Aku tidak MENULIS sejarah..tapi kusedang MENGKAJI sejarah..agar kudapat MENGUKIR sejarahku sendiri..
Tampilkan postingan dengan label Kajian Philosofi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Philosofi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Mei 2013

Mendulang Keluhuran







MENDULANG KELUHURAN DARI ADE’ PURANRONA SIDENRENG
By. La Oddang

“History is about peoples”, kata Ernest Hemingway. Bahwa penulis dan pelaku sejarah pada latar Perang Dunia II tersebut memaknai pengalaman kesejarahan berdasarkan prilaku dan waktu. Maka bagaimana kiprah dan prilaku kita hari ini, begitu pula waktu menuliskan atas dasar penilaian orang-orang sekitar kita, sebagaimana kemudian dibaca dan ditelaah oleh generasi mendatang.

Bahwa cendekiawan NEnE Mallomo To MulaE DEcEng ri SidEnrEng kemudian menorehkan kiprahnya yang dapat ditelaah hingga pada masa ini, yakni : “ade’ puraonrona SidEnrEng, iyanaritu : Ade’ MappuraonroE, Wari rialitutui, janci ripEasseri na rapang ripasanrE.” (Adat Ketetapan Sidenreng, yaitu : Adat yang telah ditetapkan berdasarkan kesepakatan, Pranata yang terpelihara, Janji yang dikuatkan dan Sejarah yang tak terabaikan). Kemudian para cendekiawan pada masa-masa setelah masuknya syiar Islam di Sidenreng menambahkan ke-4 azas tersebut dengan tidak merubah nilai-nilainya, yakni : Naiyya natettongiE limampuangngE ade’ puraonrona SidEnrEng, iyanaritu : Ade’ MappuraonroE, Wari rialitutui, janci ripEasseri, rapang ripasanrE, na agama ritanrErE berre’” ( Bahwa yang menjadi dasar dari Lima pilar Adat Ketetapan Sidenreng, yaitu : Adat yang telah ditetapkan berdasarkan kesepakatan, Pranata yang terpelihara, Janji yang dikuatkan, Sejarah yang tak terabaikan dan Agama yang ditinggikan).

Mencermati perkembangan azas dari masa Pra-Islam ke masa Pasca Islam tersebut, maka sesungguhnya nilai-nilai yang menjiwai “Ade’ Puraonrona Sidenreng” sesungguhnya tidak ada yang berubah, namun ditambahkan nilai “Sara’” (Syariat Islam) sebagai penguat ke-4 Pilar sebelumnya. Hal yang sesungguhnya mestilah telah diperhitungkan dengan cermat oleh penggagasnya, bahwa azas-azas tersebut tidak akan pernah bertentangan dengan seluruh azas kebaikan dari segala zaman. Maka kemudian, Ade’ Puraonrona Sidenreng dipertegas sebagai suatu ketetapan yang senantiasa berpihak kepada pemenuhan azas keadilan dan kerakyatan, yakni :  Bicara malempu na gau’ patuju , pangkaukeng tongeng, winru sitinaja, pabbatang masse’ dEcEng mallebbangngE (Perkataan jujur yang diselaraskan dengan perbuatan, Prilaku yang senantiasa berpedoman kepada kebenaran, Tindakan yang senantiasa berkesesuaian, Kelembagaan yang kokoh dengan senantiasa menyuarakan kebaikan bagi semuanya).

Selain dari azas yang dibentengi dengan penegasan terhadap visi kemaslahan umum tersebut, maka dilapisi pula dengan lapisan lain yang semakin menguatkannya, yakni : Taro Bicaranna Sidenreng (Ketetapan Hukum Sidenreng), yaitu : “Malukkaa’ taro Datu, temmalukka taro ade’. Malukkaa’ taro ade’, temmalukkaa’ taro anang. Malukkaasi taro anang, temmalukkaa’ taro maranang” (Ketetapan Raja dapatlah dibatalkan, namun ketetapan adat tidaklah terbatalkan. Ketetapan Adat dapat pula dibatalkan, namun ketetapan rumpun keluarga tidaklah terbatalkan. Ketetapan rumpun keluarga-pun dapat dibatalkan, namun ketetapan Rakyat tidaklah terbatalkan).

Pada ke-5 Azas yang menjadi pilar “Ade Puranrona Sidenreng” sebagaimana dikemukakan diatas, maka 2 diantaranya yang senantiasa disesuaikan dari zaman ke zaman, yakni : Wari rialituti dan Rapang RipasanrE, sebagaimana diuraikan sebagai berikut :

1. Wari rialitutui (Pranata yang terjaga)

Bahwa “pranata” bukan semata dimaksudkan sebagai “pembeda” antar lapisan masyarakatnya, melainkan menciptakan tatanan keorganisasian (organization chart) dalam mewujudkan ketertiban umum. Hal yang menggambarkan bahwa masyarakat yang sejahtera mestilah terdiri dari masyarakat yang tertib dan terpimpin menurut nilai tradisinya masing-masing. Maka dalam mewujudkan ini, senantiasa diberlakukan atribut-atribut kewenangan dan tanggung jawab yang disertai tata protokoler yang terjaga.

