Aku tidak MENULIS sejarah..tapi kusedang MENGKAJI sejarah..agar kudapat MENGUKIR sejarahku sendiri..

Sabtu, 11 Februari 2012

Sajak Mikhail Yuryawitj Lermontov (1814-1841), Rusia




BADIK

Kau sungguh kekasihku, badikku putih baja,
Teman berkilau dan dingin;
Ditempa anak Jorja yang mengidam dendam,
Diasah anak Sirkas perkasa.

Tangan yang mesra, dalam manis pamitan,
Memberikan dikau, penanda sejenak pertemuan;
Diapun darah menggelimang pada logammu,
Tangis bersinar - mutiara pilu.

Dan para mata hitam berpaut pada pandangku,
Nampaknya seakan dilinangi sedih yang mencair;
Bagai matamu cerah, dimana nyala gemetar,
Mereka cepat redupnya, lalu gemilang.

Kau bakal lama teman seiringku !
Nasehati daku sampai saat ajalku !
Aku mau jiwaku nanti keras dan setia,
Seperti dikau, temanku berjantung baja.



LAYAR DI LAUT

Putih layar itu dan sepi
Pada biru abadi berkabut;
Lari dari apa dipangkalan sendiri ?
Apa dicari dalam yang baru ?

Ombak-ombak menggila dan angin melulung
Dan tiang-tiang gemeretakan.
Sayang ! Ia bukan meluputi sial
Pun bukan memburu kemujuran.

Dibawahnya : arus, gelombang lazuardi
Diatasnya : dada emas mentari.
Tapi ia, pemberontak - mengajak badai
Seakan ada damai didalam badai.



Rabu, 08 Februari 2012

Dialog intropeksi dalam ruang ININNAWA


SIBALI RENNU  ?

..MappapolE akkatta madEcEng, Mappasita rennu, Mappasibali rio, Mappasitinaja saro masE, Mattaro sEngereng.. (..menyambut kehendak baik, mempertemukan harapan, membalas kegembiraan, menyesuaikan ketulusan, meninggalkan kenangan baik..).
.........................................................................................................................

..pada geliat hari-hariku, terutama jika menyangkut dengan perhubungan Silaturrahmi, kiranya tiada berlebihan adanya jika kuingin menggembirakan setiap orang yang kukenal. ..dan kukira semua orangpun demikian. Entah ia adalah keluarga, teman, kolega atau bahkan seorang atasan. Melihat binar-binar harapan dimatanya yang kemudian diungkapkannya dengan pujian, kiranya detik-detik yang amat singkat itulah disadari atau tidak disadari menjadi moment yang "menyenangkan". "..Alhamdulillah, legalah sudah. Terima kasih sebelumnya, Pak Andi..., nalaha dEcEng engkaki wedding tulungnga'..", demikian kira-kira ucapnya seraya menjabat erat tanganku.

Sesungguhnya disadari jika jenis pertolongan yang dijanjikan itu adalah sesuatu yang berat, bahkan kadang agaknya mustahil. Namun siapakah kiranya yang "tega" melihat kerut dikening seseorang yang memohon dengan penuh harapan ?. Apalagi jika ia berkata, " idi'mi tu urennueng, Pak.." (..tinggal anda harapan saya satu-satunya..), hingga Subhanallah.. Aku merasa tersanjung hingga hampir-hampir merasa diri sebagai " dewa penolong". "IyE', aja'na tapikkiriki, narEkko napuElo'i PuengngE, dE'sahatu namawatang nawedding wusahangengki'.." ( iya, tidak perlu dipikirkan lagi, Insya Allah agaknya ini bukanlah hal yang terlalu sulit buat kuusahakan bagi anda..), timpalku seketika itu.
 
Hingga pada beberapa kejadian, janji bantuan yang pada dasarnya adalah "Mission Imposible" itu akhirnya tinggal janji. Maka orang yang menunggu bantuan tersebut megap-megap bagai ikan yang terhampar di daratan, menunggu setetes air hujan dari langit pada geringnya kemarau panjang.

