Aku tidak MENULIS sejarah..tapi kusedang MENGKAJI sejarah..agar kudapat MENGUKIR sejarahku sendiri..

Kamis, 11 November 2010

Ana' Ogi'E, Sejauh Layarnya Terkembang (Part.2)

2. Perantauan Ke Barat (Tana Bare')

Antara tahun 1400 M sampai dengan 1511, Kerajaan Malaka telah berdiri dengan jayanya. Sebuah kerajaan Islam yang lebih besar daripada pendahulunya, yakni Kerajaan Pasai (Aceh) yang telah hancur akibat serangan Kerajaan Majapahit pada tahun 1360 M. Pada kurun waktu itulah sehingga Orang Arab menamai Kerajaan Malaka sebagai "Mulaqat" yang berarti tempat pertemuan para pedagang dari segala penjuru dunia (Tun Sri Lanang, Sejarah Melayu).

Diceritakan lebih lanjut, bahwa salah seorang Raja Malaka yang termasyur membesarkan Negeri itu, adalah : Sultan Mansyur Syah, Raja Malaka ke-V (1454-1477). Pada masa pemerintahannya, Malaka mencapai puncak kemegahannya sehingga dianggap sebagai masa keemasan Kerajaan Tanah Melayu. Pada masa itu pulalah, Laksamana Hang Tuah mengepalai suatu perutusan menghadap pada Raja Majapahit. Tidak lama setelah itu, Raja Majapahit mengirimkan salah seorang puterinya ke Malaka untuk dijadikan isteri oleh Sultan Mansyur Syah. Demikian pula halnya dengan Kaisar Tiongkok, mengirimkan seorang puterinya beserta segenap dayang-dayang dan inang pengasuhnya dengan maksud yang sama.

"Dari seluruh Nusantara kepulauan kita ini berduyunglah dagang santri datang ke Malaka. Ada pula dari Jawa, terutama dari Jawa Timur. Dan ada pula dari Bugis, sehingga ada pencatat sejarah yang berkata, bahwa Hang Tuah itu sendiri adalah seorang Anak Bugis .." (Prof. Dr. HAMKA, Dari Perbendaharaan Lama, II-180 - Pustaka Panjimas, Jakarta-1980). Kebesaran dan kemahsyuran kerajaan inilah yang "menggoda" pikiran KaraEng Same' ri Liukang, seorang "Pangeran Petualang"  yang dikatakan dari Kerajaan Makassar untuk menaklukkan Negeri itu. Francois Valentijn, seorang penulis berkebangsaan Belanda memberitakan perihal tersebut  dalam sebuah buku yang diterbitkan pada tahun1726 M,  "Oud en Nieuws Ooas-Indie", bahwa : "Dat de konigen van Macassar van ouds her al bekent, vermogen, en als zoodanige vorsten onder de konigen van't Oosten beroemtwaren, blyk ons int'jaar 1420 daar Crain Samarloeka, Coning Van Macassar, vorkombt, met 200 vaartuigen na Malaeka gaane, Oom dien koning te beoerlogen ..." (bahwa Raja-Raja Makassar sejak dahulu kala terkenal hartawan dan termahsyur diantara Raja-Raja dari Timur. Ternyata pada tahun 1420, KaraEng Samarluka seorang Raja dari Makassar telah mengunjungi Malaka dengan 200 kapal layar untuk memerangi Raja disana...). Sedikit dari kutipan berbahasa Belanda tersebut diatas, barulah penulis mengetahui jika kata "beken" (terkenal) berasal dari Bahasa Belanda.

Tun Sri Lanang yang dikenal pula sebagai "Encik Amin", penulis "Syair Perang Makassar" yang juga menulis "Sejarah Melayu", memberitakan hal serupa dengan penggambaran yang sangat hidup dalam bukunya tersebut. "... sebelum ke Malaka, Raja Mangkasar Samerluki menyerang Siam. Banyaklah rantau Siam dialahkannya, tiada ada orang yang mengeluarinya. Setelah Siam, barulah Malaka diserangnya dan mendapat perlawanan yang hebat dari Laksamana Kerajaan Malaka, Hang Tuah. Maka Samerluki pun lalu ke Pasai (Sumatera). Banyaklah jajahan Pasai yang dibinasakannya. Maka Raja Pasai menitahkan Orang Kaya Raja Kanayan mengeluari Samerluki. Maka bertemu dengan Samerluki di Teluk Perlih. Maka berperanglah kelengkapan Mangkasar dengan kelengkapan perahu Raja Kanayan., maka oleh Samerluki disuruhnya campaki sauh terbang, kena perahu Raja Kanayan lekat, maka disuruhnya putar oleh Samerluki, maka kata Raja Kanayan : Puterlah olehmu, jika dekat niscaya aku amuk dengan jenawi bertumit ini. Maka disuruh tetas oleh Samerluki, maka ditetas oranglah, maka bercerailah kedua perahu itu. Maka kata Samerluki : Berani Raja Kanayan daripada Laksamana, ... Maka Samerluki pun kembali ke Mangkasar. (Kutipan "Sejarah Melayu" oleh H.D. Mangemba, "Makassar dan Makassar"-1994)

Membaca kutipan "Sejarah Melayu" dan berita dari Valentijn tersebut diatas, terbersit dalam benak penulis sebuah "keraguan" tentang kebenaran Kerajaan Majapahit di Jawa Timur sebagai Inperium yang menaklukkan kawasan Nusantara, sebagaimana tertulis pada kitab Negara Kertagama. Bahwa jika sebuah peristiwa sejarah dipahami sebagai sebuah kejadian/peristiwa yang terjadi berupa penaklukan atau perlawatan sebuah Bangsa terhadap Bangsa lainnya, mestilah dikuatkan atau dibuktikan oleh fakta-fakta berupa hasil kebudayaan pada kedua Bangsa tersebut (Menurut Arnold J. Toynbee, Bapak Ilmu Sejarah Modern). Namun sejauh ini, penulis belum pernah mendapatkan sebaris tulisan dalam Lontara manapun di Sulawesi Selatan yang diteliti dan diangkat oleh para Sejarawan yang menyatakan, bahwa : Kerajaan Makassar, Luwu dan BantaEng PERNAH menjadi wilayah taklukan Kerajaan Majapahit.

Bahkan sebaliknya, Tertulis dalam Lontara I La galigo pada episode pelayaran Sawerigading ke Cina dalam misi melamar We Cudai' DaEng ri Sompa Punna BolaE ri La TanEtE, menceritakan bahwa sebuah perutusan pelamaran dari Mancapai' (Majapahit) bertemu dengan Sawerigading dan rombongannya di tengah laut, sehingga terjadi peperangan diantara mereka. Setelah terjadi pertempuran yang sengit, maka bertekuk lututlah Sattia Bongan (Ksatria Bongan ?, penulis) alias Lompeng ri Jawa. 


