Aku tidak MENULIS sejarah..tapi kusedang MENGKAJI sejarah..agar kudapat MENGUKIR sejarahku sendiri..

Senin, 25 April 2011

Ininnawa

ORANG TERHORMAT

"Malempuu gau'na, malebbi lingkajo ampE'ampEna, malamung siri'na na magetteng pessEna.." (Perbuatannya senantiasa berlandaskan kejujuran, Kelakuannya senantiasa mulia sejati, memiliki harkat diri yang teramat dalam dan nurani kemanusiaannya yang sangat peka..)..
................................................................................................

Gambaran ideal tentang sebuah keperibadian.. Namun apakah itu adalah "Orang Terhormat" ?. Lebih dari itu, ia adalah seorang mulia sejati yang digambarkan dalam khazanah Bugis sebagai : Malebbi Lingkajo.

Menggambarkan pribadi mulia agaknya terlalu muluk-muluk. Namun kerapkali pada pengalaman hidup kita, didapati seorang yang teramat dihormati.. Sekiranya aku ditanya, yang bagaimanakah dimaksud orang terhormat itu ?

Menurutku, ia adalah seorang yang tidak segan-segan menundukkan kepalanya terhadap siapapun dihadapannya. Kepalanya penuh dengan kearifan sehingga senantiasa "mudah" menunduk takzim terhadap siapapun. IA MEMILIKI BANYAK KEHORMATAN sehingga IAPUN TIDAK TAKUT BANGKRUT dengan menebarkan RASA HORMATnya terhadap orang-orang sekelilingnya dengan ikhlas.

Kepalanya sarat hikmah ILMU PENGETAHUAN, maka ia senantiasa mudah menunduk dihadapan orang tanpa mencederai harga dirinya sendiri. "dE'to na tappa bueng uluE, narEkko ipacuku'i nasaba' mappakalebbii lao ripadatta rupa tau.." (kepala ini takkan langsung lepas dan jatuh, sekiranya ditundukkan atas nama penghormatan terhadap sesama manusia), kira-kira demikian dalam pikirannya. Maka buah daripada Ilmu yang bermamfaat adalah : Tawadlu.

Jiwanya luas seakan tak bertepi, maka ia adalah ibarat pemilik hikmah JIWA BESAR. Sekarung batu yang dilemparkan pada permukaan jiwanya tidaklah dapat menyebabkan gelombang yang menggoyahkan penjuru hatinya. Maka ia pula adalah PEMBERANI yang memiliki ciri-ciri sebagaimana digambarkan petuah Lontara, bahwa : "tanra-tanranna TowaraniE, iyanaritu : dE' natassEleng duppai karEba.." (adalah pertanda bagi pemberani, adalah : Tidak panik menghadapi segala hal ihwal kehidupan..". Jiwa besar yang membiaskan keberanian itu, tiada lain didapatkannya berkat anugerah Allah SWT terhadap hamba-Nya yang senantiasa berserah diri hanya kepada-Nya semata.

Wallahualam Bissawwab..

Kamis, 24 Maret 2011

Telaga Hati

BIARIN AJA..
                Dyong

Matahari jelang terbenam,
Tenggelam saja..
Senja jelang malam,
Gelaplah sekalian..
Rembulan bercahaya,
Siapa peduli ?
Matahari kan terbit,
Silahkan terbit..
Kuhaturkan dudukku
Pada sajadahku pagi ini..
Kututup dambaku
Kuhapur ukiran janjiku
Kubuka harapanku
Masaku masih panjang
Bajumu kupakai pagi ini
Hingga kelak akan usang
Sirna dimakan waktu
Seperti halnya sebuah nama
Akan terlupakan..
Tergilas waktu

               Pada derasnya hujan hari ini, 25 Maret 2011

Selasa, 22 Maret 2011

Kajian Budaya


I LA GALIGO, KEARIFAN DARI KETIDAKBIJAKSANAAN

I La Galigo, nama seorang tokoh dengan kepribadiannya dan juga penamaan sebuah Mitologi yang tersusun dengan sistematis serta diuraikan dalam sastra Bugis yang bernilai tinggi. Sebuah maha karya dari masa prasejarah Manusia Bugis yang diuraikan dalam untaian prosa tentang kisah romansa para Dewa dan manusia dengan hidupnya. Atas dasar “kedewataan” itulah maka disebut pula sebagai kitab sastra suci, dimana pembacaannya baik dari tradisi tulisan (Lontara) maupun lisan (Sure’ SEllEang), selalu didahului dengan ritual khusus serta maksud pembacaan itu diawali dengan niat yang sakral pula. 

Sejak dulu hingga dimasa kini, para penganut “Pattorioloang” (Aliran Kepercayaan Lama) suku Bugis akan terhanyut dengan penuh penghayatan dalam alur kisah ketika suatu episode (parEE’) I La Galigo dinyanyikan dengan iringan musik yang terpadu dalam suatu irama, kata dan drama teaterikal.

Syair I La Galigo yang dikatakan pula sebagai salahsatu kitab kisah kepahlawanan (Epos) terbesar di dunia. Menurut R.A. Kern yang telah membaca lebih dari 20.000 halaman kitab I La Galigo di perpustakaan Berlin, Nederland dan London, bahwa : jika disingkirkan bagian-bagian yang sama dan sejajar, maka kitab sastra I La Galigo akan tersisa k.l. 7.000 halaman polio dan ini masih lebih tebal dibandingkan dengan Kitab Mitologi Homerus di Yunani dan bahkan jauh lebih besar dibandingkan dengan Kitab Mahabharata karya Valmiki di India. Maka timbullah pertanyaan, siapa pengarang atau penulis kitab I La Galigo ?

Raffles yang menyebut kitab I La Galigo sebagai “Sejarah Sawira Gading” berpendapat bahwa putera Sawerigading yang bernama “I La Galiga” inilah yang menulis kitab itu serta menamakan karyanya dengan namanya sendiri. Namun R. A. Kern dalam Bab Pengantar ke I La Galigo (I La Galigo, Cerita Bugis Kuno – Gajahmada University Press, cet. II, 1993-hal. 6) mengemukakan pula bahwa pendapat Raffles tersebut tidak dapat diterima karena tokoh I La Galigo hanyalah salah satu dari banyak tokoh yang diceritakan pengalaman-pengalamannya dalam syair tersebut. Penamaan itu bertambah aneh lagi karena I La Galigo sama sekali bukanlah seorang pahlawan. Tabiat dan tingkah lakunya yang tidak senonoh berulangkali dicaci maki serta dalam beberapa episode, namanya dirajam dan dicela akibat kenakalan dan perangainya yang bejat.  
 
Terlepas dari pendapat-pendapat yang dikemukakan diatas, penulis mencoba mengenal I La Galigo sebagai suatu pribadi yang mendatangkan hikmah kearifan dari penelusuran selintas tentangnya. Dalam syair mitologinya, beliau memiliki nama dan gelar lengkap, sbb : I La Galigo Topadammani BEloluwangeng LennekpojiE Pajung Lolo ri Cina. Berdasarkan gelar akhirnya itu, maka beliau adalah Putera Mahkota Kerajaan Cina (Tana Ugik, Pammana).