..meragukan diri dan diragukan orang lain pula, kiranya itulah jadinya kini. Mungkinkan aku ini munafik ?. Apakah aku sesungguhnya gila pujian ?.. Ataukah aku terlalu memandang diri "terlalu pintar" ?. Duhai, Naudzubillah, semoga Allah melindungi kami pada biang penyakit ahlaq itu, yakni : Munafik dan Sombong. Namun sesungguhnya, aku tidak mampu berkata "TIDAK" pada setiap permintaan bantuan. Akupun tidak tega pula melihat orang lain berputus harapan. Setidaknya kuingin menyambung asanya agar harapannya tidak sirna pada saat itu. Namun kutahu pula, Allah SWT pasti MARAH padaku karena selalu menjual nama-Nya pada setiapkali bertemu dengan orang yang mengharap tersebut. "..iyE, Bajapi.. Insya Allah !" ( iya, Besok.. Insya Allah !).

Bukannya menanam janji tanpa berusaha, melainkan mencurahkan segala kemampuan yang ada untuk mewujudkannya. Hingga kadangkala, prioritas terhadap keperluan anak isteri dan diri sendiri terabaikan pula. Namun, sesungguhnya setiap manusia manusia memiliki batas kemampuan. Maka kekeliruan utamanya adalah : Gagal mengetahui batas kemampuan diri sendiri.. 

Sungguh sulit mewujudkan wasiat Sang Leluhur, "Aja' lalo muwaliengngi pale' marennunna padammu rupa tau, narEkko mawatangngi ri sEsEmu, Puang Allah Ta'ala matti' ringengiko, ikkeng Ane Eppoku.." (Jangan sekali-kali menelungkupkan tadahan tangan sesamamu yang memohon pertolongan, sekiranya sulit bagimu, nantilah Allah Ta'ala yang meringankan beban itu bagimu..). Hingga Al Quranul Kariim sendiri memberitakan kesulitan Sang Pembawa Risalah sendiri dalam menanggung beban penderitaan demi kasih yang tak terukur pada umatnya.. "..wa man yattaqillaaha yaj'Allahul mahroja, wa yarzukuhuw min khoisu laa yahtazib, wa man yatawaqqalil 'alaLlaahu fa Huwa hasybuhuww, innaLlaaha baaliguwl amrihiyy, qod'ja'alallaahu likulliy syai'in qodr..". (buat anak-anakku, agar menjadi ibrah dalam mengharapkan keridlaan Allah SWT)

Wallahualam bissawwab

Selasa, 07 Februari 2012

SinangkE (Kelewang)

Sebilah "sinangkE" berpamor "LUWU" yang berasal dari himpunan pusaka keluarga Manggabarani telah diganti "pangulu" (gagang) dan "wanua" (warangka/sarung) berulangkali sehingga tidak menyerupai lagi perkakas aslinya. (Pusaka dalam perawatan penulis)








Sabtu, 04 Februari 2012

La Tamang Petta Palla'E, Sang Pangeran Belawa

 LA TAMANG PETTA PALLA'E, Sang Pangeran Belawa




..namanya tidak tercatat pada lontara silsilah "TellumpoccoE", namun hampir semua Pallontara yang pernah saya temui mengenalnya sebagai Bangsawan berdarah murni. "Puang Allahu Ta'ala mani yase'na, nak..", demikian antara lain komentar Almarhumah Petta Wara dari Pattojo (Soppeng) seraya mencium dan menjunjung jemarinya sendiri sehabis menyebut namanya.
................................................................................................................................