Kerajaan Sidenreng sebagai Kerajaan Terkemuka diantara ke-4 Kerajaan dalam wilayah Ajatappareng lainnya senantiasa mengemukakan Wari sebagai bias dari penerapan “bicara” (hukum) yang diberlakukan dalam wilayahnya. Bahwa salahsatu yang menjadi tolak ukur daripada kebesaran suatu Kerajaan pada masanya, yaitu : Sipakalebbi’E ri Bali Boccona (Saling Memuliakan antar Hubungan Bilateral) sebagai bagian terpenting dalam penerapan “Ade’ Maraja”. Salahsatu  fakta yang tereverensi menyangkut perihal tersebut adalah ketika Addatuanta La Cibu  sendiri menyonsong ArumponE BessE’ Kajuara untuk mengundangnya masuk kedalam wilayah kekuasaannya. Padahal dari segi silsilah, BessE’ Kajuara sesungguhnya adalah kemenakan dari Addatuanta yang bijak tersebut. Apalagi jika dipikir bahwa BessE Kajuara pada masa itu adalah seorang “Penguasa” yang kalah perang dan membutuhkan perlindungan. Namun tatanan “wari” tidaklah memandang situasi dan kondisi karena selalu dijiwai dengan “pessE” (solidaritas kemanusiaan) dan “getteng” (kedisiplinan yang teguh) pada nilai “Siri” (Harkat dan Martabat).

Pada masa kemerdekaan ini, setiap bekas kerajaan masih meninggalkan nilai tradisi Wari sebagai pertanda kebesaran masa lalu. Salahsatu yang masih dapat dilihat dalam hal ini adalah tradisi “Massobbi” atau “Mattampa Bali Datu” (penyampaian undangan perhelatan kepada sesama Raja) . Bahwa mengundang seorang berderajat “Datu/Bau” senantiasa diantarkan sendiri oleh pemuka rumpun keluarga yang hendak melaksanakan perhelatan sejumlah 12 (dua belas) orang, terdiri dari 6 lelaki dan 6 perempuan yang kesemuanya mengenakan baju adat lengkap. Kemudian pemilihan hari menyampaikan undangan tersebut senantiasa minimal 12 hari sebelum hari pelaksaan perhelatan.
Selain dari penyampaian undangan tersebut, hal yang tidak kalah pentingnya adalah penyambutan dan menempatkan para tamu terhormat tersebut sebagaimana layaknya. Maka setiap perhelatan jika hendak menjaga/melestarikan “wari” senantiasa menyiapkan protokoler yang biasa disebut  di Sidenreng sebagai “pattumaling” atau “pappatudang”.

Suatu hal yang “miris” dikemukakan disini, yakni pada beberapa waktu yang lalu, seorang sepupu penulis yang diundang dalam suatu acara perhelatan kerajaan Bugis sebagai perwakilan dari Kedatuan Pammana. Beliau bermalam di rumah penulis dengan harapan agar tidak terlambat menghadiri acara perhelatan yang sedianya dilaksanakan pada jam 9.00 Wita, menurut yang tertera pada undangan. Pagi-pagi sekali beliau YM. Perwakilan Datu Pammana sudah mengenakan busana adatnya secara lengkap kemudian berangkat menuju tempat acara. Namun 1 jam kemudian beliau kembali ke kediaman kami dengan wajah keruh, menggambarkan kekecewaan. Hal yang tidak disangkanya, ketika tiba di tempat acara berlangsung menurut undangan, ternyata acaranya digeser pada malam hari disebabkan hal yang tidak dapat saya sampaikan disini. Namun terlebih-lebih mengecewakan, ketika beliau bertanya pada beberapa orang yang “menurutnya” adalah “panitia acara” perihal acara tersebut, “orang yang ditanya” tersebut berteriak : “Tidak jadiki, Pak ! Malampi kita dating !”. Subhanallah, seorang perwakilan DATU PAMMANA  Yang Mulia diperlakukan demikian dalam suatu perhelatan adat.

Tiada lain yang dapat dikatakan oleh “Perwakilan Kedatuan Pammana” tersebut kepada kami , yaitu : “Tania Gau’ Arajang, ndi’.. ORGANISASI KEPEMUDAAN ji palE’na”. Penulis hanya bisa terpana dan bertanya-tanya dalam hati, “Memang apa saja yang hendak dilestarikan selain NILAI SIPAKALEBBI ?”. Sedangkan “Bali Arungna” saja tidak dimuliakan, bagaimana lagi dengan khalayak Sesama ANAK NEGERI-nya sendiri ?, Wallahualam.

Bahwa tidaklah mungkin melestarikan semua nilai-nilai lama dengan  tidak mengkondisikan dengan situasi dan kondisi masa sekarang. Namun ada hal-hal tertentu yang tidak boleh tidak haruslah dilestarikan menurut kebiasaan lama. Sebagai contoh : Jika pada jaman dulu, 12 orang naik kuda atau bendi untuk menempuh perjalanan mengantar undangan ke Kerajaan Sahabat, namun sekarang tentulah mengendarai mobil. Maka sesungguhnya kondisi masa sekarang ini jauh lebih mudah untuk melaksanakan “gau’ sipakalebbi “ tersebut. Namun ada saja yang mengatakan : “Lain dulu, Lain sekarang”. Tetapi apakah tidak “riskan” jika pengedaran undangan pengantin saja menuruti ketentuan tersebut, sementara “perhelatan Adat Kerajaan” tidak dilaksanakan ?.

Hal lain yang tidak dapat diabaikan dalam pelestarian nilai-nilai lama menyangkut tata pranata dalam suatu adat kerajaan adalah “tata tertib berbusana”. Terkadang didapati “para hadat kerajaan” berfoto bersama dengan posisi yang sama, padahal diantara mereka sesungguhnya ada monarki. Semisalkan “songkok pamiring” antara “Arung Palili” (Raja Bawahan) yang tetap “berdiri tegak” sementara disampingnya ada pula “Datu Maraja” (Raja Pertuanan). Padahal semestinya songkok Arung Palili tersebut haruslah dimiringkan kebelakang atau kesamping. Demikian pula dengan  pemasangan keris Arung Palili, mestilah gagangnya ditutupi jika Raja Pertuanannya berada disekitarnya. Maka kiranya inilah yang dimaksud dengan “Maggau’ Sitinaja” (melaksanakan sebagaimana layaknya). Hendaknya diberlakukan skala prioritas, mana yang masih bisa dilestarikan dan mana yang sudah tidak perlu.

2. Rapang Ri PasanrE (Sejarah Yang Tak Terabaikan)

Sejarah menulis jatuh bangunnya seseorang, keluarga, kaum, umat, bangsa dan semua mahluk. Maka ia adalah ta'wil, cerminan ihwal bagi masa yang akan datang. Maka bagaimana menyikapi dan memutuskan langkah pasti kedepan, tergantung bagaimana memaknai sejarah pada saat ini, bersama jati diri yang ditemukan lewat jendela sejarah.

Sang Guru mengajarkan sejarah, ia mengutip setiap butir hikmah didalamnya, sebagai ibrah yang adiguna. Memaafkan dan berlaku adil, begitulah permata sejarah menamakan dirinya. Menghargai waktu dan arif bagi kehidupan di masa ini, demikian sejarah senantiasa menunjukkannya. Maka sejarah, sesungguhnya adalah "Ayat Allah" yang terukir pada sepanjang masa. Maka kehadiran manusia dengan kiprahnya di dunia fana ini tiada lain adalah memenuhi tugas  kesejarahannya sebagaimana diamanahkan ayat Allah SWT.

Maka dengan ini, perlu dikemukakan bahwa memaknai sejarah sesungguhnya haruslah melibatkan seluruh disiplin ilmu yang ada. Memahami sejarah dalam kurun abad terdahulu tidak dapat diterjemahkan menurut konteks berpikir kekinian. Serta tidak kalah pentingnya, perlu dipahami bahwa : Sejarah adalah ayat Tuhan, maka perlu pemikiran yang jernih dan adil untuk memahami ayat Tuhan tersebut. Pada akhirnya, selain dari penalaran dalam memahami dan menggali nilai kebudayaan masa lalu pada permukaan masa kini, alangkah baiknya jika didasari pula dengan “skala prioritas” atau “maggau’ sitinaja”.


Wallahualam Bissawab.




Selasa, 02 April 2013

MARTABAT KEILMUAN


PAPOLEONRONA PADDISSENGENGE
                                       By La Oddang

“Emas berharga karena kuningnya, namun kuning tidaklah mesti emas”, demikian petuah dari masa lalu. Namun tidak sampai disitu saja, petuah luhur itu senantiasa berkesinambungan menurut zamannya. “Emas berharga karena langkanya. Andai batu bara lebih sedikit dari emas, mestilah batu bara lebih berharga dari emas”, kataku pula pada malam ini. Namun jauh-jauh hari sebelumnya, Baginda Ali ra. mengklasifikasikan nilai segala sesuatunya yang tidak mesti diukur dari banyak atau sedikitnya, namun tergantung dari mamfaatnya atas diri dan sesama mahluk ciptaan Allah.

Hal utama yang menjadi perhatian Baginda Ali ra. adalah Ilmu Pengetahuan. Bahwa keutamaan Ilmu dari harta benda adalah : Harta benda yang dibagi-bagikan kepada khalayak umum, mestilah berkurang. Sementara Ilmu Pengetahuan, semakin disebarluaskan justru semakin bertambah. Namun sesungguhnya, ilmu pengetahuan yang bermamfaat jauh lebih mulia namun sedikit, dibandingkan banyaknya ilmu pengetahuan yang tidak dimamfaatkan.

Mamfaat ilmu pengetahuan adalah diukur dari nilai kemuliaannya. Sebagaimana sebatang pena, bermamfaat karena tintanya. Namun walau pena itu penuh tinta didalamnya, jika mata pena tidak ditutupi dengan baik, pada akhirnya tinta didalamnya akan mengering. “Apalah gunanya sebuah pena jika jika tintanya kering ?”. Ia tidaklah dapat digunakan menulis diatas kertas, melainkan mencoret-coret diatas tanah belaka. Untuk fungsi itu, sebatang lidi pun dapat terguna. Akhirnya jatuhlah martabat sebatang pena, sekalipun itu harganya mahal.

Maka adalah peran manusia sebagai mahluk ciptaan Allah yang paling mulia untuk mencurahkan nilai itu baginya. Ilmu dimuliakan jika “terjaga” dan ditempatkan pada derajat yang semestinya (ripapolEonro alebbirengna). Hingga dapatlah difahami jika orang-orang terdahulu mengajarkan ilmunya pada waktu-waktu khusus dan juga pada tempat-tempat yang dimuliakan. Mereka tidak mengucapkan kajian pemahamannya (lamunna) tentang suatu ilmu hikmah dengan bahasa yang gamblang. “tempedding naleppa’ lila, tempeddingtoi ripasilolongeng ri tengngana pasaa’E” (pantang disebut oleh lidah, pantang pula diuraikan ditengah pasar), demikian pemuliaan dan pemaknaan terhadap ilmu pengetahuan.

Sekiranya sifat pemuliaan ilmu itu dilanggar, mereka para arif bijaksana itu mengisyaratkan : “birasani paddissengengngE, lobbangnitu lamungngE” (punahlah ilmu, hampalah suatu pendalaman). Tiada lain yang menyebabkan kemusnahan itu adalah : “riyakkElong-kElongenni pahangngE, ribolloangni lise’E pole ri taro malebbina, tabberrE-berrEni napitto’ manu” (pemahaman dijadikan lagu belaka, isinya ditumpahkan dari tempat kemuliaannya, bertebaran hingga dipatuk ayam). Belumlah pula jika sisa buliran ilmu yang tidaklah sempat “dipatuk ayam”, mestilah tercemar oleh lumpur yang becek kemudian diinjak dan dilangkahi berbagai macam hewan lainnya. Belumlah pula sekiranya dikencingi kucing dan anjing. Maka dimanalah harganya lagi ?. “Nasaba’ tapalEnne’i ri tengngana lalengngE” (disebabkan oleh anda yang meletakkannya ditengah jalan).

Tulisan ini tiada lain adalah himbauan kepada anak-anakku dan adik-adikku yang mendapat curahan hidayah dari Allah berupa Ilmu Hikmah (Pahang pappEjeppu). “Aja’ tappasilolongeng rionrong tessitinajaE” (janganlah mendiskusikannya pada tempat yang tidak semestinya). Bersyukurlah selalu atas nikmat Allah dengan memuliakan anugerah itu dengan menempatkannya pada tempatnya. “pakkEade’i paddissengengngE, namuakkamalakengngi ri dEcEngngE, papolEonroi rilalengna sitinajaE” (hargailah ilmu pengetahuan, kemudian amalkan pada kebaikan, tempatkan sebagaimana mestinya).

Wabillahitaufiq wal hidayah, Wallahualam Bissawwab.

Keadilan Bermartabat


KEADILAN SIKAP BERMARTABAT
                               By. La Oddang


Kadangkala didapati suatu kepribadian yang dianggap gampang naik darah. Hal yang disebabkan menurut persepsi umum jika itu hal sepele. Namun sesungguhnya menurut standard nilai dalam kebudayaan Suku Bangsa tertentu hal tersebut adalah sangat sacral. Maka mereka menjaga nilai-nilai itu dengan amat rapatnya, hingga menjadikan sebagai orang-orang yang peka karena over protectif terhadap nilai luhurnya. Hal yang sesungguhnya karena begitu halus adabnya, maka mereka menghargai martabat dan menjaga perasaan orang lain, kemudian pada akhirnya iapun mudah tersentuh jika dikasari dihadapan orang banyak. “Siri’Engmi na toTau, naiyya Siri’E : Nyawa naranreng, Sunge’ nakira-kira..” (Karena harga dirilah maka kita disebut manusia, sesungguhnya harga diri itu : sandingannya nyawa, hidup yang menjadi taruhannya..), demikian antara lain suatu suku bangsa berlabel “Bugis” memaknai proteksi terhadap mustika budinya.


Orang Bugis yang sesungguhnya adalah orang-orang yang berkepribadian amat berhati-hati dan mawas diri ditengah masyarakat. “Manini ri collai, nasaba’ pangkaukengna..” (sangat menghindari diperlakukan sembarangan, dikarenakan perbuatannya sendiri..).


Dalam tahun 2010, saya menyertai salah seorang junjungan untuk mengurus Pasport dalam rangka perjalanan umroh. Setelah passport itu selesai, saya mengusulkan kiranya Sang Datu mengurus Kartu NPWP agar tidak perlu membayar Piskal yang sekira-kira senilai 2,5 juta Rupiah.


“..aja’na kapang, Oddang. NadE’na jE’ gaga jaman-jamangku, pensiunna’ iya’. DE’na na’Engka umakkamaja pajak, agapi riyala mala kartu pajak ?” (..agaknya tidak usah, Oddang. Saya tidak punya pekerjaan lagi, sudah pensiun. Maka saya tidak pernah lagi membayar pajak, buat apa lagi mengurus kartu pajak ?”, tolaknya.


“EbarE’ dE’nakkamaja piskal DatuE, Puang..” (Agar paduka tidak bayar piskal lagi, Tuanku..), jawabku meyakinkan.


“Wee.. aja’na kasi’. DE’saharo namaEga dui, naEkia taroni iwajaa.. Engka ammani Pagawai Pajak’E mapparEssa lao ri bolaE, nasakke’rupa napoadangki’. Tomasiri bawangnatu, natosala mEmeng..” (Wee.. tidak usahlah. Memang kita tidak memiliki uang yang banyak, namun biarlah dibayar.. Nanti pegawai pajak datang memeriksa di rumah, lalu sembaranglah nanti dikatakannya pada kita. Kita akan merasa malu saja, karena memang kita yang bersalah..).


Bagi orang-orang yang memagari SIRI (harkat dan martabat azasi) dengan “sipakatau” (tenggang rasa) serta membelanya dengan segenap jiwa yang dimilikinya. Mereka menjaga kehormatan dan kemuliaannya dengan terlebih dahulu “menghargai, menghormati dan memuliakan” orang lain. Sesuatu yang senantiasa dimaknainya dengan adil, bahwa : MatE siri mappakasiri, mate siri ripakasiri (Mati bayarannya jika mempermalukan dan Mati pula bayarannya jika dipermalukan).


Menjaga harkat dan martabat orang lain adalah sama pentingnya dengan membela harkat dan martabat diri. Inilah yang kemudian diwujudkan dalam suatu patokan nilai yang disebut : PessE’ (Solidaritas Kemanusiaan). Hingga tidaklah salah jika diistilahkan bahwa para “To MatanrE Siri” (orang yang bermartabat tinggi) adalah bagaikan melangkahkan kaki pada suatu jalan yang penuh dengan telur yang berserakan. Ia harus berhati-hati menjaga langkahnya agar tidak sampai menginjak dan memecahkan salahsatu telur itu. Karena apabila ia menginjaknya, berarti ia melakukan suatu kesalahan yang merugikan orang lain dan mencederai harkatnya sendiri.



Wallahualam Bissawwab.



Sabtu, 23 Februari 2013

Renungan Tentang Cinta dan Kesenangan





RENUNGAN DIANTARA CINTA DAN KESENANGAN


Patutkah kalau kita menyamakan cinta kasih dengan kesenangan ?. Benarkah anggapan sementara orang, bahwa cinta kasih adalah pemuasan berahi belaka ?. Tepatkah kalau cinta kasih mendatangkan cemburu, kemarahan, kebencian dan kedukaan ?.
………………………………………………………………….. 


Memang kasihanlah bagi siapapun yang menganggap cinta kasih sebagai suatu hal yang harus menjadi sumber kesenangan. Menjadi suatu hal yang harus menjadi pemuas keinginan diri sendiri belaka, karena siapa saja yang beranggapan demikian sudah pasti akan menemui kegagalan dalam cinta. Ia sudah pasti pada suatu waktu, akan kecewa karena cinta kasih yang tadinya dianggap sebagai sumber kesenangan dan tidaklah seperti yang diharapkan semula. 

Setiap bentuk kesenangan sudah pasti tak terpisahkan lagi dari rasa takut kehilangan, kekecewaan dan kedukaan. Maka jika cinta kasih disamakan dengan sumber kesenangan, sudah pasti tak terpisahkan lagi dari rasa takut kehilangan, kekecewaan dan kedukaan. Pada akhirnya, cinta kasih disamakan dengan sumber kesenangan.  Jelaslah bahwa hal itu berarti, bahwa cinta kasih juga merupakan sumber kekecewaan dan kedukaan!. Karena kesenangan mempunyai kebalikannya, yaitu kedukaan.  Maka, kalau kesenangan terluput, datanglah kekecewaan atau kedukaan.

Tidaklah mungkin untuk menentukan bahwa cinta kasih adalah begini atau begitu. Cinta kasih bukanlah benda atau hal mati yang sudah dapat ditentukan sifatnya. Namun jelas bukan cinta kasih kalau mendatangkan duka !. Pementingan mendatangkan duka, pengejaran kesenangan mendatangkan duka, jadi semua itu bukanlah cinta kasih !.


Maka jelaslah, rasa yang menimbulkan suka dan duka bukan cinta kasih. Hal masih dicengkeram suka duka tak mungkin mengenal bahagia Cinta kasih atau bahagia tentu jauh lebih tinggi di atas alam suka duka !.

Semenjak kecil, kita sudah terdidik dan terbiasa untuk menilai segala sesuatu melalui kata-kata. Pada akhirnya terjerumuslah kita semua ke dalam dunia penuh kepalsuan yang tersembunyi dibalik kata-kata manis !. Maka kepalsuan-kepalsuan melalui kata-kata manis dan senyum buatan ini oleh kita, dinamai : PERADABAN. Sesungguhnya inilah peradaban yang tidak beradab. Kita namakan pula kesopanan, namun ia adalah kesopanan yang tidak sopan. Kita sudah terbiasa untuk menilai keadaan luarnya saja. Inilah yang menyebabkan kita sering tergelincir oleh kemanisan kata-kata dan sikap palsu. 

Kita tidak lagi peka untuk mengenal keadaan yang lebih mendalam,  karena perasaan kita sudah dibikin tumpul oleh kebiasaan menilai kulitnya saja. Maka diobral oranglah kata-kata “aku cinta padamu”, sehingga tidak ada artinya lagi. Diobral orang pula senyum palsu, sikap menghormat dan menjilat yang kesemuanya itu sesungguhnya tidak wajar dan palsu adanya. Hal ini dapat kita lihat jelas sekali terjadi di sekeliling kita, bahkan dalam diri kita, kalau saja kita mau MEMBUKA MATA memandang dan mengamati apa adanya. Maka dapatkah kita hidup tanpa menjadi hamba kepalsuan ini ?.

Demikianlah pula dengan “Nurani Mencinta”. Dia sudah yakin benar akan perasaan cinta yang terbalas kepadanya, namun tidak puaslah hatinya kalau dia tidak mendengar pernyataan cinta itu melalui kata-kata, padahal pernyataan macam ini sesungguhnya tidak ada harganya sama sekali, karena apakah artinya kata-kata hampa dibandingkan dengan perasaan yang murni dan agung itu ?.

Memang demikianlah Cinta !. Amat besar kuasanya atas perasaan manusia. Sekali Cinta menyentuh hati sanubari insan, selanjutnya merupakan titik terang satu-satunya yang meniadakan segala persoalan hidup. Menjadi satu-satunya tujuan hidup penuh dengan hasrat dan harapan, melambungkan cita-cita setinggi angkasa, membuat yang terkena terapung muluk dan satu-satunya hal yang penting dalam hidup hanyalah tercapainya hasrat dan harapannya. 

Cinta memang indah, namun keindahan yang cemerlang menyilaukan hati sehingga terlupakan orang, bahwa di dalam keindahan itu terdapat lika-liku yang ruwet dan rumit, lika-liku yang mudah menyesatkan dan sekali terpeleset, segala kemanisan berubah kepahitan.  Madu berubah empedu, keindahan berubah keburukan dan kebahagiaan terbang pergi, kegembiraan berganti kedukaan !. Cinta, bagaikan pohon kembang nan indah. Namun sesungguhnya mengandung duri, mengandung ular yang mudah pula layu. Kalau pandai merawatnya, menghindarkan durinya, pandai memupuknya, barulah akan subur dan semakin indah !. Maka merawatnya, tiada lain dengan ketulusan. Kemudian memupuknya dengan kerinduan. Lalu menyiramnya dengan curahan kasih. Kemudian pada akhirnya menatanya dengan sayang.

Lalu apa dan bagaimana “Cinta Asmara” yang sesungguhnya itu ?. Cinta Asmara bukan sekedar terdorong oleh daya tarik masing-masing antara pria dan wanita, walaupun tentu saja dimulai oleh suatu daya tarik. Daya tarik, itu bisa saja berupa wajah rupawan, kedudukan tinggi, harta benda, kepandaian, atau keturunan keluarga orang besar. Akan tetapi juga dapat berupa sikap yang menyenangkan hati yang tertarik, tentu saja sikap ini pun bermacam-macam sesuai dengan selera masing-masing yang tertarik. Akan tetapi, hubungan kasih sayang ini barulah mendalam dan juga membahagiakan orang yang dicintanya. Sebaliknya, cinta asmara yang didorong oleh keinginan menyenangkan diri sendiri, sudah tentu akan bertumbuk kepada banyak hal yang mendatangkan derita. Derita ini timbul karena sekali waktu tentu orang yang dicintanya itu akan melakukan sesuatu yang dianggapnya tidak menyenangkan hatinya lagi !. Sungguh, tiada sesuatu yang kekal di dalam kehidupan ini kecuali cinta kasih !.
Semenjak manusia tercipta, nafsu berahi merupakan nafsu yang paling kuat dan jika nafsu ini telah mencengkeram diri manusia, maka si manusia lupa akan segala hal, kehilangan kewaspadaannya dan seluruhnya menjadi permaianan nafsu. Dapat dilihat dalam catatan sejarah betapa banyaknya tokoh yang jatuh kerena diperhamba nafsu berahi, para ksatria yang runtuh karena wanita, dan orang-orang alim ulama yang tergoda oleh nafsu, godaan terkuat. Nafsu berahi merupakan anugerah alamiah yang memperindah cinta kasih antara pria dan wanita, mendorong manusia untuk berkembang biak dan sudahlah menjadi hukum alam. 
Namun apabila nafsu berahi tidak dikekang dan sudah mencengkeram diri manusia yang telah menciptakan hukum-hukum kesusilaan, maka segala rintangan, segala pantangan akan dilanggar di luar kesadarannya.


Penderitaan batin yang timbul akibat cinta asmara memang amatlah berat penanggungannya. Hati akan merasa amat kesunyian, amat nelangsa, hidup seakan-akan kosong tidak ada arti­nya, lenyaplah semua gairah hidup, lenyap semua kegembiraan, yang terasa hanyalah kelesuan, lemah lunglai rasanya seluruh tubuh, tanpa semangat membuat orang malas dan tak acuh. Semua ini timbul karena perasaan iba diri yang amat mendalam. Duka lara yang tak terperikan. 

Wahai, dari mana timbulnya duka lara ?. Akibat duka sudah jelas, membuat orang menjadi gelap pikiran dan tidak sabar, dan dalam keadaan sesak oleh duka itu jasmani pun bekerjalah untuk menolong dirinya dari ancaman bahaya karena duka, yaitu dengan jalan menciptakan air mata yang bercucuran keluar dan peristiwa ini dapat melampiaskan duka seperti bendungan yang dibuka sehingga genangan duka itu dapat membanjir keluar.


Akan tetapi dari manakah timbulnya duka ?. Jelaslah bahwa duka timbul dari pikiran sendiri. Pikiran dilayangkan kepada hal-hal yang sudah lewat, hal-hal yang dianggap merugikan diri sendiri, dianggap tidak cocok dengan apa yang dikehendaki sehingga hal yang telah terjadi itu mendatangkan kekecewa­an yang kemudian menciptakan rasa nelangsa dan iba kepada diri sendiri, menjadi duka.


Jelaslah bahwa duka menguasai batin hanya pada saat kita tidak sadar, pada saat kita tidak waspada, pada saat kita membiarkan batin diselubungi ke­nangan hal-hal yang sudah lewat. Dan kita melakukan sesuatu yang amat keliru, yaitu kita selalu ingin lari dari duka, yang datang menyerang. Ingin lari dari duka, ingin menghibur dan melupakan hal yang mendukakan.


Namun usaha menjauhkan duka ini malah memperbesar duka itu sendiri !. Kita tidak pernah mau menghadapi duka itu sebagaimana ada­nya, atau mengamati duka dengan penuh ke­waspadaan dan kesadaran. Mengamati betapa kita penuh dengan iba diri, betapa kita mengenang-ngenang hal yang merugikan itu, terus mengunyah-ngunyah kenangan itu sehingga semua kenangan itu seolah-olah merupakan sebuah tangan setan yang meremas-remas hati kita sendiri!.


Untuk dapat terbebas dari duka, kita harus mengenal duka sebagaimana adanya, kita harus berani mengamati duka, tidak lari darinya. Karena hanya dengan pengamatan yang penuh kewas­padaan  inilah maka akan timbul pengerti­an yang sedalam-dalamnya tentang duka, dan pengertian ini akan menimbulkan kesadaran yang dengan sendirinya akan melenyapkan duka tanpa kita berusaha menghilangkannya.


Namun sayang, betapa kita semua tidak sadar dan membiarkan diri ter­seret ke dalam arus suka-duka ini. Kita terseret duka, mengharapkan hiburan, menikmati hiburan yang mendatangkan suka, untuk kemudian diseret ke dalam duka kembali, dan demikian selanjutnya kita terjebak ke dalam lingkaran setan yang berupa suka dan duka. Namun yang lebih menyedihkan lagi, kita menganggap bahwa memang sudah demikian itulah hidup !. “C’ Est La Vie !”, demikian Orang Perancis mengatakannya. “Olala”, seolah-olah tidak ada jalan lain dalam kehidupan ini, kecuali menjadi hamba suka duka yang menyedihkan.


Kita manusia hidup memang selalu menjadi permainan suka dan duka apabila kita masih terbelenggu oleh segala ikatan. Selama batin kita masih belum bebas dari rasa takut akan kesunyian, kita selalu mencari sandaran dan kita mengikatkan diri dengan segala yang anggap akan mendatangkan kesenangan abadi. Kita selalu mengejar kesenangan dan menuntut kesenangan dari segala sesuatu sehingga kita mengikatkan diri dengan suami/isteri, dengan keluarga, dengan kedudukan, dengan harta, dengan nama dan sebagainya. Pengikatan diri dengan semua ini dasarnya karena diri pribadi yang selalu menonjolkan pencarian kesenangan baik kesenangan duniawi maupun kesenangan rohani. Kalau sewaktu-waktu kita diharuskan terpisah dengan semua itu, tentu saja menimbulkan duka dan sengsara yang sama artinya dengan kekecewaan karena kesenangan kita dirampas.


Sesungguhnya bahwa suka maupun duka bersumber kepada hati dan pikiran kita sendiri, tergantung dari bagaimana kita menanggapi dan menghadapi semua yang terjadi pada diri kita. Kebanyakan orang menganggap bahwa kesenangan juga berarti kebahagiaan dan sumbernya terletak di harta, kedudukan, nama dan sebagainya.