I La Galigo adalah putera sulung Sawerigading La Maddukelleng ToappamEne’ Wara-waraE Opunna Ware’ dari perkawinannya dengan WE Cudai’ Daeng ri Sompa Punna BolaE ri La TanEtE. Jika ditelusuri dari sejak Bab I kitab Sastra I La Galigo yang terdiri dari 39 Bab itu, maka tokoh I La Galigo adalah generasi ke-V sebagaimana diuraikan, sbb : I LapuangngE LE’ba Patoto Aji Palallo La Patiganna Sangkuruwirang Batara Unru To MallangkanaE ri LettE WEro, menikah dengan : Datu PalingE’ Mutia Unru ri Senrijawa, maka lahirlah : La Toge’langi Batara Guru La Mulatau Sunge’ ri Sompa Aji Sangkuruwirang ManurungngE ri Tellangpulaweng Pajung ri Luwu I, menikah dengan : WE Nyilli’timo SolasingrangengpEro Dinulu WElompElojang I Mata Timo Tompo’E ri Bussa Empo, maka lahirlah : La Tiuleng Batara Lattu Opunna Ware’ Pajung ri Luwu II, menikah dengan : WE Opu Sengngeng Punna BolaE ri Tompotikka, maka lahirlah sepasang anak kembar emasnya, yakni : Sawerigading La Maddukelleng ToappamEne’ Wara-waraE Opunna Ware’ dan We Tenri AbEng Batari Bissu ri Langi I Walinono DaEng Manutte’. Sebagai putera sulung Sawerigading dari permaisurinya yang juga berdarah dewata, maka I La Galigo dikategorikan pula sebagai manusia berdarah dewa, setidaknya begitulah menurut alur kisah syair mitologi tersebut.

Akibat masalah pernikahan Sawerigading dengan We Cudai’ yang penuh konflik, I La Galigo yang terlahir disela-sela perhubungan kedua orang tuanya yang rumit itu tumbuh dengan perkembangan mental yang tidak kondusif pula. Melengkapi tulisan ini, kiranya akan lebih mudah difahami apabila latar belakang kelahiran I La Galigo diuraikan secara singkat sejak pernikahan kedua orang tuanya.

Bermula pada kegundahan Sawerigading yang jatuh cinta pada pandangan pertama pada saudari kembarnya, yakni : WE Tenri AbEng.  Kisah tersebut tertulis dalam Lontara Syair I La Galigo pada Bab (ParEE”)berjudul : Napatudangngi Nawa-nawanna Silingerengna Sawerigading. Disebutkan, bahwa : ….taddakka-rakka Sawerigading mampaE mEnrE’ lE ri anrinna, adannakua Toappanyompa : “LE tekkusubbu ada pongratu, amasEangnga’ sia WE AbEng, masEngngi mennang lE ri puatta, mappassEuwa lE’ angkaukeng, tapappincengngi lolangengngE ri alE Luwu, ri Watampare’, napassEuwwa lompo’ turungeng tomaEgaE, aja’ nadua sumpang palana lolangengngE, lE nasipeppa’ sanaditiE, LE nasiranreng sana gEnoE, lE nabbaiseng Opunna Luwu MallaibinE, napasiala pada cErona “..  Terjemahan ….dengan serta merta Sawerigading menyambut sirih dari adiknya, berkatalah Toappanyompa (nama lain Sawerigading): “Aku tidak bermaksud  menyembunyikan kata hati pongratu,   kasihanilah aku WE AbEng, kiranya adinda sudi menyatukan warisan dari Yang Dipertuan Agung, mempersatukan lembah tempat turunnya orang banyak, supaya jangan terpecah dua penguasa negeri, agar semuanya bersatu, kiranya dapat berbesan Yang Dipertuan Luwu suami isteri, dikawinkan kedua orang anaknya… 

Mendengar perkataan Sawerigading, dapat dibayangkan betapa gemparnya seisi Istana Langkana Lakko ManurungngE pada saat itu. Terlebih-lebih Batara Lattu’ dan WE Datu Sengngeng, kedua orang tua Sawerigading dan WE Tenri AbEng sendiri. Bagaimana mungkin menuruti kehendak putera kesayangannya yang tidak patut itu ?. 

Sawerigading adalah pangeran mahkota, sekaligus ksatria harapan kejayaan negeri Luwu. Ia adalah kecintaan kedua orang tuanya, kebanggaan kakek dan buyutnya yang bertahta di Butinglangi (kayangan) serta kesayangan para buyutnya di Toddangtoja (dunia bawah). Keinginannya yang tak terpenuhi akan membuat Sang Pangeran yang dimanja itu menjadi padam semangatnya. Padahal ketika itu, iapun telah memperisteri  puluhan wanita tercantik dari segala penjuru, diantaranya sepupu sekalinya sendiri yang bernama “We Panangngareng”.

Namun bagaimanapun, perkawinan antar saudara adalah Tabu. Dikatakan sebagai : Nasapa Tana, Narumpu Langii’ (Pantangan bagi bumi, Menjadi asap pada langit). Perkawinan antar saudara, meskipun tidak seayah atau seibu, akan membawa bencana terhadap kehidupan pada umumnya. Tema tersebut diungkapkan secara eksplisit oleh We Tenri Abeng sendiri. Sang Puteri berusaha melunakkan hati kakak kembarnya itu dengan lembutnya.
“ ..amasEangnga kaka Dukkelleng, mupasai sani babua mai watakku, kujellorekko lise’ sinrangeng, palallo waji tenre’ padanna, lE namessu aseng putungengi, sEuwwa mua lE bulo kati , lE tirisekku ri Botinglangi..”
Terjemahan : “..sayangilah aku Kakanda Dukkelleng (panggilan We Tenri Abeng terhadap Sawerigading), jangan lagi kau perhatikan aku, saya akan tunjukkan seorang gadis dambaan, yang kecantikannya tiada tara, satu jua cetakan, kami berdua diciptakan di Botinglangi..”
Maka bertanyalah Sawerigading, dimana gerangan gadis itu berada ?. We Tenri Abeng menjawab :
“ ..kui tudang ri Tana Ugi, ri alE Cina, rijajianna La Sattungpugi, We Cudai sia asenna, lE na ritella Daeng Risompa, pattellarengna Punna BolaE ri La TanEtE, narEkko lokkako mitai, nadE’ kupada-pada, rEwe’ko mai mubottingika’..”
Terjemahan : “.. dia berkedudukan di Tana Ugi, pada pusat negeri Cina, puteri La Sattungpugi, namanya We Cudai, DaEng Risompa adalah gelarnya, Sang Penguasa negeri La TanEtE, sekiranya engkau pergi melihatnya, sedang ia tidak menyamai kecantikan rupaku, kembalilah kemari untuk mengawiniku..”

Episode ini sangatlah populer dengan sebutan “Ri Tumpanna WElenrEngE”  (Ditebangnya Pohon WE LenrEngngE). Dalam rangka mempersiapkan pelayarannya menuju Cina, Sawerigading menebang pohon raksasa yang bernama : WElenrEngngE. Pohon besar yang teramat keramat itu tumbang oleh “WasE DEwataE” (Kapak Dewata) yang diayungkan Sawerigading. Maka pohon inilah yang ditempa secara luar biasa oleh PunnaE Liung Guru ri Selleng Tuppu BatuE ri Toddang Toja (buyut Sawerigading, penguasa Dunia Bawah) menjadi sebuah armada laut.

Pembaca yang terhormat. Sesungguhnya tulisan ini sedianya kupersembahkan kepada Puekku H. ANDI BASO PATIROI di Balikpapan, atas permintaan beliau pada percakapan terakhir kami beberapa waktu sebelum saya memulai menulis uraian ini. Namun kehendak Allah berkata lain, beliau telah berpulang ke Rahmatullah. Maka tulisan ini tidak mampu kulanjutkan.. semoga arwah beliau mendapatkan ketenangan dan mendapat tempat yang layak disisi Allah. SWT. Amin.

Kamis, 13 Januari 2011

Budaya

"Joa", pengikut

"NarEkko naposiri'i DatuE, napumatEni Joana.." (Kalau sudah menjadi aib yang mencederai harga diri Datu, maka itu adalah saat bagi para pengikutnya untuk mempertaruhkan jiwa..).

...........................................................................................

Bertitik tolak pada ungkapan "Joa" diatas, maka ia dimaknai sebagai pengikut setia. Namun pada kesempatan lain, "Joa" diartikan secara harfiah sebagai peralatan yang terbuat dari sebatang kayu yang dipergunakan sebagai penggandeng sepasang sapi atau kerbau ketika membajak di sawah. Maka fungsi "Joa" sebagai ungsur peralatan membajak sawah tersebut adalah sebagai "alat pengikat" bagi sepasang sapi atau kerbau agar tidak saling terpisah dalam melaksanakan fungsinya. Namun demikian, "Joa" pula dijadikan sebagai istilah bilangan (hitungan) bagi hewan sapi dan kerbau. Sebagai contoh dapat dikemukakan, sbb :

- Duangngajoa saping nasapirengngi galungku (Sawahku ditukar dengan dua pasang sapi)
- Siajoa tEdong passEllEna kawalinna (Badiknya dipertukarkan dengan sepasang kerbau) 

Uniknya, istilah hitungan "Ajoa" atau "Joa" hanya berlaku pada hewan sapi dan kerbau saja. Tidak pernah ditemukan sebagai penghitung bagi hewan ternak lainnya, seperti : kambing, kuda, ayam dan lain sebagainya. 
Selain itu, "Joa" adalah poros utama tempat bertumpu peralatan bajak sawah. Maka "Joa" dipandang sebagai fungsi utama yang menggerakkan aktifitas atau pekerjaan membajak sawah yang merupakan sendi utama dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan dimasa lalu.

Sebagai sebuah istilah bagi perangkat struktur dalam lingkungan aristokrat Bugis dimasa lalu, "Joa" adalah sebutan umum bagi seluruh pengikut Raja atau tokoh pejabat maupun bangsawan. "Joa" bagi seorang Raja boleh jadi adalah menteri, panglima, UlEbalang (Hulubalang), Pallapi' Aroo (Pengawal Pribadi), Kino (Ibu Susu), Pakkanna (Ksatria), To Warani (Pahlawan), Pabbicara (Hakim / Penasehat), atau bahkan Ata (Sahaya). Mereka semua yang terdiri dari lapisan struktur sosial tersebut adalah "Joa" (Pengikut) yang mengikatkan diri sebagai "Anggota Klan" dengan mengidentitaskan diri satu sama lainnya dihadapan Raja sebagai : "SengngataE" (Sesama Abdi).

Adalah hal yang menjadi suatu etiket tersendiri dalam hal tata bahasa krama dalam lingkungan Istana yakni ketika dihadapan "Datu" (Raja) dengan senantiasa menyebut diri sebagai "Ata" (Hamba/Patik) serta menyebut yang lainnya sebagai "Sengngatakku" (Sesamaku Abdi dihadapan Datu). Penyebutan "Sengngatakku" berlaku bagi semuanya, selain : Ana' Mattolana DatuE / Datu Lolo (Pangeran Mahkota /Putera Puteri Raja yang setara derajatnya dengan Datu sendiri), Datu MakkunraiyyE (Permaisuri / Gahara), Saudara atau kerabat yang setara dengan Datu dan Raja-raja negeri lain. Sebagai penjelasan uraian diatas, maka dihaturkan illustrasi percakapan dengan Datu, sbb :

Datu  :  Sienna muengka, La Oddang ? (Sejak kapan kau tiba, La Oddang ?)

Saya  :  Silalona mua lettu' atanna datuE, Pueng.. (Hamba baru saja tiba, Tuanku)

Datu  :  EbarE' engkatu kapang karEba maElo ri palettu' ?
            (Barangkali ada khabar yang ingin disampaikan kami ?)

Saya  :  Usompai Puengku DatuE ri sEsE alebbirengna..
             Iya naengkang AtaE mangolo ri cappa' ajEna Puekku DatuE,
             nasaba' maElo paissengngi Puekku makkadaE napumEnasai
             sengngatakku La Pajung tudang sipulung ri sEnEng mangoloE..
             (Sembah bhakti hamba bagi Tuanku dalam kemuliaannya..
              Adapun maksud hamba menghadap diujung kaki tuanku,
              yakni berkeinginan untuk memberitahu kepada pertuanannya tentang rencana
              sesamaku abdi tuanku yakni La Pajung untuk menyelenggarakan rapat keluarga
              pada hari senin depan...)

............................................................................. setelah berbincang beberapa lama, saya menanyakan perihal kesehatan Permaisuri. Maka tata bahasa saya adalah sebagai berikut :

Saya  :  TabE' Puang, aja namatula AtaE nasaba' pakkutanana lao ri Datu Puengna,
             Nasaba' siruntu'i AtaE Puekku Datu Lolo sangadiwenni',
             nasengengngi malasa-lasai garE' Puekku Datu MakkunraiyyE..
             (Ampuni hamba, Tuanku. Semoga hamba tidaklah kualat karena mempertanyakan
               perihal pertuanannya, pasalnya hamba telah bertemu dengan Pangeran Mahkota
               kemarin lusa, menurut beliau bahwa Tuanku Permaisuri kesehatannya sedang terganggu...)

Datu   :  Masala-sala pEnedding mEmengngi Puengmu ri sErE'na esso, naEkiya madisingni ...
              (Tuanmu memang agak sakit beberapa hari yang lalu, tapi sudah sembuh..)

Adalah merupakan suatu etika tersendiri dalam tata bahasa seorang "Joa" (pengikut) terhadap "Ajjoarengna" (Ikutannya) bahwa dianggap sebagai suatu hal yang kurang sopan sekiranya mengajukan pertanyaan secara langsung.

Bagi sebagian kalangan, tata bahasa yang selintas kedengarannya agak "menjilat" seperti demikian, namun dalam lingkungan "Pangadereng", itu adalah hal yang sepatutnya. Seorang Datu yang diillustrasikan diatas biasanya adalah paman saya sendiri. Namun begitulah "Wari" (Pranata) yang senantiasa berlaku hingga kini.

Anak-anak kandung penulis sendiri sehari-hari memanggil "Puang" (Tuanku) kepada ayah dan ibuku. Pada saat lain ketika ayah atau ibunda penulis menanyakan perihal "cucu-cucunya" tersebut, maka saya senantiasa menjawabnya dengan tata bahasa, sbb :

  Ibunda  : Maga maneng moi appoku, na' ? 
                 (Bagaimana khabarnya para cucuku, nak ?)
  Saya     : Madising-disingmoi sengngatakku iya maneng, Etta.."
                 (Mereka sesamaku abdi semuanya sehat walafiat, Etta..)

Maka tidak heran jika salah sorang puteraku pernah mengeluh, "Saya tidak punya kakek nenek dari pihak ayah..", katanya. Sesuatu yang kadang dianggap sebagai aturan kaku yang menciptakan "Gate" dalam perhubungan kekerabatan, namun sesungguhnya "Kasih Sayang" tidaklah terbatas tata bahasa belaka. Nilai luhur yang didapatkan dibalik kedisiplinan masa lalu itu adalah : terciptanya sikap saling memuliakan dan saling hormat menghormati satu sama lainnya yang diistilahkan sebagai Sipakatau na sipakalebbi rilalengna wari sipakkamasE-masEna assisumpungengloloE (Saling memanusiakan dan saling memuliakan dalam pranata saling mengasihi antar kerabat..). Maka "Joa" dan "Ajjoareng" adalah sesungguhnya adalah ikatan suatu hubungan dalam suatu kesatuan tersendiri.

Wallahualam Bissawwab..

Rabu, 12 Januari 2011

Ininnawa



ADA SANGRO

Aku bukan seorang yang suka dan mudah percaya terhadap hal-hal yang berbau klenik. Namun pada suatu hari aku terpaksa berhadapan jua dengan perapal mantera-mantera itu.  Ketika itu aku berkunjung ke rumah salah seorang sepupu yang berdomisili diluar daerah. Rupanya aku salah memilih waktu, karena saat itu rumahnya dikunjungi pula oleh seorang dukun yang diundangnya untuk mencari benda guna-guna yang konon sengaja ditanam oleh seseorang disekitar rumahnya itu.
........................................................................................................................

Setelah urusan “tanam menanam” itu selesai, sepupuku meminta tolong  pada dukun itu agar memeriksaku pula. “Waah, saya tidak sakit apa-apa koq ?!”, protesku. Sepupu tuaku itu hanya tersenyum seraya berkata, “Iya, saya tahu, dik. Tapi tidak ada salahnya jika kau diperiksakan. Masalahnya, hingga saat ini kau sulit mendapatkan pekerjaan..”. “Lho, apa hubungannya dengan dukun ?!”, tanyaku dalam hati. Namun aku menghargai niat baik kakak sepupuku itu maka aku menurut saja.

Sang dukun sakti itu memeriksa hampir seluruh sudut-sudut tubuhku dengan seksama. Mulai dari telapak tangan, ubun-ubun kepala, dan lainnya pula. Bagaikan seorang pedagang sapi yang sedang memeriksa dan menaksir seekor sapi. Sementara itu, asap kemenyan mengepulkan asapnya memenuhi ruangan sempit itu sehingga membuat mataku agak perih.

“Rupanya kau telah inkar janji pada leluhurmu .. itulah sebabnya maka kau sulit mendapatkan pekerjaan !”, kata dukun itu seraya memandangku dengan tajam.  “Haa ?!.. janji apa’an ?”, tanyaku heran. Soalnya aku tidak pernah merasa berjanji apa-apa pada salahseorang leluhurku. Apalagi keempat kakek nenekku semuanya telah wafat. Bagaimana mungkin aku bisa menjanjikan sesuatu pada orang yang telah wafat ?. “Pokoknya kau pernah berjanji didepan makam leluhurmu !”, kata dukun itu ngotot. “Ah, tidak pernah itu !”, sahutku lebih ngotot pula. “Pokoknya pernah. Cuma kau pasti lupa !”, sergahnya sewot. “Pokoknya tidak pernah ! Saya belum pikun, koq ?!”, balasku pula. Maka dukun dan pasiennya berdebat sengit pada hari itu.

Pengalaman kecil itu mengingatkanku pada sebuah cerita tentang Pak Hamid yang kehilangan kerbaunya. Menurut tanda-tanda jejak yang ditinggalkannya, kerbau itu dibawa oleh maling pada dini hari. Selama beberapa bulan setelah kejadian naas itu, Pak Hamid berusaha mencari kesana kemari, namun petunjuk keberadaan kerbaunya tidak didapatkannya jua. Hingga pada suatu hari, Ia meminta pertolongan seorang dukun untuk menerawan lokasi dimana kerbaunya berada. Konon khabarnya, dukun itu adalah seorang sakti yang mampu melihat segala sesuatu yang terlindung, jauh maupun dekat.

Dengan mata agak disipitkan sedemikian rupa, sang dukun komat kamit merapal mantera. Ia mengacung-acungkan sebilah keris pada permukaan air dalam wadah mangkuk perunggu dihadapannya. Pak Hamid memperhatikan tingkah sang Dukun dengan perasaan agak serem seraya duduk dengan takzimnya. “Oh.. akhirnya kelihatan juga !”, seru dukun itu dengan mata membelalak lebar-lebar, memperhatikan permukaan air dalam mangkuk. “Mana ? Saya juga mau melihatnya..”, seru Pak Hamid dengan penasaran namun penuh harap.

“Ha ha.. kamu tidak dapat melihatnya. Hanya aku yang bisa menerawangnya..”, kata sang dukun.

“Baiklah.. lalu dimana kini kerbauku ?”

“Ternyata.. kerbaumu itu dibawa pencurinya menuju ke Kabupaten disebelah timur !”

“Wah, benar itu.. ! Jejak kakinya memang menuju ke timur !”, kata Pak Hamid mulai yakin.

“Naah, kerbaumu  itu kini sedang berkubang dipinggir parit sawah, tidak jauh dari sebatang pohon mangga cina yang besar..”

“Oo..”, Pak Hamid mengangguk-angguk bengong semakin yakin.

“Waah.. ternyata kerbaumu itu sudah hampir jadi dua !”, seru Sang Dukun semakin bersemangat.

“Maksudnya ??”, tanya Pak Hamid heran.

“Maksudku, kerbaumu sekarang sedang bunting ! Sebentar lagi melahirkan ..”

“Lho, mana mungkin itu ?! Kerbauku khan berjenis kelamin jantan ??!”

“Awwaah !!.. kenapa koq baru bilang kalau kerbaumu itu jantan ?!!”
……………………………………………………………

Pembaca yang mulia.. aku tidak mengerti, buat apa kutulis cerita konyol ini ?. Maka selanjutnya andalah yang mengurai hikmahnya.


Wallahualam Bissawwab....

Selasa, 11 Januari 2011

Ininnawa


PEDULI..

“Peduli..”, demikian sebuah kata yang diketik oleh saudara Bakhtiar D. Mallolongeng, kerabatku yang saya muliakan. Sebuah ungkapan tentang “kelakuan” yang sulit diterjemahkan secara pas dalam kosa kata Bahasa Bugis..
………………………………………………………………………………………………

Istilah “Peduli” jelaslah bukan diperuntukkan bagi seseorang yang egois. Melainkan ia adalah sosok pribadi yang memiliki perhatian khusus terhadap sesuatu yang berada diluar dirinya. Suatu pribadi yang memiliki kepedulian itu adalah cerminan mahluk sosial sebagaimana wujud tabiat manusia yang sesungguhnya. Kira-kira seperti itulah pengertian dangkal terhadap istilah “peduli” menurutku..