"Engka mopaga pakkanna maElo ri pallaga ?" (Masih adakah pahlawanmu yang bisa diadu ?), tanya Sawerigading. Menjawablah Sattia Bongan dalam sujud sembahnya, "Angikko sia Lapuang, ki raukkaju. Riakko mmiri riakkeng teppa, mutappalireng.." (Engkau wahai Tuanku, laksana angin bertiup, sedang kami tiada lain laksana daun kayu, dimana dikau bertiup, disanalah kami terdampar..". Kemudian Sawerigading bertanya lagi, "Mulala'niga cittamu, lE' ri Punna BolaE ri La TanEtE ?" (Apakah kau telah memutuskan perhatianmu pada Punna BolaE ri La TanEtE ?). Maka Sattia Bongan pun menjawabnya pula, "Mauni mangerre' ri panganranna, tudang tellEwa-lEwa ri sabalinna, napatudangngi lE' ri nawa-nawa DatuE, ri lala' mua.." (Sekalipun teguh rasa cinta ini, duduk bersanding dengan kekasih, namun jika didudukkan paduka dalam hatinya, akan diceraikan jua.."). Akhirnya, Sawerigading memberikan bantuan kapal kepada Sattia Bongan beserta pasukannya yang tersisa untuk kembali ke Mancapai'. (kutipan beberapa lembar episode Lontara I Lagaligo milik Almarhum Andi Pangeran Opu TosinilElE "Opu Pabbicara Luwu" yang sempat penulis dapatkan melalui sebuah tulisan baginda yang diketik manual). 
Topik ini akan diuraikan dalam judul tersendiri pada laman "Kajian Ininnawa".











Kembali kepada topik utama laman ini, maka berita perlawatan KaraEng Samerluka (Samerluki) atau KaraEng Same' ri Liukang sejauh ini adalah informasi terbesar dan yang pertama mengenai perlawatan orang Makassar ke Negeri Melayu yang oleh orang-orang Bugis disebut sebagai "Tana Bare'". Wallahualam Bissawwab.


(bersambung ke bagian selanjutnya...)








Rabu, 10 November 2010

Wari (Pranata)

PassEajingeng (bag.2)

Secara umum, hubungan kekerabatan pada sistem "pangadereng Ugi" diatur dengan "Warii" yang merupakan pembeda pada masing-masing lingkupnya. Sebagai gambaran, diuraikan sebagai berikut :

1. Silessureng (Saudara)
 Bagi seorang pria, saudara (kakak/adiknya) perempuannya disebut sebagai : Ana' Darakku . Begitu pula sebaliknya, seorang perempuan menyebut saudara laki-lakinya sebagai : Ana BuranEku. Sebutan tersebut berlaku secara umum, baik bagi saudara kandung (Silessureng siama-siama), saudara tiri (Silessureng sianguru Ambo/Indo), saudara dari perhubungan pernikahan antara ayah dan ibu masing-masing (Silessureng Sikaporo) atau bahkan juga pada perhubungan saudara angkat (Silessureng Sitellii).

Pada kalangan "Ana' Arung" (Bangsawan), mereka saling memanggil "Puang / Pung" atau "Opu" (pada Bangsawan Luwu dan Selayar) dan "KaraEng" (Makassar) bagi yang sederajat (setaraf) kepada yang lebih tua. Namun pada beberapa kalangan, ditemukan beberapa rumpun keluarga di Wajo yang saling memanggil "Pung" antar bersaudara sekandung, baik yang lebih tua kepada adiknya, maupun sebaliknya. Pada rumpun lainnya, seorang kakak kandung memanggil "Pung" kepada adik kandungnya yang pada waktu itu sedang menduduki tahta sebuah Kerajaan yang lebih besar. Misalnya : LaoddangpEro Datu Larompong sebelum menduduki tahta Arung Matoa Wajo, baginda menyebut "Pung" pada adik perempuannya, yakni : We Tenriwatu Sulatanah ZaEnab Datu Soppeng ke-XXXV (Prof. Mr.Dr. H. Andi Zainal Abidin Farid, SH, Wajo pada Abad XV-XVI, Alumni-Bandung 1985).

Kemudian pada saudara tiri yang tidak setaraf, secara umum pengaturannya, sbb :
*Anak yang lebih tua (berderajat lebih rendah) menyebut : Andi' (adik) pada adiknya yang berderajat lebih tinggi darinya, walaupun sesungguhnya mereka saudara seayah. Sebaliknya, adik yang berderajat lebih tinggi tersebut menyebut kakaknya itu sebagai : DaEng. Pengaturan tersebut juga berlaku bagi mereka yang segenerasi (saudara, sepupu, ipar, dll).

Adalah hal sangat terlarang, apabila seorang kerabat terlebih lagi jika "orang lain" menyebut/memanggil "DaEng" pada seseorang yang segenerasi namun memiliki derajat yang sama, terlebih lagi jika yang dipanggil "DaEng" ini lebih tinggi derajatnya. Demikian pula apabila seorang yang lebih tua dipersebutkan "Anrimmu" (Adikmu) pada seseorang yang lebih dibawah derajatnya. Contoh : Si A berkata pada si B, "Sibawako matu' Anrimmu Si C, lao mai.." (Nantilah kau sama-sama dengan Adikmu si C datang kemari..). Padahal si C itu lebih dibawah derajatnya daripada si B. Maka hal-hal yang sekilas agak remeh tersebut dapat mengakibatkan ketersinggungan yang fatal. Biasanya pelanggar ketentuan tidak tertulis tersebut akan dinilai sebagai : Tau dE'gaga Wariina (seseorang yang tidak memiliki pranata).

(bersambung...)

Selasa, 09 November 2010

Warii (Pranata)

PassEajingeng (Bag. 1)

"PassEajingeng" jika ditranskrip ke Bahasa Indonesia, adalah : Kekerabatan. Mengingat topik bahasan ini cakupannya sangat luas, maka terlebih dahulu ada baiknya jika menyimak kalimat yang diwasiatkan Petta Pabbicara DaEng Malebbi, bahwa : "NarEkko sikamo'-kamokengngi MaradEkaE, sikaka'-kakakenggitu ArungngE. NarEkko sikaka'-kakakenni MaradEkaE, sidaEng-daEngengi tu ArungngE. NaEkiya, narEkko siDaEng-daEngengni MaradEkaE, sipueng-puengko iko ArungngE.." (Kalau para orang MaradEka saling memanggil "kamo'", maka para Bangsawan saling memanggil "kaka'". Kalaulah para orang MaradEka saling memanggil "kaka'", maka para Bangsawan saling memanggil "DaEng". Namun jika para MaradEka sudah saling memanggil "DaEng", maka saling memanggil "Puang"lah kalian wahai para Bangsawan..).
...................................................................................................

Berawal pada suatu pagi dimusim penghujan. Waktu itu penulis berusia belasan tahun. Ayahanda mengajakku untuk menyertainya bersama sepupu sekaliku (Muhammad Badawi) untuk berkunjung ke beberapa sanak keluarga di WEle'E (Belawa Timur). Berhubung karena jalanan sangat becek (Jalanan Tanah), maka kami terpaksa berjalan kaki. Setelah kami tiba di depan mesjid kampung Lonra, kami berpapasan dengan seorang laki-laki berkulit agak hitam manis, mengenakan songkok hitam. Lalu ayahanda menyapanya : "Manguju lao tEgai senna Petta, Pung ?" (Menuju kemana kiranya "Paduka", Tuanku ?). Lelaki itu berhenti seraya memperbaiki letak sarung dan songkoknya, kemudian menjawab : "TomaElo lao OngkoE, Pung. TEga tosi palE manguju Petta ?" (Hendak ke OngkoE, Tuanku. Lalu kemana kiranya menuju pula ?). Maka mereka berbincang sejenak dengan saling memanggil "Puang" satu sama lainnya. Waah, saya tercengang mendengar percakapan yang menurutku "aneh" pada waktu itu. "MadEcEngni palE', massimangni Atanna Petta, Pung" (Baiklah, kalau begitu Patik mohon pamit, Tuanku), kata Ayahanda mohon pamit diakhir perbincangan yang amat akrab itu. Maka orang tersebut menyahut, "IyE', nassimangi alEna Petta, Pung" (Iya, Paduka memohon pada dirinya sendiri, Tuanku)....

"Niga Tau Ero onnangngE', Etta ?" (Siapakah gerangan orang itu tadi, ayahanda ?), tanyaku penasaran ketika orang itu sudah agak jauh. "Iyanaro riyaseng alEna Petta Caci, na'" (Beliau itu bernama Petta Caci, nak). Saya terdiam dan berpikir banyak tentang kejanggalan yang berputar dibenakku. Rupanya ayahanda dapat membaca keherananku tersebut. "Angkalingai madEcEng, Ana' Oddang.. DE'sahatu nakkatanrEang bicara Wija ArungngE. DE'to natajeng ripakalebbii. NaEkkiya, makkabEddangmi mappakalebbii. Naiyyaro onnangngE' Petta Caci appangna Petta Jinnirala Andi JalantE'. Appang maraja polE ri Arung Matoa Batara Wajo. Naiyya idi' wijannaki' Petta Pangulu Barisi'na Belawa. Tositeliina na siasirii Petta Jinnirala SengngengngE ri MallinrungngE... Iya uwissengngE Malebbii manengtu ana' Wija-wijanna Petta Jinnirala nasaba' napakkEade wariina lettu' ri teppa timungna. NaEkiya namanaa mato awaraningengna.." (dengarlah baik-baik, anak Oddang. Keturunan Bangsawan yang sebenarnya tidak saling meninggikan diri antara satu sama lainnya. Mereka tidak pula saling menunggu dihargai dari yang lain. Bahkan mereka saling mendahului memuliakan satu sama lainnya. Beliau tadi itu adalah Petta Caci, salahsatu rumpun anak keturunan Petta Jinnirala Andi JalantE'. Rumpun yang agung dari Arung Matoa Batara Wajo. Lalu kita adalah anak keturunan Petta Pangulu Barisi'na Belawa. Orang yang saling mengangkat saudara dan saling menghargai Petta Jinnirala SenggengngE ri MallinrungngE... Menurut pengetahuanku, Anak keturunan Petta Jinnirala semuanya sangat mulia disebabkan karena tata kramanya yang ketat hingga pada tata bahasanya yang baik. Kemudian mereka pula mempusakai keberanian leluhurnya...).

Pengalaman kecil itu sangat berkesan bagiku, hingga penjelasan "guruku" tersebut hampir-hampir kuhapal diluar kepala. Maka menurutku, "Warii" yang dalam hal ini kumaknai sebagai "pranata" atau Tata Protokoler Masyarakat Adat dalam arti sebenarnya, adalah nilai paling luhur yang menjadi "inti" dari "Pangadereng Ugi" itu sendiri. Sebuah aturan tidak tertulis yang diterapkan dalam lingkupnya masing-masing dengan sangat ketat, namun tidak lepas dari nilai luhurnya untuk saling menghargai satu sama lainnya dengan tulus serta kerendahan hati.

Selama perjalananku yang berpindah-pindah pada hampir semua kabupaten di Sulawesi Selatan (1992-2002), kudapati nilai "Wari" yang bersendikan "Ade' Sipakalebbii" pada semua keluarga Bangsawan setempat. Penulis pernah bertemu dan bergaul dengan mereka, diantaranya : Pada Putera-Puteri Almarhum Andi Amin KaraEng Bonto Tiro (Kab. Bulukumba), Putera-Puteri KaraEng TanabEru (Bulukumba), Opu Tuan Abd. Halid (Almarhum) sekeluarga di Panrangluhu (Tanjung Bira-Bulukumba), Andi Amin Sekeluarga di DauhE (Tanjung Bira-Bulukumba), S. Abd. Wahid KaraEng Raga di Jeneponto, Andi Cawa Miri bersaudara (Rumpun BEttEngpola), Andi Takko' (Rumpun Arung Matoa Wajo LaoddangpEro Datu Larompong), Andi Bengawan Basir (Rumpun Arung Matoa Batara Wajo), Andi Sahibuddin (Rumpun Arung Matoa Batara Wajo / Arung Gilireng), Andi Bau' Sumange' Rukka (Rumpun Andi Mappanyompa Datu KapE Maddareng Pammana), Andi Juanda (Rumpun Andi Mappanyompa Datu KapE Maddareng Pammana), Andi Baso Pawiccangi (Rumpun Andi Abdullah Bau' MassEpE Datu Suppa), Andi Ahmad Manggabarani (Rumpun KaraEng TinggimaE) dll... Semuanya menerapkan adat tata bahasa dan tata krama yang memuliakan satu sama lainnya dengan begitu ketat dan mulianya.

Kesemuanya itu tidak pernah menyebut diri dan anak-anaknya sebagai "Andi Anu..".Namun masyarakatlah yang menyebutkan gelar mereka dengan penuh hormat. Sebuah kisah menarik yang dituturkan oleh Bp. Drs. Djamaluddin, M.Pd (Ketua PGRI Kota Parepare) tentang seorang Bangsawan Tinggi dari Wajo, yakni : Andi Makkulawu. Beliau adalah seorang aristoktrat  yang menduduki jabatan tinggi sebagai "Petta CakkuridiE ri Wajo", sebuah kedudukan yang setingkat menteri. Beliau pula adalah Bupati I Kabupaten Pinrang serta memperisterikan Sitti Rukiah KaraEng Balla'sari Addatuang Sawitto ke-XV (Puteri Andi Mappanyukki' Sultan Ibrahim Petta MatinroE ri Gowa Mangkau' ri Bone ke-XXXII/XXXIV dengan BessE' Bulo). 

Pada suatu hari, Datu Makkulawu datang berkunjung ke rumah Andi Patonangi di Suppa. Kebetulan pada saat itu Bp. Jamaluddin sedang duduk-duduk di depn rumah tersebut. Tak disangka, DatuE mengucapkan salam lalu bertanya, : "Engkamiga Petta Tonang, Ana' ?" (Apakah Petta Tonang ada di rumah, nak ?). Bukan main ! Seorang Bupati dan Bangsawan Tinggi  menyebut "Ana'" pada siapapun yang lebih muda darinya serta menyebut "Petta" pada siapapun yang disebut "orang lain" seperti  itu.  Pada saat lain di suatu hari di Parepare (sewaktu beliau menjabat sebagai Walikota), Datu Makkulawu menyetop tukang becak. "TabE', ndi'. Tatulung mana' tantara'ka lao ri Cappa Ujung.." (Maaf, dik.Tolong antar saya ke Cappa'Ujung..). Menurut kesaksian Saudara Andi Darwin, bahkan ketika Sang Datu sedang menjadi Anggota DPR/MPR RI  pada tahun 70-an, sikap bersahajanya tetap seperti itu. Pertanyaannya, apakan dengan begit, Datu Makkulawu menjadi turun derajatnya ?... Silahkan dijawab menurut pendapat anda sendiri.. Wallahualam Bissawwab..._

Senin, 08 November 2010

Wari (Pranata)

Ana'E ri Topajajianna

Pada kalangan Ana'Arung (Bangsawan), pemanggilan seorang anak kepada orang tua yang melahirkannya adalah beragam, sesuai dengan tingkat derajat antara si anak tersebut dengan orang tuanya, sbb :

1. Ana' Pada / Ana' Mattola : Menyebut ayahnya sebagai "Datu Ammaku"
                                              Menyebut ibunya sebagai "Datu Inaku"

2. Ana" Sangaji dan Ana' RajEng Lebbii' : Menyebut ayahnya "Datu Puekku"
                                                                Menyebut ibunya "DaEkku"

3. Ana' RajEng Biasa : Menyebut Ayahnya "Puetta" (Petta)
                                   Menyebut Ibunya "DaEkku"

4. Ana CEra' : Menyebut Ayahnya "Datu Puekku"
                       Menyebut Ibunya "Indo'ku"

5. Ana' RajEng yang kedua orang tuanya berderajat RajEng,
    Menyebut Ayahnya  "Ettaku" (Etta BoranEku)
    Menyebut Ibunya "Ettaku" (Etta Makkunraikku / Etta Indo'ku)

6. Ana' Arung yang ayahnya berderajat RajEng dan Ibunya berderajat Tau MaradEka,
    Menyebut Ayahnya : Puekku
    Menyebut Ibunya : Indo'ku

Namun pada beberapa tempat, seorang Ana' Sangaji" (kategori 2 diatas) memanggil Ayahnya sebagai "Petta Ambo'ku" dan tetap memanggil Ibunya sebagai "DaEkku" (DaEng). Kemudian seorang Ana' CEra' memanggil Ayahnya tetap sebagai "Datu Puekku" (DatuE) lalu memanggil ibunya dengan namanya begitu saja. Misalnya Ibunya bernama " I Wunga", maka dia menyebutnya : "Wungaku".

Adapun pada kalangan "To Lebba'E" (Orang Kebanyakan) mereka memanggil Ayahnya sebagai "Ambo'ku" dan memanggil Ibunya sebagai "Indo'ku".

Sumber : Ayahanda Andi Panguriseng (Alm.) dan Puang Matoa Hj. Zainuddin. Alm (H. Gandaria) menuturkan kepada PENULIS dalam tahun 1994. 

(Bersambung ke  PassEajingeng)

Sabtu, 06 November 2010

Lullaby Wijanna La Tamang Petta Palla'E

Pampawa Tinro

EE.. Puang, Addampengengngi atamMu
Puang MakkEataE ri AtanNa
Laa Ilaaha' IllalLaah
Muhammadarrasulullah


AssampEakko Nabi, Attula'ko Malaika'..
Nalinrungiko umma'mu 
Ri AtanNa Laa Ilaaha' IllalLaah
Muhammadarrasulullah



              (ElongkElong Pampawa Tinrona Petta Palla'E)

Yaa Tuhanku, Ampunilah hamba
Tuhan berkuasa terhadap hamba-Nya

Laa Ilaaha' IllalLaah
Muhammadarrasulullah


Tepiskanlah wahai Nabi, Tangkislah wahai Malaikat
Umatmu senantiasa melindungimu
Bagi sang hamba, Laa Ilaaha' IllalLaah
Muhammadarrasulullah 

   (Lagu Pengantar Tidur Baginda Petta Palla'E)

..............................................................................

Waktu ternyata tidak mampu menghapusnya. Masih segar dalam ingatanku.. Kain ayunan itu berwarna putih yang mengusam. Terikat erat pada seutas tali yang terbuat dari jalinan rotan yang terbungkus kain pula.. Menggelayut erat pada "pattolo" (pasak atas pada rumah panggung). Aku terayun dan terbuai nyaman didalamnya. Ibundaku menyanyikan kidung itu sambil sesekali mengayung lembut ayunanku.. Merdu suaranya masih terngiang dibenakku, meresap dalam hingga relung-relung hatiku paling dalam hingga saat ini... . Aku tak mengerti makna syair lagu itu, bahkan Ibundapun menyuruhku pada pamanku , ketika kutanyakan perihal lagu itu..

"Iyanaro pammanarengta polE ri Petta Palla'E, Ana'.. riElongkElongngi ri wettu maElo'i ripatinro wija-wijanna. Iyato riElong narEkko nakennaki sussa iyarE'ga lasa.." (Itulah warisan kita dari Petta Palla'E, Anakku.. Dinyanyikan untuk menidurkan para keturunannya. Ini pula yang dinyanyikan apabila kita tertimpa kesusahan atau sedang sakit..), demikian jawab Kakanda Ibundaku, yakni : Puekku Andi Bannace' pada suatu waktu. Tapi penjelasan itu cuma menguraikan "kegunaannya", pikirku. Maka kutanyakan lagi, "NaEkiya, agaro pallE lise'na ElongkElongEro, Puang ?" (Lalu apa makna yang terkandung dalam lagu itu, Tuanku ?). Beliau cuma menggeleng-gelengkan kepala, pertanda jika makna itu tidak boleh dituturkan pada sembarang waktu, begitu sakralnya.

.........................................................................

Elong Pampawa Tinro  sesungguhnya merupakan "Lullaby". Senandung pengantar tidur yang juga dikenal di masyarakat budaya Eropa. Walau sebenarnya bukan berfungsi sebagai pengantar tidur semata, melainkan juga sebagai senandung pelepas lelah dan bosan ketika sedang dalam perjalanan jauh. Khususnya pada masyarakat Bugis, lagu ini adalah sejenis "YaabElaaalE". Sebuah lagu pengantar tidur yang dilagukan bagi masyarakat umum. Sebuah lagu yang memohonkan harapan-harapan luhur bagi anak yang sedang ditidurkan.

Yaa BElaalEE..
La Baco' tuuoo..
Tuoko, na topada tuo
Mutuoo, mallongi-longi....

Yaa, Bilal..
Puteraku yang senantiasa hidup
Hiduplah, agar kita hidup bersama
Hidupmu, menjadi sesuatu yang tinggi diatas sana..

Maka BElaalE adalah pronounciation lidah Bugis yang berarti sebuah nama bernama : Bilal. Beliau adalah salah seorang sahabat terdekat Nabi. SAW yang dijamin sebagai salah seorang sahabat yang akan masuk Syurga. Beliau adalah bekas budak belian yang ikhlas dan ridla mengalami berbagai siksaan diluar batas prikemanusiaan, demi mempertahankan aqidahnya. Mulutnya senantiasa mengucapkan "Ahad..Ahad" ketika cemeti menghantam bertubi-tubi pada sekujur tubuhnya. Sementara ia juga ditelentangkan diatas pasir yang panas membakar sambil dadanya ditindih sebongkah batu besar. Belum pula ia terpanggang hidup-hidup oleh terik matahari yang menyengat kala itu. Namun tiada lain yang diucapkannya, "Ahad..Ahad..Ahad!".

Seorang manusia Bugis, dipohonkan harapan sebagaimana keteguhan dan ketabahan seorang sahabat mulia, yakni : Bilal Bin Rabbah Radiayallahu Anhu. Pengharapan yang sangat besar agar ia tumbuh sebagai seorang yang "Tawaddu" dengan memperoleh "kemuliaan" bukan disebabkan karena "keturunannya". Melainkan diperolehnya berkat : kadar Taqwanya kepada Allah SWT. Bilal adalah seorang bekas budak belian dari Habsyinia. Namun keutamaannya sangatlah agung sehingga Nabi Muhammad SAW menjodohkannya dengan saudara perempuan Umar bin Khattab ra. Maka bekas budak belian yang buruk rupa nan berkulit hitam kelam itu adalah saudara ipar seorang Amirul Mukminin dan juga seorang Khulafaurrasyidin. Sungguh, seorang Manusia Bugis sesungguhnya adalah seorang yang rendah hati.

Oh, Ininnawamu La Oddang...

Wallahualam bissawwab..

Puang Matoa Bissu



Pemimpin ritual tradisi Bugis-Makassar dari masa ke masa. Fungsi yang dimuliakan sebagai pemimpin acara-acara ritual dalam Istana yang dipercayai sebagai media penghubung antara manusia dan dewata. Selain itu, Bissu adalah penjaga sekaligus pemelihara benda-benda pusaka (Regalia/Arajang). Konon, bahkan seorang Raja yang berdaulat sekalipun tidak diperbolehkan menyentuh pusaka kerajaannya sebelum diperkenankan oleh Sang Bissu. Maka Bissu adalah seorang Pandita yang sakti mandraguna, walau wujudnya merupakan seorang banci tapi sesungguhnya mereka kebal terhadap segala jenis senjata tajam dan api.

Bissu adalah jabatan kemuliaan yang tersebut dalam kitab Sastra Suci I La Galigo. Bahkan pada masa itu, puteri We Tenridio' Batari BissuPunna BolaE ri Mallimongeng (Puteri Sawerigading dan We Cudai Daeng ri Sompa Punna BolaE ri LatanEtE) adalah seorang "Bissu Agung". Lebih daripada itu, We Tenri AbEng Bissu ri Langi Daeng Manutte' (Saudara kembar Sawerigading) juga adalah seorang Bissu Agung yang berkedudukan di Botinglangi (Khayangan). Disebutkan lebih lanjut, ketika La Toge' Langi Batara Guru Aji Sangkuru Wira Pajung Luwu I mendambakan seorang Putera Mahkota yang terlahir dari rahim permaisurinya, yakni : We Nyilli' Timo SolasinrangempEro Dinulu WElompElojang Tompo'E ri Bussa Empo juga meminta bantuan "Puang Matoa Bissu ri Latimojong". Maka keberadaan Bissu adalah warisan budaya yang merupakan salahsatu pelestari budaya yang semestinya dihargai keberadaannya.
                            
                                                          Parepare, 5 Nopember 2010

Rabu, 03 November 2010

Perantau Bugis (Part 1)







Ana' Ogi'E, Sejauh Layarnya Terkembang...
                                                     Andi Oddang

Sekapur Sirih

Bismillahirrohmaanirrohiim

Alhamdulillahirobbil Aalamien, Assholatu wassalaamu alaa' asrafil ambiyaa'i wal mursaliim, Asyhadu allaa' ilaaha' Illallaahu, wa asyhadu anna Muhammadan abduhuw warassuwlu, laa' nabiya ba'da. Ammaa ba'du...

Setelah merampunkan tulisan "Belawa, Negeri di Persimpangan Sejarah", tanpa diduga Blog sederhana ini mendapatkan kunjungan dari Adindaku ANDI SUWAIDI dan Ibu RAJA RACHMAWATI yang teramat saya muliakan. Setelah ditelusuri, mereka sesungguhnya kerabat kami yang lahir dan tumbuh di Tanjung Balai Karimun, Riau. Adinda Andi Suwaidi merupakan Generasi ke-VI dari La Pawellangi Petta PajumpEroE Arung Matoa Wajo ke-39 yang juga pada nazabnya yang lain adalah termasuk dalam rumpun Keluarga Besar La TEngko Petta Manciji'E ri Wajo (Leluhur ke-IV Penulis). Kemudian Ibu Raja Rachmawati adalah keturunan We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang Pajung ri Luwu ke-24/26 (Leluhur ke-VIII Penulis), "Ratu Agung" yang menurunkan salahsatu dari tangkai generasinya yang ke-III, yakni : OPU LIMA (Lima Opu Bersaudara) yang termahsyur menjadi tunas para Sultan di Malaka, Selangor, Johor, Mempawah, Pegatan, Linggih serta Yam Tuan Muda Riau dari generasi ke generasi.

Penulis sesungguhnya belum pernah bertemu rupa dengan kedua kerabat (Sompunglolo) ini. Bahkan juga belum pernah saling memperdengarkan suara lewat telepon. Namun, mereka terasa begitu dekat seakan darah yang mengalir melalui segenap pembuluh darah pada raganya adalah darahku jua. Darah yang sesungguhnya menyatu dalam diri leluhur kami.

Pertemuan lewat tulisan di dunia maya inilah yang menggelitik rasa keinginantahuanku untuk menilik lebih jauh tentang hal ihwal para Tokoh Bugis-Makassar di masa lalu yang menebarkan tunas keturunannya di Negeri Rantau. Memenuhi panggilan jiwa inilah sehingga beberapa pekerjaanku di kantor sempat terbengkalai selama beberapa hari. Pasalnya, penulis terpaksa menjelmakan diri sebagai "tikus gudang", membongkar kembali buku-buku dan copian artikel yang sempat terlupakan.

Maka tulisan ini mulai saya susun jua, buah pemikiran dan penelitian para Budayawan dan Sejarawan terkemuka yang selama ini menjadi panutanku, diantaranya : Prof. Dr. H. Andi Mattulada, Prof. MR. Dr. H. Andi  Zainal Abidin Farid, SH dan para Sejarawan lainnya yang nantinya akan saya lampirkan pada Catatan Kaki  pada bagian akhir tulisan ini.

Akhirnya tiada lain yang dapat saya haturkan, semoga kiranya kumpulan catatan ini dapat menjadi perekat Silaturrahmi yang mengantarkan kita sekalin menuju Ridlo Allah SWT. Maka perkenankan kuhaturkan salam Takzim dan hormatku yang sedalam-dalamnya kepada,: 
*Adinda Andi Suwaidi Sekeluarga di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau,
*Ibu Raja Rachmawati Sekeluarga di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau,
*Ibu Noor Lizah Nurdin Sekeluarga di Riau,
*Saudara kami Yang Mulia YB. Dato' Seri Aziem di Malaysia,
*Sempogiku Personel Blogger BUGIS BUKAN PATI DI SABAH, Malaysia
*Teman Facebookerku Hartini Marish di Malaysia...
Dengan ucapan : Ikatan Aqidah dan Budaya sesungguhnya tidaklah dibatasi oleh Negara dan Waktu..

Wassalam...

Pendahuluan
 
Pura ba'bara sompe'ku..
Pura tangkisi golingku..
Kulebbirengngi telleng natoaliE !
                       (Lontara Andi PallogE Petta Naba)

Telah terkembang layarku...
Telah terikat kemudiku..
Kumemilih tenggelam dari pada kembali !
                      (Lontara Andi PallogE Petta Naba)
..........................................................................................

 " Bangsa Perantau", kiranya itulah julukan yang pas bagi masyarakat Sulawesi Selatan yang terdiri dari 4 suku utama, merupakan induk dari beberapa suku lainnya. Mereka adalah : Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Namun secara umum di Negeri Rantau mereka lebih dikenal sebagai "Bugis Makassar".

Melakukan perjalanan jauh melintasi samudera nan luas, itulah salahsatu topik utama yang mendominasi alur kisah dalam kitab sastra Bugis kuno, yakni : I La Galigo (Epos terpanjang di dunia yang terdiri dari kurang lebih 8000 halaman Folio yang dapat ditemukan dan masih banyak lagi bagian lainnya yang belum terdata). Kisahnya bermula pada perjalanan La Toge'langi Batara Guru yang diturunkan dari Botinglangi (khayangan) ke Attawareng (Bumi), Perlawatan La Toge'langi Batara Guru  ke Peretiwi (Negeri Bawah), Perlawatan La Tiuleng Batara Lattu' (putera La Tiuleng) ke Negeri Tompotikka, Pengembaraan Sawerigading (putera La Tiuleng, tokoh utama Epos I La Galigo) ke berbagai Negeri seberang lautan, Perlawatan Sawerigading ke Marapettang (Negeri Arwah), Perlawatan duta pernikahan Sawerigading ke Negeri Cina (Tana Ugi), Perlawatan penaklukan I La Galigo (putera Sawerigading) ke Pujananting, ............  perjalanan ekspedisi lainnya oleh para cucu Sawerigading hingga babak perjalanan terakhir Sawerigading dan keluarganya kembali ke Negeri Luwu "tinrelle'" (turun) ke Uri Liung (Negeri Dunia Bawah).

Bagi siapapun yang pernah membaca rangkaian Trilogy : Een Episode Uit Het I La Galigo Epos, Bijdragen Tot De Taal, Land en Volkenkinde, 117:363-383 (R.A.Kern-Leiden, 1961) atau I La Galigo, Cerita Bugis Kuno (R.A.Kern, Gajah Mada University Press-Yogyakarta, Cet. II-1993), kemudian membaca atau menonton film Trilogy : The Lord Of The Rings (The LOTR) karya John Ronald Revel Tolkien yang terbit pertamakalinya pada tahun 1937 (Judul : The Hobbiet), pastilah akan beranggapan jika J.R.R. Tolkien telah membaca beberapa episode I La Galigo sebelum mendapatkan ide imajinatif berkenaan flot dan karakter pada novel klasiknya yang mendunia tersebut. Anggapan ini disebabkan oleh banyaknya persamaan karakter pada tokoh-tokohnya ditambah pula plot dan setting cerita yang sangat mirip. Maka dalam hal ini, penulis sempat berseloroh bahwa bahkan mitologinya ikut pula merantau kemana-mana.

Ketika membuka catatan lama tentang perantauan orang Bugis-Makassar pada abad XVII, maka sebagian kalangan berpendapat jika motivasi perantauan itu disebabkan oleh "pengalaman pahit" yang dialaminya di Negeri sendiri, sehingga mereka bermaksud "membuang diri" beserta kepedihannya di Negeri Rantau yang jauh. Namun jika istilah "perantauan" ini dipahami sebagai  "perjalanan / perlawatan ke Luar Negeri" (Imigrasi), maka pendapat itu ada  benarnya. Perjanjian Bungaya (Cappayya ri Bungaya) pada tanggal 18 Nopember 1967 yang merupakan "gencatan senjata" antara pihak Kerajaan Makassar (Gowa-Tallo) beserta sekutunya (Luwu dan Wajo) dengan VOC bersama sekutunya (La Tenri Tatta Arung Palakka yang memimpin aliansi pasukan Bone dan Soppeng), dipahami beberapa petinggi kerajaan Makassar dan sekutunya sebagai pernyataan kalah perang yang tidak mungkin diterimanya. Walaupun hal ini ditempuh oleh I Mallombassi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin Sombayya Gowa dengan alasan demi menyelamatkan rakyat yang kian menderita. "Keberanian adalah suatu keutamaan, namun segalanya memerlukan kearifan dalam berpikir...", demikian ujar baginda. Namun kekecewaan petinggi lainnya yang tidak dapat menerima perjanjian itu tidak tertahankan jua. Dengan tidak mengurangi takzim dan sembah sujudnya pada Sang Sultan, mereka pamit untuk membuka front pertempuran melawan VOC di kawasan lain di luar wilayah imperium Kerajaan Makassar.

Kembali kepada topik kajian, yakni penjelajahan samudera para tokoh Bugis-Makassar sejauh layarnya terkembang. Pada era tahun 90-an, seorang pengusaha Jepang yang berkunjung ke Candi Borobudur (Jawa Tengah) sangat tertarik dengan relief bergambar Perahu pada candi Budha yang mengagumkan itu. Ia mengambil gambar relief tersebut dengan camera, lalu mencari informasi dimana kiranya dapat dipesan untuk pembuatannya. Sesuai petunjuk yang didapatnya, maka orang Jepang itu mengunjungi Pulau Sapudi (Madura), sentra pembuatan perahu tradisional di Jawa Timur. Namun tidak seorangpun di tempat tersebut yang mengenal jenis perahu yang tergambar pada relief candi Borobudur serta tidak bisa membuatnya sebagaimana dipesankan oleh orang Jepang itu. Maka kembalilah ia ke Jepang dengan rasa penasaran.

Berselang beberapa waktu setelah di Jepang, ia mendapatkan informasi tentang keberadaan sebuah masyarakat ahli pembuat perahu di Sulawesi Selatan, Indonesia. Didorong oleh minatnya yang tinggi tentang Budaya Maritim, akhirnya ia segera berkunjung kembali ke Indonesia. Didatanginyalah tempat sebagaimana tersebut sesuai informasi yang didapatnya, tepatnya di Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba. Diluar dugaan, reaksi Pembuat Perahu yang melihat gambar perahu yang dipesan sesuai dengan pahatan relief itu biasa-biasa saja. Menurutnya, perahu tersebut adalah salahsatu jenis perahu Bugis-Makassar yang sejak dulu dikenal dengan nama : Lambo'...

Memahami "perantauan" sebagai sebuah tradisi bagi masyarakat Sulawesi Selatan, maka tradisi tersebut mutlak mestilah diimbangi dengan kemampuan teknologi pembuatan dan perahu yang handal pula. Selain itu, kemampuan navigasi dan keperkasaan dalam perang laut juga adalah suatu keunggulan yang harus dimiliki. Maka dalam hal ini, Pieter Van Dam (seorang penulis VOC pada abad ke-XVII)  menguraikan dalam bukunya, "Beschrijving van de Oost-Indische Compagnie 2de Boek 5de Capittel" (Uraian Kompeni Hindia Timur Buku ke2 Bab ke5), bahwa : "Kerajaan Makassar,  terletak di pulau besar Celebes, sebelum ini sangatlah termahsyur. Pertama karena perniagaannya, ........ selain dari pada itu  karena keunggulannya berperang yang sangat hebat". Pada bagian lain bukunya tersebut, ia mengatakan : "... orang-orang arif yang mengenal keadaan Makassar, menganggap adalah suatu yang mustahil, pun orang-orang Muslim dan kafir dimana saja di kawasan Timur tidak dapat percaya, bahwa orang-orang Belanda Akan dapat mengalahkan Makassar, bahkan dunia akan kiamat sebelum Makassar terkalahkan. Oleh karena orang Makassar terkenal sebagai yang paling berani, paling unggul berperang di seluruh Hindia, suatu bangsa tak ada taranya dan sanggup mengerahkan lasykar ratusan ribu jumlahnya, yang bersenjatakan meriam dan bedil berpeluru berbisa serta dapat menembak sekeping uang kelip dengan tepat pada jarak 30 langkah." (terjemahan Sejarawan La Side' Daeng Tapala, Gowa , Kekuatan Maritim Kawasan Timur Nusantara Abad ke-16 dan 17, Bingkisan Budaya Sulawesi Selatan, YKSST-1977).

Penilaian yang berkesan sebagai "sanjungan" dari penulis Belanda tersebut, memang sangatlah beralasan. Dalam kurun waktu tahun 1641, Kerajaan Gowa adalah merupakan suatu Imperium yang daerah pengaruhnya meliputi kawasan darat dan laut yang luasnya lebih dari separuh kawasan Indonesia pada masa ini. Terbentang mulai dari Kerajaan Kutai (Kalimantan Timur) disebelah barat sampai di Dobo (Maluku Tenggara) disebelah timur, memutar ke Kepulauan Sangir (Sulawesi Utara) di sebelah utara, membentang lurus ke selatan hingga di MarEgE (Australia Utara). Tidak kurang dari 70 Kerajaan besar dan kecil yang mengaku berlindung dibawah naungan "Laklang SipuwEa" (Payung Kebesaran Kerajaan Gowa).

Kebesaran imperium Gowa sebagai penguasa lautan yang mulai dirintis sejak tahun 1511 pada masa pemerintahan DaEng MatanrE KaraEng Tumaparrisi' Kallongna Sombayya Gowa ke-IX , kiranya inilah yang dapat dijadikan sebagai titik awal penelusuran jejak tokoh-tokoh Bugis-Makassar yang melakukan perjalanan jauh hingga menorehkan sejarahnya di Negeri Rantau.


1. Ekspedisi Perairan Timur

Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa kemajuan dan perkembangan pesat yang menakjubkan dapat dicapai oleh Kerajaan Gowa sebagai Inperium pada kurun abad XVI-XVII, terutama berkat kekuatan Angkatan Lautnya yang besar. Dapat dibayangkan pada masa itu, apabila Kerajaan Gowa sedang berperang, lautan seolah menjadi hutan yang penuh dedaunan oleh layar kapal-kapal Phinisi mereka. Kapal-kapal itu datang serempak dalam jumlah ratusan, atau bahkan ada kalanya ribuan buah jika setiap kapal Phinisi itu dikawal oleh puluhan perahu Jung berlayar lebar.

Tertulis dalam Lontara Bilang (catatan harian Raja-Raja Gowa-Tallo') kepunyaan Baginda Andi Makkaraka Arung BEttEngpola yang diterjemahkan dan dipelajari oleh Sejarawan/Budayawan La Side' Daeng Tapala, menguraikan secara rinci ukuran-ukuran armada Makassar tersebut , yakni : Rata-rata sepanjang 17,1/2 meter dengan lebar perut 3 sampai 5 meter. Armada kenaikan Raja dan Laksamana umumnya berbentuk GallE' (GalEi), pendayungnya 200 smpai 400 orang, bersusun 3 sampai 4 tingkat.

Selanjutnya pada Lontara' Bilang disebutkan, I Manuntungi Daeng Mattola Sultan Malikussaid Somba Gowa ke-XV (1639-1653) dalam rangka persiapan menyerbu Kerajaan Buton (Sulawesi Tenggara) dan Timor pada tahun 1640, baginda memerintahkan membuat GallE sebanyak 9 buah yang diberinya nama:
1. I GallE Dondona RallE Campaga, ukuran panjang 20 depa (35 m),
2. I GallE I Nyannyi' Sangguk, ukuran panjang 15 depa (27 m),
3. I GallE Mangkin Naiya, ukuran panjang 15 depa (27 m),
4. I GallE ParE' Makkuling, ukuran panjang 13 depa (23 m),
5. I GallE I Kalabiu, ukuran panjang 13 depa (23 m),
6. I GallE GalElEngan, ukuran panjang 13 depa (23 m),
7. I GallE Barang MamasE,  ukuran panjang 13 depa (23 m),
8. I GallE Siga,  ukuran panjang 13 depa (23 m),
9. I GallE Uwangang,  ukuran panjang 13 depa (23 m).

Ke-9 GallE tersebut diatas memiliki ukuran lebar 3 depa (5,1/2 m). GallE yang ditumpangi Laksamana KaraEng Bontomarannu dan Opu Cenning Luwu (Sattiaraja Petta MatinroE ri Tompotikka Pajung ri Luwu ke XIX waktu itu masih berumur 15 tahun, penulis) dalam perang laut di Buton pada tahun 1666 masing-masing dipersenjatai dengan 18 pucuk meriam laut. Sangat menarik jika menyimak sebagaimana yang dibayangkan Bp. La Side Daeng Tapala, sbb : Betapa gegap gempitanya apabila pada suatu hari di abad XVI atau abad XVII beratus-ratus buah Jung  dengan puluhan ribu lasykar tiba pada suatu tempat di Pantai Kalimantan atau Sulawesi, atau pada suatu hari di Nusa Tenggara atau Maluku, atau didepan Benteng Portugis atau Belanda, dapatlah kiranya dibayangkan !. (Gowa, Kekuatan Maritim Kawasan Timur Nusantara Abad 16-17, YKSST-1967). Maka pantaslah jika VOC dalam abad XVII memberikan julukan kepada orang Makassar, yakni : De Haantjes Van Het Oosten ( Ayam-Ayam Jantan dari Timur ).

Kemudian pada bagian lainnya, buku harian berharga tersebut memberitakan urutan-urutan peristiwa, sbb :

1. 16-4-1617 : I Lo'mo MandallE (seorang Panglima Gowa) menaklukkan Bima (Nusa Tenggara) dengan 7 armadanya,

2. 16-4-1619 : KaraEng BEroanging (seorang Pangeran Gowa) berangkat ke Bima dan Sumbawa untuk memadamkan pemberontakan terhadap kekuasaan Gowa,

3. 13-3-1621 : Lasykar Gowa menaklukkan Kerajaan Taliwang di Pulau Sumbawa yang mengadakan tindakan pembangkangan,

4. 17-4-1624 : Sultan Alauddin (I Mangngurangi Daeng Manrabia Somba Gowa ke-XIV) dengan saudaranya bertolak ke Kerajaan Buton untuk menaklukkan negeri itu,

5. 22-11-1632 : KaraEng ri Bura'nE (seorang Pangeran Gowa) berangkat ke Kerajaan Bima (Nusa Tenggara) untuk memadamkan pemberontakan,

6. 11-9-1633 : Daeng MangallE (seorang Panglima Gowa) bertolak ke Pulau KabaEna untuk memerangi negeri kepulauan itu,

7. 22-8-1634 : KaraEng Balangbaru (seorang Pangeran Gowa) menghadap ke Sultan Alauddin untuk menghaturkan persembahan perjanjian rakyat Kerajaan Sula dan Kerajaan Banggai,

8. 3-4-1639 : I Daeng ri BulEkang (seorang Panglima Gowa) menyeberang dengan angkatan perangnya ke  Kerajaan Buton,

9. 13-4-1640 : Sultan Malikussaid (I Manuntungi Daeng Mattola Somba Gowa ke-XV) berkayuh ke Luwu, kemudian terus ke Pulau Timor untuk menaklukkan negeri itu,

10. 27-10-1640 : Sultan Malikussaid berkayuh ke BalEre' untuk memerangi negeri itu, menaiki I GallE I Nyannyi' Sanggu' dengan pengayuh (pendayung) 200 orang yang kesemuanya terdiri dari para pemuda bangsawan,

11. 25-12-1640 : Raja Tallo, I Mangnginyarang KaraEng Tumabbicara Butta Gowa (Mangkubumi Kerajaan Gowa) berkayuh ke Timor dengan 40 armada untuk menaklukkan kerajaan itu,

12. 30-12-1640 : KaraEng CEnrana (seorang pangeran Gowa) menyusul ke Timor,

13. 2-5-1641 : I Mangnginyarang Raja Tallo tiba kemabali dari Timor,

14. 3-1-1642 : Lasykar Gowa dipersiapkan menyerbu ke Ambon dibawah pimpinan Panglima Daeng Bonto KaraEng Butta Towa,

15. 8-10-1643 : Sultan Malikussaid menaiki I GallE Barang MamasE ke Kerajaan Agang Nionjo, dikawal 125 Jung bersenjata lengkap,

16. 17-11-1643 : Sultan Malikussaid pulang dari Perang Bone, membawa serta 31.340 orang tawanan perang yang dimuat dalam 316 buah Jung,

17. 18-4-1646 : Sultan Malikussaid berkayuh ke Kerajaan Bone untuk memerangi Raja Bone, La Tenriaji To Senrima Mangkau' ri Bone ke-XIV (La Tenroaji To Senrima Petta MatinroE ri Siang - Penulis) di PassEmpe',

18. 5-10-1647 : KaraEng Laju' dan KaraEng Bangkala' berkayuh ke Sumbawa (keduanya Pangeran TuratEa),

19. 5-7-1652 : KaraEng Katapang (seorang Pangeran Gowa) berkayuh ke Negeri Mandar (Sulawesi Barat) untuk membangun benteng pertahanan,

20. 21-11-1652 : Sultan memerintahkan menyiapkan lasykar untuk mengepung Kerajaan TernatE,

21. 29-11-1652 : Panglima I Daeng ri BulEkang (seorang Panglima Gowa) berlayar ke Ambon,

22. 1-10-1653 : 9.413 orang lasykar, tak terhitung Raja-Raja, para Bangsawan dan Hulubalang (UlEbalang ?, penulis) melakukan parade Angkatan Perang di Barobboso untuk diberangkatkatkan ke Ambon,

23. 29-3-1655 : Sultan Hasanuddin (I Mallombassi Daeng Mattawang KaraEng BontomangapE Somba Gowa ke-XVI TumEnanga ri Balla' Pangkana, Penulis) bertolak ke Buton, 11 hari kemudian berhasil menaklukkan Kerajaan TobEa,

24. 16-4-1655 : Angkatan Perang Gowa menyerang Belanda di Kerajaan Buton (Butung, Sulawesi Tenggara),

25. 18-4-1655 : Kerajaan Buton menyerah pada Gowa dengan membayar denda perang sebanyak 888 kati emas,

25a. 30-4-1655 : Sultan Hasanuddin berkayuh ke Mandar (Sulawesi Barat) untuk terus ke Kerajaan Kaili (Sulawesi Tengah) dikawal 1.183 buah Jung,

26. 18-8-1655 : Jenazah I Daeng Bonto KaraEng Butta Towa tiba dari Ambon,

27. 23-10-1655 : KaraEng Popo (seorang Pangeran Gowa) memusnahkan benteng Belanda (VOC) di Bonto TjoE serta membakar dan menenggelamkan sebuah armada perang VOC,

28. 29-12-1659 : Sultan Hasanuddin berkayuh ke Marusu (Maros) dikawal 239 Jung bersenjata lengkap,

29 8-11-1661 : Sultan Hasanuddin berkayuh ke Kerajaan Sawitto, dikawal 185 Jung,

30. 3-7-1662 : Sultan Hasanuddin memerintahkan persiapan penyerbuan ke Pulau Sula (Maluku),

31. 7-10-1662 (1665 ?, penerjemah) : Telah berkumpul sejumlah 10.662 lasykar Angkatan Perang untuk diberangkatkan ke Pulau Sula,

32. 4-7-1666 : Sultan memerintahkan untuk menetapkan hari baik untuk penyerbuan ke Ambon,

33. .. - 1666 : 450 Jung yang memuat 15.000 orang  lasykar bertolak ke Kerajaan Buton untuk menghukum negeri tersebut karena berpihak kepada VOC.





........ (bersambung ke bagian 2)