Aku tidak MENULIS sejarah..tapi kusedang MENGKAJI sejarah..agar kudapat MENGUKIR sejarahku sendiri..

Kamis, 23 September 2010

Sejarah Belawa Part 8

Belawa Pada Penghujung Abad XIX (bag. 1)

Sejak pertengahan hingga akhir abad XVIII, Tana Wajo senantiasa dirundung berbagai intrik dan masalah  politik internal maupun eksternal yang tidak habis-habisnya. Sejak La Paddengngeng Puanna Palaguna  Petta MatinroE ri KEra Arung Matoa Wajo ke-38 meninggalkan Tosora dan menetap di KEra  hingga wafatnya karena perselisihannya dengan Petta EnnengngE. Kemudian dipilihlah La Pawellangi Pajung-paru Datu Makkajeng menjadi Arung Matoa Wajo ke-39. Dalam masa itulah, terjadi Perang Saudara di Sidenreng  yang pada akhirnya melibatkan Tana Wajo untuk ikut mengambil bagian pada peperangan itu.

Tersebutlah La Panguriseng Addatuang Sidenreng XIV (putera Muhammad Arsyad Petta CambangngE dengan I Nomba Datu Pammana) dikooptasi oleh saudara sebapaknya, yakni : La Patongai Datu Lompulle' (putera Muhammad Arsyad Petta CambangngE dengan Petta MappalakkaE) yang berusaha merebut tahta saudaranya. Arung Matoa Wajo La Pawellangi mencampuri pertikaian itu dengan berpihak kepada La Patongai disebabkan karena ibunda La Patongai adalah kerabat dekatnya. Namun perang itu dimenangkan La Panguriseng sehingga popularitas La Pawellangi meredup dan meletakkan jabatannya setelah memerintah Wajo selama 5 tahun dengan peperangan yang amat merugikan.

Pengganti La Pawellangi adalah La Cincing Akil Ali KaraEng MangEppE' Datu Pammana Arung Tellu Latte' Sidenreng Arung Matoa Wajo ke- 40. Baginda adalah saudara kandung La Panguriseng Addatuang Sidenreng yang memerintah Wajo selama 26 tahun. Namun pada masa pemerintahannya, baginda lebih sering bermukim di Parepare hingga wafatnya di Cappa' Galung (Parepare) dalam tahun 1883 M. Era pemerintahan La Cincing adalah masa yang penuh kekacauan didalam Negeri Wajo. Hal ini disebabkan karena Perang Saudara memperebutkan jabatan Arung Bettengpola antara La Gau' Arung Bettengpola Petta MatinroE ri Masigi'na (Putera La Tune' Arung Bettengpola Petta MatinroE ri Tancung dengan Sompa ri Timo MajjampaE Petta PabbatE PEnrang MatinroE ri Cinnotabi') dengan saudara sepupu sekalinya, yakni : La Mangkona Petta Pajung-PongaE. Perang Saudara ini secara otomatis melibatkan Belawa karena La Gau' Arung Bettengpola bersaudara kandung dengan La TEngko Arung Belawa Alau Petta Mancijii'E ri Wajo yang juga memperisterikan I Soji Datu Madello (puteri La Onrong Datu Pattiro Datu Soppeng XXXII dengan I Baccicu Datu Ganra Arung Belawa).

Pada masa itulah La Muhamma' Tang Daeng Paliweng (putera ArungngE Daeng Marowa Petta Pangulu Barisi'na Belawa dengan I Samayya) dilantik menjadi Petta Pangulu Barisi'na Belawa (Panglima Angkatan Perang Belawa) menggantikan ayahandanya yang sudah tua. Dalam jabatannya tersebut, Petta Pangulu memimpin beberapa Manyoro' (Mayor) yang masing-masing mengepalai sebuah divisi yang juga dipimpin oleh seorang Kapitan (Kapten). Salah seorang Manyoro' yang cukup terkenal dibawah kepemimpinan beliau, adalah : Manyoro' Bettaa. Beliau terkenal pemberani dan memiliki jiwa patriotisme yang kental sehingga sempat diasingkan oleh pemerintah Hindia Belanda ke Jawa selama beberapa tahun. Sekembalinya dari pengasingan, beliau digelari : Petta PajjawaE. Pemimpin pasukannya yang lain, adalah : Petta Manyoro' JempEng (putera La ComE', anak dari La Tune' Sangiang Arung Bettempola dengan We Busa Arung Belawa Petta WaluE). Beliau merupakan komandan termuda diantara yang lainnya.

Setelah beberapa tahun memangku jabatan sebagai Petta Pangulu Barisi'na Belawa, Daeng Paliweng dihadapkan pada ujian berat, yakni : pertikaian Ana'banua dan Belawa yang dipicu oleh masalah letak perbatasan. Arung Ana'banua yang dalam hal ini adalah wilayah Maniangpajo mengklaim sebagian besar  daerah WEle'E sebagai wilayahnya. Sementara selama ini, WEle'E adalah bagian Tana Belawa yang berada dalam wilayah Belawa Alau.