Kepedulian terhadap sesuatu hal adalah mutlak terekspresikan dari dalam. Kepedulian adalah aksi nurani yang kerapkali keluar begitu saja tanpa melalui proses diskusi. Ia adalah sesuatu yang diputuskan begitu saja tanpa melalui proses demokrasi. Maka menurutku, rasa peduli adalah suatu panggilan jiwa yang melibatkan campur tangan keputusan Tuhan yang tak terbantahkan.

Saya mengenal seorang tua yang memiliki kepedulian terhadap anak-anak terlantar. Walau hidup dengan bermodalkan sebuah becak tua, namun beliau memelihara beberapa anak yatim piatu yang dirawat dan diurusnya dengan sepenuh hati di rumahnya yang sederhana. Ia seorang yang buta huruf, namun pengertiannya terhadap arti pentingnya pendidikan agaknya setaraf dengan seorang sarjana S1. Maka anak-anak asuhannya itu disekolahkannya pula dengan sungguh-sungguh. Adalah hal yang mengharukan jika melihatnya setiap pagi, tubuh reotnya itu mengayuh becak yang memuat anak-anak berseragam SD dan SMP, para anak-anak asuhnya. “Yaah, agar bisa hemat uang transportasi, nak..”, katanya riang sambil mengusap keringat diwajahnya dengan sehelai handuk tua pula.

Kadang-kadang saya suka bertandan ke rumahnya pada sore hari. Beliau adalah orang yang enak diajak ngobrol. Saya tahu jika beliau adalah orang yang sering hidup berkekurangan dengan bebannya yang cukup berat, namun tidak sekalipun terdengar kalimat keluhan darinya. “..kira-kira pata taung umuru’ku natama NippongngE ri Belawa, nak..” (..kira-kira saya berumur 4 tahun ketika tentara Jepang masuk di Belawa, nak..), demikian kisahnya. 

“Marejjing tongengga atuongengngE wettuEro, yE’ ? (Apakah betul jika kehidupan sangat sulit pada masa itu, yE’ ?), tanyaku. 

‘AwwE, dE’nagaga rejjing pada-padanna, Nak.. Puwang Allah Ta’ala mani missengngi ..” (AwwE, tidak ada lagi penderitaan yang menyamainya, nak. Kiranya hanya Allah Ta’ala yang tahu..). Baru kali ini saya melihat wajah tua yang biasanya cerah itu mengerut muram. Kenangan pahit dimasa lalu agaknya menggores kalbunya begitu dalam.

Masa pendudukan bala tentara Jepang adalah masa paling suram dalam hidupnya, atau mungkin bagi semua orang pada masa itu. Bahan makanan terlalu sulit didapatkan sehingga banyak orang terpaksa memakan gedebong pisang. Ibunya meninggal dunia dalam masa yang memprihatinkan itu. Sementara itu, semua lelaki dewasa ditangkapi pula untuk menjadi pekerja Romusha. Maka Ayahnya terpaksa membawanya mengunsi ke tempat-tempat terpencil dimana tidak diketemukan tentara Jepang. Tidak dapat dibayangkan, bagaimana nasib anaknya yang masih balita itu jika iapun harus menjalani kerja paksa itu.

Menempuh perjalanan jauh dalam keadaan ketakutan serta tanpa bekal apa-apa, adalah suatu penderitaan yang tak terkira. Ayahnya hanya membawa sebuah tempat air yang terbuat dari bambu sambil menggendongnya dengan susah payah. Sementara pakaiannya, hanya yang melekat di tubuh mereka saja.

“Ambo’.. malupuuka’..” (Ayah, aku lapar..), rengeknya dipunggung ayahnya.

“Inungko, nak..” (Minumlah, nak..), sahut ayahnya. Maka iapun meneguk air di bumbung bambu itu. Setelah beberapa lama, perutnya yang sudah membuncit itu terasa semakin melilit, perih karena lapar. Air yang sejak tadi diteguknya tidak mampu memenuhi tuntutan rasa laparnya.

“Ambo’.. malupuuka’..” (Ayah, aku lapar..), rengeknya semakin memelas.

“Inungko si, nak..” (Minumlah lagi, nak..), kata sang ayah dengan nafas ngos-ngosan oleh rasa lelah, lapar dan pilu.

“Malupuu tongenna’, mboo’..” (Aku benar-benar lapar, ayah..), rintihnya mendekati tangis.

Ayahnya berhenti lalu menurunkan anaknya yang malang itu dari punggungnya. Lelaki yang sengsara itu memeluk puteranya seraya menahan sedu sedan yang mencekik kerongkongannya. Ia membelai rambut anaknya sambil berkata, “Atinrono palE’, nak..” (Cobalah tidur, anakku..). Mungkin dengan tertidur sejenak, rasa lapar akan terlupakan sesaat.. Walau cuma sebentar saja. Berharap ketemu ibu dalam mimpi.., ujarnya memenggal kisah merana itu.

Akhirnya sayapun mengerti, bahwa pengalaman pahitnya dimasa kecil yang mengukir mozaik kepeduliannya terhadap anak-anak terlantar. “Tauperrii’Engmi maissengi perriina padanna tau perrii’..” (Orang yang susahlah yang dapat mengerti kesusahan sesamanya .........). Penderitaan bukanlah sekedar uraian kata. Bukan pula sekedar retorika, melainkan dirasakan serta dimaknai oleh nurani. 

Tanra-tanranna rupatauwwE nariyaseng tau, nasaba' mappErasa pessE ri lilana, mappEsammeng ri tigerro'na, mappEnedding pessE ri perruna.. (Pertanda bagi seseorang sehingga dapat disebut sebagai manusia, adalah : Merasakan pedis pada lidahnya, lalu merasakan jika itu dapat melewati kerongkongannya, kemudian terasa perih pula dalam ususnya..). Setiap orang dikatakan lumrah jika mengetahui bahwa PessE (Jahe) memiliki rasa (taste) pedis. Sekiranya saat ini saya memakan jahe, kemudian anda yang sedang membaca tulisan ini sedang memakan jahe pula, pastilah kita sependapat bahwa : Rasa jahe itu pedis. 

Persepsi yang sama tentang rasa jahe yang pedis itulah dikatakan sebagai : solidaritas pessE atau solidaritas sosial dalam bahasa sosiology. Perasaan yang sama terhadap sesuatu itu akan menimbulkan pula kepekaan yang sama sebagai ekspresi kemanusiaan dalam wujud : CARE atau kepedulian terhadap sesama mahluk ciptaan Allah SWT.

Mengarungi samudera hidup yang tak terkira ini, kadang-kadang "Siri" (Harkat diri) tidak dapat ditegakkan sebagaimana yang diinginkan, namun "PessE" yang dimakani sebagai Solidaritas Kemanusiaan, mutlak harus ditegakkan. "Punna tekkullEa nipaEntEng Sirika, paEntEngngi PaccEnu.." (Sekiranya Siri tidaklah mampu ditegakkan, maka tegakkanlah kemanusiaanmu..), demikian wasiat Baginda Sultan Alauddin. Janganlah karena rasa malu terhadap sesuatu menyebabkan hilangnya rasa kemanusiaan. Maka menempatkan rasa malu terhadap Tuhan dalam wujud Iman dan Taqwa adalah prioritas pertama dalam lembaga kepribadian seorang Bugis Makassar dan seluruh umat manusia pada umumnya.


Wallahualam Bissawwab..


Kamis, 06 Januari 2011

Budaya

Ata, Budak atau Hamba ?

Ata adalah budak yang diperjual belikan dan digadaikan..
Ata adalah hamba yang dapat dijadikan mahar perkawinan..
Ata adalah abdi suruhan dalam istana..
Ata adalah sahaya yang dapat dipinjamkan sebagaimana halnya aksesoris..
……………………………………………………………………………………………………………………………..

Demikian antara lain pendapat atau persepsi sebagian orang jika ditanyakan perihal “Ata”. Namun sesungguhnya, semuanya sependapat jika dinyatakan bahwa : Ata adalah Manusia jua. Maka timbullah pertanyaan yang mendasar, apa dan bagaimanakah “Ata” itu sesungguhnya ?. Pertanyaan itu kemudian saya tanyakan  pula kepada Ayahanda Andi Panguriseng (A. Mori)  semasa hidupnya, H. Gandaria semasa hidupnya pula, serta Ibunda Hj. Andi KambeccE’ yang kini tinggal menjadi azimat hidup kami. Maka berikut ini diuraikan himpunan persepsi para pelaku sejarah itu.

Bukannya bertujuan untuk menghidupkan kembali masa Aristokrat dan Feodalisme yang banyak menganut pola hidup jahiliah itu, melainkan sekedar melengkapi khazanah Pengetahuan Budaya dan Sejarah pada berbagai sudutnya. Terlepas dari benar atau salah, tergantung dari sudut mana kita memandangnya.

Ata adalah sebuah strata sosial yang menempati urutan terendah dalam kehidupan Masyarakat Bugis dan Makassar. Sekiranya dapat diperbandingkan, Ata adalah suatu kasta yang setaraf dengan kasta Paria dalam Agama Hindu. Walaupun dikategorikan sebagai tingkat terendah, namun sesungguhnya Ata memiliki struktur pula dalam penggolongannya, sbb :

1.       Ata Manaa’

Suatu golongan yang mendapatkan identitas Ata disebabkan oleh keturunannya. Ia terlahir kedua orang tua yang berstatus Ata, maka iapun disebut pula sebagai Ata Manaa’. Golongan inilah yang pada jaman dulu  diperlakukan sebagai objek jual beli, gadai, pekerja dan juga sebagai lambing kekuasaan seorang Bangsawan. Bahkan lebih dari pada itu, pada jaman I La galigo, mereka kerap dijadikan pula sebagai “sesajian” yang dipersembahkan (dikorbankan) jiwanya kepada para Dewa.

2.       Ata Mabuang

Adalah golongan Ata yang berasal dari keturunan “MaradEka” (baik-baik) atau bahkan bisa pula dari kalangan Bangsawan. Mereka menjadi Ata disebabkan banyak hal, diantaranya diuraikan sebagai berikut :

-          Kalah Perang
Pada jaman dulu, akibat paling buruk yang terjadi pada suatu Kerajaan yang kalah perang adalah dijadikannya sebagai Ata bagi Kerajaan yang memenangkan perang. Kondisi itu berlaku sejak masa pra-Islam hingga pada masa Islam telah tersiar di Sulawesi Selatan.  Sebagai contoh kasus, dapat dikemukakan disini yakni peristiwa peperangan antara Kerajaan Sidenreng dengan Kerajaan Kecil Utting dalam tahun 1543. Ketika itu Kerajaan Wajo dalam pemerintahan La Warani To Temmagiang Arung Matoa Wajo X berpihak serta membantu  Utting. Keputusan itu patut dimaklumi karena Kerajaan Utting adalah merupakan “Lili”  atau wilayah taklukan yang berada dalam perlingdungan Tana Wajo sejak La Tadampare’ Puang ri Maggalatung Arung Matoa Wajo VII . Adapun halnya dengan Kerajaan Sidenreng, mereka dibantu pula oleh Kerajaan Gowa yang dipimpin langsung oleh Rajanya yang gagah perkasa, yakni : I Mariogau’ Daeng Bonto KaraEng Lakiung Tunipallangga Ulaweng Sombayya Gowa X.

Maka terjadilah peperangan yang amat sengit.  Namun, hanya dalam waktu 10 hari pertempuran mati-matian,  lasykar Wajo terpukul sampai ke negerinya dan dikalahkan secara mengerikan. Orang Wajo secara keseluruhan dijadikan “Ata” yang mengabdi kepada pertuanannya orang Gowa.

La Paturusi Tomaddualeng Arung BettEmpola yang menjadi perwakilan orang Wajo menyerahkan “kemerdekaan diri orang Wajo” dihadapan Raja Gowa seraya berkata dalam terjemahan Prof. Dr. H. Andi Mattulada, sbb :
“...kasihanilah kami, sudilah Baginda menerima upeti kami yang sedikit ini; Kami menebus kesusahan kami; Baginda adalah pertuanan dan kami adalah abdi (Ata) Tuanku.”
Maka menjawablah Raja Gowa, “ Kuterima penyerahanmu, hai Orang Wajo.: Untuk itu Dewata yang Tunggal menjadi saksi; Bahwa kalian abdi (Ata) dan kami pertuanan kalian; Apapun yang kuperintahkan, kalian wajib melaksanakannya !”
La Paturusi Tomaddualeng menyetujuinya seraya berkata : “Begitulah kiranya, KaraEng; Kami akan melaksanakannya sesuai kemampuan, serta membawa kebaikan bagi kami..”.

Dua tahun kemudian, Raja Gowa memerintahkan orang-orang Wajo untuk  memerangi Negeri  Batu Lappa. Penyerbuan itu berhasil dengan gemilang. Namun belum pula pulih kondisi lelah setelah peperangan itu, Raja Gowa memerintahkan pula pada orang-orang Wajo untuk menebang pohon di kampung Samangki (Wilayah Kerajaan Barru). Lima bulan lamanya orang-orang Wajo bekerja keras untuk menebang pohon yang akan dipergunakan untuk membangun Istana Raja Gowa yang baru..

-          Kalah Berjudi
Berjudi adalah sebuah kebiasaan yang sangat popular pada jaman dulu. Mulai dari lapisan rakyat paling bawah, hingga pada kalangan elit. Laki-laki maupun perempuan semuanya main judi.  Khusus bagi kaum perempuan, biasanya dilakukan oleh kalangan wanita bangsawan di Saoraja (Istana). Berbagai macam permainan dijadikan ajang perjudian, diantaranya : MaccupellE’, Maddadu, dll. Namun yang paling popular adalah “Massaung” (Sabung Ayam).

Kebiasaan berjudi yang sudah memasyarakat itu telah melekat sejak jaman I La Galigo. Dikisahkan dalam Lontara Besar tersebut, bahwa : I La Galigo sendiri adalah seorang tokoh judi yang senantiasa berbuat onar di tempat sabungan ayam.

Sebagaimana akibat yang timbul dalam perjudian, bahwa kebiasaan bertaruh itu menjadi semacam candu yang membuat orang menjadi ketagihan. Maka pada jaman dulu, adalah hal yang lumrah jika seorang penjudi ulung yang sedang kalah bertaruh, meningkatkan nilai taruhannya berupa sahayanya, isterinya, anak perempuannya, hingga “kemerdekaan dirinya sendiri”. Akhirnya, banyak pulalah orang baik-baik yang berubah status menjadi “Ata” akibat kalah dalam pertaruhan di arena judi.

-          Perlindungan Diri
Sebagaimana situasi dan kondisi pada jaman dulu, bahwa penegakan supremasi hukum tidak terorganisir dan tertata sebagaimana baiknya pada masa kini. Seseorang atau sebagai suatu kepala keluarga, dalam upayanya mendapatkan perlindungan bagi diri dan keluarganya, biasanya ia mengikatkan diri pada suatu rumpun keluarga yang lebih kuat sebagaimana dikenal sebagai “Appang” atau “Rapu”.  Namun tidak semua keluarga yang berhasil menggabungkan diri pada suatu “Appang” karena penggabungan tersebut biasanya haruslah diikat dengan tali kekerabatan (Perkawinan). Selain itu, iapun harus pula memberi persembahan (Makkasuwiang) dalam bentuk tanah persawahan/perkebunan atau ringgit emas, walaupun pada pihaknya adalah anak perempuan yang akan dinikahi oleh keluarga elit “Appang” tersebut.

Maka keluarga yang lemah tersebut, menjalangkan aktivitasnya dalam masyarakat dalam keadaan rentang oleh kesewenang-wenangan. Hingga pada suatu ketika ia diperhadapkan dengan suatu masalah yang bersentuhan dengan “Siri” (Harga Diri), terpaksa ia melakukan pembunuhan. Pihak keluarga yang terbunuh tersebut berusaha melakukan pembalasan, maka dikejarnya pembunuh tersebut.

Dalam pelariannya tersebut,  ia menuju ke Saoraja (istana) salah satu “Appang” yang besar serta disegani. Lelaki itu bermohon sembah kepada pemuka Appang itu agar diberikan perlindungan atas diri dan keluarganya. Sebagai imbalannya, ia menyerahkan diri beserta segenap keluarganya sebagai “Ata” yang mengabdi secara penuh kepada Appang tersebut.

Pada Kerajaan Belawa sendiri, semasa hidupnya Petta Pangulu Daeng Paliweng, beliau adalah salah seorang tokoh “Appang” yang amat disegani. La Maccaning, salah seorang saksi sejarah itu menuraikan kepada penulis, bahwa : “..narEkko engka tau ilellung nasaba’ maElo’i riuno, namoo naddEmperengmi passapungna nateppa ri laleng palla’na Petta PanguluE, napaliinitu alEEna pallellungngE lEEsu ri kampongna. Salama’ni tu to rilellungngE..” (..jika ada orang yang dikejar karena mau dibunuh, lalu ia melemparkan destarnya kedalam pagar Petta PanguluE, seketika itu para pengejarnya menghentikan pengejarannya lalu kembali ke kampungnya. Maka selamatlah orang yang dikejar itu...).

Menurut riwayat, bahwa semasa hidup puekku La Tengko Petta Manciji’E ri Wajo, baginda berpesan kepada orang-orang Lonra, bahwa : “ ..engkatu ana’ rijajiangku riyaseng I Batari utaro ri Lonra. NarEkko engka tau maElo riuno, assaleng naddEmpengmoi passapunna muttama ri palla’na, salama’ni tu..” (Aku telah menempatkan anak kandungku bernama I Batari di Lonra. Jika ada orang yang terancam jiwanya, walaupun cuma destarnya yang ia lemparkan masuk dipagar rumahnya, maka iapun selamat..).

-          Korban Penculikan
Pada jaman dulu, orang-orang Enrekang kerap memasuki wilayah pegunungan Toraja untuk menculik orang-orang Toraja lalu dijualnya sebagai budak belian. Kondisi itu berlangsung selama berabad-abad hingga La ParErEngi Petta PonggawaE Bone turun tangan membasmi penculikan itu dengan operasi milter dalam abad XIX.

Orang-orang Toraja yang diculik dan dijadikan budak belian itu kadang-kadang justru berasal dari keluarga bangsawan dari negeri asalnya. Alkisah, seorang budak belian yang masih berumur remaja dalam sebuah rumah keluarga kaya di Wajo , selalu memperlihatkan tingkahlaku yang aneh. Jika dalam keadaan tertidur, budak itu selalu menaikkan kaki kanannya bertumpu pada lutut sebelah kirinya. Kebiasaan tidur dengan cara demikian, lazim ditemukan pada anak bangsawan tinggi. Setelah ditelusuri hal ikhwalnya, ternyata anak adalah salah seorang putera Arung Sangalla’ di Toraja. Kemudian saudagar itu mengembalikannya kepada Arung Sangalla’ sehingga mendapatkan imbalan 100 ringgit emas.

3.       Ata Tai Manu’

Golongan abdi seperti ini adalah menempati tingkat paling dasar dalam struktur sosial para abdi. Ia adalah suruhan para Ata yang lainnya. “Atanna ataE..” atau “Ata Puppuu..”, demikian diistilahkan dalam kehidupan istana. Golongan inipun sebenarnya tidaklah mesti berasal dari turunan “Ata”, sehingga dapat pula digolongkan sebagai “Ata Mabuang”. Namun penyebab jatuhnya status sosialnya itu dinilai sangat terhinakan karena “berhutang”.

Ia sedang menanggung hutang yang sangat besar pada seseorang yang tergolong sebagai “Ata” dimana tidak mampu dibayarnya, maka ia dijadikan sebagai “Ata”.

Fenomena keberadaan "Ata" sebagai suatu status sosial dalam masyarakat adat Bugis Makassar memberi warna tersendiri sebagai suatu hal yang membudaya. "Mannokoo Ata-Ata.." (Menggerutu bagai budak..) adalah istilah bagi orang yang suka mengeluh dan menggerutu terhadap suatu tugas/pekerjaan yang menjadi kewajibannya namun dikerjakannya jua. Seorang "Ata" melaksanakan pekerjaan tanpa imbalan apa-apa karena ia tidak memiliki kemerdekaannya sebagaimana hak asazinya sebagai umat manusia.

Namun jangan dibayangkan bahwa "Ata" dalam masyarakat adat Bugis Makassar itu sama halnya dengan budak sahaya di Negeri Arab pada masa jahiliah, demikian kata ayahanda. Seorang Ata dikatakan "rendah" karena mereka menempati tangga paling bawah dalam struktur sosial masyarkat Bugis pada jaman dulu. Tetapi kebanyakan mereka didapati pula sebagai orang-orang elit yang melebihi kalangan masyarakat umum pada masa itu. Mereka mengenakan pakaian yang lebih layak dari pada orang-orang "Maradeka". Mereka pula kebanyakan lebih terpelajar dari pada masyarakat kebanyakan. Hal itu disebabkan karena mereka sering ikut mendampingi majikannya, sehingga majikannya itu memberikan pakaian yang sepadan untuk mendampinginya pada berbagai acara. Mereka pula diajari baca tulis serta tata bahasa yang baik karena seringkali mereka difungsikan sebagai utusan atau juru bicara pertuanannya. Maka fungsi "Ata" dalam Saoraja (Istana) adalah : Dayang-dayang, pengawal dan kadangpula dimintai nasehat dan pandangannya. 

Bayangkan dirimu jika kau bekerja sebagai pegawai di Istana Merdeka pada masa ini. Maka begitulah status pekerjaan "Ata Saoraja" pada masa lalu, demikian kata H. Gandaria. Seorang "Ata" kepercayaan penguasa kadangkala lebih ditakuti oleh masyarakat daripada tuannya sendiri. Semisalkan ia menyukai seekor ayam milik masyarakat, maka dengan mudahnya diambilnya saja ayam itu dengan alasan "Napojiwi DatuE iyE manu'E.." (Raja menyukai ayam ini.."). Pemilik ayam itu tidak bisa berbuat apa-apa.

Sementara pada waktu lain ia membenci seseorang, dengan mudahnya pula ia menikam orang itu hingga mati. "Magi munoi Ero tauwwE ?!.." (Kenapa kau bunuh orang itu ?!..), tanya Sang Datu. Dengan bersujud sembah, Ata itu menjawab dengan takzimnya : "TabE', tennapodo temmatula atanna puekku DatuE nasaba mappEbali ri puengna. Mappanniga-nigai sengngatakku. Mappoadai ri tengngana tau maEgaE makkeda : dE'na gaga tau uwasiri.. pabbettuwangenna ataE, dE'tona nasirii'i pappuengengku. NarEkko napusirini DatuE, napumatEni tu joana.. Polo paa polo pannii', usaung sunge'ku ri laleng siriina puekku DatuE " (Ampuni hamba, semoga patik tidaklah kena tulah karena menjawab perkataan pertuanannya. Orang itu "Mappanniga-niga". Ia mengatakan dihadapan khalayak umum, bahwa tidak ada siapapun lagi yang diseganinya.. Dalam pengertian hamba, termasuk pula pertuananku yang tidak diseganinya pula. Adalah kewajiban hamba, sekiranya Tuanku merasa malu terhadap sesuatu, itu berarti masanya hambamu ini mempertaruhkan jiwa raga.. Walaupun mesti patah bagai pahat serta patah pula sayapku, hamba siap menyabung nyawa demi harga diri kemuliaan tuanku..).

Demikian pintarnya memutar kata hingga Sang Datu hanya mengangguk-angguk belaka. Padahal penyebab ia membunuh orang tersebut, tiada lain karena ia ditolak lamarannya terhadap anak perempuan si orang terbunuh. Maka sebagian besar Ata kadang memiliki kekuasaan pula.

Seorang Ata dapat pula dipulihkan statusnya sebagai "tomaradEka" (Orang Merdeka). Ada banyak hal sehingga mereka mendapatkan "anugerah" kemerdekaan itu dari majikannya, sebagaimana diuraikan sebagai berikut :
1.       Berjasa
Ia melakukan jasa besar dalam bentuk kepahlawanan yang menyelamatkan nyawa majikannya. Selain jasa kepahlawnan itu, seorang Ata dapat pula dinilai berjasa jika melindungi aib pertuanannya atau dikenal dengan istilah (Nasampoi Sirina Puengna). Sebagai contoh : Seorang Datu yang menghamili seorang wanita dari kalangan masyarakat umum, maka abdinya yang mengakui perbuatan itu serta menikahinya.

2.       Melakukan “Majjujung Kappara UwaE Lebbi”
Seorang majikan yang meninggal dunia, ketika jenasahnya sedang dimandikan, para Ata duduk bersila dibawah kolong Saoraja (Istana) persis dibawah jenazah pertuanannya. Mereka menjunjung baki besar yang menerima jatuhan air mandi jenazah pertuanannya. Perlakuan itu adalah bhakti terakhir yang tidak bisa dihalangi kemerdekaannya oleh para ahli waris majikannya.

3.       Ritarima Sompana (diterima maharnya)
Seorang wanita dari kalangan “Ata” dapat pula dinikahi oleh seorang TomaradEka. Ide pernikahan itu biasanya diatur pula oleh sang Majikan yang menyayangi sahayanya itu. Ketika mahar dipersembahkan, maka itulah yang dijadikan sebagai tebusan kemerdekaan bagi diri wanita itu.


Namun demikian, kebanyakan bekas “Ata” memiliki kesetiaan terhadap pertuanannya.  Mereka memandang pemimpinnya sebagai sosok agung yang pantas dilabuhi rasa pengabdiannya yang dalam. Sebagaimana yang digambarkan tentang kepribadian seorang Bangsawan yang sebenarnya, adalah : Naiyya arungngE, maccarinna na malabo.. (Bangsawan itu penuh kasih sayang dan suka memberi..). Setiap Ata yang dimerdekakannya, dilepasnya disertai dengan harta benda yang cukup untuk menjadi sumber penghidupannya.


Sekelumit Pengalaman Pribadi


Menurut pengalaman pribadi penulis, bahwa harta benda Petta Pangulu Daeng Paliweng dan Petta Pabbicara Daeng Malebbi telah dibagi-bagikannya kepada para abdi yang dimerdekakannya dalam jumlah  hampir sama besar dengan warisan putera puterinya sendiri. Demikian pula dengan harta benda Datu Batari Petta Lonra, baginda telah membagikan pula banyak harta benda kepada para bekas abdinya dalam jumlah yang sangat banyak. Jauh lebih besar dibanding “mahar pernikahan” yang diterimanya, sehingga tiada lain hanya merupakan simbol belaka.


Adalah hal yang sangat mengharukan, para bekas Ata yang  sudah “MaradEka” itu senantiasa setia serta tetap mengatakan diri sebagai abdi pada anak cucu bekas pertuanannya. Dalam tahun 1971 (saat penulis masih dalam kandungan), terjadi kemarau panjang di Belawa. Tanah persawahan menjadi kering kerontang sehingga tidak memungkinkan untuk ditanami padi.  Sementara itu, Kakanda H. Andi Pajung yang masih berumur 5 tahun kala itu tidak mau memakan nasi jagung samasekali. Ayahanda dan Ibunda tidak bisa berdaya apa-apa karena iapun tidak terbiasa bekerja sebagai buruh panen.


Tanpa diduga, para bekas abdi itu berombongan ke EmpagaE (Wilayah Kabupaten Sidrap) dan tinggal selama beberapa minggu sebagai buruh panen. Setelah kembali mereka memberi ½ dari hasil upayanya itu kepada orang tua kami dengan ikhlas (tanpa diminta). Semasa kecil, penulis diasuh pula oleh  “nEnE Rukka”, salah seorang mantan abdi Petta Pangulu yang masih hidup. Beliau sesungguhnya adalah anak seorang “Ata Mabuang” yang berasal dari keluarga Bangsawan dari Suli (Luwu).  Anak perempuan beliau dinikahkan pula dengan seorang turunan bangsawan, keluarga Petta Pangulu pula.  Lama setelah meninggalnya beliau, barulah penulis mengetahui jika ia bukanlah Ibunda dari Ayahanda yang sesungguhnya.


Wallahualam Bissawwab..