Terhampar dibawah batang pohon "siyapa" ditengah "Jara' LompoE" di TippuluE, Belawa. Makam Sang Pangeran terbujur disamping makam ayahandanya. Ada getir yang mengganjal dihati, bukan apa-apa.. entah siapa yang merenovasi makam itu dengan memasang tegel putih, mengingatkanku dengan pelataran pasar ikan di Parepare. Namun itu tidak seberapa, orang yang berniat baik itu justru menukar nama yang menandai Sang Pangeran dengan ayah kandungnya.

Terlalu sulit menelusuri kisah perjalanan hidupnya karena beliau sesungguhnya adalah seorang pangeran yang gemar mengembara. Kegemaran itu dapat dimaklumi mengingat nazab keturunannya yang memiliki jalur kekerabatan dengan hampir semua Raja-Raja besar di Tanah Bugis pada jamannya. Dari ayahandanya, yakni : La Sappo Petta Ogi Datu Palireng Arung Belawa Petta MatinroE CempaE (putera La Mappulana Petta Ogi dengan We Bakke' Datu Kawerrang) adalah jelas menempatkan La Tamang sebagai Pangeran Ogi, Soppeng dan Belawa. Bahkan pada sebagian "Sitambung" (daftar silsilah yang telah dilegalisir) yang pernah penulis baca, disebutkan jika ibunda La Sappo adalah We Yabang yang adalah saudara kandung La Tenritappu Arumpone MatinroE ri Rompegading. Namun pada Lontara Abbatireng Soppeng dan Belawa, ditemukan bahwa We Yabang dan We Bakke' Datu Kawerrang adalah orang yang berbeda, tetapi sama-sama merupakan permaisuri La Mappulana Petta Ogi yang tersohor itu.

Selain warisan pengaruh dari garis ayah, La Tamang mewarisi pula jalinan kekerabatan yang lebih jauh pula dari pihak ibundanya, yakni : We Tenri Balobo Daeng riyasE Datu Pammana. Sang ibunda tersebut adalah puteri We Tenriabang DatuE Watu dengan La Pallawagau Arung Maiwa Datu Pammana Pilla ri Wajo (putera Janggo LampE Ulu Arung Maiwa Arung Tellu Latte' SidEnrEng dengan We Tenri Datu Pammana) yang termahsyur itu. Siapapun yang membaca kisah La Maddukelleng Sultan Pasir Arung Singkang Arung Matoa Wajo Petta PamaradEkangngi Wajo, tentulah akan menemukan peran La Pallawagau sebagai "The King Maker" yang menjadi kunci kejayaan dan kejatuhan seorang pahlawan La Maddukelleng. Kemudian dari sisi We Tenriabang DatuE Watu yang sesungguhnya adalah adik kandung La Mappajanci Sultan Ismail Datu Soppeng XXVII, keduanya adalah putera puteri La Mappasiling Datu Watu Datu Pattojo Petta MatinroE ri Duninna (dimakamkan pula di Jara' LompoE, TippuluE - Belawa) dengan We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang Pajung ri Luwu XXIII-XXV.

Menurut beberapa Sitambong yang ditandatangani Almarhum Andi Patongai Datu Doping Arung Belawa (Datu Bolong) yang terbit pasca wafatnya Andi Abdul Wahid Dg Mamiru Petta Pabbicara Belawa pada tahun 1954, ditemukan beberapa kerumpangan menyangkut silsilah La Tamang Petta Palla'E. Tercatat bahwa, La Sappo Petta Ogi Datu Palireng Arung Belawa Petta MatinroE CempaE (Ayahanda La Tamang Petta Palla'E) adalah putera La Wawoi Addatuang Sidenreng sehingga bersaudara dengan La Panguriseng Addatuang Sidenreng dan La Cincing Akil Ali KaraEng MangEppE Datu Pammana Arung Matoa Wajo. Kiranya hal tersebut adalah kekeliruan karena perihal nazab jelas La Sappo Petta Ogi sangatlah jelas tertulis pada setidaknya 3 lontara besar yang berbeda, yakni : Lontara Akkarungeng Bone, Lontara Panguruseng Abbatirengna Ana' ArungngE ri Soppeng dan Lontara Abbatireng milik La Wahide Dg. Mamiru Pabbicara TippuluE ri Belawa. Ketiganya memiliki versi yang persis sama, sehingga kiranya sulit meragukan kebenaran ketiganya.

