Aku tidak MENULIS sejarah..tapi kusedang MENGKAJI sejarah..agar kudapat MENGUKIR sejarahku sendiri..

Senin, 05 November 2012

"PINRANG", MAKNA KECINTAAN ANAK NEGERI


PRAKATA
Assalamualaikum Wr. Wb,

Alhamdulillahi Robbil Alamin, wassolaatu wassalaamu ‘alaa asyrofil ambiyaa’i wal mursaliim, Allohumma sholli ‘alaa Muhammad, wa ‘alaa alihii wa shohbihii aj’main.

Cendekiawan Nursangaji berujar, "..kita sedang menuntut ilmu pada Universitas Kehidupan". "..saya memilih Fakultas Sejarah", kataku kemudian.

"Hal ihwal masa sebelum saat ini..", demikian pengertianku tentang "sejarah". Terukir jelas pada dinding waktu, dimana Allah berfirman tentangnya. Maka ia adalah kisah yang digurat oleh Sang Guru Mumpuni, bernama : Pengalaman. Sejarah menulis jatuh bangunnya seseorang, keluarga, kaum, umat, bangsa dan semua mahluk. Maka ia adalah ta'wil, cerminan ihwal bagi masa yang akan datang. Maka bagaimana menyikapi dan memutuskan langkah pasti kedepan, tergantung bagaimana memaknai sejarah pada saat ini, bersama jati diri yang ditemukan lewat jendela sejarah.

Sang Guru mengajarkan sejarah, ia mengutip setiap butir hikmah didalamnya, sebagai ibrah yang adiguna. Memaafkan dan berlaku adil, begitulah permata sejarah menamakan dirinya. Menghargai waktu dan arif bagi kehidupan di masa ini, demikian sejarah senantiasa menunjukkannya. Maka sejarah, sesungguhnya adalah "Ayat Allah" yang terukir pada sepanjang masa.

Akhirnya, merupakan suatu kebanggaan bagi saya pribadi yang mendapat curahan kehormatan untuk mengantarkan suatu materi, yang semoga kiranya menjadi “setetes air” dari telaga Sejarah “Bumi La Sinrang”. Salahsatu Kabupaten paling makmur di Sulawesi Selatan, beserta latar sejarah dan budayanya yang kaya philosofi, tentang keberagaman dan tradisi kejuangannya yang menggetarkan.

Tiada lain yang amat diharapkan pada pemaparan materi ini selain ridlo Allah semata. Hidayah melalui suatu majelis yang akan mengeksplorasi pengetahuan tentang ke-sejarah-an Kabupaten Pinrang dengan lebih dalam, dimana materi sederhana berjudul “Pinrang, Makna Kecintaan Anak Negeri” ini hanyalah sebagai pengantar belaka.

Hashbunalloha wa ni’mal wakiil, ni’mal mawla wa ni’mannashiir,
Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
                                                                                                              Parepare, 2 Nopember 2012
                                                                                                                                               


                                                                                                             Andi Oddang Panguriseng



               
I.   PENDAHULUAN

- Latar Belakang
Kabupaten Pinrang yang merupakan salahsatu Daerah Tingkat II di Propinsi Sulawesi Selatan sesuai Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 Tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi yang berlaku pada tanggal 4 Juli 1959, merupakan suatu Kabupaten yang terhitung sebagai suatu Daerah Tingkat II seluas 10.196.77 Km2 dengan mewilayahi 12 Kecamatan, dimana beberapa kecamatan diantaranya adalah bekas kerajaan yang cukup berpengaruh di masa sebelum kemerdekaan.

Berbeda halnya dengan Kabupaten/Kota lainnya di Sulawesi Selatan, Kabupaten Pinrang bukanlah merupakan suatu bekas kerajaan secara utuh, sebagaimana halnya dengan Kabupaten Bone, Wajo, Soppeng dan Gowa kini, melainkan gabungan beberapa kerajaan yang tergabung dari 2 kawasan, yakni : Ajatappareng dan MassEnrEngpulu.

Kerajaan Suppa, Sawitto dan Alitta adalah diantaranya yang merupakan 3 Kerajaan Utama dalam wilayah persekutuan LimaE Ajattappareng yang terbentuk sejak abad-17, sampai pada awal abad-20 merupakan kerajaan-kerajaan yang tidak dikuasai secara langsung oleh Belanda berdasarkan Perjanjian Bungaya (1667/1669), melainkan dipandang selaku “negeri sahabat” yang lazim disebut “Zelefbesturende Landschappen”. Demikian pula halnya dengan Kerajaan Kassa’-Batulappa yang sesungguhnya berada dalam kawasan persekutuan MassEnrEngpulu.