Klaim Ana'banua didukung oleh La DjalantE Petta Jinnirala (putera La Koro Arung Padali Batara Wajo  Petta MatinroE ri Tempe Arung Matoa Wajo ke-41). Beliau merupakan seorang Jenderal Besar Tana Wajo yang fenomenal dengan tindakan-tindakannya yang berani sehingga sangat disegani di wilayah TellumpoccoE. Maka Petta Jinnirala mengerahkan pasukannya kebagian timur WEle'E. Mereka membangun basecamp pertahanan  pada wilayah itu.

Adalah merupakan komplik dilematis yang sedang dihadapi Daeng Paliweng pada saat itu. Petta Jinnirala DjalantE adalah sosok yang dihormatinya. Bahkan sesungguhnya pada posisi Angkatan Perang Tana Wajo, beliau adalah merupakan atasannya. Namun kedaulatan Belawa yang merupakan sebuah otonomi khusus Wajo sejak jaman dahulu, adalah "siri" baginya. "Naiyya Siri'E, nyawa na ranreng". Harkat dan martabat  SIRI senantiasa ditempatkan bersama "nyawa". Menegakkan "siri" haruslah mempertaruhkan nyawa dan segala apapun yang dimiliki. Beliau mengumpulkan lasykarnya di depan Saoraja Bakka'E (Saoraja kediaman beliau di TippuluE) dan berkata : Naiyya riyasengngE BORANE dE' nijajiang, naEkiya ilanro ri tengngana musuu'E (sesungguhnya LELAKI tidaklah dilahirkan, melainkan ditempa ditengah peperangan). Maka peperangan ini haruslah dijalani !.

Aksi pertama Petta Pangulu adalah memerintahkan sebuah pasukan kecil untuk menyelidiki posisi pertahanan Petta Jinnirala dibawah pimpinan Manyoro' Bettaa. Setelah memasuki wilayah WEle'E, mereka mendapatkan  (Angnyareng ParaniE) kuda perang Petta Jinnirala sedang merumput sambil dijaga oleh gembalanya. Pasukan perintis itu menyergap pengembala lalu memotong Angyareng ParaniE kemudian menyalibnya (iyappajo-pajong) di tempat itu juga. Pengembala kuda dilepaskan untuk kembali melapor pada Petta Jinnirala. Maka inilah pernyataan perang terbuka yang diproklamirkan pihak Petta Pangulu.

Setelah peristiwa itu, Petta Pangulu segera mengerahkan pasukannya menyeberangi Salo KarajaE menuju WEle'E. Beliau memutuskan menyongsong Petta Jinnirala dan pasukannya yang "pasti" sedang bersiap-bersiap menyerbu Belawa. Karena dapat dibayangkan, betapa murkanya Petta Jinnirala disebabkan Kuda Perang kesayangannya dibunuh.

Akhirnya kedua pasukan itu bertemu di WEle'E dan terjadilah pertempuran terbuka yang mati-matian. Barisan senapan kedua belah pihak berhadap-hadapan sambil memuntahkan ribuan peluru timah. Sementara divisi lainnya saling tebas dalam pertarungan jarak dekat. Maka berjatuhanlah korban pada kedua belah pihak. Mereka sama-sama kuat dan sama-sama beraninya. Pertempuran itu berlangsung sengit hingga hari gelap oleh turunnya malam. Mereka menghentikan pertempuran sambil membawa teman mereka yang tewas maupun terluka, mundur ke garis pertahanannya masing-masing, beristirahat sambil menunggu matahari terbit untuk melanjutkan pertempuran.

Demikianlah, pertempuran itu berlangsung selama berhari-hari dan sejauh ini belum ada tanda-tanda pihak yang menang atau kalah. Sebuah peperangan yang banyak melahirkan legenda keberanian para ksatria  Tana Wajo, berperang tanding mati-matian satu sama lainnya. Perang saudara itu menggugah inspirasi para PanrE Ada (Sastrawan Bugis) menggubah syair-syair Epos yang menggelegar !. Salahsatu syair termahsyur yang masih samar-samar dalam ingatan penulis, dikutip dari  syair Mangngaru'  (ikrar/sumpah ksatria) salah seorang Panglima pasukan Petta Djinnirala, sbb :

Itaka' mai Lapuang, Djinniralana Tana Wajo !
Iya'na pakkana temmalara'na Gilireng
Tomassola-solaEngngi sunge'na
Ri Lanti'E ri Tengnga Padang
Tania bElo-bElo janggo'E na bulu sadang
Tania bElo-bElo bElua' sampo gEnoE
Engkapa musuu ri tengnga padang na riyabbEso-bEsoang
Aroo malebba', pajjagguru' malibu
Olii tEa sopE', darah tEa mitti', ure' tEa pettu

polopi cappa' kawalikku
Mallajangpi sunge'ku ri pammasareng
Naripasoro ujuuku ri tengnga padang

Terjemahan bebasnya kira-kira, sebagai berikut :

Pandanglah aku, wahai Jenderal Tana Wajo !
Akulah ksatria pantang mundur dari Gilireng
Orang yang tidak sayang akan jiwa raganya
Ksatria yang dilantik di tengah medang perang
Bukanlah sekedar perhiasan, jenggot menggantung di daguku
Bukan pula sekedar perhiasan, rambut panjang yang menggerai sampai di bahuku
Nantilah bertemu musuh di tengah medang perang, akan kugeraikan
Dadaku bidang, tinjuku telah membulat
Kulitku takkan robek, darahku tak akan menetes,  urat-uratku takkan putus
Nantilah patah ujung badikku
Raib melayang  sukma jiwaku ke alam akhirat
Barulah jazad tubuhku diundur dari medang perang



Ditengah perang saudara berkecamuk dengan sengitnya, tibalah utusan Petta EnnengngE di medan itu seraya meminta diadakan gencatan senjata. Maka masing-masing pihak mengundurkan diri sambil mendengarkan amsal (titah) Petta EnnengngE. Dewan Adat Tana Wajo tersebut memerintahkan agar perang saudara dihentikan. Adapun mengenai perbatasan Belawa dan Ana'banua yang menjadi sebab pertikaian, akan ditentukan oleh Dewan tertinggi tersebut. Petta EnnengngE akan datang ke tempat itu esok hari serta dimanapun letak Batu MEmmana'E (Batu Beranak) yang berada disekitar tempat itu, maka itulah yang dijadikan monumen perbatasan. Ana'banua disebelah timurnya dan Belawa disebelah barat.

Tersebutlah sebongkah batu besar yang aneh, terletak dipinggir sungai kecil disebelah timur WEle'E. Batu itu disebut sebagai Batu MEmmana'E (batu beranak) karena disekelilingnya bermunculan batu-batu kecil yang bentuknya menyerupai bongkahan batu besar tersebut. Konon, walaupun batu-batu kecil itu diambil, maka tidak lama kemudian akan muncul kembali batu-batu yang sama ditempat itu juga. Maka Batu MEmmana'E sangat dikeramatkan penduduk disekitarnya.

Mendengar titah Dewan Petta ennengngE, Petta Djinnirala memundurkan pasukannya ke basis pertahanannya dengan agak resah. Masalahnya, tujuan beliau menduduki WEle'E bukan disebabkan semata-mata karena ingin menguasai kampung kecil yang tidak terlalu potensial tersebut. Melainkan tembusan sungai MakkunraiyyE yang selama ini menjadi hak teritorial Belawa Alau, itulah yang menjadi tujuan utamanya. Sungai itu adalah satu-satunya sumber air yang mengairi sawah di WEle'E dan Anabanua barat yang sejak lama menjadi sumber pertikaian. Masalahnya kini, Batu MEmmana'E sejak dulu terletak di pinggir sebelah timur  Salo MakkunraiyyE. Dengan demikian anak sungai yang mengalir hingga bermuara di Danau Tempe tetaplah menjadi wilayah Belawa. Jadi sia-sialah peperangan yang cukup memakan korban dipihaknya selama ini.. !

Setelah berunding dengan para panglimanya, Petta Djinnirala mengerahkan pasukannya untuk memindahkan Batu MEmmana'E keseberang sungai MakkunraiyyE (pinggir sebelah barat) pada tengah malam itu juga. Dengan begitu, jika Dewan Petta EnnengngE mengadakan inspeksi pada esok hari maka niscaya Sungai MakkunraiyyE akan menjadi Wilayah Ana'banua. Dapat dibayangkan betapa beratnya pekerjaan itu !. Batu sebesar kerbau bunting digali lalu dipindah ke seberang sungai oleh lasykar yang kelelahan setelah bertarung seharian itu. Namun pekerjaan itu selesai juga menjelang dini hari. Petta Djinnirala dan lasykarnya kembali ke basecampnya beristirahat sambil menunggu matahari terbit di ufuk timur.

Maka tibalah Dewan Petta EnnengngE. Mereka diiringi Petta Djinnirala dan Petta Pangulu beserta segenap panglima dan pengawalnya masing-masing, menuju ke pinggir Salo MakkunraiyyE. Betapa terkejutnya Petta Djinnirala beserta segenap panglimanya, Batu MEmmana'E yang dipindah menjelang pagi itu tetap berada pada tempatnya semula yakni dipinggir sebelah timur sungai. Dengan demikian, Petta EnnengngE menetapkan bahwa sungai MakkunraiyyE adalah teritorial Belawa. Maka berkatalah Petta Djinnirala, : Makarame'i Petta Pangulu.. (Petta Pangulu lebih keramat...). Lalu Petta Pangulu menimpali dengan segala hormatnya: Matase'i Petta Djinnirala (Petta Djinnirala lebih tinggi derajatnya...).

Kedua tokoh heroik itu saling memuji. Sebuah moment yang mengagumkan dipertunjukkan oleh kedua ksatria agung yang tadinya saling mermusuhan. Mereka sama memiliki jiwa besar dan sikap sportif dengan saling menghormati dalam suasana pangadereng (tata krama) yang kental. Petta Pangulu sejak dulu mengagumi Petta Djinnirala yang terkenal sebagai Jenderal Sakti. Konon pada suatu waktu, sebuah kampung selalu disatroni segerombolan perampok yang mengganas dan piawai dalam taktik gerilya. Mereka bisa datang dan menyerbu secara tiba-tiba dan mampu pula menghindar seketika bagai bisa menghilang jika dioperasi pasukan keamanan. Lalu datanglah Petta Djinnirala ke Kampung itu. Beliau duduk diatas pelangking (tandu bangsawan tinggi) lalu menebar pasir disekeliling kampung itu. Maka gerombolan perampok itu tidak pernah lagi dapat  memasuki kampung itu karena yang dilihatnya adalah hamparan danau semata. Sejak itu kampung tersebut dinamai : Jukkessi'.

Demikian pula sebaliknya, Petta Djinnirala juga mengetahui dan mengagumi kemampuan Petta Pangulu. Tersebutlah pada suatu hari, tibalah utusan berkuasa penuh dari Addatuang Sidenreng di Belawa. Mereka mempermasalahkan bendungan Salo Cuco yang terletak di perbatasan Sidenreng - Belawa di sebelah utara. Masalahnya, jika air sungai KarajaE meluap maka areal persawahan Aja BEntEng (wilayah Sidenreng) terendam air karena saluran keluar satu-satunya (Salo Cuco) dijadikan bendungan penahan air oleh Belawa. Karena apabila tidak dibendung maka aliran banjir itu akan menenggelamkan areal persawahan di Belawa. Ketika perundingan itu tidak mencapai kesepakatan, maka marahlah Utusan AddatuangngE seraya mengancam akan menyerbu Belawa sambil beranjak dari tempat duduknya, pergi tanpa pamit (walk out ?). Maka tersinggunglah pulalah Petta Pangulu !. Beliau mengarahkan telunjuknya pada sebuah Palungeng Lappa  (Lesung tempat menumbuk padi) yang tergeletak di halaman Saoraja. Lesung besar itu melayang dan berputar seperti baling-baling ! "Palungennami Belawa uwEwakko, taniapa Pakkannana !" (cukup lesungnya Belawa kujadikan senjata yang pantas melawan kalian, belumlah ksatrianya !), raungnya menggelegar dengan amat murka. Utusan AddatuangngE menyaksikan itu dengan wajah pucat lalu pulang tanpa banyak cakap lagi.

Peperangan Petta Djinnirala dan Petta Pangulu telah usai. Kedua tokoh yang saling mengagumi itu saling mengikat sumpah persaudaraan (sitelli). Mereka saling mewasiatkan kepada anak keturunannya agar senantiasa saling menghormati dan memantangkan pertikaian diantara mereka.

Setelah La Cincing Akil Ali KaraEng MangEppE Datu Pammana Arung Tellu Latte' Sidenreng Arung Matoa Wajo ke-40 wafat di Parepare, maka tampuk tertinggi Tana Wajo ditahtakan kepada La Koro Arung Padali Arung Matoa Wajo ke - 41 yang lebih dikenal dengan gelarnya, yakni : Batara Wajo.
Baginda adalah putera La Makkaraka Langi Baso Tancung Datu Marioriawa dengan I Ninnong Datu TEmpE (puteri La Wawo Addatuang Sidenreng XIII dengan I BubEng KaraEng PambinEang). Tana Wajo pada masa pemerintahnya juga tercatat sebagai masa yang penuh kekacauan dan peperangan. Perselisihan Tana Wajo dengan Bone disebabkan pajak bea cukai garam memicu peperangan baginda dengan I Bangkung KaraEng Popo Arung Palakka yang memaksakan kehendaknya untuk mengisi jabatan Petta Ranreng Tuwa bagi puterinya. Kekisruhan politik di Tana Wajo sebagai Negeri Induk tentulah imbasnya juga dirasakan di Belawa sebagai Anak Negeri. Wallahualam bissawab.

(bersambung ke Belawa pada Penghujung Abad XIX bagian ke-2)







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar