Sultan Ahmad Saleh Petta  MatinroE ri Rompegading Mangkau ri Bone XXIII ) ,

·        I Kati Arung Palippu menikah dengan    La SampennE' Petta Labattoa Arung Liu Cakkuridi ri Wajo melahirkan putera puteri, sbb : 1.   La Makkaraka Petta Ugi Arung Belawa (suami I KambeccE Petta PatolaE Wajo) , 2. We Sao Arung Liu, 3. Petta Eccu (isteri    Opu BarangmamasE), 3. La Olling Arung Liu Petta MaddanrengngE ri Bone.


  La Makkaraka Petta Ugi Arung Belawa , menikah dengan  I KambeccE Petta PatolaE Wajo melahirkan : I Busa Petta WaluE Arung Belawa


I Busa Petta WaluE Arung Belawa menikah dengan  La Tompi Wanua Arung Bettempola Arung Belawa Petta MaddanrengngE  MatinroE ri Wajo (putera La Sengngeng Arung BEttEmpola MatinroE ri Salawa'na dengan I Mappangideng Arung Macanang), melahirkan putera puteri, sbb : 1. La Tune' Mangkau Arung BEttEmpola Petta MatinroE ri Tancung , 2. La Raja Dewa Arung Belawa, 3. We Kalara' Arung BEttEmpola, 4. La Makkulawu Petta Ogi


La Tune' Mangkau Arung BEttEmpola Petta MatinroE ri Tancung menikah dengan  Sompa ri Timo MajjampaE Petta PabbatE PEnrang MatyinroE ri Cinottabi (puteri La Olling Arung Liu Petta MaddanrengngE ri Bone dengan  BessE' Daeng TallE), melahirkan putera puteri, sbb :  1. La Gau'Arung BEttEmpola Petta MatinroE ri Masigi'na, 2. La Jallo' Datu Patila, 3. La GomEng (La ComE'), 4. I Gallong Arung Liu MajjumbaE, 5. La Daming Petta Ogi Arung Belawa, 6. La KeccE' Petta Manciji ri Wajo, 7. La TEngko Arung Belawa Alau Petta Manciji ri Wajo, 8. I Hawang.

La TEngko  Arung Belawa Alau Petta Manciji ri Wajo  menikah dengan  I Soji Arung Belawa Datu Madello (puteri La Onro Datu Pattiro Datu Soppeng XXXII dengan I Baccicu DatuE Ganra Arung Belawa), melahirkan putera puteri, sbb :
 
1. I Tenrikawareng Arung Belawa MallinrungngE ri Pompanua,

2. I Panangngareng Datu Madello menikah dengan  La MappangilE Addatuang Sidenreng KaraEng TinggimaE (putera I ParEnrEngi KaraEng TinggimaE Datu Suppa), melahirkan putera puteri, sbb1. La Onro Arung Belawa, 2. I Soji KaraEng KanjEnnE' Datu Suppa.
I Panangngareng Datu Madello menikah dengan  La Makkaraka Arung BEttEngpola, melahirkan : I Banna Datu Lompulle'.

3. La Passamula' Cella' Belawa menikah dengan  I Maddanaca, melahirkan : I Sami'

4.   La Patongai Datu Doping Arung Belawa (Datu Bolong).

La TEngko  Arung Belawa Alau Petta Manciji ri Wajo  menikah dengan  I REwo Puang Remmaa (puteri La Kadu' Arung Batu), melahirkan : I Batari Petta Lonra.

I Batari Petta Lonra menikah dengan  Landeng Paddanreng Ana'banua (putera I Hawang, kakak kandung La TEngko Petta Manciji ri Wajo), melahirkan putera puteri, sbb 1. Bau Emmang, 2. I Mapparimeng Petta Lonra


·          We Batari Toja DaEng Talaga Petta MatinroE ri TippuluE Mangkau ri Bone XVII Pajung ri Luwu XXI,


·           We Patimana Ware' Arung Timurung Datu Larompong Opu PawElaiyyE ri Bola Ukiri’na, menikah dengan La Raunglangi Opu Patunru’ Luwu , melahirkan putera puteri, sbb : 1. I Manneng DaEng Masia (isteri   La Tenri Peppang DaEng Paliweng Petta MatinroE ri Sabbangparu Pajung ri Luwu XXVI ), 2. I Pawawoi Opu DaEng Matajang (isteri La Tadda Opu MatinroE ri LEmpa), 3. Opu BoE,


·        Opu TolEmbaE menikah dengan Ana'na Pabbicara Bittua


·        La SallE Opu Daeng Panai’ menikah dengan  I BessE Opu DaEng Tarima, melahirkan : 1. Opu MpElaiyangngi Kannana (suami Opu BoE), 2. Opu DaEng Talala (suami Maddika Sangalla).

Kemudian, 

La Patau Matanna Tikka WalinonoE La Tenribali MalaE Sangra Sultan Alimuddin Idris Arung Palakka Petta Ranreng Tuwa Wajo MatinroE ri Nagauleng Mangkau Bone XVI Pattojo menikah dengan I Mariama KaraEng Pattukangan (puteri I Mappadulung KaraEng Sanrobone Sultan Abdul Jalil Tumenanga ri Lakiung Sombayya Gowa XIX , dengan Petta Bau Bone KaraEng Lakiung), melahirkan putera puteri, sbb:

 

·   La Pareppa' TosappEwaliE Sultan Ismail Petta MatinroE ri Sombaopu Sombayya Gowa XX, Mangkau ri Bone XIX, Datu Soppeng XX  menikah dengan  I Gumittiri (puteri  I Mallawakkang DaEng Mattingri KaraEng Kanjilo Sultan Abdul Kadir KaraEng Tallo X Sombayya Gowa XVII dengan KaraEng Parang-Parang) , melahirkan La Massellomo Ponggawa LoE ri Luwu (suami I Cado Arung Tajong)

La Massellomo Ponggawa LaoE ri Luwu  menikah dengan    I Cado "We Gau" Arung Tajong  melahirkan La Mappapenning Petta Ponggawa Bone.