Sehubungan dengan perihal tersebut diatas, maka penulisan Sejarah Kabupaten Pinrang secara menyeluruh adalah uraian kronik setiap kerajaan yang meliputi pengaruh 4 etnis besar di Sulawesi Selatan dan Barat, yakni : Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Selain itu, tidak dapat pula diabaikan keberagaman periode permulaan kesejarahan Sulawesi Selatan yang terhitung sejak abad-14 - 16, kemudian pada masa babak baru kehidupan Politik Kolonial dalam abad-17 sampai pada masa kemerdekaan yang menandai akhir era pemerintahan kerajaan dalam abad-20 bagi masing-masing kerajaan didalamnya.

Mengingat ruang lingkup kesejarahan yang beragam pada Kabupaten Pinrang, maka perkenankan saya untuk membatasi makna topik “Sejarah Kabupaten Pinrang”, menjadi “Sejarah Pinrang” sebagai awal penamaan suatu pemukiman kecil dalam wilayah Kerajaan Sawitto.

- Maksud dan Tujuan
Sebagai bahan kajian pada Seminar Sejarah Kabupaten Pinrang dengan harapan kiranya menjadi kilasan pengetahuan yang semoga menjadi pengenalan awal untuk menumbuhkan minat dan cinta generasi muda terhadap sejarah dan budaya leluhurnya.





II.  KERAJAAN SAWITTO

A. Masa Awal
Sebagaimana halnya dengan kesejarahan kerajaan-kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan, awal mula berdirinya Kerajaan Sawitto dituturkan dan dituliskan dengan beragam versi. Terlebih pula, Sawitto sesungguhnya berada pada titik persimpangan antar etnis besar di Sulawesi Selatan dan Barat, sebagaimana dikemukakan sebelumnya.

Wilayah titik perbatasan antar etnis inilah yang kemudian membuahkan beragam versi tentang penduduk awalmula Sawitto, diantaranya dikatakan dari Enrekang, Tana Toraja dan Bone. Namun terlepas dari berbagai versi tersebut, Sawitto kemudian berdiri sebagai suatu kerajaan beserta dengan tokoh foundernya, yakni seorang Tomanurung atau To Tompo yang didahului masa chaos sebagaimana biasanya dikenal sebagai masa SianrEbalE (saling memakan bagai komunitas ikan).

Bahwa dalam abad-14, wilayah dataran tinggi Sawitto sebelum terbentuk sebagai suatu kerajaan, sesungguhnya dihuni oleh para pendatang dari berbagai etnis bersama dengan legendanya masing-masing. Disebutkan bahwa penduduk awalmula itu berasal dari etnis Toraja menghuni kawasan sebelah utara, yaitu : Kaballangang dan sekitarnya, hingga seluruh wilayah yang berbatasan langsung dengan Tana Toraja kini. Masyarakat inilah yang kemudian bertutur Bahasa Pattinjo, suatu bahasa yang unsurnya adalah percampuran bahasa Bugis dan Toraja (Palisuri, Lontarak,1995).

Kemudian dalam kurun abad yang sama, orang-orang Enrekang berdatangan pula menghuni wilayah pesisir pantai barat yang dikenal kemudian sebagai Sawitto Timoran Saddang. Mereka dipimpin oleh La Mappatunru, putera Bissu Tonang Arung Enrekang. Kedatangan La Mappatunru beserta rombongannya untuk bermukim pada daerah pesisir tersebut, diperlengkapi dengan peralatan  bercocoktanam, bibit tumbuhan, kuda dan kerbau. Mereka membuka tanah perkebunan, kemudian menamai kawasan perkebunannya sesuai jenis tanamannya, yaitu : Langnga (wijen), LamE (ubi), Kaladi (keladi) Beberapa tahun kemudian, kawasan perkebunan itu berubah menjadi areal persawahan yang berkembang menjadi perkampungan, yakni : Langnga dan Pakkaladian.

Demikian pula dengan kawasan lainnya disebelah PalEtEang, dan Tiroang yang membujur kearah selatan hingga Malimpung, Madello dan Simbuan kearah Utara Barat Laut, sama-sama berkembang sebagai pemukiman masyarakat yang diketuai oleh pemimpinnya dengan beragam sebutan, yakni : Matoa, Uwa’ dan AnrEguru.

B. Periode Tomanurung dan To Tompo
Sesungguhnya, sejarah dan tradisi kepemimpinan para Raja di Sulawesi bermula pada jaman “sianrEbalE” (saling memakan bagai komunitas ikan). Sebutan pada kondisi kacau balau dalam kehidupan bermasyarakat, ketika tiada hukum dan pemimpin yang cukup kuat untuk menertibkan keadaan tersebut.

Masa kegelapan dimana yang kuat sewenang-wenang terhadap yang lemah itupun berlangsung cukup lama, sebagaimana digambarkan berbagai Lontara , yakni selama “pitu pariamanna” (tujuh zaman). Maka kemudian, masyarakat negeri saling menghimpun diri dan keluarga mereka dalam kelompok-kelompok kecil yang kerap disebut sebagai “anang” (persekutuan keluarga). Kiranya hanya dengan himpunan kesatuan kecil itu, barulah mereka dapat bertahan dalam suasana kacau tersebut. Selanjutnya, kerapkali terjadi perang antar Anang disebabkan perebutan lahan atau kawasan, dalam usaha mendominasi dan memperkuat pengaruh kelompoknya masing-masing.

Ditengah suasana “chaos” itu, tampillah sosok kharismatik serta ber-Ilmu Pengetahuan. Peristiwa kemunculan tokoh yang tidak diketahui asal muasalnya itu digambarkan sebagai kejadian yang luar biasa (magis), kemudian dipandang sebagai anugerah (pemimpin alternative) bagi sekalian Anang yang pada akhirnya lelah juga berperang. Maka ia dijadikan pemimpin atas permintaan dengan sangat oleh rakyat negeri itu yang diwakili oleh Matoa Ulu Anang-nya masing-masing. Namun sebelum ditabalkan sebagai “raja/ratu”, ia pula harus mengadakan perjanjian dengan para penghulu kaum/rakyat.

Demikian pula halnya dengan masyarakat anang yang menghuni wilayah Sawitto pada masa itu. Sebagaimana dituturkan dalam salahsatu kronik Sawitto yang diperkirakan terjadi dalam tahun 1350 M (Rimba Alam, 2009), muncullah 7 orang “To Tompo” (muncul dari bawah) di wilayah AkkajangngE atau Lurah MarajaE. Para To Tompo itu dipimpin oleh saudara tertua mereka yang kemudian disebut sebagai : Puang ri SompaE. Maka baginda inilah yang ditabalkan sebagai pemimpin perhimpunan segenap Anang dengan sebutan : Addaowang (tempat bernaung). Peristiwa kemunculannya di Lurah MarajaE, ditetapkan sebagai legenda yang menjadi awal mula penamaan Kerajaan mereka, yakni : Na Sawi To Tompo (diberkahi orang yang muncul dari bawah), kemudian disingkat menjadi “Sawitto”. Inilah versi pertama perihal penamaan Kerajaan yang sedang dibahas ini.

Pelantikan Puang To RisompaE selaku Addaowang Sawitto didahului dengan sambutan dan ikrar bersama dengan para Penghulu Anang, diuraikan pada kronik Sawitto sebagai berikut :
“Anganroangna MatoaE : Angingko ki raukkaju // Riao miri // Riakkeng teppa mutappalireng // NaElo’mu kua // Adammu sia // Mattampako kilao // MarEllauko kiabbErEang // Passuroangmu riamasEang // Namau anammeng napattarommeng// mutEaiwi,// kitEaitoi// REkkua tudammuni’ mai ri tanata// Mangkaukeng temmagaru “

“Mappibalini Puang ri SompaE : Ujujung ada madEcEngmu, // PabbanuaE // Upallongi-longi na kusappiang mattakkE ulaweng, // Ada malebbikkeng, // RiassEddiangmu patonangia’ Addaowang.” (Johan Nyompa, 1980).





( Berikrarlah Para Matoa : Engkaulah angin dan kami dedaunan kayu belaka. Kemana kau berhembus, disitulah kami terhampar, mengikuti arahmu selalu. Kehendakmulah yang terlaksana, amsalmu yang terwujud, Engkau memanggil, maka kami datang, Engkau meminta, maka kami memberi, Perintahmu adalah rahmat, Walau anak dan isteri kami, jika engkau tidak menghendakinya, Kami akan menolaknya pula. Namun, bertahtalah di negeri ini, pimpin kami agar tidaklah kacau balau)
(Menjawablah Puang ri SompaE : Kujunjung tinggi ikrar baikmu, wahai orang banyak. Kutinggikan lalu kusangkutkan pada dahan-dahan emas, ikrar kemuliaanmu. Berkat persatuanmu jua, menjadikanku sebagai naungan).