Menelusuri perbincangan para penutur yang mengetahui sedikit tentangnya, dapat disimpulkan bahwa karakter seorang La Tamang Petta Palla'E yang gemar mengembara diseputar wilayah Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidenreng, Rappang dan Maiwa  sesungguhnya berkepribadian bebas dan tidak ambisius menduduki tahta kerajaan besar yang merupakan haknya. Beliau bukan pula seorang patriot karena tidak ada satupun khabar pinutur apalagi merupakan catatan yang menyebutkan kisah perlawanannya terhadap penjajah Belanda. Namun sebaliknya pula, beliau bukan pula seorang antek Penjajah Belanda karena tiada pula yang pernah menyebutnya demikian.


La Tamang sesungguhnya adalah seorang bebas dalam artian sebebas-bebasnya. Pada setiap negeri yang dikunjunginya, beliau memiliki isteri yang sah maupun tidak sah. Menurut Almarhumah Petta Wara semasa hidupnya, DatuE La Tamang Petta Palla'E konon memiliki isteri sah sebanyak 41 orang dan isteri tidak sah yang tak terhitung jumlahnya. Sifat dasarnya yang bebas dinampakkannya pada banyak pengalaman perjalanannya yang penuh kisah romantis. Alkisah, pada suatu ketika Sang Pangeran sedang menempuh perjalanan dari Sidenreng menuju Belawa melewati areal persawahan. Hingga ketika itu, beliau melihat seorang gadis cantik nan rupawan yang sedang mengusir burung-burung pipit ditengah sawah. Maka Sang Pangeran tidak melewatkan kesempatan itu, lalu dirayunya gadis itu hingga rela menjadi kekasihnya sesaat.Setelah hajatnya terpenuhi, La Tamang meneruskan perjalanannya dengan puas dan tanpa beban seakan tak terjadi apapun yang dianggap penting setelahnya.

Penuturan berlanjut, hingga setelah memasuki bulan kesepuluh dihitung sejak peristiwa itu, datanglah keluarga perempuan tersebut makkasuwiang (bersuhita) ke Saoraja Belawa. Mereka melaporkan kelahiran putera perempuan di tengah sawah itu kepada La Sappo Arung BElawa, ayahanda La Tamang. "Jajini atanna DatuE, Pueng.." (telah lahir hambanya Raja, Tuanku..), sujud juru bicara diantara mereka. "Niga mappEgau' ? (siapa yang melakukan ?), tanya Arung Belawa singkat. "Puekku Datu Lolo ri Palla'E.." (Tuanku Sang Pangeran dari Negeri Palla'E..), jawabnya. Arung Belawa La Sappo kemudian menanyakan gambaran kronologis kejadiannya yang dijelaskan para pelapor bahwa segalanya terjadi ditengah persawahan. "BoranE iyarE' Makkunrai ?" (Bayi itu berjenis laki-laki atau perempuan ?), tanya Arung Belawa lebih lanjut. "BoranE atanna DatuE, Pueng.. " (sesungguhnya hambanya Raja tersebut adalah laki-laki, tuanku), jawab mereka dalam sembahnya. "NarEkko makkuEro riyasengni : La ................. DaEng ................. " (jika begitu, baiknya diberi nama : La ........................... DaEng .................. ), demikian titah Arung Belawa. Mohon maaf, atas pertimbangan menjaga etika dan perhubungan silaturrahmi maka nama tersebut tidak ditulis.