Betapa bodohnya anggapan seperti itu, betapa dangkalnya. Dimanakah letak kekayaan? Apakah di kantong baju, di peti uang dan harta benda ?. Bukan, melainkan di dalam hati dan pikiran sendiri. Biarpun orang memiliki lima buah gunung emas, apabila dia masih merasa kurang maka dia adalah miskin dan akan terus mengejar kekayaan dengan tamaknya. Orang yang mengantongi uang satu juta adalah orang miskin apabila dia menginginkan barang yang lebih dari jumlah itu harganya. Orang tidak akan mampu menikmati, tidak akan mampu melihat keindahan, dari apapun yang berada di dalam tangannya, betapapun tinggi nilai benda itu, apabila dia menginginkan barang yang lain daripada yang telah dimilikinya. Sesungguhnya orang yang selalu diperhamba oleh nafsu keinginannya, takkan pernah merasa cukup dan takkan pernah dapat mengerti apa yang dinamakan keindahan, apa yang dinamakan kebahagiaan hidup.


Sebaliknya, orang yang sudah bebas batinnya dari semua ikatan, menghadapi kehidupan dengan segala macam peristiwanya dengan hati terbuka, dengan perasaan lapang, dengan gembira dan tidak pernah dia tenggelam di dalam duka maupun suka. Bagi dia, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini mengandung hikmah kehidupan yang luar biasa, yang indah dan wajar sehingga dia tidak lagi mengenal apa artinya kecewa, karena dia tidak mengejar apa-apa, tidak mengharapkan apa-apa. Keadaan demikian ini membuat dia bebas dari suka duka, bebas dari arus lingkaran setan yang membuat manusia yang belum bebas dan belum sadar dalam bidupnya, selalu jatuh bangun di antara suka dan duka. Akan tetapi betapa menyedihkan karena kebanyakan dari kita menerima keadaan hidup seperti ini !. Kita menerimanya sebagai hal yang “sudah semestinya”.


Hidup yang penuh dengan duka nestapa, kesengsaraan, pertentangan dan permusuhan, benci dan iri hati, segala macam kepalsuan di segala lapangan dan dalam segala macam bentuk perang, pembunuhan dan kelaparan, di antara semua kengerian ini dan hanya kadang-kadang saja ada kesenangan yang hanya lewat bagaikan sinar kilat sekali-kali, dan kita sudah menerima kehidupan macam ini sebagai hal yang semestinya! Kita selalu mengejar kesenangan, dengan suka rela menghambakan diri kepada pemuasan kesenangan sungguhpun kita tahu bahwa di balik dari semua kesenangan itu terdapat kesusahan yang mengintai dan siap menerkam korbannya, yaitu : kita !.


Tidak ada kekuasaan apapun di dunia ini dapat merubah semua kesengsaraan kehidupan yang bersumber di dalam diri pribadi, kecuali KITA SENDIRI. Bukan kita yang mengusahakan perobahannya. Kita tidak akan dapat merubah diri sendiri, akan tetapi dengan kewaspadaan dan kesadaran, dengan mengenal diri sendiri luar dalam, dengan pengawasan dan pengamatan setiap saat, akan timbul pengertian dan kesadaran, dan pengertian ini tanpa diusahakan, dengan sendirinya akan menghalau semua perintang dan penghalang dari perobahan. Pengertian yang mendalam inilah yang penting, bukan segala macam pengetahuan mati tentang filsafat atau kebatinan manapun, karena pengetahuan-pengetahuan itu hanya akan menjadi slogan mati, klise-klise lapuk yang hanya akan diulang-ulang oleh mulut, bahkan diperalat untuk membanggakan diri belaka.


Biasanya, kita manusia, di ujung dunia yang manapun juga, selalu mengejar-ngejar pengulangan kesenangan atau mencari keadaan yang lebih menyenang­kan atau dianggap lebih menyenangkan lagi, selalu mencoba untuk menjauhi atau menghindari apa saja yang dianggap me­nyusahkan. Kita ingin hidup ini penuh dengan yang manis-manis saja. Kita lupa bahwa selama kita mendambakan yang manis, maka akan bermunculanlah yang pahit, yang getir, yang masam dan sebagainya karena semua itu muncul apa­bila yang manis dan kita dambakan itu tidak tercapai. Itulah romantika hidup. Ya manis, ya pahit, ya getir. Semua itu merupakan kesatuan yang tak terpisahkan, yang menjadi isi daripada kehidupan kita sekarang ini.


Mengapa kita tidak menerima semua itu secara wajar saja ?. Mengapa mesti bersenang kalau menda­patkan yang manis akan tetapi mengeluh kalau memperoleh yang pahit? Kalau kita menghadapinya dengan pengamatan mendalam, tanpa penilaian “si pikiran” yang mencari manis selalu, mungkin kita akan melihat sesuatu yang ajaib. Benar pahitkah yang kita anggap pahit itu dan benar maniskah yang kita anggap manis ?. Apakah akan terasa nikmatnya manis kalau kita tidak merasakan tidak enaknya pahit ? Apakah kita dapat mengenal terang kalau kita tidak mengenal gelap ?. Maka inilah yang saya maksudkan “memandang dari Sisi Gelap”, atau dengan kata lain : Sisi Pahit. 



******