Maka bersatulah para anang itu dalam himpunan satu negeri, dibawah kepemimpinan Addaowang Puang ri SompaE. Adapun halnya dengan keenam saudaranya, mereka menjadi perangkat kerajaan dalam suatu lembaga adat yang kerap disebut sebagai “AnnangngE”, sebagai berikut :
1. To LEngo, menjadi Matoa LEppangeng (Tiroang) dan turunannya mewarisi jabatan AnrEguru (Panglima) dan Mappasusu (Penasehat) Kerajaan Sawitto,
2. La Massa To Kipa, menjadi Matoa PalEtEang dengan gelar : Bori’-Bori’na PalEtEang,
3. To Marro, menjadi Matoa Arawa,
4. To Masse’, menjadi Matoa Masila,
5. To Panroko, menjadi Matoa Bua (sekarang berada di daerah Padakkalawa),
6. To Maddampang, Pappasusu Sawitto.

Era pemerintahan Addaowang Puang Matoa adalah awal penyatuan para Anang yang kemudian menjadi daerah “lili” (daerah bawahan) Sawitto dengan hak dan kewajibannya masing-masing.

Kronik Sawitto yang memberitakan perihal Addaowang Puang ri SompaE hanya menguraikan sebatas kemunculan To Tompo’E dan pembentukan Kerajaan Sawitto beserta lembaga adatnya. Penelusuran penulis sejauh ini belum mendapati suatu sumber yang menguraikan kelanjutan turunan Puang ri SompaE sebagai Addaowang penerus wangsa To Tompo tersebut, hingga kedatangan To Manurung dari selatan, yakni ManurungngE ri Bacukiki.

Tersebutlah La BangEnge’ ManurungngE ri Bacukiki, dalam perjalanannya kearah utara dari tempatnya “manurung” (turun dari khayangan), tibalah beliau pada suatu pemukiman yang ramai. Maka ia berkata kepada pengikutnya : “SawEto tauwE rini’ “ (ramai pula orang disini). Kemudian peristiwa tersebut menjadi versi lain dari awalmula penamaan Kerajaan Sawitto. Hal yang mendasari sehingga oleh beberapa kalangan Sejarawan Sulawesi Selatan menyebutkan La BangEnge’ ManurungngE ri Bacukiki adalah Addatuang Sawitto I, sementara Sejarawan lainnya menyebutkan GeppoE  yang adalah cucu langsung La BangEnge' sebagai Addatuang Sawitto I.





Penobatan La BangEnge’ selaku Addatuang Sawitto I adalah akhir dari dynasti Addaowang Sawitto dalam kurun abad yang sama. Perubahan gelar wangsa Addaowang (naungan) menjadi Addatuang (pertuanan), adalah bermula sejak pernikahan La BangEnge’ ManurungngE ri Bacukiki dengan We Teppulinge’ ManurungngE ri Lawaramparang yang berkedudukan di Kerajaan Suppa. Keduanya adalah leluhur para Raja di Kawasan Aja Tappareng dan bahkan mencakup sebagian wilayah MassEnrEngpulu, TellumpoccoE dan TelluE ri Cappa’gala pada abad-abad kemudian, hingga pada masa akhir kerajaan pada paruh pertengahan abad-20.


C. “Pinrang”, Menurut Catatan Lontara Sawitto
Lontara Bilang Kerajaan Gowa menyebutkan seorang tokoh besar yang menabur prestasi gemilang bagi negerinya. Berkat kecerdasan dan keberaniannya, maka Gowa yang mulai tumbuh sebagai suatu Kerajaan Maritim, kini semakin besar dan menjelma sebagai suatu kekuatan poros di Nusantara pada abad-16. I Mario Gau’ DaEng Bonto KaraEng Lakiung, demikian antara lain nama dan gelarnya. KaraEng Tunipallangga Ulaweng, itulah gelarnya yang paling mahsyur. Sombaya Gowa X, demikian jabatan dimana ia bertahta dalam kurun tahun 1546 – 1565.
Perhubungannya dengan Sawitto dicatat dengan rapi dalam 3 versi Lontara Attoriolong Sawitto. Salahsatu versi yang akan dikemukakan disini, yakni : Lontara Sawitto H. Paewa (LSHP) dengan terlebih dahulu memaparkan latar belakang, sebagaimana diuraikan pada Lontara Attoriolong Sawitto (LAS).

LAS membuka penguraiannya, sbb :
Pannessaengngi attoriolongngé ri Suppa’ ri Sawitto riwettu marajana mupatoha / Nalaona puwattaq Makaraié / Nasitana karaéngngé ri Gowa riasengngé Toripalangga
(Uraian yang menjelaskan sejarah di Suppa dan Sawitto pada masa kejayaannnya / Maka berangkatlah pertuanan kita MakkaraiE / Bertemulah pertuanan di Gowa yang bernama Toripallangga)

Penguraian lebih lanjut adalah perbincangan persahabatan antar kedua Raja dengan akrabnya, hingga kemudian sepakat untuk menjodohkan putera puteri mereka. Sesungguhnya Petta MakkaraiE Datu Suppa III memiliki puteri yang amat jelita, bernama : We LampE WElua’ (Puteri Berambut Panjang). Maka Sang Puteri inilah yang hendak dijodohkan dengan Pangeran Mahkota Gowa (I Taji Barani DaEng Marompa KaraEng Data).

Hingga pada masa yang telah disepakati kedua kerajaan, pihak Kerajaan Gowa telah mengantarkan “sompa sebbukati” (mahar) ke Kerajaan Suppa. Maka ditetapkanlah hari baik dimana kedua putera dan puteri mahkota dipersandingkan. Namun menjelang hari baik yang ditentukan itu, datanglah pula perkunjungan Petta PalEtEangngE Addatuang Sawitto IV ke Suppa. Baginda Addatuang Sawitto ini melamarkan pula puteranya, yakni : La Cella’mata untuk mendapatkan We LampE WElua’.


“ poléni puwattaq Palétéyangngé ri Sawitto makkeda / oé sellao / idiqsi pasialai anaqtaq /nakkalépu / Suppaq-Sawitto / riaginna Mangkasaé te[n]rissengngé / ru[m]puapinna / makkedai Makaraié / agana ripoadangngi / karaéngngé / makkedaiPalétéangngé / yipaq baliwi / adanna / karaéngngé /sialani Wé La[m]pé Wéluwaq / La Cellaq Mata / ripareweqni so[m]panakaraéngngé..”

(Datanglah pertuanan kita PalEtEangngE dari Sawitto, lalu berkata : wahai sanakku, kitalah yang menikahkan anak-anak kita, agar bersatulah Suppa dan Sawitto, lagipula orang-orang Makassar itu sesungguhnya sulit ditemui kebaikan pada akibat sepak terjangnya. Berkatalah MakkaraiE : Apalah nanti yang dikatakan pada KaraEngngE ?. Berkatalah PalEtEangngE : Nanti saya yang menjawab perkataan KaraEngngE. Maka dinikahkanlah We LampE WElua’ dengan La Cella’ Mata. Lalu dikembalikanlah mahar KaraEngngE..)

Akibat dari peristiwa itu, maka murkalah Raja Gowa. Baginda mengerahkan bala tentara Gowa untuk menyerbu Sawitto dan Suppa. LAS kemudian menguraikan jalannya perang yang kemudian berhasil menaklukkan kedua kerajaan bersaudara itu yang melibatkan pula konflik dengan Kerajaan Tandingan Gowa pada masa itu, yakni : Tana Bone.

Sehubungan dengan topik pembahasan pada kesejarahan Pinrang ini, penulis kemudian mengkoneksi-kan antara kedua Lontara, sebagaimana diuraikan kemudian pada LSHP, sbb :

Naengkatoniro manganro karaéngngé ri Gowa riyasengngé I Manriogawudaéng Bo[n]to Tonipalangga Ulaweng maéloniq tériwi tanapaqbiring \ maéloqi napanganro napuwatai \ iyaréqga nalai lilié passéajingeng \ nasabaq mateqdeqna bé[n]ténna passiunona Sawitto \ nadéqnaullé passiunona Gowa sisengiwi \ dua telluni uraga nagaukengngi nadéqnaullé rumpaqi bé[n]ténna toSawittoé \ apaq engkato towaraninna toSawittoé riyaseng Toléngo sibawa Tokippang \ ia naro duwaé to waraninna Sawitto déq narullé balié saui \ wékkaduwa \ wékkatelluni ritéri ri Gowa\ natennaullé panganroi..

