Aku tidak MENULIS sejarah..tapi kusedang MENGKAJI sejarah..agar kudapat MENGUKIR sejarahku sendiri..
Tampilkan postingan dengan label Kajian Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Agustus 2012

TOMANURUNG DAN TO TOMPO ?

Adinda kami Faisal TO Wareq menanyakan perihal penduduk pertama di Sulawesi Selatan ini. Kontan saya garuk-garuk kepala, seraya berpikir keras. Siapa yang memiliki NIK (Nomor Induk Kependudukan) 00000000000000000001 itu ?. Namun para arif cendekia Sulawesi dari masa ke masa telah meninggalkan catatan hasil penelitian mereka. Semuanya untuk kita baca dan melanjutkan upaya pendalaman itu di masa kini.
…………………………………………………………………………………..

Syahdan, pada tahun 1972 pakar Van Heekeren mengemukakan pendapatnya, bahwa : Kemungkinan besar Sulawesi Selatan telah dihuni sejak pertengahan atau penghujung kala Pleistosen Akhir, yakni sekitar 50.000 hingga 30.000 tahun SM (Heekeren, Stone Age:66-72, kutipan Pelras C, Manusia Bugis ; 2006).

Kemudian pakar Mattulada menguraikan pula bahwa, penduduk purba Sulawesi Selatan selain berciri fisik Austro-Melanesoid dan Paleo-Mongoloid yang berlangsung dalam satu zaman, yaitu masa belum mengenal kepandaian bercocok tanam, yaitu kira-kira 11.000 tahun SM (Mattulada ; 1998).

Persebaran orang Austro-Melanesoid dari Pulau Irian ke kepulauan yang terletak di sebelah barat daya dan kembali menyebar ke pulau-pulau disebelah baratnya. Demikian pula halnya dengan persebaran orang Austro-Melanesoid yang di Pulau Jawa ke sebelah barat dan utara sampai ke Vietnam Utara. Arus sebaliknya terjadi pula pada penebaran Proto-Mongoloid dari  Kepulauan Jepang melalui Riukyu, Taiwan dan Filipina yang selanjutnya ke Sulawesi. Kemudian terjadilah percampuran ras dan kebudayaan, maka itulah kiranya yang menjadi masyrakat pertama di Sulawesi Selatan yang terjadi antara tahun 1000 sampai tahun 2000 SM (Mattulada ; 1998).

Sekiranya kemudian ada yang menanyakan, ; “Siapakah nama nama manusia pertama di Sulawesi Selatan ?”. Wahai, kenapa terlalu jauh pertanyaannya ?, pasti demikianlah keluhku. Menanyakan penduduk pertama di Sulawesi Selatan, padahal “ayah kakek buyutnya sendiri belum tentu diketahuinya dan takkan pernah ditanyakannya”. Namun sudahlah, kiranya penuturan inipun akhirnya tiba pada perihal Tomanurung dan To Tompo, leluhur Raja-Raja di Sulawesi.

Hampir setiap kerajaan di Sulawesi memiliki kronik perihal berdirinya kerajaan dan raja/ratu pertamanya dan turunannya. Mereka yang adalah penguasa awal di negeri itu disebutnya sebagai “Tomanurung” (orang yang turun dari langit) atau pun “To Tompo” (orang yang muncul dari dunia bawah).

Mereka adalah para tokoh yang “disifatkan” sebagai “dewata” yang turun ataupun muncul ditengah masyarakat untuk mengakhiri masa kacau balau yang dikenal sebagai “SianrE BalE” (saling memakan bagai ikan). Maka hal ini, menurut hemat penulis, semoga kiranya berhubungan dengan sosok sebagaimana disebutkan Kitab Suci Al Qur’an sebagai “Ulul Albab” (peringatan bagi orang-orang yang berpikir). Bahwa Allah SWT berfirman :  “Yu’til khikmata man yasyaa’, wa man yu’tal khikmata faqod uutiya khoiron katsiro, wa maa’ yazzakkaru illaa ulul ‘albaab” (QS. Al Baqarah ; 269), artinya : Dianugerahkan Al Hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi Al Hikmah itu, ia benar-benar telah dikaruniai anugerah yang banyak. Dan hanya orang berakallah yang dapat mengambil pelajaran. Kiranya itu pula janji Allah SWT bagi hamba-Nya yang berilmu pengetahuan.

Mereka para Ulul Albaab dalam kronik pada banyak negeri di Sulawesi Selatan itu menyebutkan banyak To Manurung dan To Tompo, diantaranya :

- La Toge’langi Batara Guru “La Mula Tau” Sunge’ ri Sompa Aji Sangkuruwirang, ManurungngE ri Tellampulaweng Pajung ri Luwu I, menikah dengan We Nyilli’ Timo SolasinrangempEro Dinulu WElompEloja I Mata Timo Tompo’E ri Bussa Empo,

- TurubElaE “Laurempessi” ri Coppo’mEru ManurungngE ri Sawammegga Datu Tompotikka I, menikah dengan We Padauleng ManurungngE ri SingkiriwEro,

- Aji ri Sompa La Tenriangke’ Batara IlE ri Taliungna Langi ManurungngE ri Tellampulaweng Datu Cina I (versi I La Galigo), menikah dengan We Tenri Bilang,

- Tejjo ri Sompa LettEmangkella I La Toliung Tompo’E Batara WEwang Sumange’rukka PajumpongaE ri WEwangriu, menikah dengan ManurungngE Polaleng TojampulawengngE,

- La Raullangi To Sadangpotto ManurungngE ri Timpalaja, menikah dengan PolalengngE Ajuara Lallo ri Tungo,

- Simpurusiang ManurungngE ri Lompo, Datu Cina (pasca I La Galigo),

- Simpurusiang Salinrunglangi Mutia Kawa Opunna Ware’ ManurungngE ri Awo Lagading Pajung ri Luwu III, menikah dengan We Patyanjala Tompo’E ri Bussa Empo (pasca I La Galigo),

- La Matatikka Tompo’E ri Buakkajeng, menikah dengan Linge’ Manasa Ana’na MAnurungngE ri Sawitto,

- Pong Mulatau ri Rura,

- Tokombong di Wura’ menikah dengan To WissE di Tallang,

- Puang Tamboro Langi  “Datu Matampu” To Matasa’ ri LEpongna Bulan Tomanurung ri Kandora’ menikah dengan Puang Sandabili’ Tumanurung ri Kairo,

- Puang Tandilino Tobanua Puang ri Sarumbano – Marinding,

- Puang ri Ranri’ Tumanurung ri Sanggalangi,

- AEng ri Massila Tumanurung ri Salu’putti,

- AEng ri SEsEan Tumanurung ri SEsEan,

- Batara Kassa’ Tumanurung ri Kassa’,

- Londo DEwata Tumanurung ri RantE Bulawang,

- Puang Wellangrilangi Tomanurung ri Bambapuang,

- NEnE’ Matindo Dama PakE Lalona ri Duri I, menikah dengan Cirinna Sambo Langi,

- La Patongai To Pasaja Timpa’E Tana, menikah dengan Puatta ri PalisuE,

- Guru La Sellang Puang Palipada Tomanurung ri Palli Posina Kaluppini,

- La Temmalala’ ManurungngE ri Sekkanyili’, Datu Soppeng I meneikah dengan We Temmapupu ri Suppa,

- La MammatasilompoE ManurungngE ri Matajang Mangkau ri Bone I, menikah dengan We Mattengnga Empo ManurungngE ri Toro’,

- La BungEnge’ ManurungngE ri Bacukiki, menikah dengan We Teppulinge’ Tompo’E ri La Waramparang,

- Tumanurungnga ri TamalatE Sombayya Gowa I, menikah dengan KaraEng Bayo KaraEngta TurijE’nE,

- Uru Tau (Musinigaya Muranawa),

- KaraEng BEnEa Punta Dolangan Tumanurungnga ri Onto,

- ManurungngE ri Lampulungeng,

- ManurungngE ri Timpengeng,

- La Mallibureng ManurungngE ri Lowa, Addaoang Sidenreng I,

- Pancabilukka KaraEngta Sanrobone I,

- Puang ri SompaE ManurungngE ri AkkajangngE Lura MarajaE Sawitto,

- Puang ri Bulu Puang ri Cempa,

- ManurungngE ri Jangang-JangangngE,

- Indra Baji’ KarE’ Layu’ Tusanga Kalabbiranna,

- La Ulawu Tau ManurungngE Datu Lonra,

- ManurungngE ri Tanra Lili,

- ManurungngE ri Patila,

- …..masih banyak lagi yang lainnya.

Para tokoh Manurung dan Tompo yang mengawali terbentuknya kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan dan Barat tersebut, pada umumnya terjadi diantara Abad XIII – XIV. Mereka dipandang sebagai sosok luar biasa yang memiliki “ kerre’ “ (Karomah) sebagai landasan ligitimasi kepemimpinannya, salahsatunya adalah : Maddara Takku (berdarah putih bagai getahnya pohon takku). Hal ini telah dibuktikan oleh seorang peneliti Eropa yang berkunjung ke Luwu dan menemukan seorang Bangsawan Tinggi Luwu yang bersedia ditusuk jarinya dan darah yang mengucur dari luka itu adalah benar-benar seputih susu (Pelras : 1996).

Prihal “kerre’” ini kemudian dibahas oleh Dr. Shelly Errinton yang mendapati perbedaan kepemimpinan awal dalam sejarah Eropa dan Sulawesi Selatan. Bahwa di Eropa, kepemimpinan seorang tokoh dilegitimasi oleh kekuatan militer, sementara di Sulawesi Selatan dilegitimasi oleh kesucian tokoh atau kerre’ yang dimilikinya. Seorang pemimpin dipandang suci karena kepemimpinannya adalah harapan kemakmuran bagi negerinya, sesuatu yang menyerupai system Teokrasi.
Keberadaan To Manurung dan To Tompo dibuktikan oleh fakta-fakta yang ada, sebagai berikut :

1. Kronik
Pelras (1996) mengemukakan, bahwa hamper semua kerajaan Bugis dengan seluruh daerah bawahannya hingga ke tingkat paling bawah memiliki kronik sendiri. Tradisi penulisan naskah yang kemudian disebut sebagai “Lontara” itu berisi mengenai catatan rinci mengenai silsilah keluarga, wilayah kerajaan, catatan harian serta catatan lain yang dipandang penting, misalnya : daftar kerajaan bawahan serta naskah perjanjian bilateral maupun intra-kerajaan sendiri, yakni antara penguasa dan rakyatnya.
Lebih lanjut beliau menguraikan pula, bahwa Kronik Bugis-Makasar dipuji oleh Ilmuwan Barat sebagai sesuatu yang objektif dan bisa diandalkan kebenarannya. Hal itu, paling tidak berlaku untuk catatan mengenai periode 1400 Masehi dan seterusnya. Saat kronik tersebut ditulis berdasarkan dokumen dan peristiwa nyata yang terjadi pada saat itu.

2. Regalia
Seorang tokoh Tomanurung dan To Tompo senantiasa meninggalkan benda-benda pribadinya yang kemudian menjadi Regalia (Kalompoang/Arajang) pada negerinya. Benda-benda pusaka itu masih dapat dilihat sampai kini, diantaranya :
- DokE Pakka (Bessi PakkaE) di Luwu, peninggalan ManurungngE La Toge’langi Batara Guru,
- La Bunga Waru, peninggalan ManurungngE La Toge’langi Batara Guru,
- Sudanga, peninggalan KaraEng Bayo,
- La’lang SipuEa, peninggalan Manurungnga ri TamalatE,
- La TEakasi, peninggalan La Matatikka Tompo’E ri Buakkajeng,
- BElua’ ManurungngE, rambut ManurungngE ri Sekkanyili’,
- Dll..

3. Legenda Tempat
Daerah-daerah yang dinamai oleh ManurungngE dan Tompo’E masih ada bertebaran di seluruh kawasan Sulawesi Selatan dan Barat hingga saat ini.

4. Gaukeng (tradisi)
Tradisi yang diajarkan oleh ManurungngE dan Tompo’E masih lestari pada kalangan-kalangan tertentu hingga saat ini, misalnya : Alu’ Todolo, Tolotang, Patuntung, dll.

5. Keturunan
Keturunan para ManurungngE dan Tompo’E yang banyak bertebaran di Sulawesi Selatan dan Barat hingga kini masih ada yang dibuktikan dengan pelestarian ke-empat hal diatas.

Adalah hal yang kemudian menjadi penguat dalam memahami hakekat keberadaan para ManurungngE dan Tompo’E, yakni berkat wejangan Puekku Prof. Dr. Andi Ima Kesuma, M.Pd. kepada kami, : “..pahamilah bahwa hakekat Orang Luwu sejak Sawerigading hingga saat ini masih tetap ada, tapi nanti dia dicari barulah dia akan muncul..”.

Nun wal Qolami wamaa yasturuun, Wallahualam Bissawab.

Daftar Bacaan :
1. Andi Zainal Abidin, Prof. Mr. Dr. ; 1985, Bandung, Alumni;
2. Andi Mattulada, Prof. Dr, ; 1998, Makassar, Universitas Hasanuddin Press;
3. Christian Pelras ; 2006. Manusia Bugis, Jakarta, Nalar bekerjasama dengan Forum Jakarta-Paris;
4. Shelly Errinton, Dr : 1977. Makalah ; Siri, Darah dan Kekuasaan Politik Di Dalam Kerajaan Luwu Zaman Dulu, Ujung Pandang, Majalah Bingkisan Sulawesi Selatan Tahun I-II.

Senin, 18 Juni 2012

SEMPUGIKU
  By. La Oddang

..adalah suatu semangat kebersamaan dalam suatu kerangka “Pangadereng” yang berlandaskan “Siri na PessE” atau “Siri na PaccE”. Maka “Sempugi” adalah wawasan pemersatu bagi segenap suku bangsa yang memaknai kedua azas itu, mereka adalah : To Luwu, Toraya,To Menre’, To Mankasara, To Duri, To Enrekang, To Silaja, To Ugi dan lainnya.. (Pokok Pikiran Mattulada dalam Sejarah, Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan).
…………………………………………………………………………………………………


Tanpa bermaksud menggali lebih jauh perihal sejarah awal mulanya dan batas pokok pikirannya, namun inilah sekelumit kesamaan yang saya lihat pada orang-orang Sulawesi Selatan dan Barat, yang oleh Pakar Mattulada menyebutnya sebagai “Sempugi”.

I. ORANG-ORANG YANG MEMBINGUNGKAN

Setidaknya demikian kata beberapa teman saya yang datang dari Australia. Mereka menyebut “kata ganti orang” dengan tidak begitu tegas, padahal bahasa mereka pun memiliki struktur yang jelas, misalnya :

- Iya’ (Bugis), InakkE (Makassar). Namun sehari-hari mereka jarang menyebutnya demikian, utamanya dalam hal petunjuk “kepemilikan”, contoh : Idi’ (Bugis) yang harfiahnya adalah “anda” atau “kita”, namun dapat diartikan sebagai “saya atau kami”. Kemudian berkembang pada kepemilikan, dapat dianggap sebagai hal yang agak kasar jika menyebut “Manu’ku” (ayamku). Terdengar sangat “personal” (ke-Aku-an) bagi lawan bicaranya. Maka adalah hal yang dianggap halus jika menyebutnya : “Manu’ta” (ayam anda atau ayam kita bersama) atau “Manu’E mua” (ayam kita juga), walaupun sesungguhnya itu mutlak milik pribadinya.

Namun tentu saja etika bahasa itu tidak sertamerta berlaku untuk semua ke-pemilik-an. Pada beberapa hal tidak dipermaknakan demikian, mengingat nilai sacral Siri yang melingkupinya, misalnya : BainE (isteri). Tidak akan pernah dikatakan “bainEta” (Maaf ; Istri kita bersama), melainkan dengan pengungkapan yang lebih akrab, misalnya : Ipaata’ (Ipar Anda) atau Indo’na AnaurEta (Ibu keponakan anda) atau ToribolaE (orang dirumah).

Maka kemudian, jika seorang “Sempugi” bertutur Bahasa Indonesia, kerap membingungkan bagi orang-orang dari luar pulau. Akan mudah ditebak jika ia adalah Orang Sulawesi Selatan ketika berbahasa Indonesia, misalnya : “Bagaimana KITA tahu jika La Baco sedang berada di Surabaya ?”. Padahal maksudnya : “Bagaimana ANDA tahu jika La Baco sedang berada di Surabaya ?”.

Pada semua penutur bahasa di Sulawesi Selatan dan Barat, mereka menyebut kepemilikan “basa basi” itu dengan akhiran “ta” atau “a”dibelakang kata benda atau kata ganti orang yang dimaksudkannya. Misalnya : Kampongta (Bugis), Ballaka (Makassar), Sitondo’ta (Toraya), atau lainnya. Semua itu adalah menandakan sebagai semangat kebersamaan, sebagaimana diungkapkan : Tania Tolaing atau TEai TomaraEng (bukan orang lain..). Hal yang menunjukkan sebagai pertanda keakraban.

- Orang Sulawesi Selatan dan Barat (baca : Sempugi) adalah bangsa yang amat mudah “tersentuh” (peka) terhadap persoalan  makanan dan minuman. “Agaga muttama ri wettangngE” (sesuatu yang masuk dalam perut). Maka adalah hal terlarang oleh “Siri PessE” untuk menghitung-hitung pemberian terhadap orang lain jika itu menyangkut makanan dan minuman. Memberi atau menjamu makan minum kepada tamu dianggap sebagai suatu kewajiban prikemanusiaan. Ia memberi  tanpa harus bertanya dulu kepada orang dijamunya, misalnya : “Sudah lapar, ya ?” atau “Mau makan apa ?” atau pula “Mau minuman panas atau dingin ?”. Kalaupun ditanya, pastilah dijawabnya dengan agak kesal dan malu, : “Agi-agi, idi’mua bawang..” (Sembarang, terserah anda..).

- Menghargai dengan mengenakan topi atau penutup kepala. Terbalik halnya dengan Eropa yang membuka topi dihadapan orang yang dihormatinya. Maka terkadang orang luar Sulawesi Selatan dan Barat agak heran jika bertemu dengan seorang Sempugi yang berjabat tangan seraya meletakkan tangan kirinya diatas kepalanya (jika tidak mengenakan penutup kepala). Pertanda : Ujujungki ri assipakalebbirengta (saya menjunjung anda dalam rangka saling memuliakan).


II. ORANG-ORANG YANG BERTENGGANG RASA

Pada suatu majelis (forum), didapati seseorang yang amat bersemangat mengutarakan pendapatnya. Disela-sela presentasi itu, kadang-kadang ia balik bertanya pada seorang Sempugi disampingnya, “Maga tasedding ?” (bagaimana menurut pendapat anda ?). Maka Sempugi itu akan tersenyum seraya menyahut : “iyE’” (iya), seakan membenarkan. Padahal sejujurnya, pendapat itu “agak” sedikit berbeda dengan pendapatnya sendiri. Namun ia menahan diri untuk tidak menyanggah dengan pendapat berseberangan, demi menjaga perasaan dan SIRI  Sempugi-nya tersebut. “NarEkko sisala cEddE’mi, imonripi naripasilolongeng..” (kalaulah cuma berselisih sedikit, nantilah belakangan dipertemukan..), demikian kira-kira pikirnya.

Maka amat jarang didapati kata “TIDAK” pada seorang Sempugi. Bahkan jika ia dimintai bantuan akan sesuatu dihadapan umum, maka jawabnya pasti “IyE”, walaupun dirasanya itu agak sulit. “Kalamanna jancimi bawang..” (Walaupun itu sekedar janji..), agar orang yang meminta bantuan itu tidak merasa berkecil hati.


III. ORANG-ORANG YANG BERDARAH PANAS ?

Dianggap gampang naik darah karena mereka adalah orang-orang yang peka. Begitu halus adabnya dengan menghargai martabat dan menjaga perasaan orang lain, maka iapun mudah tersentuh jika dikasari dihadapan orang banyak. “Siri’Engmi na toTau, naiyya Siri’E : Nyawa naranreng, Sunge’ nakira-kira..” (Karena harga dirilah maka kita dinilai manusia, sesungguhnya harga diri itu : pendamping jiwa, hidup yang menjadi taruhannya..).

Sempugi adalah orang-orang yang berkepribadian amat berhati-hati dan mawas diri ditengah masyarakat. “Manini ri collai, nasaba’ pangkaukengna..” (sangat menghindari diperlakukan sembarangan, dikarenakan perbuatannya sendiri..).

Pada suatu waktu, penulis menemani salah seorang junjungan untuk mengurus Pasport dalam rangka perjalanan umroh. Setelah passport itu selesai, saya mengusulkan agar Sang Datu mengurus Kartu NPWP supaya tidak perlu membayar Piskal yang sekira-kira senilai 2,5 juta Rupiah.

“..aja’na kapang, Oddang. NadE’na jE’ gaga jaman-jamangku, pensiunna’ iya’. DE’na na’Engka umakkamaja pajak, agannapi riyala mala kartu pajak ?” (..agaknya tidak usah, Oddang. Saya tidak punya pekerjaan lagi, sudah pension. Maka saya tidak pernah lagi membayar pajak, buat apa lagi mengurus kartu pajak ?), tolaknya.

“EbarE’ dE’nakkamaja piskal DatuE, Puang..” (Agar paduka tidak bayar piskal lagi, Tuanku..), jawabku meyakinkan.

“Wee.. aja’na kasi’. DE’saharo namaEga dui, naEkia taroni iwajaa.. Engka ammani Pagawai Pajak’E mapparEssa lao ri bolaE, nasakke’rupa napadangki’. Tomasiri bawangnatu, natosala mEmeng..” (Wee.. tidak usahlah. Memang kita tidak memiliki uang yang banyak, namun biarlah dibayar.. Nanti pegawai pajak datang memeriksa di rumah, lalu sembaranglah nanti dikatakannya pada kita. Kita akan merasa malu saja, karena memang kita yang bersalah..).

Maka Sempugi sesungguhnya adalah orang-orang yang memagari SIRI dengan “sipakatau” (tenggang rasa) dan membelanya dengan segenap jiwa yang dimilikinya.





Wallahualam Bissawwab..

Sabtu, 19 Mei 2012



BADIK LUWU MABBORI BOJOE, sebuah obrolan malam
                                                                         By. La Oddang

..lagi-lagi sebuah cerita belaka, “caritana La Cado Pappura Ico” yang konon “telluni bola rondang naburu’” (sudah tiga pos ronda yang dirusaknya) sejak menjalani hobbinya yang saban malam mengobrol bersama para peronda kampung.
……………………………………………………………………………………………

Salahsatu benda yang paling dicari dalam era tahun 50-an, adalah “Kawali Makkure’ Bojo” (badik berpamor Bori Bojo) yang juga dikenal luas sebagai “Badik Luwu”. Adalah para “Passompe’ Tana Bare’” (Perantau Bugis ke Sumatera) yang mencarinya. Konon khabarnya, bahkan ada yang dihargai  dengan “siparE’ dare’ Kaluku” (satu parit kebun kelapa ?). Manengkamana soli ???!! (kok sampE segitu mahal ???!!), tanyaku pada La Cado.

Sambil mengisap dalam-dalam lintingan tembakaunya yang sebesar jempol kaki itu, La Cado yang mantan perantau dari Indragiri itu berkisah dengan takzimnya. Bahwa Badik Luwu dengan pamor khasnya yang menyerupai bagian belakang rumah keong (gulungan spiral) itu adalah “cap stempel” Sang Sawerigading sendiri.

Alkisah, pada suatu petualangan pelayarannya, tibalah di selat Malaka dan membuang sauh disalahsatu pantai Pulau Sumatera. Kebetulan pada saat itu persediaan kayu bakar di armada WElenrEngngE sudah sangat menipis. Maka diperintahkanlah beberapa awak kapal untuk merambah pulau besar yang tidak dikenal itu. Maka turunlah mereka untuk “Mala Aju” (mengambil kayu) dengan membawa beberapa ekor anjing.

Setelah beberapa lama, para “Parala Aju” (pengambil kayu)  itu tidak pulang-pulang ke kapal. Agaknya mereka tersesat dalam hutan yang lebat. Setelah ditunggu selama beberapa hari, Sawerigading memutuskan untuk melanjutkan pelayaran. Dititahkannya kepada para “oroE” untuk menarik sauh.

Sementara para “oro” menarik sauh, tiba-tiba kucing kesayangan Sang Opunna Ware’ (Sawerigading) melompat turun ke daratan. Maka Sang Sawerigading memanggil-mangil kucingnya dengan berbagai macam bujukan agar kembali ke kapal. Namun si kucing tidak menggubrisnya. Maka murkalah, Pangeran Manusia Dewa itu. “..maponco’ sunge’ko rEkko mupakkalEjja’ mEmengngi ajEmu ri TanaE Luwu ! “ (..kau akan berumur pendek jika menginjakkan kaki kembali di Tana Luwu !), demikian kira-kira bunyi kutukan itu. Lalu pelayaran dilanjutkan ke samudera berikutnya.

Sejak itu, kucing Sawerigading tinggal beranak pinak di pulau itu dan dikenal sebagai “macang” (harimau). Kemudian anjing-anjing yang turut mendarat bersama awak kapal sebelumnya, kini dikenal sebagai “baruang” (beruang). Adapun halnya dengan rombongan pencari kayu yang tersesat itu kemudian berkembang pula sebagai suku “malaju” (melayu ?), dari asal kata : Mala Aju (ambil kayu). Itulah sebabnya, “Kawali Luwu Mabboribojo” (Badik Luwu) sangat dihargai oleh perantau Bugis di Sumatera. “Sesuatu yang dijadikan sebagai “penjaga diri” karena harimau Sumatera senantiasa segan dan hormat pada pemegang Badik Luwu, pertanda keberadaan pertuanannya”, demikian La Cado mengakhiri kisahnya.

“AwwE, tongengmuaga jE ?! Lontara aga naonroi iyE caritaE ?” (Ah, yang benar aja ?! Lontar apa gerangan yang menulis kisah ini ?), tanyaku gamang. “..dE’to naparellu tasappaa akko Lontara’E. Idi’mua rEkko dE’ tateppeki, dE’namarigaga rialEku, ha ha..” (..gak perlu dicari pada Lontara. Terserah anda sekiranya gak percaya, it doesn’t matter for me, ha ha..), sahut La Cado tergelak sambil mengepulkan asap rokoknya dengan amat santainya… La Cado toongeng ! (dasar La Cado !), kataku, ..dalam hati.

Wallahualam Bissawab.


Kamis, 22 Desember 2011

Kajian Budaya

Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Kerabat pembaca yang saya muliakan.


Bahwa tema "Perempuan Dalam Perspektif Budaya dan Sejarah Masyarakat Sulawesi Selatan" ini menarik untuk dikaji bersama, maka kelanjutan penulisannya senantiasa diedit, kiranya dapat lebih bermamfaat bagi kita sekalian.


Tulisan dibawah ini adalah tulisan yang sama dengan yang terdahulu, namun telah diadakan perbaikan disana sini sesuai kemampuan saya yang amat terbatas. Semoga layak mendapat mendapatkan derma perbaikan lebih lanjut dari segenap pembaca yang budiman, atas budi yang baik dihaturkan terima kasih.


Wassalam.


PARA PEREMPUAN PERKASA DARI PULAU ANGREK


Menjelang menghembuskan nafas terakhirnya, Rasulullahu Shallalaahu Alaihi Wasallam  menitipkan wasiat mulia yang salahsatunya, adalah : ..jaga kemuliaan perempuan. Karena Rasul terakhir tersebut senantiasa mengingatkan bahwa : Perempuan adalah tiang Negara. Kemudian Baginda Ali bin Abu Thalib Karramallahu Wajhah Radiayallahu Anhu berujar tentang perempuan, "..hanya orang mulia yang bisa memuliakan perempuan !.Sedemikian mulianya mahluk yang melahirkan sesamanya yang disebut sebagai perempuan.

Jika sekiranya Dienul Islam begitu menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan, bagaimanapula halnya "riwayat" perempuan dalam khazanah sejarah dan kebudayaan masyarakat Bugis Makassar ?
……………………………………………………………………………………………………

Pada sebuah acara diskusi perihal evaluasi penyelenggaran Pemilu tahun 2004, seorang pelopor kesataraan gender Kota Parepare (baca : Pemberdayaan Perempuan, penulis) begitu berapi-api menyuarakan keterwakilan perempuan yang dinilainya selalu "timpang" dimanapun di Republik ini. Sebelumnya pada setiap kesempatan pertemuan dengan beliau, tiada lain yang disuarakannya selain "penindasan laki-laki terhadap kaum perempuan". Hingga lama-lama penulis bosan juga dan sempat nyeletuk, "Apa gak ada KOMODITI lain sih ?!". Masalahnya, seringkali tema pertemuan pada saat itu tidak relevan dengan persolan kesetaraan gender yang selalu diumbarnya.

Sebenarnya bukan perihal rasa bosan atau tidak bosan mendengar sengitnya pembelaan terhadap kaum yang menurutnya "lemah" itu. Namun apakah benar jika kaum perempuan sesungguhnya lemah ?. "Jika menurut anda bahwa WANITA itu LEMAH sehingga memerlukan payung hukum untuk menjamin keterwakilannya dalam segala hal, maka justru anda sendiri yang MEMARGINALKAN kaum anda !", kataku.  "..karena anda sendiri yang mengasumsikan bahwa wanita sesungguhnya mampu BERSAING dengan laki-laki dalam segala hal, maka buat apa lagi diperlukan Undang-Undang tersendiri untuk melindungi kepentingannya ?. Harap diingat, kesetaraan dalam suatu kompetisi yang adil semestinya  berada dalam ranah hukum dan aturan main yang sama pula..", sambungku jua tak kalah sengitnya.

Akhirnya sayapun "terjebak" pada suatu sudut margin dengan "memperlombakan" dua kaum yang sesungguhnya dikodratkan berpasangan untuk menebar ruh kasih sayang dan rahmat keberlangsungan hidup berperadaban di dunia ini. Lalu bagaimanakah sesungguhnya manusia Bugis Makassar memandang "perempuan" dalam kehidupan masyarakatnya ?

"Makkunrai" adalah penyebutan orang Bugis terhadap gender perempuan dan orang Makassar  menyebutnya sebagai "BainE". Penyebutan "Makkunrai" berasal dari kata "UnrE", yakni sejenis busana rok bawahan yang jika ditambah awalan "ma" dan akhiran "i" sebagai kata kerja, berarti "pemakai rok". Maka bahasa Bugis mencitrakan gender tersebut dari jenis busana yang lazim dipakainya. Namun orang Makassar lebih mebahasakannya dengan lebih "agung" lagi, yakni : "BainE" yang mendekati kata "binE" (benih atu cikal bakal), sehingga dapat dimaknai sebagai "asal atau permulaan". Namun bagaimanapun perbedaan harfiah dan makna terhadap perempuan bagi kedua suku Bangsa terbesar di Sulawesi ini, tetap saja menempatkan perempuan sebagai : puncak martabat kemanusiaanya. Bukan sekedar symbol, melainkan merupakan esensi luhur yang menandai derajat dan martabat dalam suatu rumpun keluarga. Sebagai contoh : suatu keluarga dapat dinilai tingkat strata sosialnya ketika anak gadisnya dilamar dengan jumlah mahar (mas kawin) tertentu.

Bahwa azas "siri na paccE" (Makassar) atau "siri na pessE" (Bugis) dalam artian "Harga diri dan Solidaritas Kemanusiaan" yang menjadi landasan moral dan kehidupan bermasyarakat (baca : Pangadereng, penulis) pada keduanya memiliki keseragaman dalam hal cara pandang terhadap martabat perempuan. Seorang perempuan dalam sebuah keluarga atau bahkan kaum (Appang atau Rapu) Bugis Makassar dipandang sebagai sesuatu yang sakral. Pelecehan terhadap seorang perempuan baik sebagai isteri, anak , saudara, bibi, kemenakan maupun sepupu dalam suatu lingkup keluarga  dari seorang lelaki dianggap sebagai pelanggaran "siri" (harkat, martabat dan harga diri) bagi seluruh anggota keluarganya (tomasiri'na). Maka seketika itu pula bangkitlah naluri "pessE" (solidaritas) bagi semuanya yang tak bisa ditawar untuk membela serta menegakkan "siri" dengan mempertaruhkan segala apapun, utamanya dengan darah dan nyawa. "Naiyya siri'E, nyawa na ranreng" (sesungguhnya harga diri selalu berdampingan dengan hidup), demikian semboyang masyarakat Bugis dan Makassar.

Memandang perempuan sebagai symbol kehormatan suatu keluarga maupun kaum, adalah salahsatu hal yang mendorong budaya "sompa" (persembahan mas kawin) yang teramat mahal sebagai suatu proses tradisi wajib pada suku Bugis dan Makassar sejak dulu sampai sekarang. Seorang laki-laki yang melamar untuk mendapatkan seorang perempuan dari suatu keluarga diwajibkan "massompa" yang dalam pengertian harafiahnya sebagai "penyembahan". Bukan sebagai suatu transaksi "penjualan" sebagaimana sebagian kalangan menilainya dengan sinis, namun lebih merupakan sebagai persaksian atas itikad baik yang sungguh-sungguh dalam menghargai serta MEMULIAKAN perempuan yang akan dipersuntingnya.

Setelah memenuhi segala tata cara dalam proses pernikahan yang panjang, seorang mertua dari pihak lelaki dianggap pula sebagai seorang beradab jika memberi "sangra" (hak penguasaan) pada menantu perempuannya. Penganugerahan "sangra" tersebut dapat berupa tanah perkebunan atau persawahan.
Suami isteri dalam suatu keluarga senantiasa berada pada kesetaraan yang mutlak.

Seorang suami menyebut isterinya sebagai "bainEku" (Makassar) atau "bEnEku / makkunraikku" (Bugis) yang sama-sama berarti : "Perempuanku/Wanitaku". Demikian pula sebaliknya, seorang isteri menyebut suaminya sebagai "buru'nEngku" (Makassar) atau "Lakkaikku" yang sama berarti " Lelakiku". Dengan demikian, keduanya memiliki makna "kepemilikan yang setara" atau saling memiliki. Tidak ada tata cara "cuci kaki" dan cium tangan dalam khazanah adat dan tradisi pernikahan Bugis dan Makassar, demi menjaga taraf kesetaraan suami dan isteri.  Bahkan istilah gundik atau isteri simpanan tidak ada dalam perbendaharaan kata Bahasa Bugis dan Makassar.

Walaupun tidak menganut sistim matrilinear sebagaimana halnya pada Suku Minangkabau, sejarah Bugis dan Makassar serta semua suku bangsa yang ada di Sulawesi Selatan dan Barat mencatat RIBUAN "Ratu" yang pernah hidup sebagai penguasa tertinggi dalam suatu kerajaan.  Selain sebagai  Ratu, banyak pula yang berkiprah sebagai panglima perang yang ditakuti lawan dan disegani kawannya. Mereka para perempuan luar biasa itu mengukuhkan diri pada panggung sejarah sebagai pribadi agung yang dikenang dan dikagumi sepanjang masa, antara lain yang dapat menjadi catatan penulis, sebagai berikut :


Periode I Lagaligo

Walaupun merupakan sebuah epos, sastra I Lagaligo merupakan cerminan karakteristik dan pola berpikir masyarakat Bugis di masa menjelang fajar Pagi sejarah Sulawesi Selatan pada umumnya (meminjam istilah Prof. Dr. H. A. Mattulada Alm.).

Motif tradisi yang mengapresiasikan pola pikir masyarakat Bugis pra-Islam sangat jelas tergambar pada plot serta tokoh-tokohnya, sehingga sangatlah sulit memilah antara unsur mytologi dan unsur sejarah didalamnya. Mengingat tema tulisan ini, kiranya tidaklah terlalu berlebihan jika mencantumkan tokoh-tokoh perempuan yang menonjol dalam epic I La Galigo yang dipandang sebagai sumber inspirasi para perempuan perkasa yang terukir indah pada dinding sejarah "Pulau berbentuk Angrek" bernama : Sulawesi .


1. We Tenri AbEng Bissu ri Langi DaEng Manuttek

Tokoh sastra klasik I Lagaligo yang merupakan saudara kembar Sawerigading, tokoh utama epos tersebut. Gelar "Bissu ri Langi" yang disandangnya karena beliau merupakan Kepala Pendeta bagi para Dewata yang menghuni khayangan. Selain itu, beliau pula adalah "permaisuri" yang bertahta di Botinglangi (puncak tertinggi Kerajaan Khayangan) karena diperisteri oleh "Remmang ri Langi".

Sebagaimana dikisahkan, walaupun Sawerigading adalah kakak We Tenri AbEng, namun Maharaja para ksatria bumi tersebut tetap "menyembah" kepada adik perempuannya  tersebut dalam kedudukannya sebagai manusia dan dewata. Berbagai permasalahan Sawerigading segalanya dimintai solusi kepada We Tenri AbEng yang digambarkannya sebagai "Dewi Kebijaksanaan".


2. We Cudai' DaEng ri Sompa Punna BolaE ri LatanEtE


Tokoh Sastra I La Galigo pula, yakni Puteri La Sattungpogi Datu Cina yang dilamar untuk dipersunting oleh Sawerigading. Namun disebabkan suatu hal, ia menolak dipersunting oleh Sawerigading, walau ayahanda dan segenap keluarganya telah menerima pinangan itu. Namun karena penghargaan seorang ayah yang juga adalah raja terhadap "hak azasi" seorang puteri yang telah dinobatkannya sebagai "Punna BolaE ri LatanEtE" (Penguasa Istana LatanEtE), maka dengan terpaksa "membatalkan" pernikahan itu yang mengakibatkan negerinya nyaris hancur lebur diperangi Sawerigading dan pasukan Luwunya.


3. We Tadampali Arung Masala Uli'E

Puteri Pajung ri Luwu La Busatana Datu MaongngE  yang terkena penyakit lepra akibat kutukan Dewata disebabkan penerimaan lamaran Putera Mahkota Kerajaan Bone atas dirinya. Akhirnya beliau dihanyutkan dalam sebuah rakit bersama dengan segenap pengiringnya, hingga terdampar di Negeri "Tosora" kemudian membuka pemukiman baru pada kawasan tersebut. Oleh sebagian kalangan, peristiwa terdamparnya Sang Puteri Luwu di Tosora yang banyak ditumbuhi pohon "Wajo-Wajo" adalah cikal bakal berdirinya Kerajaan Wajo, salahsatu Kerajaan Bugis terbesar.


4. KaraEng Tompo ri Pujananti

Isteri I La Galigo Topadammani  Lenne’pujiE Pajung Lolo ri Cina (Putera SawErigading dengan We Cudai Dg. Risompa) yang dipersuntingnya dalam muhibah perangnya ke Negeri Pujananti. Beberapa bulan setelah menikah, I Lagaligo bertolak ke Cina dengan meninggalkan KaraEng Tompo dalam keadaan mengandung di Pujananti. Setelah kepergian suaminya,  Sang puteri Pujananti ini melahirkan La Mappanganro yang pada akhirnya menyusul pula ayahandanya (I Lagaligo) ke Negeri Cina.

Setelah bertahun-tahun tanpa menerima khabar dari anak dan suaminya, KaraEng Tompo bertolak ke Cina dengan menyamar sebagai laki-laki. Ia bersama pasukan Pujananti mengamuk di Cina hingga hampir saja menaklukkan negeri itu, tanpa dikenal oleh I Lagaligo sendiri. Namun berkat kebijaksanaan Sawerigading yang mendapatkan wangsit dari We Tenri Abeng, maka KaraEng Tompo dan pasukannya menghentikan amukannya  dengan suka rela.

KaraEng Tompo adalah penggambaran seorang ksatria wanita yang dapat disamakan dengan tokoh “Srikandi” dalam kisah pewayangan Mahabharata. Seorang perempuan yang menuntut bela martabatnya sebagai isteri yang disia-siakan oleh suaminya.


Periode Sejarah

Masa realistis, dimana para tokoh perempuan ini tercatat dalam sejarah Sulawesi Selatan dengan kiprahnya yang luar biasa, sehingga mampu menempatkan namanya sejajar dengan tokoh lelaki manapun di negeri ini.


1. ManurungngE ri TamalatE Tunisombayya ri Gowa I

Hidup pada abad XIV M yang menandai lahirnya kerajaan-kerajaan besar di Sulawesi Selatan setelah periode I La Galigo. Beliau adalah Raja Gowa I yang juga sebagai  pendiri Kerajaan Gowa , dimana  sebelumnya terdiri dari 9 Kerajaan lokal (BatE Salapang).

Sang Ratu dipersunting oleh KaraEng Bayo yang juga digelar "KaraEng TurijE'nE" karena kedatangannya yang luar biasa, yakni timbul dari samudera. Pernikahan keduanya melahirkan keturunan yang turun temurun menjadi Raja Gowa selanjutnya  hingga sekarang.


2. We Batari Tungke' (Sultanah Fatimah) Petta MatinroE ri Pattiro Pajung ri Luwu XXII


Beliau adalah "perempuan" pertama yang dinobatkan menjadi "Pajung Luwu" (Raja Luwu), Kerajaan tertua dan paling dipandang mulia di jazirah Sulawesi. Sang Ratu adalah puteri  La Onrong Topalaguna Petta MatinroE ri Langkanana Pajung XX dengan We PattEkE Tana . Pernikahannya dengan sepupu sekalinya, yakni : La Rumpangmegga TosappEilE Opu Cenning Luwu, melahirkan putera puteri yang juga adalah tokoh besar Sulawesi setelahnya. Mereka adalah : La Oddang RiuDaEng Mattinri' "Sultan Fachruddin" Datu TanEtE Datu Soppeng XXIII dan We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang Pajung ri Luwu XXIII-XXV.



3. We Tenri LElEang "Sultana Aisyah" Datu TanEtE, Petta MatinroE ri SorEang Pajung ri Luwu XXV – XXVII

Terlahir pada paruh ketiga abad XVII dan wafat pada pertengahan abad XVIII (1750), kiranya tidaklah berlebihan jika penulis beranggapan bahwa tokoh perempuan yang satu ini adalah titik sentral silsilah yang memperhubungkan garis keturunan para Raja Besar di Sulawesi, Sumatera (Riau) dan Malaka. Baginda Ratu melahirkan keturunannya yang terdiri dari para Raja dan Ratu perkasa, sehingga mendominasi percaturan politik di Asia Tenggara pada abad XVIII hingga kini.

Ratu We Tenri lElEang adalah seorang pemimpin yang adil dan bermartabat. Hal ini dibuktikannya ketika salah seorang puteranya yang gemar melanggar adat, dijatuhinya hukuman "Ripaoppangi  Tana" (diusir dari wilayah kerajaan dan tidak boleh kembali selamanya). Tidak cukup sampai disitu, sebagai pertanggungjawaban atas kesalahan puteranya, beliau mengundurkan diri sebagai Pajung Luwu.

Sebagai pengganti  kekosongan tahta Luwu pasca pengunduran diri We Tenri LElEang, dinobatkanlah pamannya sendiri (saudara seayah Ibunda We Tenri LElEang), yakni : La KasEng Tosibengngareng Petta MatinroE ri Kaluku BodoE. Namun tidak lama memerintah, Baginda wafat. Maka We Tenri LElEang diminta kembali untuk menduduki singgasana Luwu.

Selama hidupnya, We Tenri LElEang menikah sebanyak dua kali. Pernikahannya dengan La Mappasiling (La Mappasali, La Mappaselli) Datu Pattojo Petta MatinroE Duninna, melahirkan : La Mappajanci Datu SoppEng XXVII dan We Tenri Abang DaEng Baji DatuE Watu. La Mappajanci Datu SoppEng XXVII menikahi sepupu sekalinya, yakni : I Sabong (puteri La Oddang Riu DaEng Mattinri' "Sultan Fachruddin" Datu TanEtE Datu SoppEng XXIII), melahirkan I MEnengratu Arung Lipukasi. Adapun halnya dengan We Tenri Abang DaEng Baji DatuE Watu, beliau dinikahkan dengan La Pallawagau' Arung Maiwa Datu Pammana Pilla ri Wajo, melahirkan 2 puteri, yakni : I Sompa DaEng Sinring Datu Pammana dan We Tenri Balobo DaEng RiyasE Datu Pammana.

I Sompa DaEng Sinring Datu Pammana telah menikah sebanyak dua kali pula. Dari suaminya yang bernama : La Settiang Opu Maddika Bua, beliau melahirkan I Nomba Petta Mabbola SadaE Datu Pammana (isteri Muhammad Arsak Petta CambangngE) dan La Patarai Opu Lamunreng. Maka dari garis inilah, keturunan We Tenri LElEang beranak cucu sebagai para penguasa Kerajaan Bone, Aja Tappareng, Pammana hingga Arung Matoa Wajo.

Kembali pada We Tenri LElEang, dari pernikahannya dengan La Mallarangeng Datu Datu Lompulle' Datu Marioriawa Datu TanEtE, melahirkan : La Maddusila Datu (KaraEng) TanEtE. Kemudian  La Maddusila  melahirkan Opu Tenri Borong DaEng ri LEkke', maka inilah yang melahirkan "Opu Lima", cikal bakal para Sultan di Mempawah (Kalimantan), Riau (Sumatera) dan Negeri Semenjung di Malaysia hingga kini.

Putera puteri lain We Tenri LElEang dengan La Mallarangeng adalah : We Batari Toja  (I Wakkang) DaEng Matana Datu Bakke' (isteri La Tenri Peppang DaEng Paliweng Petta MatinroE ri Sabbangparu Pajung ri Luwu XXVIII, anak La KasEng Tosibengngareng) maka dari garis inilah yang meneruskan trah kesultanan Luwu hingga kini. Kemudian putera  We Tenri LElEang yang lainnya adalah : La Tenri Sessu' Arung Pancana Opu Cenning Luwu memperisterikan We Tenri Lawa BessE PEampo, melahirkan : La Makkarakalangi Baso Tancung Datu Marioriawa (ayahanda La Koro Batara Wajo Arung Padali Arung Matoa Wajo XLI).


4. Batari Toja DaEng Talaga "Sultana Zaenab Zakiyatuddin" Petta MatinroE ri Tippulunna  Arung Timurung, Mangkau' ri Bone XVII- XXI, Pajung ri Luwu XXI, Datu Soppeng XXII-XXIV.

Mendapatkan warisan berupa tanggung jawab besar menjadi penguasa ketiga Kerajaan Utama di Sulawesi Selatan, kiranya bukanlah perkara mudah bagi siapapun yang hidup di permulaan abad XVIII atau dimasa kini sekalipun. Namun seorang perempuan pada masa itu terbukti mampu mengemban tanggung jawab itu, walaupun dengan "mengorbankan " kehidupan cintanya yang penuh intrik politik akibat wewenang kekuasaannya yang begitu besar. Konon ia menikah sebanyak tujuh kali tanpa memperoleh keturunan. Perempuan agung itu, adalah : We Batari Toja DaEng Talaga.

Batari Toja adalah puteri La Patau Matanna Tikka "Sultan Alimuddin Idris" Arung Palakka, Petta Ranreng Tuwa Wajo, Mangkau' ri Bone XVI Petta MatinroE ri Naga Uleng dengan We Yummung (Tenri Ummung) Datu Larompong Petta MatinroE ri Bola Jalajja'na (puteri Sattia Raja Pajung ri Luwu XX).

Dalam tahun 1704, Batari Toja dinikahkan dengan Mas Madina Sultan Sumbawa, demi memenuhi pesan paman kakeknya, yakni : La Tenri Tatta DaEng SErang Petta MalampE'E Gemme'na (Petta TorisompaE Datu Tungke'na Tana Sempugi) semasa hidupnya. Namun pernikahan tersebut tidak berlangsung lama karena keduanya resmi bercerai tanpa anak pada tanggal 27 Mei 1708. Kemudian sesuai dengan wasiat ayahandanya sebelum meninggal, Batari Toja dinobatkan sebagai Mangkau ri Bone XVII pada tanggal 19 September 1714.

Tidak lama setelah menduduki tahta Mangkau' Bone, Batari Toja dinobatkan lagi menjadi Pajung ri Luwu, menggantikan kakeknya (Sattia Raja) yang telah wafat. Hal ini sesuai dengan perjanjian Petta TorisompaE dengan Sattia Raja ketika menikahkan (La Patau dengan We Yummung) agar keturuan keduanya nantilah yang dinobatkan sebagai Pajung Luwu. Kemudian tidak lama pula setelah peristiwa itu, Batari Toja dinobatkan pula sebagai Datu Soppeng. Maka jadilah ia sebagai "Wanita paling berkuasa" diseluruh Sulawesi pada masa itu.

Namun agaknya menjadi penguasa 3 Negeri bukanlah hal yang mudah. Begitu banyaknya pihak yang meronrong kekuasaan itu didasari berbagai kepentingan. Akhirnya kurang dari setahun memangku jabatan, Batari Toja tidak tahan lagi dan meletakkan ketiga jabatannya. Beliau kemudian pindah menetap di Gowa dalam perlindungan saudara seayahnya yang menjadi penguasa Gowa, yakni : La ParEppai TosappEwali "Sultan Ismail" Petta MatinroE ri Somba Opu Sombayya ri Gowa (putera La Patau' Matanna Tikka dengan I Mariama KaraEng Pattukangan).

Adapun halnya dengan tahta Bone dan Soppeng, sebelum meninggalkan Tana Bone, Batari Toja menyerahkan kepada adiknya, yakni : La Padassajati Toappaware' Petta MatinroE ri BEulang (saudara kandung La ParEppai TosappEwali) yang dilantik pada tanggal 14 Oktober 1715. Namun tahun menduduki tahta, Baginda La Padassajati  dimakzulkan pula akibat ulahnya yang menyuruh pemberaninya untuk membunuh La Cella' Arung Ujumpulu Datu Lamuru. Akhirnya La Padassajati menyingkirkan diri ke BEulang hingga wafatnya.

Sebagai pengganti La Padassajati, dinobatkanlah La ParEppai TosappEwali "Sultan Ismail" Petta MatinroE ri Somba Opu yang juga Ex Somba ri Gowa sebagai Mangkau Bone dan Datu Soppeng. Sebelumnya Baginda meninggalkan tahta Gowa karena politik BatE Salapang Gowa (akibat politik adu domba Belanda) yang menghendaki pewaris tahta Gowa yang "murni" berdarah Gowa dari garis ayah. Namun rupanya beliau hanya mampu memerintah selama 3 tahun pula, yang pada akhirnya meninggalkan Tana Bone menuju ke Somba Opu (Ibu Kota Kerajaan Gowa) hingga wafatnya.

Sepeninggal La ParEppai, dinobatkanlah saudaranya yang lain bernama : La Panaongi Topawawoi Arung Mampu Arung Sijelling dalam tahun 1721. Walaupun Baginda seorang Raja yang cakap serta dicintai oleh rakyatnya, namun 3 tahun kemudian beliau memilih meletakkan jabatannya seraya menyerahkannya kembali kepada kakaknya, yakni : Batari Toja DaEng Talaga.

Maka Batari Toja kembali menduduki tahta Bone dan Soppeng. Pada masa itulah, beliau menikah lagi dengan seorang pangeran yang merupakan sepupu tiga kalinya, yakni : La Oki. Namun karena La Oki menikah pula dengan seorang perempuan bangsawan bernama : We Tungke (puteri La Paulangi Petta Janggo'E), maka sang Ratu "menceraikan" suaminya tersebut dan " lagi-lagi " tidak memperoleh anak.

Pada tahun 1716, Ratu Batari Toja menikah untuk ketiga kalinya dengan Daeng Mamuntu Arung Kaju. Maka untuk  membantunya mengendalikan pemerintahan, beliau mengankat suaminya sebagai "Petta MaddanrengngE ri Bone" (Wakil Ratu). Sementara itu, sebagai "refreshing" akibat permasalahan pemerintahan 2 Negeri yang banyak menyita perhatian, maka Batari Toja lebih sering berdiam  di Jumpandang (Makassar). Namun sepeninggalnya, rupanya Petta MaddanrengngE yang juga suami Sang Ratu berniat merebut kekuasaan isterinya.Mengetahui niat jahat suaminya, Batari Toja "menceraikan" suaminya itu serta mengusirnya dari wilayah Bone dan Soppeng.

5. I Benning  Arung Data "Sultana SalEha Rabiyatuddin"  Petta MatinroE ri Kessi', Mangkau ri Bone XXV (1823-1835)

Seorang puteri yang keras hati, warisan dari kakaknya  yang sebelumnya tidak mau tunduk terhadap kekuasaan asing, sehingga berperang sengit melawan Kolonial Inggris dan Belanda selama 11 tahun.
Nama lainnya adalah : I BaEgo, saudara kandung La Mappasessu Toappatunru Arung Palakka Mangkau ri Bone XXIV (1812-1823) dan La Mappaselling Arung Panyili "SultanAdam Najamuddin" Mangkau ri Bone XXVI. Mereka adalah putera puteri  La Tenri Tappu Toappaliweng DaEng Palallo Petta MatinroE ri RompEgading Mangkau ri Bone XXIII (1775-1812) dengan We Tenripada Petta MatinroE ri Saodenra.

Sang Puteri dikenal sebagai Ratu yang sholeha dan menuntut ilmu Tasauf dengan tekun. Maka selama hidupnya, beliau tidak pernah menikah. Hingga ketika genap setahun setelah dilantiknya sebagai Ratu Bone, tibalah undangan dari Gubernur Belanda di Makassar. Bahwa sehubungan dengan kunjungan Gubernur General Hindia Belanda, Baron Van Der Capellen ke Makassar, maka diharapkan segenap Raja-Raja penguasa Negeri di Sulawesi Selatan untuk turut hadir di Makassar untuk member penghormatan sekaligus merumuskan "Perjanjian Baru" yang merupakan pembaharuan Perjanjian Bongaya yang sebelumnya diprakarsai oleh Admiral Spelman dengan Petta MalampE'E Gemme'na.

Maka pada tanggal 4 Juli 1824, tibalah Gubernur General Baron Van Der Capellen di Makassar. Namun, pihak Ratu Bone yang dianggap paling berperan penting dalam acara penyambutan itu tidak hadir. Baginda Ratu hanyalah mewakilkan kepada saudaranya, yakni : La MappaEwa Arung Lompu selaku pemimpin delegasi dari Kerajaan Merdeka Tana Bone. Kepada utusannya, Sang Ratu membekali pendirian dan sikap politik Tana Bone yang sebagaimana awalnya pada "Perjanjian Bongaya" terdahulu, bahwa Kerajaan Bone "Tana Bone MaradEka", sekutu Pemerintah Hindia Belanda yang SETARA. Sekaligus pula mengingatkan kepada pihak Gubernur General Belanda, bahwa "Arumpone" (setiap Raja/Ratu Bone) adalah PERTUANAN TUNGGAL dan KETUA PERHIMPUNAN RAJA-RAJA Se- Sulawesi Selatan.  Tidak seorangpun Raja di Sulawesi Selatan yang boleh berhubungan langsung dengan Pemerintah Hindia Belanda  kapan dan dimanapun, tanpa sepengetahuan dan ijin ArumponE. Demikian pendirian itu yang dipegang teguh oleh para utusan serta disampaikan dengan penuh sopan santun dihadapan Gubernur General.