  La MappapenningToappaware' Petta Ponggawa Bone menikah dengan    We Hamidah Arung Timurung Arung Lapanning (puteri La Temmasonge’ "La Mappasosong" Sultan Abdul Razak Jalaluddin Petta MatinroE ri Mallimongeng Mangkau’ ri Bone XXII, dengan  Sitti Aisyah ) melahirkan putera puteri, sbb:  

1.     La Tenri Tappu Sultan Ahmad Saleh Petta MatinroE ri RompegadingMangkau ri Bone XXIII menikah dengan    We Tenripada Petta MatinroE ri Saodenra (puteri La Balloso' Toakkotto Arung PonrE MaddanrengngE Bone  dengan  We Tenrigau  ) melahirkan :  1. La Tenrisukki Arung Kajuara MaddanrengngE ri Bone, 2. I Marola Arung Pao (isteri La PattEbba Watanglipu Soppeng)

2.      We Tenri Alu BessE Apala Arung Apala  menikah dengan    La MappapolEonro Sultan Nuhung Petta MatinroE ri Amala’na Datu Soppeng XXVIII (Putera La Mappajanci Datu Soppeng XXVII dengan We TenriollE Arung Lapanning) melahirkan putera puteri, sbb: 


-       La Mataesso SullE Datu Soppeng menikah dengan    I Yaddauwan We Tenrimono Arung Salo Tungo
-       We Tenri Kawareng Arung Sao LEbba menikah dengan    La Sumange'rukka Arung TanEtE melahirkan1. La Patonagi Datu Pattiro, 2. La Passamula' Datu Balusu
-       La Unru Datu Soppeng XXXI menikah dengan    I Massellimang Mabbaju NyilaE melahirkan : 1.   La Mansure' Baco Sidenreng Watanglipu Soppeng, 2. I Bonga Petta Indo ri Lampoko (isteri La Passamula' Datu Balusu)


3.    We Yabang (We Barigau ?)  menikah dengan    La Mappulana Petta CakkuridiE ri Wajo, melahirkan :   La Tokong (La Toto) Petta PallEkoreng Datu Pammana, 

La Tokong (La Toto) Petta PallEkoreng Datu Pammana menikah dengan    We Rana " I Banna " Petta Ranreng Tuwa Wajo (puteri  La Temmasonge’ "La Mappasosong" Toappawelling  Sultan Abdul Razak Jalaluddin Petta MatinroE ri Mallimongeng Mangkau’ ri Bone XXII dengan    We Momo Sitti Aisyah : sepupu sekali kakeknya ? : penulis) melahirkan putera puteri, sbb:

 

I -    Sitti Hudaiyah Petta Ranreng Tuwa Wajo  menikah dengan    La Tenridolo Arung Telle' melahirkan : Amirah Petta Ranreng Tuwa Wajo

    Amirah Petta Ranreng Tuwa Wajo  menikah dengan    La PabEangi Petta TurubElaE (putera  La Cella' Petta PatolaE Wajo dengan    We Tungke' Petta MajjumbaE), melahirkan putera puteri, sbb: 1. La Pawellangi Petta PajungpEroE Datu ri Akkajeng Arung Matoa Wajo XXXIX, 2. We Panangngareng Datu Tempe.

II - La Paranrengi DaEng Sijerra menikah dengan    I Tenriampareng, melahirkan : Daeng Maroa CambangngE Petta Pangulu Lompo Belawa.

Daeng Maroa CambangngE Petta Pangulu Lompo Belawa        menikah dengan    I Samayya (puteri Petta Pabbicara Laomapadang dengan  I Banna ) melahirkan : Muhammad Tang DaEng Paliweng Petta Pangulu Barisi'na Belawa.


Putera Puetta Matanna Tikka dengan I Mariama KaraEng Pattukangan berikutnya, adalah :·   
·           La Panaongi Topawawoi Arung Mampu Datu Soppeng Mangkau ri Bone XX  menikah dengan  We Sitti Hawang Daeng Masennang melahirkan :   La Page' Arung Mampu Arung Malolo ri Bone.

 La Page' Arung Mampu Arung Malolo ri Bone menikah dengan  We Saloge Arung Wetteng, melahirkan putera puteri, sbb: 1. La Mappangara Arung SinrE Petta Tomarilaleng PawElaiyyE ri Sesso'E, 2. La Mappaware' Arung Tompobulu, 3.   We Masi Arung Wetteng.


   Lalu, Putera Matanna Tikka dengan KaraEng Pattukangan berikutnya, yakni :

·          La Padassajati Toappaware Petta MatinroE ri BEulang Datu Soppeng XIX/XXI  Mangkau ri Bone XVIII 

   
Kemudian, ..

  La Patau Matanna Tikka WalinonoE La Tenribali MalaE Sangra Sultan Alimuddin Idris Arung Palakka Petta Ranreng Tuwa Wajo MatinroE ri Nagauleng Mangkau Bone XVI Pattojo menikah dengan    We Baya DalabataE "To BukakaE" Datu Lamuru, melahirkan :   La Tone' Datu Laisu Arung Amali Datu Soppeng XXVI.


   La Tone' Datu Laisu Arung Amali Datu Soppeng XXVI  menikah dengan    Datu Marioriawa melahirkan :   La Mappaiyyo.




La Patau Matanna Tikka WalinonoE adalah terkenal sebagai Raja yang memiliki banyak isteri.  Namun dari sekian banyak itu, hanya dua diantaranya yang dianggap sebagai "Arung Makkunrai" (permaisuri), yakni : We Tenriummung Datu Larompong Petta MatinroE ri Bola Jalajja'na dan I Mariama KaraEng Pattukangan. Maka anak mereka berdualah yang dianggap sebagai "Ana' Mattola" (Putera Puteri Mahkota) pada 4 Negeri Besar Sulawesi Selatan, yaitu : Luwu. Bone Gowa dan Soppeng.