(Maka datang pula Pertuanan Gowa yang bernama I Manrio Gau DaEng Bonto Tonipallangga Ulaweng, bermaksud menyerang pada kawasan pesisir, hendak menaklukkan dan memperbudak, atau menjadikan negeri bawahan, namun begitu kuatnya benteng pertahanan para ksatria Sawitto, maka para ksatria Gowa tidaklah mampu menaklukkannya dalam sekali serangan, dua tiga macam siasat yang ditempuh, namun tetap pula tidak mampu memasuki banteng pertahanan orang-orang Sawitto, karena ada pula pemberani dari Sawitto bernama TolEngo dan Tokippang. Mereka berdua pemberani Sawitto yang tidak terkalahkan, dua kali,  tiga kali diserbu oleh orang Gowa, namun takkan dapat ditaklukkan..).





Hingga kemudian pada akhirnya, berkat siasat brillian seorang Panglima Gowa, yakni : KaraEng BontolEmpangan dengan mengalihkan perhatian kedua Ksatria Sawitto itu, maka banteng pertahanan Sawitto dapatlah dilumpuhkan. Maka ditawanlah Petta La Cella’ Mata Addatuang Sawitto dan permaisurinya (We LampE WElua’ Datu Suppa) ke Gowa.

Penguraian Lontara kemudian berlanjut pada perjuangan kedua Ksatria Sawitto untuk membebaskan kedu pertuanannya di Gowa. Hingga kemudian, berkat kegigihannya, keduanya berhasil melarikan kedua tuannya dari tahanan Kerajaan Gowa.

Setibanya di Sawitto, LHPS memberitakan kemudian :
“ Naia latuqnana aqdatuwang Sawitto rilariyang narisompereng Lisu ri Sawitto \marennu manenni toSawittoé napada pakkerru sumangeqi aqdatuwatta \ naitani pinra maneng lanroaléna \ pinra rupanna mawéya \ napada makkedana \ malanréq sennaktu pinra rupanna aqdatuwatta \ nakkedanaaqdatuwatta \ asengngi onrongngé Pinra-pinraé \ apaq malanreq tongeng pinra aqdatuawatta Duwa mallaibiné mani ke puraé malasa serro \ nasamaiona toSawittoé Pasau-sauwi puwanna \ ianaro Pinra-pinraé matterru makkokkowé riaseng Pinrang “
(Ketika Addatuang Sawitto tiba dari pelarian dengan perahu layar kembali ke Sawitto,  besarlah harapan segenap rakyat Sawitto, seraya menyampaikan suka citanya terhadap pertuanan kita. Mereka melihat kondisi kesehatan tubuh pertuanannya begitu berubah. Raut wajahnya berubah pucat. Mereka semua berkata : begitu besar perubahan wajah pertuanan kita. Maka berkatalah pertuanan kita : Namailah tempat ini PINRA-PINRAE . Karena begitu besar perubahan  Pertuanan kita suami isteri, bagaikan telah mengalami sakit parah. Maka bersepakatlah rakyat Sawitto untuk mengobati  pertuanannya. Itulah sebabnya “Pinra-PinraE” berlanjut hingga sekarang disebut PINRANG.)


III.  KESIMPULAN
Pada uraian yang telah dikemukakan tersebut, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.  Sejarah awal Sawitto adalah suatu patron yang menjadi bukti keberagaman dalam suatu kesatuan, dimana keberagaman asal dan etnis penduduk awalmulanya berhasil mewujudkan persatuan dalam suatu himpunan masyarakat kerajaan yang mampu bertahan selama 6 abad,
2.  Penamaan “Pinrang” yang kini menjadi suatu Daerah Tk. II, adalah suatu makna kecintaan “anak negeri” terhadap pemimpinannya. Suatu nilai luhur yang kiranya menjadi syarat mutlak dalam sejarah bagi suatu negeri besar.


IV. PENUTUP
Demikian dihaturkan, sebagai materi kajian dalam acara Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) oleh Pengurus Cabang Kesatuan Pelajar Mahasiswa Pinrang, KPMP-KOPERTI STAIN Kota Parepare Tahun, KPMP-KOPERTI STAIN Periode 2012-2013 Kota Parepare.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar