Aku tidak MENULIS sejarah..tapi kusedang MENGKAJI sejarah..agar kudapat MENGUKIR sejarahku sendiri..

Senin, 18 Juni 2012

SEMPUGIKU
  By. La Oddang

..adalah suatu semangat kebersamaan dalam suatu kerangka “Pangadereng” yang berlandaskan “Siri na PessE” atau “Siri na PaccE”. Maka “Sempugi” adalah wawasan pemersatu bagi segenap suku bangsa yang memaknai kedua azas itu, mereka adalah : To Luwu, Toraya,To Menre’, To Mankasara, To Duri, To Enrekang, To Silaja, To Ugi dan lainnya.. (Pokok Pikiran Mattulada dalam Sejarah, Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan).
…………………………………………………………………………………………………


Tanpa bermaksud menggali lebih jauh perihal sejarah awal mulanya dan batas pokok pikirannya, namun inilah sekelumit kesamaan yang saya lihat pada orang-orang Sulawesi Selatan dan Barat, yang oleh Pakar Mattulada menyebutnya sebagai “Sempugi”.

I. ORANG-ORANG YANG MEMBINGUNGKAN

Setidaknya demikian kata beberapa teman saya yang datang dari Australia. Mereka menyebut “kata ganti orang” dengan tidak begitu tegas, padahal bahasa mereka pun memiliki struktur yang jelas, misalnya :

- Iya’ (Bugis), InakkE (Makassar). Namun sehari-hari mereka jarang menyebutnya demikian, utamanya dalam hal petunjuk “kepemilikan”, contoh : Idi’ (Bugis) yang harfiahnya adalah “anda” atau “kita”, namun dapat diartikan sebagai “saya atau kami”. Kemudian berkembang pada kepemilikan, dapat dianggap sebagai hal yang agak kasar jika menyebut “Manu’ku” (ayamku). Terdengar sangat “personal” (ke-Aku-an) bagi lawan bicaranya. Maka adalah hal yang dianggap halus jika menyebutnya : “Manu’ta” (ayam anda atau ayam kita bersama) atau “Manu’E mua” (ayam kita juga), walaupun sesungguhnya itu mutlak milik pribadinya.

Namun tentu saja etika bahasa itu tidak sertamerta berlaku untuk semua ke-pemilik-an. Pada beberapa hal tidak dipermaknakan demikian, mengingat nilai sacral Siri yang melingkupinya, misalnya : BainE (isteri). Tidak akan pernah dikatakan “bainEta” (Maaf ; Istri kita bersama), melainkan dengan pengungkapan yang lebih akrab, misalnya : Ipaata’ (Ipar Anda) atau Indo’na AnaurEta (Ibu keponakan anda) atau ToribolaE (orang dirumah).

Maka kemudian, jika seorang “Sempugi” bertutur Bahasa Indonesia, kerap membingungkan bagi orang-orang dari luar pulau. Akan mudah ditebak jika ia adalah Orang Sulawesi Selatan ketika berbahasa Indonesia, misalnya : “Bagaimana KITA tahu jika La Baco sedang berada di Surabaya ?”. Padahal maksudnya : “Bagaimana ANDA tahu jika La Baco sedang berada di Surabaya ?”.

Pada semua penutur bahasa di Sulawesi Selatan dan Barat, mereka menyebut kepemilikan “basa basi” itu dengan akhiran “ta” atau “a”dibelakang kata benda atau kata ganti orang yang dimaksudkannya. Misalnya : Kampongta (Bugis), Ballaka (Makassar), Sitondo’ta (Toraya), atau lainnya. Semua itu adalah menandakan sebagai semangat kebersamaan, sebagaimana diungkapkan : Tania Tolaing atau TEai TomaraEng (bukan orang lain..). Hal yang menunjukkan sebagai pertanda keakraban.

- Orang Sulawesi Selatan dan Barat (baca : Sempugi) adalah bangsa yang amat mudah “tersentuh” (peka) terhadap persoalan  makanan dan minuman. “Agaga muttama ri wettangngE” (sesuatu yang masuk dalam perut). Maka adalah hal terlarang oleh “Siri PessE” untuk menghitung-hitung pemberian terhadap orang lain jika itu menyangkut makanan dan minuman. Memberi atau menjamu makan minum kepada tamu dianggap sebagai suatu kewajiban prikemanusiaan. Ia memberi  tanpa harus bertanya dulu kepada orang dijamunya, misalnya : “Sudah lapar, ya ?” atau “Mau makan apa ?” atau pula “Mau minuman panas atau dingin ?”. Kalaupun ditanya, pastilah dijawabnya dengan agak kesal dan malu, : “Agi-agi, idi’mua bawang..” (Sembarang, terserah anda..).

- Menghargai dengan mengenakan topi atau penutup kepala. Terbalik halnya dengan Eropa yang membuka topi dihadapan orang yang dihormatinya. Maka terkadang orang luar Sulawesi Selatan dan Barat agak heran jika bertemu dengan seorang Sempugi yang berjabat tangan seraya meletakkan tangan kirinya diatas kepalanya (jika tidak mengenakan penutup kepala). Pertanda : Ujujungki ri assipakalebbirengta (saya menjunjung anda dalam rangka saling memuliakan).


II. ORANG-ORANG YANG BERTENGGANG RASA

Pada suatu majelis (forum), didapati seseorang yang amat bersemangat mengutarakan pendapatnya. Disela-sela presentasi itu, kadang-kadang ia balik bertanya pada seorang Sempugi disampingnya, “Maga tasedding ?” (bagaimana menurut pendapat anda ?). Maka Sempugi itu akan tersenyum seraya menyahut : “iyE’” (iya), seakan membenarkan. Padahal sejujurnya, pendapat itu “agak” sedikit berbeda dengan pendapatnya sendiri. Namun ia menahan diri untuk tidak menyanggah dengan pendapat berseberangan, demi menjaga perasaan dan SIRI  Sempugi-nya tersebut. “NarEkko sisala cEddE’mi, imonripi naripasilolongeng..” (kalaulah cuma berselisih sedikit, nantilah belakangan dipertemukan..), demikian kira-kira pikirnya.

Maka amat jarang didapati kata “TIDAK” pada seorang Sempugi. Bahkan jika ia dimintai bantuan akan sesuatu dihadapan umum, maka jawabnya pasti “IyE”, walaupun dirasanya itu agak sulit. “Kalamanna jancimi bawang..” (Walaupun itu sekedar janji..), agar orang yang meminta bantuan itu tidak merasa berkecil hati.


III. ORANG-ORANG YANG BERDARAH PANAS ?

Dianggap gampang naik darah karena mereka adalah orang-orang yang peka. Begitu halus adabnya dengan menghargai martabat dan menjaga perasaan orang lain, maka iapun mudah tersentuh jika dikasari dihadapan orang banyak. “Siri’Engmi na toTau, naiyya Siri’E : Nyawa naranreng, Sunge’ nakira-kira..” (Karena harga dirilah maka kita dinilai manusia, sesungguhnya harga diri itu : pendamping jiwa, hidup yang menjadi taruhannya..).

Sempugi adalah orang-orang yang berkepribadian amat berhati-hati dan mawas diri ditengah masyarakat. “Manini ri collai, nasaba’ pangkaukengna..” (sangat menghindari diperlakukan sembarangan, dikarenakan perbuatannya sendiri..).

Pada suatu waktu, penulis menemani salah seorang junjungan untuk mengurus Pasport dalam rangka perjalanan umroh. Setelah passport itu selesai, saya mengusulkan agar Sang Datu mengurus Kartu NPWP supaya tidak perlu membayar Piskal yang sekira-kira senilai 2,5 juta Rupiah.

“..aja’na kapang, Oddang. NadE’na jE’ gaga jaman-jamangku, pensiunna’ iya’. DE’na na’Engka umakkamaja pajak, agannapi riyala mala kartu pajak ?” (..agaknya tidak usah, Oddang. Saya tidak punya pekerjaan lagi, sudah pension. Maka saya tidak pernah lagi membayar pajak, buat apa lagi mengurus kartu pajak ?), tolaknya.

“EbarE’ dE’nakkamaja piskal DatuE, Puang..” (Agar paduka tidak bayar piskal lagi, Tuanku..), jawabku meyakinkan.

“Wee.. aja’na kasi’. DE’saharo namaEga dui, naEkia taroni iwajaa.. Engka ammani Pagawai Pajak’E mapparEssa lao ri bolaE, nasakke’rupa napadangki’. Tomasiri bawangnatu, natosala mEmeng..” (Wee.. tidak usahlah. Memang kita tidak memiliki uang yang banyak, namun biarlah dibayar.. Nanti pegawai pajak datang memeriksa di rumah, lalu sembaranglah nanti dikatakannya pada kita. Kita akan merasa malu saja, karena memang kita yang bersalah..).

Maka Sempugi sesungguhnya adalah orang-orang yang memagari SIRI dengan “sipakatau” (tenggang rasa) dan membelanya dengan segenap jiwa yang dimilikinya.





Wallahualam Bissawwab..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar