Aku tidak MENULIS sejarah..tapi kusedang MENGKAJI sejarah..agar kudapat MENGUKIR sejarahku sendiri..

Kamis, 07 Oktober 2010

Sejarah Belawa Part. 10

Belawa, memasuki Awal Abad XX (bag. 1)

Mengetahui jika junjungan yang dihormati dan disayangnya bagai puterinya sendiri telah wafat di Negeri pengasingannya, Petta Pangulu amat berduka. Dikisahkan oleh NEnE Rukka bahwa pada suatu hari, beliau keluar dari biliknya dan langsung menuju ke sungai. Panglima tua yang semakin uzur itu mandi cukup lama lalu naik kembali ke Saoraja sambil membawa sebongkah batu sungai berwarna coklat kelabu yang berukuran agak panjang (panjang kira-kira 50cm dan berdiameter kira-kira 20 cm). Beliau meletakkannya bersandar pada dinding "jajareng" (dinding tengah) seraya berkata, : "Akko matEka' baja sangadiE, iyEna matu mEsaku.." (sekiranya esok atau lusa aku meninggal dunia, maka inilah batu nisanku..).

Maka berlakulah ketentuan Allah Azza Wajallaa. Tidak lama setelah peristiwa itu, Petta Pangulu wafat dalam tahun 1917. Menurut kesaksian sepupu ayahanda penulis bernama I BeccE' Pamuri  (umur 85 th) pada tahun 2005 di TippuluE, bahwa : " Baiccu'mopa na lElE ri pammasENa Petta Pangulu. NaEkia manessa paringerrangku Ero wettuE, MONI SIBELAWA ballili'E ri wettu riulEE bare' Petta Pangulu lao ri Jara'E.." (Aku masih kecil ketika Petta Pangulu wafat. Namun masih jelas dalam ingatanku bahwa waktu itu ketika Jenazah Petta Pangulu diusung menuju pemakaman, seluruh senapan di Belawa ditembakkan keudara, gegap gempita mengiring keberangkatannya...). Sesuai wasiatnya, makam beliau ditandai dengan sebongkah batu sungai berukuran kecil diatas pusaranya. Menurut NEnE Rukka, maksud beliau tersebut agar para pengagumnya tidak  mengkultuskan makamnya. Begitulah akhir seorang legendaris pada jamannya yang merupakan Panglima terakhir kerajaan Belawa.

Adapun halnya dengan Saoraja Bakkaa'E sepeninggal Petta Pangulu, konon Saoraja tersebut "dijual" pada seorang bangsawan yang berdiam di Bilokka (Sidenreng). Tidak ada yang tahu persis, siapa  diantara anaknya yang menjual dan mengapa situs peninggalan La Paranrengi Daeng Sijerra tersebut diperjualbelikan. Bahkan bekas-bekas berdirinya komplek Saoraja itu menurut ayahanda penulis, terletak dipinggir sungai KarajaE sebelah barat, persis dimulut jembatan SappaE sekarang ini.  Kira-kira 5 meter sebelah selatan jembatan tersebut, terdapatlah  sebuah "Limpungeng" (kedung atau bahagian sungai yang dalam) dimana senapan, amunisi dan peluru para Lasykar Belawa dibuang (ditenggelamkan) atas perintah Arung Belawa.

Selama hidupnya, Petta Pangulu memiliki 2 orang isteri sah dan beberapa gundik yang kesemuanya itu melahirhan beberapa putera dan puteri. Kedua isteri sah beliau adalah puteri La Mude' SullEwatang Laomapada dengan I RawE (kerabat Bettempola) yang masing-masing bernama : I Tuwo dan I Bada'. Dari I Tuwo, beliau mendapatkan keturunan masing-masing bernama : I Munta Daeng Mattappa, (wafat di Jambi), I Patinrosi ArungngE Daeng Sagala dan La Massi' Daeng Pagiling. Setelah I Tuwo meninggal dunia, maka atas ininsiatif Arung Belawa (Datu Tenri Kawareng) maka beliau diperjodohkan dengan adik I Tuwo (ipasitola angkalungeng) bernama ; I Bada'. Dari isteri kedua inilah maka lahirlah : La Makkarumpa' (wafat di Jambi). Sementara dari beberapa gundiknya juga mendapatkan keturunan yang tidak dapat diuraikan pada kolom ini.

Setelah lowong beberapa tahun lamanya, maka dinobatkanlah kemenakan Arung Belawa terdahulu bernama : La Onro Arung Belawa (putera I Panangngareng Datu Madello dengan La MappangilE Addatuang Sidenreng). I Panangngareng Datu Madello adalah adik kandung I Tenri Kawareng Arung Belawa MallinrungngE ri Pompanua. Arung Belawa ini masih berumur remaja ketika dilantik menjadi Arung Belawa. Menurut beberapa sumber yang penulis dapatkan, antara lain : La Maccaning (Wa Caning Alm.) bahwa masa pemerintahan baginda yang berumur amat muda ini menjadikan Belawa menjadi aman tenteram.  Salahsatu gebrakan awal baginda adalah dengan memprakarsai pembangunan Mesjid Raya  yang kini dikenal sebagai Mesjid Darussalam yang terkenal itu. Talenta kepemimpinan Datu La Onro berkat wawasannya yang luas terhadap kondisi Sulawesi Selatan pada masa itu yang didapatkan dari didikan orang tuanya. Perlu dikemukakan disini, bahwa La MappangilE Addatuang Sidenreng (ayahanda Datu La Onro) adalah putera La ParEnrEngi KaraEng TinggimaE seorang Pangeran Tana Gowa yang dapat dikatakan sebagai "Arung Ajattappareng". KaraEng TinggimaE' pun sesungguhnya adalah Pangeran Tana Wajo karena beliau adalah putera Ishak Manggabarani KaraEng MangEppE' Petta MatinroE ri Cappa' Galung Arung Matoa Wajo ke-XLIII dari permaisurinya bernama : I Dala WEttoing KaraEng KanjEnnE'.

Tersebutlah pada masa yang sama, bertahtalah La Patongai (bergelar Datu Bolong) di Doping. Daerah yang merupakan kawasan Tana Wajo yang dulunya bernama PEnrang. Tahta itu adalah merupakan warisan Baginda dari Nenekdanya yang bernama : Sompa ri Timo MajjampaE Petta PabbatE PEnrang. Baginda tinggal di Doping bersama isterinya bernama :  I Bossa setelah isteri Baginda yang terdahulu bernama : Bau' Mapparimeng Datu Madello wafat beberapa tahun sebelumnya. Selain itu, baginda ditemani oleh kakandanya dari lain ibu bernama : I Batari Petta Lonra (juga puteri La TEngko Petta Manciji'E ri Wajo dengan I REwo Ana'na Arung Batu). Namun setelah beberapa tahun menetap dan memerintah di Doping, terjadilah "perselisihan" dengan Dewan Petta EnnengngE disebabkan sesuatu hal yang tidak dapat diuraikan pada tulisan ini. Akibatnya, Baginda meninggalkan Doping bersama isteri, anak, kakak dan segenap sahayanya menuju ke Belawa dimana kemenakannya (Datu La Onro) sedang bertahta di Belawa.

Sebagaimana yang telah dikemukakan pada bab terdahulu, bahwa Datu La Onro Arung Belawa adalah putera I Panangngareng Datu Madello, saudara kandung Datu Bolong. Mengetahui pamandanya tinggal menetap di Belawa dan sedang membangun Saoraja di JampuE, Datu La Onro Arung Belawa melantik (napasalEppangi) "bibinya" yakni : I Bossa selaku SullEwatang Belawa Orai'. Namun tidak beberapa lama kemudian disebabkan suatu hal, Datu La Onro Arung Belawa pergi meninggalkan Belawa dan menetap di Sidenreng, negeri kekuasaan ayahandanya.

Setelah kepergian Datu La Onro, maka dinobatkanlah La Patongai Datu Doping menjadi Arung Belawa. yang merupakan Arung Belawa terakhir karena setelahnya, tidak ada lagi Arung Belawa yang dilantik (IpakkalEjja' ri Tuppu Batu Tana Bangkala'na Belawa). Berselang beberapa waktu setelah penobatannya, Baginda menempatkan Kakandanya ( I Batari) menjadi Petta Lonra. I Batari Petta Lonra menikah dengan sepupu sekalinya (juga sepupu satu kali Datu Bolong) bernama Petta Landeng, putera Sitti Hawang Datu MakkunraiyyE (saudara kandung La TEngko Petta Manciji'E).

Baginda Datu Bolong merupakan seorang Raja yang kharismatik dan banyak kisah menarik seputar masa hidupnya. Semasa kecil, penulis pernah mendengar cerita tentang Baginda Datu Bolong dari seorang Makassar bernama Bilala' Nongci (Bilal mesjid Lonra). " Iya', Mangkasa ka', ana'. Maddarupang-rupangni Arung Maraja pura utuju pakkita. NaEkia, dE'pa gaga pada karame'na Datu Bolong..." (saya adalah orang Makassar. Sudah banyak raja-raja yang pernah kulihat, namun belum ada yang menyamai keramatnya/kharismanya paras Datu Bolong).

Tersebutlah sebuah kisah yang dituturkan oleh Andi Patau' (adik kandung ayahanda penulis), pada suatu ketika Datu Bolong mendapat undangan dari Andi Mappanyukki' Sultan Ibrahim Datu Suppa' Petta Mangkau' ri Bone. Baginda diundang ke Watampone untuk menghadiri rapat (Tudang Ade') yang dihadiri kalangan Raja-Raja Se-Sulawesi Selatan untuk membicarakan perihal dukungan terhadap Proklamasi Kemerdekaan RI....

Sebagaimana dituturkan Pamanda yang waktu itu membawa "Saleppa" (Kotak Sirih) baginda Datu Bolong, bahwa  Arung Belawa Andi Patongai datang agak terlambat pada majelis itu. Oleh Pattumaling (Petugas Protokoler Istana), baginda ditempatkan agak jauh dari posisi "Ulu Tudangeng" yang ditempati Baginda ArumponE (Andi Mappanyukki'). Tiba-tiba ArumponE menyeru pada Pattumaling, : "TaniajE' akkoro monro tudangenna Andi Patongai. Akko maiyyE tudangenna..." (Bukan disitu tempatnya Andi Patongai. Mestinya disini...), kata Petta Mangkau'E tersebut sambil menunjuk tempat kosong disampingnya. Sejak itu, termahsyurlah Baginda Datu Bolong sebagai seorang raja dari sebuah negeri kecil, namun sangat diutamakan sebagai seorang Datu Maddara Matase' (Maddara Takkuu), adinda I Tenri Kawareng Arung Belawa MallinrungngE ri Pompanua. Sejak itu pulalah, Baginda diberi gelar "Andi" sebagaimana ArumponE sendiri yang menyebutnya demikian.

Perlu dikemukakan dari beberapa sumber yang salahsatunya dari Opu Tuan Abd. Halid (Almarhum) dari Bira, Bulukumba. Beliau menuturkan kepada penulis pada tahun 1999, bahwa : Asal muasal gelar "Andi" pada bangsawan Bugis dan Makassar berawal pada " I Mappanyukki Sultan Ibrahim " semasa baginda menjadi ArumponE. Pada suatu waktu, seorang berkebangsaan Perancis datang berkunjung pada Istana Beliau di Watampone. Pada perbincangan tentang seputar keadaan Sulawesi Selatan pada masa itu, orang Perancis tersebut senantiasa menyebut nama baginda ArumponE sebagai : "AndiEr Mappanyukki". Menurut juru bahasa yang menyertainya, itu berarti : "Paduka Yang Mulia Mappanyukki" atau dalam bahasa Inggris kira-kira disamakan dengan : You Are Majesty Mappanyukki". Maka setelah peristiwa itu, baginda ArumponE disebut namanya sebagai : Andi Mappanyukki, menyesuaikan dalam lidah bahasa Bugis.

Menurut keterangan dari ayahanda, bahwa sejak beberapa lama sekembalinya dari WatamponE, Baginda Datu Bolong mulailah tertulis namanya sebagai "Andi Patongai". Pada masa itu tidak seorangpun di Belawa yang memakai gelar "Andi" selain Baginda. Namun sebagaimana halnya sesuatu yang lagi "Trend", maka mulailah beberapa gelintir bangsawan mencoba-coba menggunakan gelar tersebut. Hingga pada suatu waktu, seorang putera bangsawan bernama La MappangilE disebut namanya oleh La Kube' (salah seorang abdi Datu Bolong) disebut sebagai " Andi MappangilE " dihadapan Baginda. Seketika Baginda Datu Bolong marah besar seraya berkata : " Andi MappangilE nigajE'tu ?!. SEddimi iya' uwisseng riyaseng ANDI MAPPANGILE, iyya monroE ri Sidenreng (maksudnya :Andi MappangilE Addatuang Sidenreng)" (Andi MappangilE yang mana lagi ?! Cuma satu Andi MappangilE yang saya tahu, yaitu yang tinggal di Sidenreng..). Sungguh, baginda MallinrungngE tersebut begitu ketatnya menjaga tatanan agar tidak terjadi ketimpangan sejarah dibelakang hari.

Andi Patongai Datu Doping Arung Belawa memiliki 3 (tiga) isteri sah selama hidupnya. Isteri Pertama bernama : Andi Patinrosi ArungngE Daeng Sagala (puteri La Muhamma' Tang Daeng Paliweng Petta Pangulu dengan I Tuwo ana'na La Mude SullEwatang Laomapada) mendapatkan seorang putera yang meninggal semasa bayi, bernama : Andi Bau Monri. Mereka bercerai dengan baik-baik karena Daeng Sagala tidak mau dimadu. Isteri Kedua bernama : Andi Bau' Mapparimeng Datu Madello ( Puteri Petta MorEwE, cucu DatuE La Pajung, Soppeng. Menurut Lontara' Panguruseng susunan Andi Nurdjaya Hamzah La Sumange'rukka) yang melahirkan : 1. Andi Bau' Patiroi, 2. H. Andi Bau' Singke' 3. Andi Bau Isa. Setelah  Datu Madello wafat, maka Baginda menikah lagi dengan Isteri Ketiga adalah : Andi Bossa (puteri Opu CakElE, menurut Alm. Andi BallohE') yang juga akrab dipanggil Petta Indo oleh anak-anaknya.  Dari isteri terakhir inilah, maka lahirlah : 1. Andi Bau' Sulolipu Petta KaraEngngE Camat Belawa I , 2. Andi Bau Mintang.

Menjelang pertengahan Abad XX, hubungan Belawa dan Sidenreng terkadang masih terjadi percikan-percikan api yang memicu bentrokan di daerah perbatasan sebelah utara (Soppa'E dan Lonra YasE'). Atas prakarsa Andi Batari Petta Lonra (saudara seayah Arung Belawa Datu Bolong) diikatlah jalinan kekerabatan dengan beberapa Raja-raja lokal yang berada di wilayah Sidenreng, melalui pernikahan putera puteri mereka. Tujuan politik perkawinan ini tiada lain agar tercipta perdamaian yang meredam segala bentuk pertikaian dalam jalinan kekerabatan. Maka oleh Arung Belawa, pada suatu hari diutuslah Andi Batari Petta Lonra untuk menyampaikan lamaran bagi Andi Bau Sulolipu Petta KaraEngngE ke La Pannyiwi Arung Utting untuk mendapatkan puteri beliau bernama : Andi Bua. Maka pernikahan putera puteri Belawa dan Utting terlaksana dengan meriah yang mempersatukan kembali perhubungan kedua kerajaan yang bersaudara dimasa lalu. Wallahualam Bissawwab


Keterangan Gambar :

Sri Baginda Arung Belawa Terakhir : Andi Patongai Datui Doping Arung Belawa (Datu Bolong).




ZIARAH KE JARA' ARUNG BELAWA 



Keterangan Gambar :

Makam Baginda Andi Patongai Datu Doping Arung Belawa  (ornamen berbentuk kubah), dibelakangnya Penulis berdiri disamping kiri kanan makam kakek nenek penulis, Andi Dai' dan Andi Mapparimeng.