Suatu hal yang menjadi ganjalan pula, bahwa dari sekian banyak isterinya, tiada satupun yang memiliki derajat sama dengannya. Seorang isterinya yang dianggap paling berdarah bangsawan dibandingkan ratusan yang lainnya, adalah : I LEkke' (puteri DaEng Parebba Datu Bulu'bangi) yang merupakan "Ana' Sangaji" (darah 90). Menurut uraian dalam Sitambong, anak dari isterinya tersebut, antara lain : La Pamessangi Baso Parepare dan La PallEmpa DaEng Pawawa Petta Boso'E MatinroE ri PittuE. Berdasar dari kenyataan itulah, sehingga menurut Petta Wara, Ayahanda Andi Panguriseng dan H. Zainuddin (H. Gandaria) semasa hidupnya yang didasari dari pengetahuan mereka yang luas tentang silsilah dan wari (pranata), bahwa : "Lima lappi turungeng lakkana La Tamang Petta Palla'E dE'na niandikeng, sangadinna engka abbatirengna rilainnaE ritu.." (Generasi kelima dari La Tamang Petta Palla'E TIDAK LAGI bergelar ANDI, kecuali ia memiliki nazab dari bangsawan yang lain..)

La Tamang memiliki banyak saudara tiri dari pihak ayah maupun ibu. Saudara seayahnya yang terkenal adalah La Rumpang Daeng Pasolong Petta Bombo' Datu Tana Tengnga MatinroE ri PaodaEnna (putera La Sappo dengan BessE Tungka) serta saudara seibunya yakni : Arung Baranti (jalur ini tidak dapat dituliskan pula disini karena penulis tidak menghapalnya).

Sang Pangeran yang bebas itu akhirnya menemukan pula ujung perjalannya. Pada akhirnya, ajal elah menjemputnya dan dimakamkan dengan penuh kebesaran di Jara' LompoE, TippuluE - Belawa. Pemakaman yang tiada duanya di Belawa sejak dulu hingga dimasa kini dan insya Allah semoga tak terulang pada masa yang akan datang. La Tamang Petta Palla'E dimakamkan dengan 7 orang budak sahayanya. Seorang diantaranya bersila di liang lahat dengan memangku kepalanya dan keenam yang lainnya berhadap-hadapan memangku jazad tubuhnya.., kemudian mereka ditimbuni tanah hingga tertanam hidup-hidup menemani Pangeran junjungannya. Nudzubillah, Astaghfirullahiladziim.


Wallahualam Bissawwab...


Jumat, 03 Februari 2012

MAPPALILI SUMANGE'

..tidak akan kukatakan terjemahan judul tulisan ini padamu, sampai kau telah membacanya dari awal hingga akhir.., hingga kaupun dapat merangkum makna yang kuuraikan. Aku tidak meminta kau mengerti, melainkan kuharapkan kau memahami.. Duhai anak-anakku.
.........................................................................................................................

Bertahun yang lalu, sewaktu kalian masih kecil. Masa-masa sulit menderaku. sembari kuberusaha membesarkanmu. Bukan segumpal nasi yang kusuapkan pada bibir mungilmu, namun sesungguhnya itu adalah keringatku yang dipadatkan oleh Mamamu tersayang. Dimasaknya butiran keringatku itu diatas nyala kompor minyak berjelaga, hingga dihidangkannya untukmu dengan senyum bersimbah air mata..

Hingga suatu ketika, beras telah hampir habis. Mamamu melaporkannya padaku, seraya berusaha tersenyum menenankan. Kubuka ember cat yang selama ini dijadikan tempat beras, duhai.. literan beras yang terbuat dari batok kelapa itu nampak utuh, seakan tersenyum maklum pada kami. Bergegas kunaiki sepeda motor bututku, kukendarai seraya menguatkan hati mendengar renggekannya yang memelas. NgEEEEEEnnnngggggg...

Berselang beberapa lama anganku melayang dan menguap diatas RC 100, tiba-tiba aku tersentak !. Hei, aku mau kemana ?!. Beras telah habis, kemana mesti mencari ?. Tentu saja kau tahu, anakku. Kemana lagi jika bukan ke Belawa ?. Setidaknya kita masih punya beberapa lembar sawah dan sebidang kebun. Walaupun yang sesungguhnya, aku malu kembali mengambil sebutir beras di Belawa, sekalipun itu adalah mutlak kepunyaanku. Warisan dari Almarhum kakek Puangmu. Karena sesungguhnya orang-orang Belawa di perantauan senantiasa mewasiatkan : Naiyya BElawa, madEcEngngi natamai waramparang, tennapudEcEng nawessuri waramparang.. (Sesungguhnya Negeri Belawa, akan jadi suatu kebaikan jika dimasuki harta, namun tidak menjadi hal baik jika hartanya dibawa keluar..). Namun tidak bisa tidak, hari ini aku berniat membawa harta dari Belawa keluar dari penyimpanannya.. Apa boleh buat, keluhku pasrah.

Sementara khayalku menimbang-nimbang, tiba-tiba.. Astagfirullohiladzim, serombongan anak remaja berkendara motor baru menyalibku dari belakang ! Hampir saja aku disambarnya. Dapat kurasakan jika darahku menggelegak naik ke kepala dan berhasrat mengejarnya. Nanti jika kudapat, akan ku........... apa saja !. Tapi apa gunanya ?, celetuk "ininnawakku". Iya juga ya ?, sahutku tanpa sadar. Tapi aku masih terlanjur panas seraya ngedumel sendiri, "maupe'ko essoE  natania motoro' baru uwola !" (kalian beruntung hari ini karena aku tidak mengendarai motor baru !), rungutku gemas. Tapi, "ajaib" !. Omelan sendiri itu membuat amarahku terobati.

Akhirnya akupun keranjingan bolak-balik ke Belawa untuk mengambil hasil bumi ke Parepare. Maklum gratis kepunyaan sendiri. Hingga suatu waktu, motor tuaku ngadat. Terpaksa kuharus meminjam sepeda motor Puangmu.  Ketika dalam perjalanan tidak jauh dari Pangkajene, lagi-lagi seorang pengendara motor ugal-ugalan menyalibku dari belakang. Ia melaju kencang kedepan namun seketika itu kuberpikir jika sepeda  motor baru Puang Aji yang kukendarai ini sanggup mengejarnya !. Tapi..SssEEt, tunggu dulu ! Kau harus menghargai kepunyaan orang, sekalipun itu adalah kakak kandungmu sendiri.., lagi-lagi Sang Ininnawa memperingatkan. Maka kuacungkan tinjuku, "maupe'kosi essoE namotoro' uwinreng uwola !" (Kau beruntung lagi hari ini karena aku mengendarai motor pinjaman..). Andai tidak, hingga ke ujung dunia pun akan kukejar, rungutku. Tapi sungguh ajaib, dongkolku hilang lagi dengan sendirinya.

Waktu demi waktu, berlalu tanpa terasa. Kalianpun tumbuh tanpa terasa pula. Kesulitan-kesulitan ekonomi yang senantiasa menghimpit kita selama ini agaknya kelelahan pula. Mereka berjatuhan satu demi satu dilindas roda waktu yang terus berputar. Maklum, kita adalah "Rakyat Terlatih", anakku. Kita memiliki daya tahan yang berhasil melewati tiga zaman. Walaupun sesungguhnya kita adalah seonggok batu merah, tapi merupakan puing-puing dari sebuah benteng kejayaan bangsa ini dimasa lalu. Alhamdulillah, sebagaimana kau lihat, kini akupun sudah mampu membeli motor baru sebagaimana orang kebanyakan.

Mengendarai sepeda motor baru milik sendiri pada suatu hari, lagi-lagi aku hampir disambar pengendara yang lain. Akupun hanya tersenyum maklum, seraya berkata : "Maupe'ko essoE, unennengimitu motoro' barukku.." (Kau beruntung hari ini, karena aku sangat menyayangi motor baruku..). Duh, anakku.. bukankah orang-orang tua kita bersama berpesan, bahwa : "Anu engkaEmi iyanennengi.." (..hanya sesuatu yang ADAlah yang disayangi..) ?. Maka orang-orang yang tidak menyayangi barang-barang miliknya, itulah pertanda orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah.SWT.

Sesungguhnya nafsu amarah haruslah dapat dikendalikan, anakku. Kadang-kadang kita terlepas kontrol akibat bisikan nafsu syaitan yang senantiasa mengeram dalam diri. Sebagai contoh, ketika seseorang menyalib kita dengan tingkah yang dinilai kurang ajar, maka dalam diri kita yang lain seakan berbisik : Dia anggap apa aku ?!. Mungkin dia melihatku sebagai kura-kura yang penakut sehingga dapat diperlakukan seperti ini ?!!. ... Namun dengarlah pula bisik "ininnawa" dari sudut lain hatimu, "..jangan marah dulu. Mungkin saja orang itu terburu-buru disebabkan keperluan yang amat mendesak.. atau barangkali saja ibunya sakit ?".

Maka untuk menenangkan diri, tiada salahnya jika kita "menghibur diri" dengan melihat kenyataan yang terjadi pada saat itu, misalnya : "maupe'kosi essoE namotoro' uwinreng uwola !" (Kau beruntung lagi hari ini karena aku mengendarai motor pinjaman..). Kedengarannya sih marah, tapi marah gak beneran.  Karena menyatakan orang lain sebagai maupe' (beruntung) sesungguhnya adalah do'a yang menyimpan harapan baik, anakku. Kita pula bukannya penakut, melainkan tidak mau bertindak konyol dengan balap-balapan di jalan raya yang tentu saja dapat merugikan orang lain yang tidak tahu menahu persoalan kita.

Akhirnya, besar harapanku kiranya kalian dapat memahami judul tulisan ini, anakku. Sesuatu yang tidak perlu kau tahu dari kata ke kata, melainkan memahami berdasarkan uraian hikmah yang sesungguhnya tidak perlu kalian alami.

(buat anak-anakku : Sangaji Adiguna, Anugerah Pallawagau, Muh. Fahrul Jauhari, Misbahuddin, Suwandi, Ifa (Alifati), Zulfikar, Aulia, Ikram Maulana, Tonra Sumange, Jumadi Al Bugisi, Toyyib, Adi, Unhu Malstem Fmc, Misbah Wija Ogi Belawa, Putri Denia Osd dan segenap putera puteriku yang lain..)

Wallahualam bissawab..



Minggu, 22 Januari 2012

Iring-iringan Wija Sengrima Tune' ri Sompa

Sebagai bentuk cinta terhadap peninggalan seni dan kearifan budaya Bugis Makassar yang merupakan salahsatu aset identitas Bangsa, penulis beserta segenap turunan para penguasa Ajatappareng berpartisipasi membawa iring-iringan pangeran sepanjang Jl. Dr. Sam Ratulangi di depan gubernuran, Makassar pada tanggal 30 Desember 2011. Turut mengikuti iring-iringan tersebut, adalah ; Paduka Yang Mulia Drs. Andi Ahmad BEso Manggabarani bersama penulis dan isteri yang disertai para anakda, yakni : Sangaji Adiguna, Anugerah Pallawagau, Muh. Fahrul Jauhari, Tonra Sumange, Ikram Maulana, Zulfikar, Muh. Yusuf  dan adinda Andi Wakkang Bannatje. 

Sebagai bentuk kesungguhan dalam memaknai acara tersebut, penulis dan Petta Mado' (Paduka Drs. Andi Ahmad BEso Manggabarani) mengikutsertakan sebagian perangkat asli iring-iringan kerajaan , peninggalan Kerajaan Belawa, Gowa dan Ajattappareng (Sidenreng, Rappang, Alitta, Sawitto dan Suppa).

Keterangan Gambar :
Persiapan iring-iringan di Gedung Manunggal, Makassar.


Keterangan Gambar :
Paduka Drs. Andi Ahmad Beso Manggabarani (stelan hitam) dibawah Lellu' (Payung Bertangkai 4) khas Kerajaan Suppa sedang bersiap-siap menuju Gubernuran.

Keterangan Gambar :
Penulis dan Isteri dibawah payung kebesaran khas Tellu Latte' Sidenreng

 Keterangan Gambar :
Suasana pawai sehabis hujan rintik-rintik




 Keterangan Gambar :
 Dari kiri ke kanan (baris kedua), : Anakda Muhammad Fahrul Jauhari, Anugerah Pallawagau dan Ikram Maulana sedang memegang Pusaka Banranga Tellu Latte'E. Anakda Tonra Sumange (stelan hijau) memegang payung kebesaran.





 Keterangan Gambar :
 Paduka Andi Ahmad BEso Manggabarani (Petta Mado') dibawah Payung Lellu' kebesaran dengan  menyelipkan Pedang Pusaka Su'dang TaEng yang bertuah.




 Keterangan Gambar :
 Suasana menjelang perjalanan iring-iringan Pawai Kerajaan yang menegangkan bagi para anakda.




 Keterangan Gambar :
Pawai iring-iringan Kerajaan, rindu serpihan-serpihan masa lalu..






 Keterangan Gambar :
Menjunjung nilai kearifan dibawah payung mulia..





 Keterangan Gambar :
Menguatkan silaturrahmi dibawah Lellu' Alebbireng..





 Keterangan Gambar :
Suasana hikmad dalam menampilkan permainan rakyat dihadapan Gubernur..





 Keterangan Gambar :

Aksi pertunjukan pertarungan Pencak Silat "SENDENG" yang indah, perpaduan antara olah ketangkasan ksatria dan keindahan seni gerak tubuh. Bahwa Seni Beladiri "SENDENG" adalah Pencak Silat khas Bugis yang pada jaman dulu sering dipertunjukkan di Istana, sehingga disebut sebagai "CulE-CulE Saoraja". Maka kekhasannya yang mengutamakan kecepatan gerakan tangan diberengi tubuh yang meliuk-liuk tanpa tendangan, dimaksudkan sebagai sikap "santun" yang memantangkan mengangkat kaki dihadapan Raja.




 Keterangan Gambar :

Permainan Silat yang diiringi musik tradisional (gendang, kecapi dan suling) menambah riuhnya pertunjukan dihadapan tamu agung.





 Keterangan Gambar :
Gubernur Sulawesi Selatan beserta segenap jajarannya nampak hikmad menerima iring-iringan pawai Kerajaan Ajattapareng.






 Keterangan Gambar :
Berfoto bersama, para serpihan puing kejayaan Kerajaan dari masa lalu. Dari kiri ke kanan : Anakda Anugerah Pallawagau (putera ke-2 penulis), Ikram Maulana (putera ke-2 Kakanda H. Andi Pajung), Muhammad Fahrul Jauhari (putera ke-3 penulis), Tonra Sumange' (putera ke-1 Kakanda H. Andi Pajung), PENULIS, Paduka Drs, Andi BEso Manggabarani, Zulfikar AR (putera ke-3 kakanda Andi Arifin LaodjEng Alm.), Muh. Yusuf, Sangaji Adiguna (putera ke-1 penulis) dan Adinda Andi Wakkang Bannatje' (sepupu sekali penulis).






 Keterangan Gambar : 
Penulis beserta isteri.


Semoga kiranya menumbuhkan hikmah yang diridloi Allah. SWT. Mabbulo Sibatangko mennang, malii siparappe', malilu sipakainge', marebba sipatokkong..

Wallahualam Bissawwab.