Aku tidak MENULIS sejarah..tapi kusedang MENGKAJI sejarah..agar kudapat MENGUKIR sejarahku sendiri..

Rabu, 20 Juni 2012


BUAH TAK BERPOHON

               by. La Oddang



Tidak semua hal ihwal ke-sejarah-an tertulis pada lembaran Lontara, ..namun disampaikan "massosoreng" (turun temurun) lewat tutur pinutur. Pada sisi lain, tidak semua buah tutur pula dapat diyakini kesejarahannya, ..namun makna luhur yang dikandungnya adalah sesuatu yang tak terbantahkan. Maka ia ibarat "buah" yang tak jelas dimana gerangan pohonnya. Buah yang jatuh dipinggir sungai kemudian hanyut oleh arus, melewati "pitu pakka salo" (tujuh cabang sungai) hingga menemui “babangna binanga” (muara) menuju kehamparan samudera nan luas tak bertepi.

......................................................................................................



Perihal suatu negeri besar yang merubah makanan pokoknya, dari beras menjadi sagu adalah salahsatu buah tutur yang hanyut tak berhulu itu. Alkisah, suatu negeri besar yang makmur dan sejahtera. Negeri yang subur dengan hamparan sawahnya seluas sejauh mata memandang. Buah karya penghidupan oleh segenap rakyatnya rajin. Para anak negeri  yang terdiri dari para kawula rajin dan bangga serta hormat pada rajanya yang arif nan bijaksana. Seorang Raja Agung yang disebutnya sebagai "Sang Payung" beserta segenap perangkatnya yang memuliakan prinsif keadilan dan kehormatan negerinya.

Panen padi senantiasa berlimpah dari musim ke musim. Tiada musim palawija diantara musim panen padi ke musim tanam berikutnya. Maka lumbung rakyat senantiasa bertumpuk sampai wuwungan, hingga bulir-bulir padi tumbu bertunas pada lantai dasarnya. Suatu fenomena yang pada akhirnya menimbulkan rasa jenuh. Bahwa menjalani hidup dalam serba kecukupan, agaknya menimbulkan kebosanan pula.

“Bagaimana caranya agar padi tidak tumbuh di sawah kita untuk sementara ?”, tanya salahseorang petani dalam suatu rapat dengan Matoa Laongruma (Tetua Petani). Maka riuhlah suasana majelis itu dengan berbagai usul masing-masing. “Sebaiknya kita berhenti menanam padi untuk sementara”, kata Mado’E (juru pengairan). Akhirnya, itulah kiranya yang dianggap sebagai solusi yang paling masuk akal, sehingga disepakati dengan suara bulat.

Maka rakyat negeri itu menghentikan aktifitasnya di sawah. Mereka mengalihkan kesibukannya ke laut dan sungai untuk mencari ikan. Namun sawah mereka tetaplah ditumbuhi padi dengan suburnya. Batang-batang padi yang telah dipotong, beranak pinak dan tumbuh dengan suburnya hingga berbuah yang sarat isi pula. Apa boleh buat, padi yang siap panen  itu terpaksa dipanen kembali.

“Permasalahan” ditengah-tengah kehidupan rakyat itu akhirnya diketahui pula oleh Sri Baginda. Maka dibukalah suatu majelis yang menghadirkan segenap menteri dan penasehatnya. “Apa yang mesti dilakukan agar negeri ini tidak ditumbuhi padi lagi ?”, tanya baginda dengan amat resahnya. Bukan hal yang remeh jika menyangkut dengan keresahan rakyat. Maka ribut pulalah segenap menteri itu, mengajukan usul-usulnya yang dipikirnya paling benar. Namun Sri Baginda agaknya belum merasa puas dengan ragam ide itu. Akhirnya, giliran Sang Penasehat angkat bicara. “..usompai DatuE ri alebbirengna. Naiya sitongengna passaleng ribirittaE, taniato passaleng tenritappu na tenri lolongeng paddippungna..” (..saya menyebah paduka atas kemuliaannya. Bahwa  persoalan yang dihadapi saat ini, bukannya permasalahan yang tanpa terselesaikan dan bukan pula hal yang mustahil didapatkan simpul penyelesaiannya..). “Pabbirittani manrapimu, macca..!” (tunjukkalah hasil pemikiranmu, wahai Cendekia !), titah baginda.

“Ee, Puekku.. REkko maEloki papinrai atuongenna Sangiang Serri ri Lipu’E, tagilingngi pettunna bicaraE ri pabbanuamu. Pallempu’i majEkkoE, pajjEkkoi malempu’E. Pasalai tongengngE, mutujuengngi salaE..” (Duhai, Tuanku.. Sekiranya anda berkehendak merubah daya hidup Sang Dewi Padi di negeri ini, balikkanlah segala putusan hukum pada segenap anak negeri. Luruskanlah yang bengkok, bengkokkanlah yang lurus. Salahkan yang benar, benarkanlah yang salah..). Suatu pendapat yang akhirnya disepakati dengan bulat atas persetujuan baginda.

Irippekini adaE, nariponcoki caritaE.. ripalaloni gau’ tessitinajaE  rilaleng lipuE. NasianrE balEni tauwE, sibongo-bongngorengni pabbanuaE. Tessiaga Ettana, dE’na natuo wijangna Sangiang Serri rilaleng Lipu. Iyyanaro wettu pammulang nalElEna abiasangngE manrE tawaro.. (Disingkatlah perkataan, dan dipendekkanlah cerita.. dilaksanakanlah segala perbuatan yang tidak sepatutnya. Maka saling memakanlah orang bagai ikan, saling membodohi lah segenap rakyat. Itulah masa permulaan sehingga berpindahlah kebiasaan memakan beras menjadi sagu..)

Luttuni pEppajaE, maccEkkEng riwatang asE, massErang tekkanawa-nawa.. Lettu’ni pajaE, mappasilElE masE-masE, maringerrang tekkanawa-nawa.. Akhir cerita, bukanlah suatu kebenaran sejarah yang hendak dikemukakan, melainkan mengingatkan kepada diri sendiri perihal kemuliaan keadilan dan keutamaan rasa syukur. Adalah buah hanyut tak tentu pohon muasalnya, sekiranya bukanlah hal yang sesungguhnya, anggaplah cerita pengantar tidur belaka.

Wallahualambissawwab..




Tidak ada komentar:

Posting Komentar