 Keterangan Gambar :

Makam La Sipatu Arung Belawa

 


Keterangan Gambar :

Makam La TEngko Petta Manciji ri Wajo, terlantar disamping para turunannya.


Keterangan Gambar :

 Makam I Soji Datu Madello Arung Belawa  


 Keterangan Gambar :

Makam Andi Panangngareng Datu Madello



 Keterangan Gambar :

Makam Andi Passamula "Datu Cella' Belawa"



 Keterangan Gambar :

Makam Andi Dai' dan Andi Mapparimeng Petta Lonra


 Keterangan Gambar :

Makam Pamanda Andi LaodjEng (kakanda Ibunda Penulis)



(bersambung ke Part 11.)



Arajang

Dari kiri ke kanan : Banranga Pakka Duana Sidenreng, Banranga Tellu Latte'na Sidenreng dan Banranga Lao Tungke'na Sidenreng (dalam perawatan Kakanda H. Andi Pajung, S.Pd, M.Pd)

Keterangan : Gagang dan sarung ketiga tombak pusaka ini dilapisi perak murni serta "Rambut Banranga" yang terikat dibawah "pandok" tumbuh memanjang dengan sendirinya (tiap tahun dipotong).



Rabu, 06 Oktober 2010

Menanti Pagi

Menanti Pagi
             Dyong

Cermin yakinku
Dimana nuraniku berkaca diri
Buka jendela
Rasakan lembutnya
Usapan semilir angin kembara
Pegang erat surai kejujuran
Telusuri pekatnya rimba jiwa
Halau bimbang
Karib nelangsa
Sambut cahaya
Lentera indraku temaram
Letakkan pelan ...
Pada kaki singgasana..
Hati yang tertidur diatas buaian
Meringkuk dalam pelukan... lelahnya
Agar mimpi malam ini takkan berakhir

                             Parepare, pada suatu waktu...

Selasa, 05 Oktober 2010

Wari (Pranata)

Bicaranna PangaderengngE (Bahasa Tata Krama)

Pendahuluan


Perihal "Ade" yang terlembaga dalam 4 ruang, yakni : Warii', Bicara, Tuppu dan Rapang begitu rumit untuk dikaji oleh pemerhati autodidak yang memiliki serba keterbatasan seperti saya. Namun disadari bahwa dari sekian banyak serpihan nilai yang berserakan kini memerlukan upaya pelestarian, agar nilai-nilai luhur yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari itu tidak menjadi sekedar penghias permukaan sejarah, walau dengan agak tertatih-tatih.

Salahsatu "kegelisahan" penulis saat ini adalah semakin jauhnya anak-anak kita dari "lingkaran Pangadereng" yang nampak jelas tercermin dalam Tata Bahasa sehari-harinya. Bahkan lebih parah lagi, banyak diantaranya yang sudah tidak dapat berbahasa Bugis lagi. Namun yang lebih parah lagi,  terjadinya "Abrasi Nilai" sehingga beberapa diantaranya yang begitu "Bangga" dengan predikat kebangsawanannya dengan terang-terangan menyebut diri : Bangsawan. Maka jelaslah jika "Ade' Bicara" sangatlah memerlukan "Rekulturasi" yang dapat dimulai pada diri sendiri, keluarga dan masyarakat kita. 

Disadari bahwa tidak banyak sumber tulisan yang dapat dijadikan sebagai reverensi karena "Ade' Bicara" ini merupakan pembiasaan yang dibudayakan sejak dini dalam sebuah keluarga (Rumah Tangga) yang solid. Sesuatu yang ditanamkan dengan penuh kesungguhan oleh orang tua kepada anaknya dengan penuh kesungguhan, sehingga kadang-kadang pada prosesnya membuahkan "cubitan-cubitan". " IgaleccEE timuE akko tosala teppu..." (mulut dicubit jika salah sebut).

Dengan demikian, Ade' Bicara yang berhubungan dengan Warii' sangatlah dijiwai oleh makna "Sirii' PessE"  (Martabat dan Solidaritas Kemanusiaan) sehingga disifatkan sebagai "Atribut" yang menandakan dari mana asal muasal keturunan seseorang. Maka dari beberapa topik yang telah ditinjau pada bagian terdahulu, maka sub kajian inilah yang paling berat bagi Penulis. Namun tetap juga saya haturkan, setidaknya inilah sekelumit "Wariina Belawa".

Selama penulis tinggal menetap di Parepare, banyak mengenal handai taulan dari Belawa yang mungkin bermaksud baik untuk memperkenalkan diri dan asal keturunannya dengan mengungkapkan : "...napuappoka' Datu Anu..." (Aku cucunya Datu Anu...). Bertitik tolak dari hal inilah, sehingga saya mencoba menguraikan tulisan ini dengan segala keterbatasan pengetahuan saya. Sebagaimana Almarhum Ayahanda berpesan dengan sangat kepada kami :  "Tania Waramparang upammanaarekko ana'. Tania too PakkEasengeng. NaEkia, Ade' Assipakalebbirengmi tu upammanarekko, mupammanareng toi ri wija-wijammu... " ( Bukan harta yang kuwariskan padamu, anakku. Bukan pula gelar. Namun Adat Saling Menghargai yang kuwariskan kepadamu dan wariskan pula kepada anak keturunannmu...". Sementara pada waktu lain, penulis juga pernah membaca wasiat Yang saya Muliakan Andi Ninnong Datu Tempe Petta Ranreng Tuwa Wajo, bahwasanya : "Sipa'Engmi paompo assalengngE.." (Tabiatlah yang akan memperlihatkan asal muasal..). 

Semoga kiranya ada diantara pembaca yang budiman, berkenan memberikan koreksi dan saran perbaikan untuk menambah pengetahuan yang bermamfaat bagi kita semua. Untuk itu, dengan segala hormat dan takzim, penulis menghaturkan terima kasih. 



Atanna DatuE (Hambanya Datu)

" Dua ri lino temmakkEana' temmakkEappo, iyanaritu : AtorengngE na DatuE " (Ada dua hal di dunia yang tidak beranak cucu, yaitu : Peraturan dan Datu). 

Sering didapatkan orang bercerita atau berkisah tentang silsilah leluhurnya. Ketika ditanya, " TabE', niga asenna turungengki' " (Maaf, siapa kiranya yang leluhur yang menurungkan anda ?". Maka menjawablah ia dengan hormatnya : " Rai-rai ajEnaka' DatuE ri yasengngE Datu Anu..., nasaba' alEna Puekku Datu MallinrungngE incajiangngi Topajajiakku boranEwE" (saya tidaklah lebih merupakan daki kakinya Raja yang bernama Datu Anu..., sebab beliaulah yang melahirkan orangtuaku yang lelaki).   

Tersebutlah Alm. Puekku Andi Bau Sumange' Rukka, semasa hidupnya sangat akrab dengan penulis. Saya mengenalnya sebagai seorang bangsawan tinggi yang tergolong "Ana' Mattola". Beliau adalah putera Petta Karaeng Sumange' Alam (putera Andi Mappanyompa Datu KapE Maddanreng Pammana) dengan Datu Kacupe' (Soppeng). Dengan demikian, beliau adalah pangeran Wajo, Soppeng, Gowa dan Sidenreng. Sebagian orang mengenal beliau sebagai sosok bangsawan yang tidak begitu memperhatikan pranata pada era masa kini. Namun menurut penulis, beliau adalah seorang Bangsawan yang sangat "mengerti" dengan tata bahasa bangsawan. Beliau sekalipun tidak pernah menyebut Datu KapE sebagai "nEnEku", melainkan disebutnya sebagai : Datu KapE mallinrungngE incajiangngE topajajiakku boranEwE.. (Almarhum Datu KapE yang melahirkan orang tuaku yang laki-laki).

Pada saat lain, dalam sebuah perbincangan yang cukup lama dengan Puekku H. Andi Baso (putera Andi Bau Patiroi di Balikpapan, Kaltim), beliau juga menyebut ayahandanya sebagai : DatuE (Tidak menyebut nama secara langsung). Kemudian beliau senantiasa menyebut "kakeknya" dengan nama gelarnya : Datu Bolong MallinrungngE (Andi Patongai Datu Doping Arung Belawa). Demikian pula dengan Puekku H. Andi Bau Musba (Datu Cebba') yang senantiasa menyebut Ibundanya yang mulia sebagai : Datu MakkunraiyyE (Almarhumah Datu Sami'). Dari inilah sehingga penulis dapat melihat bahwa tata bahasa tinggi yang tercermin pada istilah penyebutan dalam rumah tangga Bangsawan memang memiliki aturan yang tertata rapi serta terpelihara dari waktu ke waktu.

Sebaliknya pada suatu ketika penulis berbincang-bincang dengan seseorang yang mengaku berasal dari Belawa. Dengan ringannya ia berkata : Napuappoka' PettaE Palla'E  (saya adalah cucu Petta Palla'E). Lalu saya bertanya : TEgaE ana' ri jajianna DatuE turungengki' ? (Anak yang mana dari Baginda yang menurunkan anda ?). Maka disebutnyalah sebuah nama. Akhirnya saya dapat mengerti apa adanya. Maklum, nama tersebut adalah salah seorang anak La Tamang Petta Palla'E yang tidak diakui karena digolongkan Anak Harami (Ana' BulE).

Perihal aturan tak tertulis ini sempat saya tanyakan kepada Ayahanda Almarhum. " Aga saba'na na dE' siseng-siseng nawedding ipoada makkedaE : Napoappoka' DatuE ? " (Apa sebabnya sehingga kita tidak diperkenankan mengatakan : Saya adalah cucunda Datu ?). Maka beliau menjelaskan, sbb :
1. Naiyya DatuE dE'na natopada, matase'i DatuE
2. Ebara'si pada, naEkiya engka bunga najujung DatuE
3. Pappakalebbiina DatuE polE ri wija-wijanna, nakkacoE lEbba'E.
Pengertian bebasnya kira-kira, sbb :
1. Kita tidak lagi sama dengan Datu, baginda memiliki darah murni dan kita sudah tercampur
2. Andaikan sama berdarah murni, namun Datu memiliki Tahta atau Jabatan dan kita tidak memilikinya
3. Pemuliaan Sang Datu dari keturunannya agar diikuti oleh masyarakat umum.

Namun terlepas dari perihal tersebut, tantangan dimasa kini adalah terjadinya transformasi budaya dimana faktor kebahasaan juga ikut berperan didalamnya. Kaidah Bahasa Bugis halus terkadang sulit diungkapkan dalam bahasa Indonesia. Maka dalam tinjauan ini, Penulis beranggapan bahwa : Sah-sah saja jika sekiranya seorang Cucu Datu (Appo Datu) mengungkapkan dalam Bahasa Indonesia, bahwa : "Saya adalah Cucunya Datu...". Karena pengungkapan terjemahan langsungnya dari Bahasa Bugis akan terasa sangat janggal.

Wallahualam bissawab

(bersambung... ke Ana'E ri Topajiajanna)









Senin, 04 Oktober 2010

Batu Corundum

Batu Blue Shapier (Ako' Biru Langit) yang berasal dari Srilangka (Ceylon). Jenis dan warnanya tergolong superior. (Koleksi Penulis)

Batu Corundum

Batu Ruby (Mirah Delima) yang berasal dari Burma. Memiliki star unik, yakni : Berkaki 3. (Koleksi Penulis)


Batu Corundum

Batu Ruby (Mirah Delima) dan White Shapier (Ako' Remmang). Batu mulia yang memiliki tingkat kekerasan 9 SM (Skala Mosh) sehingga merupakan batu terkeras kedua setelah Diamod (Berlian). Dalam bahasa bugis, kedua jenis batu ini disebut sebagai " Batu Ako' ". Dipercayai sebagian orang memiliki khasiat, sbb : Memberikan kebahagiaan dalam asmara, mendatangkan penglihatan gaib, penjaga dalam perjalanan , mengobati mata. (Koleksi Penulis)