Maka sejak kedatangan Gubernur General Baron Van Der Capellen, perundingan berjalan dengan alot selama beberapa hari, tanpa merumuskan suatu kesepakatan yang jelas. Azas-azas baru yang dikemukakan oleh pihak Gubernemen Belanda tidak satupun yang sesuai dengan sikap politik ArumponE I BaEgo melalui utusannya. Bahkan pada kesempatan itu, La MappaEwa Arung Lompu menuding Pemerintah Gubernemen sebagai pengecut yang dulunya semena-mena menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada Pemerintah Inggris tanpa berunding terlebih dahulu dengan Kerajaan Bone selaku Kerajaan Mitra yang setara. Lalu kini setelah Inggris meninggalkan Sulawesi Selatan setelah melalui perang berkepanjangan dengan Kerajaan Bone dan sekutunya, lagi-lagi secara "tidak tahu malu" Belanda kembali kemari dengan serta merta menuntut hak yang justru melampaui azas kesetaraan sebagaimana mulanya !. Bukankah ini merupakan penghianatan ?! Lebih baik berperang !!, pekik Arung Lompu dengan berangnya ketika itu yang disambut dukungan oleh Datu Suppa dan Datu TanEtE.

Melihat pendirian tegas pihak Kerajaan Bone, tiada satupun Raja-Raja Sulawesi Selatan lainnya yang berani memajukan pendirian lain yang mendekati azas yang dikemukakan Belanda. Maka dengan sikap "apa boleh buat", Gubernur General Baron Van Der Capellen memutuskan secara sepihak, antara lain :
1. Kerajaan-Kerajaan kecil Suppa dan TanEtE yang menjadi pengikut setia Kerajaan Bone dalam upaya menentang Belanda dengan ancaman kekerasan bersenjata, kepada keduanya harus diperangi dan ditaklukkan,
2. Tindakan memerangi kepada kedua Kerajaan kecil sebagaimana tersebut diatas dimaksudkan sebagai "peringatan" yang bersifat ancaman (ultimatum) kepada Ratu Bone agar segera merubah sikap politiknya dalam kurun waktu 15 hari setelah maklumat itu diterima.

Namun hanya berselang beberapa hari setelah menerima ultimatum, I BaEgo ArumponE membalas ultimatum itu dengan peryataan yang lebih tegas pula, bahwa "Kemitraan Setara antara Kerajaan Bone dan Kerajaan Belanda adalah HARGA MATI !!!!!!!". serta mengingatkan kembali bahwa Kerajaan Bone adalah ketua perserikatan Raja-Raja se- Sulawesi Selatan (termasuk Sulawesi Barat ketika itu).

Berkenaan dengan sikap Arumpone tersebut, pemerintah Gubernemen Belanda meneruskan perundingan dengan Raja-Raja lain yang bersedia menerimanya. Adapun halnya dengan Arumpone, Gubernemen memberi batas waktu selama 2 bulan serta menyiapkan posisi selaku "anggota tertua" sekiranya dalam tenggang waktu tersebut bersedia bergabung. Maka pada tanggal 27 Agustus 1824, perjanjian yang diberi nama : "Vernieuwd Bongaisch Contract" (Kontrak Bongaya yang diperbaharui) telah dimufakati serta ditutup dengan resmi tanpa kehadiran delegasi dari Kerajaan Bone yang "walk out" terlebih dahulu.

Pada tanggal 17 September 1824, genap empat hari setelah kepulangan Gubernur General Baron Van De Capellen ke Batavia, atas perintah langsung I BaEgo Arumpone Pasukan Kerajaan Bone melakukan penyerbuan ke negeri-negeri Marusu (Maros), PangkajEnE dan lain-lain negeri yang menerima perjanjian pembaharuan dengan Gubernemen Belanda serta dinyatakan oleh Belanda sebagai negeri yang dikuasainya secara langsung. Negeri-negeri itu dibumihanguskan tanpa perlawanan berarti.

Perseteruan I BaEgo Arumpone dengan pihak Gubernemen Belanda menimbulkan pergolakan secara meluas di segenap negeri Sulawesi Selatan serta menimbulkan kegemparan hebat pada petinggi Pemerintah Hindia Belanda di Batavia. Bagaimana tidak, seorang Ratu Negeri yang masih gadis serta memiliki angkatan perang dan pengaruh yang besar telah menyatakan perang terbuka terhadap Belanda dan sekutu-sekutunya. Kemudian bersamaan pula dengan peristiwa tersebut, Pemerintah Hindia Belanda sedang sibuk pula bergelut dalam kancah "Perang Paderi" di Sumatera Barat dan "Perang Diponegoro" di Jawa.

Melihat pengaruh besar pada perlawanan  I BaEgo Arumpone, maka dengan sikap "apa boleh buat" Pemerintah Hindia Belanda memutuskan mengirimkan ekspedisi perang  yang dipimpin oleh Kolonel Bischoff ke Kerajaan Bone yang dalam Historiografi Indonesia disebut sebagai : Ekspedisi Bone-I (1824-1830) serta tercatat pula dalam Lontara Bone sebagai : "Rumpa'na Bone MammulangngE".

Sebelum pemerintah pusat Hindia Belanda di Batavia memutuskan pengiriman ekspedisi, telah terjadi peperangan sengit antara Gubernemen Belanda beserta sekutunya dengan Arumpone beserta sekutunya pula. Berselang tidak beberapa lama setelah keputusan "menghukum" Negeri TanEtE dan Suppa, pihak Gubernemen melancarkan pula serangan balasan dengan mengadakan penyerbuan ke kedua kerajaan kecil tersebut yang dicap sebagai pendukung Tana Bone yang paling loyal.

Penyerbuan ke TanEtE dipimpin oleh Kolonel  H. De Stour  mengalami perlawanan sengit dari lasykar TanEtE yang dipimpin oleh Rajanya sendiri, yakni : La Patau Petta MatinroE ri Salo Moni. Setelah bertempur selama beberapa hari, Baginda La Patau dengan lasykarnya terdesak hebat hingga mengundurkan diri ke pedalaman, maka Kotaraja TanEtE berhasil dikuasai Belanda dan sekutunya. 

Penyerbuan berlanjut ke Kerajaan Suppa. Dibawah pimpinan Letnan (Marinir) Buya serta dibantu pula pasukan dari Kerajaan SidEnrEng dan Barru. Pertempuran itu berkecamuk selama berhari-hari dengan menelan korban yang tidak sedikit pada kedua belah pihak. Pasukan Kerajaan Suppa yang gagah berani serta dibantu pula oleh lasykar Kerajaan Alitta, Sawitto dan Rappang berhasil mematahkan serangan Pasukan Belanda dan sekutunya. Belanda mengalami kekalahan yang parah dengan tewasnya beberapa perwiranya, diantaranya : Letnan Marinir Van Der Velt dan puluhan lainnya serta ratusan prajurit Eropa yang terluka parah. Maka Pasukan Belanda mengundurkan diri kembali ke Makassar sambil membawa malu.

Adapun halnya dengan Kolonel  H. De Stour , beliau memimpin penyerangan ke kamp-kamp pertahanan pasukan Bone yang bergabung dengan pasukan TanEtE dibawah pimpinan La Patau Datu TanEtE di kawasan sebelah utara Kota Makassar (Maros dan PangkajEnE). Dalam penyerangan itu, pasukan Belanda dibantu oleh pasukan Gowa, GalEsong, Simbang, Tanralili dan SanrobonE dibawah pimpinan Pangeran Mahkota Kerajaan Gowa, yakni : I Malingkaan DaEng Manyonri KaraEng Katangka. Namun kenyataan yang terjadi, tidak seperti yang diprediksikan semula, bahwa pasukan Bone dan TanEtE bakal disapu bersih dengan mudah oleh personel gabungan yang terlatih serta persenjataan lengkap yang lebih mutakhir. Kolonel H. De Stour menghadapi pertempuran selama berhari-hari yang amat sengit.

Pasukan Bone dan TanEtE mampu menaggulangi pasukan Belanda dan sekutunya dengan amat baiknya. Tidak kurang dari 8.000 personel pasukan Bone ditambah pasukan TanEtE bahu membahu menahan serbuan tentara Belanda dan sekutunya serta membalas penyerangan itu dengan amat gencarnya. Maka berjatuhanlah korban jiwa pada kedua belah pihak. Pada pihak Belanda, seorang perwiranya bernama Kapiten Leckereg dan Letnan Kris bersama puluhan prajurit lainnya tewas di arena  pertempuran. Pada pihak Bone dan TanEtE tidak kurang 100 personal gugur berkalang tanah, dalam mempertahankan martabat negerinya.

Mengetahui kekuatan Pasukan Kerajaan Bone dan sekutunya yang tidak bisa dipandang sebelah mata tersebut, Gubernemen Belanda di Makassar mengutus seorang petingginya ke Batavia untuk mendapatkan bantuan tambahan personel dan persenjataan. Maka dikirimlah Ekspedisi Perang Bone yang dipimpin oleh Kolonel Bischoff. 

Setibanya di Makassar, Kolonel Bischoff berniat melancarkan serangan besar-besaran dengan menggunakan personelnya yang masih segar bugar serta kekuatan persenjataan yang lebih lengkap dengan didukung pula informasi dan strategi yang matang. Namun niat itu tidak dapat dilaksanakan dengan serta merta karena datangnya musim hujan yang lebat. Pasukan Bone dan TanEtE telah membangun basis pertahanan di pegunungan Camba yang didukung oleh kondisi alam yang amat berat dan strategis pula. Maka rencana penyerangan Kolonel Bischoff dinyatakan gagal seketika itu.

Melihat seriusnya keadaan, pihak Gubernemen Belanda di Makassar mengutus Mr. Tobias ke Batavia untuk meyakinkan Gubernur Jenderal bahwa dalam menghadapi I BaEgo ArumponE beserta sekutunya tidaklah cukup dengan kekuatan militer yang setengah-setengah, melainkan membutuhkan pemusatan sepenuhnya segenap kekuatan tempur pemerintah Hindia Belanda yang ada. Akhirnya Gubernur General menyanggupi dengan mengutus General Mayor Van Geen beserta segenap kekuatan perangnya untuk menyusul dan memimpin Ekspedisi Perang penaklukan Bone.

Pada pertengahan Januari 1825, General Mayor Van Geen tiba di Makassar. Perwira tinggi itu menempatkan Garnizoen-Garnizoen Militer untuk memperketat kepungannya ke sasaran terakhir, yakni : Watampone, Kotaraja Kerajaan Bone. Selanjutnya kurang lebih personel militer bangsa Eropa yang amat terlatih dan berpengalaman dikerahkan untuk melancarkan penyerbuan ke pusat pertahanan Bone. Sebagai pelindung serangan itu, disiapkan pula satu divisi Angkatan Laut untuk melakukan pendaratan di BajoE yang berdekatan langsung dengan pusat Kerajaan Bone. Kemudian sebagai pendukung serangan umum itu, didatangkan pula pasukan Invantri dari Maluku yang dipersiapkan untuk penyerangan darat bersama  kurang lebih 3.200 personel Pasukan Kerajaan Gowa. Raja-raja lainnya yang ikut pula menandatangani Perjanjian Pembaharuan Bongaya, juga mempersiapkan pasukan berkuda bersenjata senapan, barisan berjalan kaki bersenjatakan tombak dan kelewan serta 1.000 orang lasykar dari Pulau Selayar.

Kekuatan Angkatan Laut Belanda yang dikerahkan ke teluk Bone, terdiri atas 8 buah kapal perang dan 3 buah kapal bermeriam besar, juga kapal-kapal pengangkut personel dan perbekalan yang didatangkan dari Sumenep, Pulau Madura. Beberapa puluh buah kapal swasta (partikulir) yang disewa, bersama 80 bark dan kapal-kapal pengangkut pasukan Bumiputera, kesemuanya itu tergabung dalam satu ekspedisi perang penaklukan Kerajaan Bone. 

Pasukan infanri regular dari Pulau Jawa sebagai kekuatan utama, berangsur-angsur berdatangan ke Makassar. Hingga pada akhir bulan Januari 1825, segala persiapan menyangkut ekspedisi penyerbuan itu dinyatakan rampung secara keseluruhan.

Dapat dibayangkan dari melihat konsentrasi penggerahan kekuatan pasukan Belanda tersebut, betapa dahsyatnya perang yang terjadi  di Watampone ketika itu. Sementara dibalik itu, betapa teguh dan beraninya seorang perempuan yang menghadang segala tantangan itu, demi menjaga martabat agama, diri, bangsa dan negerinya. 

Pasukan Belanda dan sekutunya mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuannya untuk menaklukkan Kerajaan Bone yang dipimpin oleh Ratu I BaEgo Arung Data dengan saudaranya laki-lakinya, yakni : La MappaEwa Arung Lompu yang dibantu sepenuhnya Petta PonggawaE (Panglima Kerajaan Bone). Hingga pendaratan pasukan Belanda dan aliansinya di BajoE haruslah dibayarnya dengan "amat mahal". Mereka melakukan pendaratan yang amat sulit, dibawah semburan hujan peluru yang ditembakkan para pasukan pertahanan Tana Bone. Mereka terdiri dari personel-personel "Berani Mati" yang bertekad mempertahankan posisi pertahanannya hingga tetes darah dan hembusan nafasnya yang terakhir. Sejengkal tanahnya dipertahankan dengan tebusan setetes darahnya. Watampone hanya dapat dimasuki oleh penyerbu jika mereka semua "Syahid fii Sabilillah", demikian tekad mereka. Maka walaupun akhirnya pasukan penyerbu itu berhasil mendarat karena jumlah personel dan persenjataan yang lebih unggul, namun banyak diantaranya yang tewas di pantai, diikuti pula para barisan pertahanan yang berguguran satu demi satu.


Sejarah akhirnya telah menuliskan peristiwa heroik para lasykar Bone yang "dimahkotai" oleh junjungan mereka, I Benning Arung Data. Walaupun pada akhirnya  General Mayor Van Geen beserta sekutunya berhasil menduduki Watampone, namun Sang Ratu beserta segenap perangkat kerajaannya termasuk "Arajang" menyingkir ke daerah Wajo kemudian membangun basis pertahanan di PassEmpe', sebuah basis pertahanan klasik bagi para ArumponE sejak dulu. Walau sekeras apapun usaha General Mayor Van Geen untuk bertemu serta berunding secara langsung dengan Arumpone, namun usaha itu tidak pernah berhasil. Pada sisi lain, walau Pasukan penyerbu berhasil menduduki Kotaraja Watampone, namun Arumpone tetap tak tersentuh apalagi tertaklukkan.


Watampone yang telah dikuasai Belanda tiada lain hanyalah sebuah kota mati belaka. Pasukan Belanda yang kelelahan serta banyak terluka parah mengalami penderitaan berat di Kota Mati itu. Perbekalan makanan dan obat-obatan semakin menipis serta berjangkitnya penyakit Kolera membuat mereka semakin frustasi. Terutama pula, mereka tidak berhasil menangkap ArungponE yang bahkan melakukan perlawanan gerilya dari Bukit PassEmpe' semakin melengkapi penderitaannya. Pasukan Belanda dan sekutunya banyak yang mati akibat penyakit menular itu . Akhirnya, General Mayor Van Geen mendapat surat dari Batavia yang memerintahkannya untuk menarik pasukannya dari wilayah Bone sesegera mungkin. Hal itu disebutkan meletusnya "Perang Jawa" yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro sehingga memerlukan pula tambahan kekuatan.

Setelah kepergian Pasukan Penyerbu, Arumpone kembali ke Watampone seraya menata kembali pemerintahan dan pertahanan militernya yang lebih kuat lagi dari sediakala. Maka terbuktilah jika ketahan mental keberanian dan persatuan rakyat akan selalu menjadi pemenang. Kerajaan Bone yang dipimpin oleh seorang "Perempuan Hebat" berhasil mempertahankan kedaulatan martabat dan kemerdekaannya.

Perihal  I Benning  Arung Data "Sultana SalEha Rabiyatuddin"  Petta MatinroE ri Kessi', Mangkau ri Bone XXV kerap ditemukan "kerumpangan" menyangkut nama, gelar dan silsilah beliau. Penulis setidaknya menemukan dua versi yang berbeda menyangkut perihal yang dikemukakan diatas. Prof. Dr. H. Andi Mattulada  (Sejarah, Kebudayaan dan Masyarakat Sulawesi Selatan , Hasanuddin University Press - 1998) menyebutkan bahwa Arungpone ke XXV ini adalah putera Toappatunru Petta MatinroE ri Lalebbata Mangkau Bone XXIV dari perkawinannya dengan Arung Kaju. Kemudian disebutkan lebih lanjut, bahwa : nama lain daripada "I Benning" adalah "I BaEgo" yang sebelum dinobatkan menjadi "ArumponE" adalah menjabat sebagai "Arung Data".
 
Berbeda halnya dengan "Lontara Akkarungeng Bone" dan "Lontara Panguruseng Abbatirengna Soppeng" serta "Lontara La Wahide", memiliki kesamaan alur perihal "Mangkau Bone XXV". Disebutkan dengan jelas, bahwa : La Tenri Tappu Petta MatinroE ri Rompegading Mangkau Bone XXIII (putera La Mappapenning To Appaware' dengan I Mida Arung Lapanning) menikah dengan We Tenripada Petta MatinroE ri Saodenra, melahirkan putera puteri sebagai berikut : 1. Toappatunru Petta MatinroE ri Lalebbata Mangkau ri Bone XXIV, 2. La Pawawoi Arung Amali, 3. La MappaEwa (La MappalEwa) Arung Lompu Petta MatinroE ri Soni, 4. La Tenri Sukki Arung Kajuara Petta MaddanrengngE ri Bone, 5. We Pancaitana (I Manni) Arung Data Petta MatinroE ri Kessi Mangkau ri Bone XXIV. Berdasar pada uraian tersebut, maka jelaslah jika We Pancaitana Arung Data Petta MatinroE ri Kessi Mangkau ri Bone XXIV  yang nama kecilnya tertulis sebagai "I Manni" (mirip dengan I Benning menurut Mattulada) adalah tokoh yang dimaksudkan pada kisah ini.

Menyangkut tokoh bernama "I BaEgo", merunut pada ketiga Lontara Panguriseng tersebut, diuraikan lebih lanjut, sbb : Toappatunru Petta MatinroE ri Lalebbata Mangkau ri Bone XXIV (putera La Tenri Tappu Petta MatinroE ri Rompegading Mangkau Bone XXIII dengan We Tenripada Petta MatinroE ri Saodenra) menikah dengan Arung Kaju, melahirkan : I BaEgo Arung MacEgE yang dinikahkan dengan La Sumange'rukka Topatari Arung BErru. Pernikahan keduanya melahirkan : 1. We Tenripada Sultanah Aisyah Arung Berru (isteri I Malingkaan Sombayya Gowa XXXIII) dan 2. La Singkerrurukka Petta MatinroE ri Topaccing Mangkau ri Bone XXIX (suami St. Sairah Arung Timurung).

Penutup

Masih banyak "Penguasa Perempuan" yang menghiasi sejarah perjalanan Sulawesi dimasa lalu yang agaknya sulit untuk dicantumkan satu persatu pada kolom sederhana ini.  Mereka menorehkan peristiwa heroik yang akan dikenang sepanjang masa. Sebutlah nama We Pancaitana BessE' Kajuara Datu Suppa Petta MatinroE ri Majennang Mangkau Bone XXXVIII  (puteri La Tenri Sukki Arung Kajuara Petta MAddanrengngE ri Bone dengan We Tenrilipu Daeng Matana Datu Suppa) yang juga adalah kemenakan I Benning  Arung Data "Sultana SalEha Rabiyatuddin"  Petta MatinroE ri Kessi', Mangkau ri Bone XXV. Beliau adalah janda dari La ParEnrEngi Arumpogi Petta MatinroE ri Aja BEntEng Mangkau ri Bone XXXVII yang wafat setelah menyatakan perang dengan Pemerintah Hindia Belanda. Sang Ratu yang keras hati ini terkenal dengan tindakannya yang kontroversial, yakni : memerintahkan memasang TERBALIK bendera Kerajaan Belanda bagi setiap kapal maupun perahu yang melintasi Teluk Bone. Akibat tindakannya tersebut, Bone mengalami perang dahsyat dengan Belanda sehingga Ratu Bone BessE' Kajuara yang memimpin pertempuran itu terpaksa harus menyingkir ke Kerajaan Suppa, dimana beliau dinobatkan pula sebagai Datu Suppa sebagai warisan dari Ibundanya. Sama halnya dengan mendiang "bibinya", BessE' Kajuara tidak pernah tunduk selama hidupnya terhadap Belanda.

Hingga masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, tokoh perempuan Sulawesi Selatan terus menorehkan namanya dalam kancah perjuangan, mereka antara lain adalah : Pahlawan Nasional Opu DaEng Risaju, Pahlawan Nasional Emmy SaElan, Pahlawan Nasional Andi DEpu Maraddia Pamboang (?) yang disapa oleh Presiden Soekarno sebagai "Ibu Agung" serta masih banyak lagi yang lainnya. Maka betullah kiranya jika seorang tokoh dunia (penulis lupa namanya) menyatakan dengan penuh hormat, bahwa : " Hormatilah perempuan karena bagaimanapun hebatnya seorang lelaki, ia pastilah telah dilahirkan seorang perempuan..".


Wallahualam bissawwab..

Selasa, 22 Maret 2011

Kajian Budaya


I LA GALIGO, KEARIFAN DARI KETIDAKBIJAKSANAAN

I La Galigo, nama seorang tokoh dengan kepribadiannya dan juga penamaan sebuah Mitologi yang tersusun dengan sistematis serta diuraikan dalam sastra Bugis yang bernilai tinggi. Sebuah maha karya dari masa prasejarah Manusia Bugis yang diuraikan dalam untaian prosa tentang kisah romansa para Dewa dan manusia dengan hidupnya. Atas dasar “kedewataan” itulah maka disebut pula sebagai kitab sastra suci, dimana pembacaannya baik dari tradisi tulisan (Lontara) maupun lisan (Sure’ SEllEang), selalu didahului dengan ritual khusus serta maksud pembacaan itu diawali dengan niat yang sakral pula. 

Sejak dulu hingga dimasa kini, para penganut “Pattorioloang” (Aliran Kepercayaan Lama) suku Bugis akan terhanyut dengan penuh penghayatan dalam alur kisah ketika suatu episode (parEE’) I La Galigo dinyanyikan dengan iringan musik yang terpadu dalam suatu irama, kata dan drama teaterikal.

Syair I La Galigo yang dikatakan pula sebagai salahsatu kitab kisah kepahlawanan (Epos) terbesar di dunia. Menurut R.A. Kern yang telah membaca lebih dari 20.000 halaman kitab I La Galigo di perpustakaan Berlin, Nederland dan London, bahwa : jika disingkirkan bagian-bagian yang sama dan sejajar, maka kitab sastra I La Galigo akan tersisa k.l. 7.000 halaman polio dan ini masih lebih tebal dibandingkan dengan Kitab Mitologi Homerus di Yunani dan bahkan jauh lebih besar dibandingkan dengan Kitab Mahabharata karya Valmiki di India. Maka timbullah pertanyaan, siapa pengarang atau penulis kitab I La Galigo ?

Raffles yang menyebut kitab I La Galigo sebagai “Sejarah Sawira Gading” berpendapat bahwa putera Sawerigading yang bernama “I La Galiga” inilah yang menulis kitab itu serta menamakan karyanya dengan namanya sendiri. Namun R. A. Kern dalam Bab Pengantar ke I La Galigo (I La Galigo, Cerita Bugis Kuno – Gajahmada University Press, cet. II, 1993-hal. 6) mengemukakan pula bahwa pendapat Raffles tersebut tidak dapat diterima karena tokoh I La Galigo hanyalah salah satu dari banyak tokoh yang diceritakan pengalaman-pengalamannya dalam syair tersebut. Penamaan itu bertambah aneh lagi karena I La Galigo sama sekali bukanlah seorang pahlawan. Tabiat dan tingkah lakunya yang tidak senonoh berulangkali dicaci maki serta dalam beberapa episode, namanya dirajam dan dicela akibat kenakalan dan perangainya yang bejat.  
 
Terlepas dari pendapat-pendapat yang dikemukakan diatas, penulis mencoba mengenal I La Galigo sebagai suatu pribadi yang mendatangkan hikmah kearifan dari penelusuran selintas tentangnya. Dalam syair mitologinya, beliau memiliki nama dan gelar lengkap, sbb : I La Galigo Topadammani BEloluwangeng LennekpojiE Pajung Lolo ri Cina. Berdasarkan gelar akhirnya itu, maka beliau adalah Putera Mahkota Kerajaan Cina (Tana Ugik, Pammana).

I La Galigo adalah putera sulung Sawerigading La Maddukelleng ToappamEne’ Wara-waraE Opunna Ware’ dari perkawinannya dengan WE Cudai’ Daeng ri Sompa Punna BolaE ri La TanEtE. Jika ditelusuri dari sejak Bab I kitab Sastra I La Galigo yang terdiri dari 39 Bab itu, maka tokoh I La Galigo adalah generasi ke-V sebagaimana diuraikan, sbb : I LapuangngE LE’ba Patoto Aji Palallo La Patiganna Sangkuruwirang Batara Unru To MallangkanaE ri LettE WEro, menikah dengan : Datu PalingE’ Mutia Unru ri Senrijawa, maka lahirlah : La Toge’langi Batara Guru La Mulatau Sunge’ ri Sompa Aji Sangkuruwirang ManurungngE ri Tellangpulaweng Pajung ri Luwu I, menikah dengan : WE Nyilli’timo SolasingrangengpEro Dinulu WElompElojang I Mata Timo Tompo’E ri Bussa Empo, maka lahirlah : La Tiuleng Batara Lattu Opunna Ware’ Pajung ri Luwu II, menikah dengan : WE Opu Sengngeng Punna BolaE ri Tompotikka, maka lahirlah sepasang anak kembar emasnya, yakni : Sawerigading La Maddukelleng ToappamEne’ Wara-waraE Opunna Ware’ dan We Tenri AbEng Batari Bissu ri Langi I Walinono DaEng Manutte’. Sebagai putera sulung Sawerigading dari permaisurinya yang juga berdarah dewata, maka I La Galigo dikategorikan pula sebagai manusia berdarah dewa, setidaknya begitulah menurut alur kisah syair mitologi tersebut.

Akibat masalah pernikahan Sawerigading dengan We Cudai’ yang penuh konflik, I La Galigo yang terlahir disela-sela perhubungan kedua orang tuanya yang rumit itu tumbuh dengan perkembangan mental yang tidak kondusif pula. Melengkapi tulisan ini, kiranya akan lebih mudah difahami apabila latar belakang kelahiran I La Galigo diuraikan secara singkat sejak pernikahan kedua orang tuanya.

Bermula pada kegundahan Sawerigading yang jatuh cinta pada pandangan pertama pada saudari kembarnya, yakni : WE Tenri AbEng.  Kisah tersebut tertulis dalam Lontara Syair I La Galigo pada Bab (ParEE”)berjudul : Napatudangngi Nawa-nawanna Silingerengna Sawerigading. Disebutkan, bahwa : ….taddakka-rakka Sawerigading mampaE mEnrE’ lE ri anrinna, adannakua Toappanyompa : “LE tekkusubbu ada pongratu, amasEangnga’ sia WE AbEng, masEngngi mennang lE ri puatta, mappassEuwa lE’ angkaukeng, tapappincengngi lolangengngE ri alE Luwu, ri Watampare’, napassEuwwa lompo’ turungeng tomaEgaE, aja’ nadua sumpang palana lolangengngE, lE nasipeppa’ sanaditiE, LE nasiranreng sana gEnoE, lE nabbaiseng Opunna Luwu MallaibinE, napasiala pada cErona “..  Terjemahan ….dengan serta merta Sawerigading menyambut sirih dari adiknya, berkatalah Toappanyompa (nama lain Sawerigading): “Aku tidak bermaksud  menyembunyikan kata hati pongratu,   kasihanilah aku WE AbEng, kiranya adinda sudi menyatukan warisan dari Yang Dipertuan Agung, mempersatukan lembah tempat turunnya orang banyak, supaya jangan terpecah dua penguasa negeri, agar semuanya bersatu, kiranya dapat berbesan Yang Dipertuan Luwu suami isteri, dikawinkan kedua orang anaknya… 

Mendengar perkataan Sawerigading, dapat dibayangkan betapa gemparnya seisi Istana Langkana Lakko ManurungngE pada saat itu. Terlebih-lebih Batara Lattu’ dan WE Datu Sengngeng, kedua orang tua Sawerigading dan WE Tenri AbEng sendiri. Bagaimana mungkin menuruti kehendak putera kesayangannya yang tidak patut itu ?. 

Sawerigading adalah pangeran mahkota, sekaligus ksatria harapan kejayaan negeri Luwu. Ia adalah kecintaan kedua orang tuanya, kebanggaan kakek dan buyutnya yang bertahta di Butinglangi (kayangan) serta kesayangan para buyutnya di Toddangtoja (dunia bawah). Keinginannya yang tak terpenuhi akan membuat Sang Pangeran yang dimanja itu menjadi padam semangatnya. Padahal ketika itu, iapun telah memperisteri  puluhan wanita tercantik dari segala penjuru, diantaranya sepupu sekalinya sendiri yang bernama “We Panangngareng”.

Namun bagaimanapun, perkawinan antar saudara adalah Tabu. Dikatakan sebagai : Nasapa Tana, Narumpu Langii’ (Pantangan bagi bumi, Menjadi asap pada langit). Perkawinan antar saudara, meskipun tidak seayah atau seibu, akan membawa bencana terhadap kehidupan pada umumnya. Tema tersebut diungkapkan secara eksplisit oleh We Tenri Abeng sendiri. Sang Puteri berusaha melunakkan hati kakak kembarnya itu dengan lembutnya.
“ ..amasEangnga kaka Dukkelleng, mupasai sani babua mai watakku, kujellorekko lise’ sinrangeng, palallo waji tenre’ padanna, lE namessu aseng putungengi, sEuwwa mua lE bulo kati , lE tirisekku ri Botinglangi..”
Terjemahan : “..sayangilah aku Kakanda Dukkelleng (panggilan We Tenri Abeng terhadap Sawerigading), jangan lagi kau perhatikan aku, saya akan tunjukkan seorang gadis dambaan, yang kecantikannya tiada tara, satu jua cetakan, kami berdua diciptakan di Botinglangi..”
Maka bertanyalah Sawerigading, dimana gerangan gadis itu berada ?. We Tenri Abeng menjawab :
“ ..kui tudang ri Tana Ugi, ri alE Cina, rijajianna La Sattungpugi, We Cudai sia asenna, lE na ritella Daeng Risompa, pattellarengna Punna BolaE ri La TanEtE, narEkko lokkako mitai, nadE’ kupada-pada, rEwe’ko mai mubottingika’..”
Terjemahan : “.. dia berkedudukan di Tana Ugi, pada pusat negeri Cina, puteri La Sattungpugi, namanya We Cudai, DaEng Risompa adalah gelarnya, Sang Penguasa negeri La TanEtE, sekiranya engkau pergi melihatnya, sedang ia tidak menyamai kecantikan rupaku, kembalilah kemari untuk mengawiniku..”

Episode ini sangatlah populer dengan sebutan “Ri Tumpanna WElenrEngE”  (Ditebangnya Pohon WE LenrEngngE). Dalam rangka mempersiapkan pelayarannya menuju Cina, Sawerigading menebang pohon raksasa yang bernama : WElenrEngngE. Pohon besar yang teramat keramat itu tumbang oleh “WasE DEwataE” (Kapak Dewata) yang diayungkan Sawerigading. Maka pohon inilah yang ditempa secara luar biasa oleh PunnaE Liung Guru ri Selleng Tuppu BatuE ri Toddang Toja (buyut Sawerigading, penguasa Dunia Bawah) menjadi sebuah armada laut.

Pembaca yang terhormat. Sesungguhnya tulisan ini sedianya kupersembahkan kepada Puekku H. ANDI BASO PATIROI di Balikpapan, atas permintaan beliau pada percakapan terakhir kami beberapa waktu sebelum saya memulai menulis uraian ini. Namun kehendak Allah berkata lain, beliau telah berpulang ke Rahmatullah. Maka tulisan ini tidak mampu kulanjutkan.. semoga arwah beliau mendapatkan ketenangan dan mendapat tempat yang layak disisi Allah. SWT. Amin.