Adalah merupakan suatu persyaratan mutlak yang ditetapkan  oleh La Patau Matanna Tikka WalinonoE ketika menjelang penobatan beliau selaku ahli waris Petta TorisompaE , bahwa :
"Saya akan menerima kesepakatan orang banyak dari apa yang telah ditetapkan Petta TorisompaE, yaitu apabila orang banyak mengakui dan mengetahui bahwa :

1.       Tidak akan ada lagi Mangkau di Bone kalau bukan keturunanku,

2.       Ketahuilah pula bahwa keturunanku adalah segenap anak cucu "MappajungngE" yang tidak akan dipilih dan didudukkan oleh keturunan Lili'E. 

 begitulah penyampaian saya kepada  sekalian orang banyak !". Maka menyahutlah sekalian orang banyak seraya berkata : "Angingko Puang kiraungkaju, riyao miri riyakkeng mutappalireng, muwawa ri perri nyameng.."  (Terjemahan Lontara Akkarungeng Bone , milik Drs. Andi Amir Sessu)
Diantara sekian banyak putera puterinya yang terdiri dari 5 (lima) putera puteri Mahkota (Ana' Mattola)  dan 29 (dua puluh Sembilan) putera puteri berderajat Ana' Arung Matase'  (Pangeran dan Puteri yang dilahirkan oleh Ibu yang menajdi Ratu di negeri bawahan)  serta tak terhitung yang lainnya terdiri dari Ana' Arung ri Bolang, Ana' Arung SipuE dan Ana' CEra', maka yang kemudian paling banyak mewarisi kekuasaan Baginda Matanna Tikka serta paling banyak juga menimbulkan controversial, adalah : La Temmasonge’ (La Mappasosong) Toappawelling Arung Baringeng Sultan Abdul Razak Jalaluddin Petta MatinroE ri Mallimongeng Datu Soppeng XXV Mangkau’ ri Bone XXII.


 Baginda  MatinroE  ri  Mallimongeng  tercatat  dengan  banyak  versi  berbeda  pada banyak Lontara di Sulawesi Selatan. Lontara Akkarungeng Bone menulisnya sebagai putera Matanna Tikka dengan Arung Baringeng, sementara himpunan silsilah Latoa menyebutnya pula sebagai putera Matanna Tikka dengan We Yummung (Tenriummung) Datu Larompong. Kemudian Lontara lainnya yang ditulis di Soppeng, menulisnya pula bahwa baginda adalah bukan putera Arung Baringeng dan Datu Larompong MatinroE ri Bola Jalajja'na, melainkan dari seorang Ratu lain yang tidak mungkin bisa diungkapkan dalam tulisan ini, mengingat informasi ini terhitung sebagai "Lontara rikaciri" (Lontara yang dibungkus kain kafan) alias FORBIDDEN. Maka baginda disebut selaku : CEra'i ri mannessaE, Sengngengngi ri MallinrungngE dengan alasan yang berbeda-beda pula.




Terlepas dari berbagai controversial tersebut, Baginda Petta MatinroE ri Mallimongeng adalah pelanjut Puetta Matanna Tikka yang paling banyak menebarkan keturunan yang kelak menjadi penguasa-penguasa besar di Sulawesi Selatan.  Bahkan jika menelusurinya, penulis juga mendapati bahwa nazab keempat kakek nenek penulis (bapak ibu dari ayahanda dan bapak ibu dari ibunda) semuanya pada akhirnya bermuara pula pada baginda MatinroE ri Mallimongeng.




Pada suatu titik pertemuan garis antara generasi pertama  MatinroE ri Mallimongeng dari Bone dengan generasi pertama MatinroE ri SorEang (We Tenri LElEang Pajung ri Luwu XXIII/XXV) dari Luwu melahirkan para raja-Raja besar "TellumpoccoE" (Bone, Wajo Soppeng) hingga "LimaE Ajattapareng" dalam kurun permulaan abad XX, sebagaimana diuraikan dibawah ini :

I.
·        La Temmasonge’ (La Mappasosong) Toappawelling Arung Baringeng Sultan Abdul Razak Jalaluddin Petta MatinroE ri Mallimongeng Datu Soppeng XXV Mangkau’ ri Bone XXII menikah dengan    We Momo Sitti Aisyah (puteri Muhammad Maulana KaraEng Tumabbicara Butta Gowa), melahirkan putera puteri, sbb : 1. La Balloso’ Toakkotto Muhammad Ramalang Arung PonrE Petta MaddanrengngE ri Bone, 2. I Hamida Arung Lapanning, 3. I Rana (We Banna) Petta Ranreng Tuwa Wajo, 4. We TenriollE Arung Lapanning, 5. I PAkkemme’ Arung Majang.



·        We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang PAjung ri Luwu XXIII/XXV menikah dengan   La Mappasiling (La Mappaselli) Datu Pattojo Petta MatinroE ri Duninnan (putera La Kareddu Arung Sekkanyili dengan  Ana'na La WEllo WatampanuaE ri Pammmana - Wajo), melahirkan putera puteri, sbb1. La Mappajanci Sultan Ismail Datu Soppeng XXVII, 2. We Tenriabang DaEng Baji DatuE Watu Datu Pattojo Petta MatinroE ri PangkajEnE.



II.          La Mappajanci Sultan Ismail Datu Soppeng XXVII, menikah dengan   We TenriollE Arung Lapanning , melahirkan putera puteri, sbb

1.      We Tenri Ampareng Datu Lapajung Datu Soppeng XXX  menikah dengan    La PabEangi Datu Ganra Arung BElawa, melahirkan : I Baccicu Datu Ganra Arung BElawa.


I Baccicu Datu Ganra Arung BElawa menikah dengan    La Onro Datu Pattiro Datu Soppeng XXXII, melahirkan putera puteri, sbb :

 
-          La PabEangi Datu Ganra SullE Datu Soppeng menikah dengan    We Tenriwatu Sultanah ZaEnab Datu Soppeng XXXV (adik La OddangpEro Datu Larompong Arung Matoa Wajo XLIV), melahirkan putera puteri, sbb : 1. La Wana Datu Ganra Datu Soppeng XXXVI(Datu Soppeng Terakhir), 2. La JEmma Datu Lapajung, 3. I Tahirah Petta PatolaE Wajo, 4. Addiluwu DatuE Watu (isteri La Mangkona Datu Marioriwawo Arung Matoa Wajo XLV = Arung Matoa Wajo terakhir).

-          La Rumpangmegga Datu Pattiro Petta Ranreng TalotenrEng, Wajo menikah dengan    I Patimang Daeng Boddong, melahirkan : I Caiyya

-          I Soji Datu Madello Arung BElawa menikah dengan    La TEngko Arung BElawa Alau Petta Manciji'E ri Wajo, melahirkan putera puteri, sbb : 1. We Tenrikawareng Arung BElawa MatinroE ri Pompanua, 2. We Panangngareng Datu Madello, 3. La Passamula Datu Cella' BElawa, 4. La Patongai Datu Bolong Datu Doping Arung BElawa (Arung BElawa terakhir).


2.      La MappapolEonro Sultan Nuhung Petta MatinroE ri Amala’na Datu Soppeng XXVIII  menikah dengan   I Tenriawaru Datu Soppeng XXIX Pajung ri Luwu XXVII  (puteri La Tenri Peppang DaEng Paliweng Petta MatinroE ri Sabbangparu Pajung ri Luwu XXVI dengan  I Manneng Daeng Masia Datu Larompong), melahirkan putera puteri, sbb :
 
-          La Tenrioddang Pajung ri Luwu XXVI, menikah dengan    We Habibah Opu Daeng Talebbi,

-          We Hamidah Opu AnrEguru Pajung ri Luwu XXVIII,

-          La Tenrisessu' Arung Galung menikah dengan    I WEwanglangi,

-          La PamadenglettE Opu Cenning Luwu menikah dengan    I Tenri Arung Singkang, Wajo

-          We Singara Opu Daeng Matana menikah dengan    La WEwang Opu MatinroE ri Baruganna,

-          We Pancaitana Arung Akkampeng menikah dengan    La Rumpangmegga Datu Lamuru,

-          La Sumange'rukka Arung BErubEru menikah dengan    We Ane'banna Opu Indo'na Raju,

-          La Guttu Patalo Datu MariMari menikah dengan    I MaurantE Petta Ipao,

-          La Saliu' Opu Sanggaria, Luwu  menikah dengan     Arung Lita,

-          La Tenri Peppang Pabbicara Luwu

-            We Addiluwu

-          La Tiuleng



Salahseorang putera MatinroE ri Mallimongeng dengan We Mommo Sitti Aisyah diatas, yakni : La Balloso’ Toakkotto Muhammad Ramalang Arung PonrE Petta MaddanrengngE ri Bone juga menebarkan keturunannya yang kelak pula menjadi penguasa-penguasa di Bone, Wajo dan LimaE Ajatappareng (Sidenreng, Rappeng, Suppa, Alitta dan Sawitto), diuraikan sebagai berikut :

La Balloso’ Toakkotto Muhammad Ramalang Arung PonrE Petta MaddanrengngE ri Bone  menikah dengan     CilaungngE, melahirkan :    WeBenni' MajjumbaE.

  WeBenni' MajjumbaE menikah dengan    La Betti Arung Rappeng, melahirkan putera puteri, sbb : 1.   I Baku Petta Lolo Rappeng,  2.  Indo Mattaro Arung Rappeng.

I Madditana Indo Mattaro Arung Rappeng  menikah dengan    La Makkulawu Arung Gilireng Petta CakkuridiE ri Wajo (putera La Canno' Petta LampE Uttu Arung Gilireng dengan   I Mappanyiwi DatuE Watu binti La Pallawagau  Arung Maiwa Datu Pammana Petta Pilla'E ri Wajo), melahirkan : La Mangkau' Petta PonggawaE ri Bone.

La Mangkau' Petta PonggawaE ri Bone menikah dengan    I Baji Datu Bolli, melahirkan putera puteri, sbb : 1.   I BaEdah Addituang Sawitto XIII,  2. La Canno' Datu Pattojo,  3. La Sunra KaraEng CenrapolE.

  I BaEdah Addituang Sawitto XIII menikah dengan    La Saddapotto Addatuang Sidenreng XVI, melahirkan : Toangcalo Arung MallusEtasi.


Kemudian …
La Balloso’ Toakkotto Muhammad Ramalang Arung PonrE Petta MaddanrengngE ri Bone  menikah dengan     We Tenrigau' , melahirkan putera puteri, sbb :

  1.   We Halijah (I PatEtEi), menikah dengan    La KunEng Datu Suppa VIII Addituang Sawitto VIII Arung BElawa Orai', melahirkan putera puteri, sbb : 1. La Cibu Addatuang Sawitto IX, 2. DatuE ri Suppa XII,  3.  I Cadeng Datu Suppa XI, 4.  I Temme' Addituang Sawitto X, 5.  I Tenrilipu Daeng Matana (isteri La Tenrisukki Arung Kajuara MaddanrengngE ri Bone).

  1.   We Tenripada Petta MatinroE ri Saodenra , menikah dengan    La Tenri Tappu Sultan Ahmad Saleh Petta MatinroE ri RompegadingMangkau ri Bone XXIII, melahirkan : La Tenrisukki Arung Kajuara MaddanrengngE ri Bone.

  1.   I Kati Arung Palippu,  menikah dengan    La SampennE' Petta La Battoa Arung Liu Cakkuridi ri Wajo (putera La Urenglangi Tosadapotto Arung PEnEki dengan    I Saomi Arung Singkang) , melahirkan putera putera, sbb : 1. La Makkaraka Petta Ogi Arung BElawa,  2. La Olling (La Rappe') Arung Liu SullE Ranreng Tuwa MaddanrengngE ri Bone.

La  Makkaraka Petta Ogi Arung BElawa,  menikah dengan     I KambeccE Petta PatolaE ri Wajo, melahirkan :   I Busa Petta WaluE Arung BElawa.


   I Busa Petta WaluE Arung BElawa ,   menikah dengan    La Tompi Wanua Arung BEttEngpola Petta MatinroE ri Wajo Arung BElawa melahirkan : La Tune' Mangkau' Arung BEttEngpola Petta MatinroE ri Tancung.


La Tune' Mangkau' Arung BEttEngpola Petta MatinroE ri Tancung , menikah dengan   Sompa ri Timo MajjampaE Petta PabbatE PEnrang MatinroE ri Cinottabi,  melahirkan putera puteri, sbb : 1. La Gau'Arung BEttEmpola Petta MatinroE ri Masigi'na,  2. La Jallo' Datu Patila,  3. La GomEng (La ComE'),  4. I Gallong Arung Liu MajjumbaE,  5. La Daming Petta Ogi Arung Belawa,  6. La KeccE' Petta Manciji ri Wajo, 7. La TEngko Arung Belawa Alau Petta Manciji ri Wajo,  8. I Hawang.




Himpunan silsilah Latoa juga menyebutkan lebih lanjut perihal keturunan Petta MatinroE ri Mallimongeng yang menebarkan pula garis keturunannya di Gowa, Alitta dan Suppa, sebagaiberikut :


La Tenri Tappu Daeng Palallo Sultan Ahmad Saleh Petta MatinroE ri RompegadingMangkau ri Bone XXIII menikah dengan    We Padauleng  melahirkan putera puteri, sbb :  1. La Tenrisukki  Arung Kajuara  Tomalompo Bone, 2. La Mappasessu Toappatunru Sultan Ismail Muhammad Tajuddin Arung Palakka Petta MatinroE ri Lalengbata Mangkau ri Bone XXIV , 3. I Manneng (We Pancaitana) Arung Data Petta MatinroE ri KEssi Mangkau ri Bone XXV, 4.   La Mappaselling Arung Panyili Arung SinrE  Sultan Adam Najamuddin Petta MatinroE Salassana Mangkau ri Bone XXVI, 5. Batara Tungke' Arung Timurung,  6. La Tenribali Arung Ta,  7. La MappaEwa To Malompo Bone Arung Lompu AnrEguru Ana'arung Bone, 8.    La Paremma'rukka Arung KarElla,  9. La Temmupage'  Arung Paroto Ponggawa BonEMatiinroE ri Alau Appasareng,  10. La Pawawoi Arung Sumaling,  11. Mamungcaragi, 12.   We Kalaru Arung PallEngoreng,  13. La Patuppu Batu Arung Tonra,  


La Tenrisukki  Arung Kajuara  Tomalompo Bone menikah dengan    We Maddika CindE Arung Alitta, melahirkan :   Pancaitana We Tenriawaru BessE' Kajuara MatinroE ri Majennang Datu Suppa Mangkau ri Bone XXVIII.


  Pancaitana We Tenriawaru BessE' Kajuara MatinroE ri Majennang Datu Suppa Mangkau ri Bone XXVIII  menikah dengan  La ParEnrEngi Arung Ugi Sultan Ahmad Saleh Mahyuddin MatinroE ri Aja BEntEng Mangkau ri Bone XXVII (putera La MappaEwa To Malompo Bone Arung Lompu AnrEguru Ana'arung Bone dengan    I Tabacina KaraEng KanjEnnE' binti La Pasanrangi "Muhammad Arsyad " Petta CambangngE Addatuang Lolo SidEnrEng), melahirkan : 1. La  Sumange'rukka, 2.   I BubE Datu Suppa, 3.   I Sekati Arung Ugi,        4.   I Cella' We Tenripaddanreng (We Bunga Singkerru) Arung Alitta.



  I Cella' We Tenripaddanreng (We Bunga Singkerru) Arung Alitta menikah dengan  I Makkulawu Sultan Muhammad Husain KaraEng LEmbangparang Tumenanga ri Bundu'na Somba ri Gowa XXXIV (putera I Mallingkaan DaEng Manyonri Sultan Muhammad Idris KaraEng Katangka Pati Matareng Tumenanga ri Kalabbirangna Somba ri Gowa XXXIII dengan    We Tenripada Arung Berru Sultana Aisyah KaraEng BainEa ri Gowa cucu La Mappasessu Toappatunru Sultan Ismail Muhammad Tajuddin Arung Palakka Petta MatinroE ri Lalengbata Mangkau ri Bone XXIV), melahirkan putera putera, sbb1. I Panguriseng Arung Alitta, 2. Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim Datu Suppa MatinroE ri Panaikang Mangkau ri Bone XXXI



1.      I Panguriseng Arung Alitta,
I Panguriseng Arung Alitta menikah dengan sepupu sekalinya, yakni :   We SEno KaraEng Lakiung (puteri I Batari Arung Berru, saudara kandung   We Tenripada Sultana Aisyah Arung Berru KaraEng BainEa ri Gowa dengan   I Mahmud KaraEng BEronging), melahirkan puteri puteri, sbb 


1.   We Cella' KaraEng Lakiung,  2.   We Saripa KaraEng Pasi.


2. Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim Datu Suppa MatinroE ri Panaikang Mangkau ri Bone XXXI (Pahlawan Nasional RI)
Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim Datu Suppa MatinroE ri Panaikang Mangkau ri Bone XXXI menikah dengan    We Batasi Daeng Ta (puteri Gallarang Tombolo, BatE Salapangnga Gowa), melahirkan : Andi PangErang Daeng Rani Arung MacEgE.

Kemudian, ..



Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim Datu Suppa MatinroE ri Panaikang Mangkau ri Bone XXXI menikah dengan    We BessE' Petta Bulo (puteri La Sadapotto Addatuang SidEnrEng XVI dengan   We BaEdah Addituang Sawitto XIII), melahirkan putera puteri, sbb 1. Brigadir Jenderal Andi Abdullah Bau MassEpE Datu Suppa Lolo (Pahlawan Nasional RI), 2.   Andi Sitti Rakiyah KaraEng Balla' Tinggi Addituang Sawitto XV, 3.    Andi BulaEng



Brigadir Jenderal Andi Abdullah Bau MassEpE Datu Suppa Lolo (Pahlawan Nasional RI) menikah dengan    Andi Soji KaraEng KanjEnnE' Datu Suppa (puteri Andi MappangilE KaraEng TinggimaE Addatuang SidEnrEng dengan   Andi Panangngareng Datu Madello binti La TEngko Arung BElawa Alau Petta Manciji'E ri Wajo), melahirkan putera puteri, sbb1. Andi Bau KunEng Datu Suppa,  2.  Andi Bau Amessangeng,  3.    Andi Bau Dalauleng,  4.   Andi Bau WEttoing.



Lalu saudara Bau MassEpE, yakni:    Andi Sitti Rakiyah KaraEng Balla' Tinggi Addituang Sawitto XV menikah dengan    Andi Makkulawu Petta CakkuridiE ri Wajo Bupati Pinrang I dan Walikota Parepare II, Anggota DPR/MPR RI (putera La MappabEta Datu WaliE dengan   We Tenri Passessu), melahirkan putera puteri, sbb : 1. Andi Mimang, 2. Andi Tenri SanrE, 3. Andi BaEda,  4. Andi Guril.



Pada keempat nama terakhir diatas, menurut sepengetahuan penulis adalah  termasuk segelintir dari sangat sedikit turunan bangsawan Bugis-Makassar turunan Matanna Tikka yang masih terhitung berdarah murni (Bocco). Kemudian pada pernikahan lainnya Puetta MatinroE ri Panaikang, ..



Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim Datu Suppa MatinroE ri Panaikang Mangkau ri Bone XXXI menikah dengan    We ManEnnE KaraEng Ballasari , melahirkan  We Tenripada Opu Datu Luwu.



  We Tenripada Opu Datu Luwu  menikah dengan  Andi JEmma La Patiware' Petta MatinroE Bintangna Pajung ri Luwu XXXIII, melahirkan :    Andi JEmma BaruE.




Kembali kepada turunan Puetta La Tenri Tappu Daeng Palallo Sultan Ahmad Saleh Petta MatinroE ri Rompegading Mangkau ri Bone XXIII   dengan    We Padauleng yang lainnya,  yakni : La Mappasessu Toappatunru Sultan Ismail Muhammad Tajuddin Arung Palakka Petta MatinroE ri Lalengbata Mangkau ri Bone XXIV.



 La Mappasessu Toappatunru Sultan Ismail Muhammad Tajuddin Arung Palakka Petta MatinroE ri Lalengbata Mangkau ri Bone XXIV  menikah dengan    Arung Kaju, melahirkan :   I BaEgo Arung MacEgE.



  I BaEgo Arung MacEgE  menikah dengan    La Sumangerukka Topatarai Arung Berru (putera  Toappasawe' Arung Berru bin La Toappo Arung Berru Addatuang SidEnrEng XII dengan    I Halijah Arung Pao-Pao),  melahirkan putera puteri, sbb :  1.  La Singkerru Rukka Sultan Ahmad Arung Palakka Arung Bulo-Bulo  Petta MatinroE ri Topaccing Mangkau ri Bone XXIX,  2. We Tenripada Sultana Aisyah Arung Berru KaraEng BainEa ri Gowa,  3. I Batari Arung Berru.



 La Singkerru Rukka Sultan Ahmad Arung Palakka Arung Bulo-Bulo  Petta MatinroE ri Topaccing Mangkau ri Bone XXIX menikah dengan     I Kalessong KaraEng LangElo,  melahirkan :   La Pawawoi KaraEng SEgEri MatinroE ri Jakarta Mangkau ri Bone XXXI.



 La Pawawoi KaraEng SEgEri MatinroE ri Jakarta Mangkau ri Bone XXXI  menikah dengan     We Karibo DaEng TanEtE, melahirkan :   Abdul Hamid Baso Pagilingi Ponggawa Bone.


 Abdul Hamid Baso Pagilingi Ponggawa Bone menikah dengan     We Cenra Arung Cinnong, melahirkan :  La PabbEntEng DaEng Palawa Arung MacEgE Mangkau ri Bone XXXIII.



 La PabbEntEng DaEng Palawa Arung MacEgE Mangkau ri Bone XXXIII  menikah dengan     We Dalauleng Arung Baranti (puteri La Pajju Arung Tellu Latte' SidEnrEng dengan     We Bungawaru binti La Cibu Addatuang SidEnrEng).



Pada Lontara Balanipa (Mandar) menyebutkan pula perhubungan tali kekeluargaan dengan keturunan Matanna Tikka MatinroE ri Naga Uleng, yakni TonrawaliE DaEeng Manguju Tomatindo di Lanrisang Maraddia Balanipa XXXI (putera Datu Lanrisang Addituang Sawitto) menikah dengan salahsatu puteri Matanna Tikka MatinroE ri Naga Uleng (tidak menyebutkan nama), melahirkan : BessE Soppung TobEme di Saiyang.



Kemudian BessE Soppung TobEme di Saiyang menikah dengan TomappElai Pattujunna Maraddia Balanipa XXXIV, melahirkan putera puteri, sbb : 1. TomongE AllElangnga Maraddia Balanipa XXXVII, 2.   Topadda, 3. Tobalu diLElusang.



Beberapa waktu lalu, seorang kerabatku muliaku yang terlahir dan tumbuh serta menetap di salahsatu wilayah Kabupaten Bone kini, berkata : “..dE’gaga matase’ narEkko Tania To Bone..”. Maka saya pun bertanya, “..tabE, tegaE taseng To Bone ?”. “..idi’ riyasengngi’ To Bone, iyanaritu to rijajiEngngE topajajianna na mpekke’ki ri Bone”. Maka saya pun cuma bisa terperangah.



Bahwa sebagaimana yang dapat dilihat pada sekelumit uraian silsilah Bone diatas, maka benarlah pendapat Dr. Shelly Errinton, bahwa : sejak La Patau Matanna Tikka menanamkan supremasinya melalui politik perkawinan antar segenap turunan Raja-Raja Sulawesi Selatan, maka tahta Mangkau’ di Bone bisa diwarisi oleh oleh seluruh pangeran dan puteri dari segenap Kerajaan Lokal di Sulawesi Selatan, selama ia terhitung memiliki derajat “Ana’ Mattola” “Darah Bocco” yang terpelihara kemurniannya sejak dari nazab Matanna Tikka. Maka tidaklah terlalu mengherankan jika menelusuri uraian-uraian silsilah diatas, didapati jika beberapa Raja Bone pada akhir abad XIX hingga memasuki awal abad XX justru dapat dikatakan terlahir dan tumbuh besar dari luar wilayah Bone, misalnya : Gowa dan Sidenreng.



Sesungguhnya yang membesarkan Tanah Bone pada abad-abad terdahulu, bukannya karena para bangsawannya adalah mutlak “ASLI BONE”, melainkan karena membaurnya dengan penguasa-penguasa asli Sulawesi Selatan lainnya. Maka dari sinilah ditemui kepiawaian Petta TorisompaE yang visioner dan futuristic dengan pandangan baginda dalam menyatukan berbagai potensi karakter masing-masing masyarakat yang mendiami Sulawesi Selatan pada masanya. Baginda merangkumnya menjadi satu dalam suatu ikatan “PassEajingeng” dari perhubungan darah yang dijiwai “Pangadereng” berazaskan “Siri PessE”.





III. KERAJAAN WAJO







bersambung

12 komentar:

  1. asalamualaikum. tanks sebelumnya atas informasinya.saya adalah anak indonesia asli yg lahir di tanah banggai. mohon maaf kakanda. adinda mau bertanya. kami dari keluarga marga lapene yg nama aslinya Andi Peta Tirro.dari dulu sampai sekarang kami kehilangan informasi tentang keturunan / sanak keluarganya.masa belanda beliu besar di Kendari. ayahnya bernama Abdul Syamsi.hanya itu info yg kami dapat. adinda sangat berharap atas infonya.. terima kasih. wassallam.

    BalasHapus
  2. as. saya agung dari kerajaan muna. dalam sejarah kami la eli alias baidul zamani (Batara Guru) menikah dengan wa tandriabeng adik sawerigading dan mereka melahirkan keturunan di muna. adapun anak-anak mereka antara laian : Runtu wulau, Kila mbibito dan la aka kogua bangkano. runtu wulau (simpuru siang) pulang ke luwu menjadi raja di sana dan la aka kongua bangkano menjadi raja muna 2, raja muna 3 namanya sugi ambano, raja muna 4 bernama sugi patani, raja muna ke 5 bernama sugi la ende dan raja muna 6 bernama sugi manuru, dan raja muna 7 bernama la kilaponto atau sultan murhum (Sultan buton 1 ) di buton dan la tolalaka di kebdari. mungkin bisa sedikit meluruskan sejarah di atas.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Assalamualaikum Sauadaraku "Banggai Lalongo Spirit" dan Saudara "Agung" di Muna.. Mohon maaf karena baru melihat laman komentar sehingga baru pula kita dapat bertukar kata sebagai awal jalinan Silaturrahmi yg semoga diberkahi Allah SWT..

      Saudaraku di Banggai.. IyE, semoga nama leluhur yang dimaksud dapat ditelusuri di Lontara Akkarungeng Bone dan Lontara Abbatireng Wija Ana' ArungngE ri Bone, dua diantaranya sumber yg menjadi reverensi kita bersama selama ini.

      Saudara Agung di Muna : Terima kasih atas perhatiannya, termasuk "MELURUSKAN SEJARAH" diatas. Cuma saja kiranya perlu saya haturkan keterangan, bahwa sumber tulisan diatas adalah : 1. Lontara I La Galigo (transliterasi Drs. Johan Nyompa, dkk, Leideng, Amsterdam), Sure' La Galigo (2 bab/pare, warisan keluarga), Lontara Abbatirengna Ana' ArungngE ri Soppeng, Luwu, Bone, Gowa dan Ajattappareng (salinan Lontara Silsilah H. Andi Wana Datu Soppeng) dan Lontara Panguriseng La Wahide Pabbicara Belawa (warisan keluarga yang tidak dipublikasikan). Saya kira istilah "meluruskan sejarah" yg anda maksudkan pada tulisan diatas, tentulah dimaknai jika ada "sejarah yg bengkok" pada tulisan dan reverensi diatas. Maka menurut hemat saya, agaknya sulit untuk lebih diluruskan lagi, mengingat salahsatu sumber reverensinya adalah : I La Galigo, Epos terpanjang di Dunia dan telah diakui sebagai Kitab Warisan Dunia oleh PBB.

      Saudaraku yg saya muliakan.. Saya juga tidak melihat ada silsilah Kerajaan Muna yg dicantumkan diatas, kecuali perhubungan dengan Sawerigading dan We Tenri AbEng. Bahwa I La Galigo sebagai "Kitab Sejarah Orang Bugis" (RA. Kern) kiranya dipandang sebagai suatu sumber yang tidak mesti seragam dengan penamaannya di tempat lain dan manuskrip yg berbeda. Suatu daerah dimana Manuskripnya juga tertulis, mestilah dipengaruhi oleh dialektika masing-masing. Suatu contoh : Imam Al Gazali disebut Algazel oleh orang2 Eropa. Kemudian yg lebih tepat lagi, anda menyebut : Batara Guru sebagai "LA ELI" alias "Baidul Zamani", sesuatu yg lain dan dipengaruhi penamaan bahasa Arab (Akhir Zaman ?)pula. Padahal I La Galigo dengan tokoh Batara Guru-nya telah ada di Luwu (Sulsel)jauh sebelum masuknya syiar Islam. Lebih lanjut, saudara menyebut We Tenri AbEng sebagai "WA TANDRIABENG" tentu saja dapat pula disebut dengan istilah penamaan yg berbeda, tergantung bagaimana kita menyebutnya di daerah masing2 (tanpa menuding jika sejarah orang bengkok). Salahsatu contoh lain dalam hal perbedaan persepsi : Penyebutan WA bagi seseorang di daerah Wajo, Soppeng dan Bone itu hanyalah khusus bagi "Rakyat Jelata". Namun apakah orang Bugis dari ke-3 negeri itu memandang "WA ODE" sebagai Rakyat Jelata ?. Jawabannya : Tentu saja tidak. Kami tetap memuliakan para kerabat mulia di Sultra beserta dengan kearifan budayanya.

      Sedikit banyak, melalui penelitan Paduka YM. Prof. Mr. Andi Zainal Abidin Farid, SH terhadap hubungan I La Galigo dengan tradisi TOLAKI (ditinjau dari Dokumentasi DPRD Sulawesi Tenggara, tahun 1992), bahwa : Penguasa Kerajaan WUNA (Bugis : Bunga) bernama Beteno Netombula (Masyarakat Tolaki menyebutnya : La Ramanda Langi, I La Galigo menyebutnya Remmang ri Langi)dinyatakan sebagai manusia ajaib yg keluar dari ruas bambu gading. Beliau kawin dgn Tandi Abe (I La Galigo : We Tenri AbEng Bissu ri Langi Daeng Manutte')melahirkan : Buntu Wulou (La Galigo : Simpurusiang)... demikian antara lain perbedaan yg semstinya walau tetap beragam, namun tetap memiliki kesamaan makna... Terima kasih.

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  5. ya itu benar saudaraku di sulsel. dalam cerita rakyat wuna semebarnya la eli itu di sebut-sebut holantolani dan begitu juga di tolaki. jadi cerita tandrabeng itu sebenarnya dalam sejarah kami tidak naik ke langit tapi di asingkan oleh ayahnya karena salah satu sebab (dia hamil tanpa memberitahu siapa suaminya, satu-satunya yang diucapkannya adalah beliau bersal dari timur sehinnga di naikan ke talam batu dan terapung-apung sampai di wuna) di muna kemudian mereka bertemu dan menikah di sana. silsila raja-raja muna itu sangt rapat dengan cerita epik lagaligo. jadi kalau ada waktu kayaknya cocok kerajaan luwuk dan muna itu membuat sebuah seminar di FKN 9 nanti di kesultanan Bima. saya percaya raja-raja muna itu masih bersaudara dengan raja-raja luwu. karena kemaren saudara saya dari kedatuan luwu juga bilang bahwa sangat mirip pusaka-pusa luwuk dan muna sekaligus ceritanya. wslma

    BalasHapus
  6. Ass,maaf saya ingin bertanya apakah GUTTU PATALO DATUMARIMARI yg dimaksud diatas adalah DATU MARIMARI yg makamnya ada di taman makam purbakala JERALOMPOE kab Soppeng,dan dimana saya bisa mendapatkan silsilahnya kebawah,terimah kasih sblmnya...

    BalasHapus
  7. Tabe Taitangenga Anak keturunna Datu La Unru datu Soppeng ke xxxl Tabee di...

    BalasHapus
  8. Salam perkenalan dari Johor M'sia.,Bapa berasal dari soppeng,Sudah 2 kali sy melawat kesana,Sy amat menyintai tempat tumpah lahir bapa.Ibu kelahiran Johor.Sy menjumpai pusaka salasilah keturunan ibu.Mohon bantuan kebenaran salahsilah itu.
    Seperti dibawah(Menulis seperti diWarkah Salasilah):Lasaliu Petah Kapo Datue Enrekang + Ijibah Datu Buluk Bangi ~ Lmapangewa Petah Ladoko + Iputeh Daeng Malebi Arung Baratih ~ Lamalaniu Arunggeh Daeng Perani + Daeng Mapata ~ Arung Daeng Matebak + Puang Sikati ~Daeng Mabilah + Indok Tang (Seterusnya sy sudah tahu)tetapi punca Lasaliu Petah Kapo Datue Enrekang tiada dalam Salasilah.Besar harapan sy memohon bantuan sudara.

    BalasHapus
  9. Salam perkenalan.. sy mencari lontara opu berlima.. asal usul dan sebab pemberontakan di Sulawesi?

    BalasHapus
  10. Ass..Saudara. saya masyarakat kalimantan khususnya pontianak yang ingin sekali tahu tentang cerita lengkap lima opu yang konon pernah menjadi cikal bakal kerajaan2 yang ada dikalimantan barat termasuk Pontianak, Mempawah dan Sambas.
    kalau ada literatur dimana saya bisa dapatkan supaya lebih menambah ilmutentang sejarah kalimantan Barat mengenai silsilah dan keturunan dari masing2 opu tersebut. wabil khusus opu daeng perani. mohon informasinya. terimakasih

    BalasHapus
  11. Aslm 'alkm ww..saudaraku adakah sumber yg menyebutkan hubungan antara Batara Guru leluhur kita di Sulawesi dgn Batara Guru di Jawa yg menjadi asal usul kerajaan kuno di Jawa sblm Pajajaran, Mataram kuno, Singosari dan Majapahit spt kerajaan Kanjuruhan di Malang.Ini penting agar kita bisa pastikan hubungan silaturrahim kita dgn org Jawa.Kenyataannya banyak kosa kata Jawa yang mirip dgn kosa kata Bugis-Makassar.
    Saya jg sering menduga2 jgn2 Putri Tumanurunga ri Gowa yg jadi raja pertamanya berasal dr Majapahit krn konon beliau memakai perhiasan emas yg sama dgn perhiasan Jawa waktu itu.Majapahit berdiri thn 1293 Gowa diduga berdiri thn1320.Sebagai orang Islam kt tdk percaya ada org turun dr langit, kecuali datangnya seakan2 turun dr langit, tapi pasti datang dr satu daerah.
    Satu lagi, banyak blogg yg menulis kenyataan bhw Hang Tuah pahlawan utama Malaka berasal dr Bajeng bernama Daeng Mempawah atau Daeng Merupawah, boleh jd namanya I Mappaewa Daeng Manrumpa anak raja Bajeng sendiri.Sebagian leluhur kami di Bajeng bergelar Kare yg ternyata gelar untuk bangsawan campuran Makassar dan Melayu Bajeng merupakan sebuah kerajaan lama yg akhirnya bergabung dlm kekaisaran Gowa dan menjadi sumber Tubaraninya.Bajeng punya pasukan legendaris yg reputasinya boleh dikatakan mendunia yaitu pasukan Bajeng Patampulo (40).Sebagian kerabat kami di Bajeng mengklaim punya hubungan kekerabatan dgn keluarga kerajaan Belawa.
    Kini saya dicalegkan oleh satu partai untuk DPRD DKI Jakarta.Ternyata sejarah bersaksi bhw pasukan dr Makassar (Tallo) ikut serta dlm pembebasan Jayakarta dr Portugis di thn 1527 bersama pasukan Demak dan Cirebon setelah sblmnya pasukan Makassar itu membebaskan Samudera Pasai.Salam persaudaraan dr saya putra Gowa yg dipesan untuk tdk pernah melupakan tanah Luwu tanah leluhur yaitu Payung Lompoa ri Luwu.

    BalasHapus